Rabu, 09 Februari 2011

Aneka Aliran Dalam Islam

Disadari bahwa hal yang saya bicarakan ini adalah sesuatu yang sangat rumit dalam Islam hingga akhir zaman. Kita cuma bisa berharap akan datangnya masa perang akbar dimana jelas terpisah bendera antara yang hak dengan yang batil. Tentu juga saya hanya akan berbicara sejauh yang saya ada punya pengetahuan. Dan seperti biasa fokus yang saya pilih adalah memerangi pemikiran (sekali lagi pemikiran) kaum cinta dunia. Orang-orang munafik yang saya nilai dalam masa kini sangat signifikan merusak dari dalam.

Dengan kata lain saya menyebut mereka sebagai penganut syirik harta atau syirik matrelinial untuk mempertegas betapa dosa ini derajatnya jauh di atas kemaksiatan dan dosa-dosa kecil serta sedang yang lain.

Lalu apa hubungannya dengan aneka aliran dalam tubuh Islam?

Salah satu versi aliran islam yang paling dekat dengan tertib masa Nabi adalah kaum salafi atau ahlussunah wal jamaah meski semua tentunya juga mengaku seperti itu. Menariknya yang secara umum tergolong ke barisan salaf ini saja pada masa sekarang juga saling berkepecahan satu sama lain. Apalagi untuk membicarakan aliran atau sejenis aliran Islam lain seperti aneka syiah, tassawuf, tarbiyah atau ikhwani, tahriri, khawarij, sekuler, abangan atau awam akut, liberal, tradisonal (hehe emang pasar...), muhammadiyah, hingga ahmadiyah.

Membicarakan kelompok-kelompok dalam Islam ini mau tak mau pada akhirnya bisa dilihat bukan sekedar berupa persatuan ideologis tetapi lebih riil dan kongkritnya merupakan perkongsian praktis yang meliputi aspek politik dan ekonomi (tahta dan harta). Bisa jadi pula aspek praktis inilah yang jauh lebih menonjol dikarena lebih jelas wujudnya dan nyata efeknya kepada zamannya dan keseharian. Ini meliputi baik tingkat elitnya yang walau punya ilmu namun juga hawa nafsu sebagai manusia dan juga tentu akar rumputnya yang memang berpikir jangkauan pendek.

Menurut saya ini semua terjadi karena persatuan kepentingan antara ulama yang munafik dan umatnya yang bodoh-bodoh yang memperlakukan agama sebagai mie instan. Dalam hal promosi gencar tentang Islam cinta harta misalnya saya melihat ada dua kemungkinan. Pertama, hal ini hanya sebuah siasat dari sang ulama untuk mengenalkan kebahagiaan Islam kepada umat yang kadung sudah terjangkit wabah akhlak matre atau dalam sisi lain karena berpandangan dakwah Islam membutuhkan fondasi ekonomi dan politik yang giat diusahakan dan diutamakan sebagaimana taktik kaum kafir memperjuangkan aneka agama-agamanya.

Keduanya, sang ulama memang telah juga terjangkit alwahn sehingga menjadi munafik atau dia adalah penyusup dari luar yang sedang merusak akidah umat mayoritas yang awam yang merasa cukup dalam hal ilmu untuk menjadi awam. Kalaupun orang-orang ini meyakini kebenaran Islam tentulah ia berangan-berangan akan tidak adanya ayat-ayat Quran yang sangat banyak menghina pecinta harta tersebut pun juga hadits-hadits Nabi yang senada; yang di mata mereka bisa saja dipandang kurang memotivasi untuk sukses harta.

Sementara untuk mengkaji kebenaran (aliran) Islam sejati telah terbukti pada berabad-abad sejarah menghasilkan perdebatan dan perpecahan terus-terusan. Sementara akal manusia terbatas. Dan Rasulullah sudah tak ada untuk memberi kata akhir. Sementara seperti diisyaratkan Nabi akan datang masanya para ulama pada yaaa gitu deh. Makanya buat saya berbicara Islam yang alirannya benar tidak sekedar tentang ritual atau muamalat yang kasat mata dan rentan pertopengan tetapi lebih utamanya kembali ke akidah dan akhlak sebagai pegangan sebuah agama tauhid yang substantif, sprituil, dan rohanis.

Aliran Islam yang benar adalah yang menjaga diri dari akidah dan akhlak cinta harta dan kemaruk status. Berhati-hati terjerambab dalam kemunafikan dan mengutamakan sabar. Merasa cukup dalam hal keduniawian sesangat kurang apapun itu namun jangan merasa selesai untuk terus menambah dan menumpuk ilmu sehingga tidak merasa sudah selesai sebagai aliran yang terbenar (tawadhu dan dialektis). Dari aliran manapun dia dicap dan tersegmen secara realitas muamalah terkini selagi masih berpegang pada Islam garis lurus ini, yaitu sebagian kecil yang ikhlas nirpamrih dan tidak mengikuti sebagian besar yang menyesatkan alias terkesan benar, insyaAllah akan tidak terlepas dari pohon kebenaran Islam. Iman ruhani yang tidak memperlakukan agama sebagai asset, kapital, materi, dan mie instan.  ̿ ̿̿'̿'\̵͇̿̿\=(•̪●)=/̵͇̿̿/'̿̿ ̿ ̿ ̿