MTGW Melencengkan Akidah Islam

Sebetulnya udah gak tahan tinggal lebih lama disini, namun demi melihat ortu yg semakin berumur gak tega rasannya ninggalin mereka tanpa ada yang lain disini. Normalnya mereka justru "lebih baik" saya ngga disini, namun dalam situasi yg nggak normal gimana nanti. Tentulah hanya anaknya yang akan membela meski kaya ataupun miskin, situasi yang salah apalagi benar, dan sebagainya; berbeda dengan orang lain yang "mendekat" sejauh ada kepentingan. Dan saya hanya mengelus dada belum bisa berbuat menghadapi ini. Bagaimanapun inilah alam pemikiran kultur (matre) mereka disini.

Sungguh saya jijay dengan suku bangsa matrelinial nih. Tentu saja di tempat lain banyak, tapi masalahnya disini rumahku sendiri. Orang lain hamba materi ya terserahlah. Seperti di Jakarta, saya tak terlalu ambil pusing toh aqu gak temenan sama mereka he2. Meski sebetulnya juga tidak menyukai kehidupan kota penuh maksiat tersebut, namun ya hanya tempat itulah yang lebih kukenal kehidupan jalanannya dibanding yang lain. Setidaknya menjadi tempat transit sementara sebelum diijinkan nyaman di lingkungan kebaikan dan kebenaran.

Karena ruang televisi di sebelah, sayup-sayup kudengar juga dakwah Nabi Mario Tegang yang tentang apalagi kalo bukan memberi motivasi untuk cinta atau memuliakan uang dan hormat kepada beruang dan ekses sebaliknya. Jadi sebel deh, orang botak ini jadi motivator mingguan untuk menjaga ghiroh akidah kaum tamak harta. Tidak semua yang ia katakan salah. Tentu, ia banyak berbicara tentang nilai-nilai kebaikan. Tapi ujung-ujungnya dan bungkus platform besarnya adalah alwahn.

Ini berikut salah satu contoh ajarannya yang kudengar barusan. Bagaimana kesesatan dibungkusnya dengan rapi dalam retorika-retorika seolah kebenaran dan kebaikan dan keindahan. Rejeki dari langit melalui orang. Untuk itu kita perlu disukai orang. Yang disukai banyak orang berarti juga disukai Tuhan (maksudnya hantu kali ya). Mungkin saya beda dengan kebanyakan orang karena saya sebagai lelaki sukanya sih kalo bisa bersenang-senang setiap hari tanpa ada perasaan berdosa. Banyak yang bisa diperdebatkan, termasuk soal makna kata suka disini. Saya juga pernah melihat ada yang mempertanyakan metode-metode "seolah" dakwah tapi tanpa dalil gini. Jelasnya Mario Tegang memang cerdas mempermainkan alam pikir manusia pecinta materi yang linglung atau pasrah dama memahami dalil rejeki dari langit. Apakah dia antek syaitan yang berupaya melencengkan akidah-akhlak Islam garis lurus (hanif)?

Da'i Alwahn Menyusupi Islam

Apakah Islam agama yang anti kekayaan dan kemakmuran? Tidak tentunya. Tapi dalam Islam kekayaan itu adalah sekedar titipan dan tidak mempunyai kekayaan bukan berarti menjadikan seseorang kurang bernilai apalagi tidak bernilai. Berbeda dengan kedudukan orang berilmu dengan orang bodoh yang memang dibedakan sebagaimana ketakwaan. Bahkan dalam sejarah Islam ulama-ulama soleh kebanyakannya hidup dalam kekurangan secara material.

Kenyataan masa berabad-abad belakangan ini menunjukkan negeri-negeri muslim dalam keadaan sebaliknya dari negeri-negeri kafir yang penuh kemakmuran. Kemudian ini dihubungkan dengan intelektualitas. Betul, memang ada kaitannya namun bukan variabel tetap. Alasan kemiskinan tidak bisa dijadikan indikasi bahwa negeri muslim sedang tidak beriman sebagaimana alasan kekayaan juga tidak berarti negara-negara makmur telah mengimani Tuhan.

Perkembangan ilmu pengetahuan yang berpusat dari Barat sekarang ini telah membuat doktrin kesejahteraan duniawi juga meracuni intelektual Islam. Kemudian dari sinilah timbulnya ideologi menyandingkan keimanan dengan kesejahteraan. Akibat terburuknya status tidak kaya kemudian divariabel-tetapkan dengan kemunduran iman. Inilah konsekuensi terburuknya yang dalam pandangan saya bisa jadi telah terjatuh kepada syirik matrilinial atau syirik harta. Menyekutukan Allah dengan materi yang lebih kongkrit. Sebagaimana ini terjadi pada kaum pagan yang pandir-pandir sehingga kesulitan mencerna Tuhan yang tidak riil lalu membutuhkan simbol-simbol materi dan tuhan yang berdaging, nyata, bungkus, munafik.

Pada masa kini mulai banyak yang mengelaborasi ajaran kezuhudan dalam Islam dengan misi kapitalistik modern. Orang Islam yang tidak tahan miskin butuh ilmu Barat untuk kaya. Gayung bersambut dengan perkembangan ilmu materialistik Barat yang memang butuh adaptasi dengan pasar kultural Timur. Saya hanya bisa menasehatkan bahwa jika ada dan banyak pendakwah, da'i, motivator masa kini yang mengagung-agungkan tata nilai materi sebagai fokus amal manusia Islam maka itu adalah penyelewengan yang sangat berbahaya, fatal, dan makin melembagakan akhlak alwahn. Karena sudah seyogyanya bagi seorang muslim yang berserah mestilah percaya bahwa kaya miskin itu adalah ketetapan. Manusia hanya berbuat maksimal tanpa keculasan sesuai keadaannya masing-masing dan hanya menjadikan banyak sedikitnya ketetapan materi baginya sebagai total sarana, bukan sama sekali tujuan dan untuk berbangga-banggaan. Dalam perspektif kehidupan kaum atheist dan golongan munafikun dalam tubuh Islam hanya kejayaan materi dan imbasnya pada status politis inilah jiwa raga mereka dipersembahkan.

Pertanyaan saya, apakah doktrin Islam harus kaya dan Islam miskin itu hina ini sebagiannya apakah lewat tokoh-tokoh yang sengaja disusupkan ke tubuh jajaran panutan umat Islam saat ini?

Aneka Aliran Dalam Islam

Disadari bahwa hal yang saya bicarakan ini adalah sesuatu yang sangat rumit dalam Islam hingga akhir zaman. Kita cuma bisa berharap akan datangnya masa perang akbar dimana jelas terpisah bendera antara yang hak dengan yang batil. Tentu juga saya hanya akan berbicara sejauh yang saya ada punya pengetahuan. Dan seperti biasa fokus yang saya pilih adalah memerangi pemikiran (sekali lagi pemikiran) kaum cinta dunia. Orang-orang munafik yang saya nilai dalam masa kini sangat signifikan merusak dari dalam.

Dengan kata lain saya menyebut mereka sebagai penganut syirik harta atau syirik matrelinial untuk mempertegas betapa dosa ini derajatnya jauh di atas kemaksiatan dan dosa-dosa kecil serta sedang yang lain.

Lalu apa hubungannya dengan aneka aliran dalam tubuh Islam?

Salah satu versi aliran islam yang paling dekat dengan tertib masa Nabi adalah kaum salafi atau ahlussunah wal jamaah meski semua tentunya juga mengaku seperti itu. Menariknya yang secara umum tergolong ke barisan salaf ini saja pada masa sekarang juga saling berkepecahan satu sama lain. Apalagi untuk membicarakan aliran atau sejenis aliran Islam lain seperti aneka syiah, tassawuf, tarbiyah atau ikhwani, tahriri, khawarij, sekuler, abangan atau awam akut, liberal, tradisonal (hehe emang pasar...), muhammadiyah, hingga ahmadiyah.

Membicarakan kelompok-kelompok dalam Islam ini mau tak mau pada akhirnya bisa dilihat bukan sekedar berupa persatuan ideologis tetapi lebih riil dan kongkritnya merupakan perkongsian praktis yang meliputi aspek politik dan ekonomi (tahta dan harta). Bisa jadi pula aspek praktis inilah yang jauh lebih menonjol dikarena lebih jelas wujudnya dan nyata efeknya kepada zamannya dan keseharian. Ini meliputi baik tingkat elitnya yang walau punya ilmu namun juga hawa nafsu sebagai manusia dan juga tentu akar rumputnya yang memang berpikir jangkauan pendek.

Menurut saya ini semua terjadi karena persatuan kepentingan antara ulama yang munafik dan umatnya yang bodoh-bodoh yang memperlakukan agama sebagai mie instan. Dalam hal promosi gencar tentang Islam cinta harta misalnya saya melihat ada dua kemungkinan. Pertama, hal ini hanya sebuah siasat dari sang ulama untuk mengenalkan kebahagiaan Islam kepada umat yang kadung sudah terjangkit wabah akhlak matre atau dalam sisi lain karena berpandangan dakwah Islam membutuhkan fondasi ekonomi dan politik yang giat diusahakan dan diutamakan sebagaimana taktik kaum kafir memperjuangkan aneka agama-agamanya.

Keduanya, sang ulama memang telah juga terjangkit alwahn sehingga menjadi munafik atau dia adalah penyusup dari luar yang sedang merusak akidah umat mayoritas yang awam yang merasa cukup dalam hal ilmu untuk menjadi awam. Kalaupun orang-orang ini meyakini kebenaran Islam tentulah ia berangan-berangan akan tidak adanya ayat-ayat Quran yang sangat banyak menghina pecinta harta tersebut pun juga hadits-hadits Nabi yang senada; yang di mata mereka bisa saja dipandang kurang memotivasi untuk sukses harta.

Sementara untuk mengkaji kebenaran (aliran) Islam sejati telah terbukti pada berabad-abad sejarah menghasilkan perdebatan dan perpecahan terus-terusan. Sementara akal manusia terbatas. Dan Rasulullah sudah tak ada untuk memberi kata akhir. Sementara seperti diisyaratkan Nabi akan datang masanya para ulama pada yaaa gitu deh. Makanya buat saya berbicara Islam yang alirannya benar tidak sekedar tentang ritual atau muamalat yang kasat mata dan rentan pertopengan tetapi lebih utamanya kembali ke akidah dan akhlak sebagai pegangan sebuah agama tauhid yang substantif, sprituil, dan rohanis.

Aliran Islam yang benar adalah yang menjaga diri dari akidah dan akhlak cinta harta dan kemaruk status. Berhati-hati terjerambab dalam kemunafikan dan mengutamakan sabar. Merasa cukup dalam hal keduniawian sesangat kurang apapun itu namun jangan merasa selesai untuk terus menambah dan menumpuk ilmu sehingga tidak merasa sudah selesai sebagai aliran yang terbenar (tawadhu dan dialektis). Dari aliran manapun dia dicap dan tersegmen secara realitas muamalah terkini selagi masih berpegang pada Islam garis lurus ini, yaitu sebagian kecil yang ikhlas nirpamrih dan tidak mengikuti sebagian besar yang menyesatkan alias terkesan benar, insyaAllah akan tidak terlepas dari pohon kebenaran Islam. Iman ruhani yang tidak memperlakukan agama sebagai asset, kapital, materi, dan mie instan.  ̿ ̿̿'̿'\̵͇̿̿\=(•̪●)=/̵͇̿̿/'̿̿ ̿ ̿ ̿ 

Media Kak Tarsis Dalam Karyo The Asu Sastrooo

Seorang koruptor zaman Orde Baru yang lolos dari pengawasan Indonesian Coruption Watch bersantap malam bersaama keluarga besarnya. Sambil me...