Jumat, 08 Juli 2011

Perantauan Sejati Diri

Dalam waktu dekat gw sudah rencanakan untuk ke Jakarta lagi. Kenapa harus Jakarta? Tidak harus, melainkan hanya karena kota itulah yang paling gw tahu seluk beluknya dan gw waktunya melangkahkan kaki. Itu saja. Tidak ada maksud dan kemungkinan gw untuk mengumpulkan sekian jatah lowongan pekerjaan buat gw makan sendiri sehingga berkuranglah kesempatan untuk penduduk setempat guna bersaing. Gw hanya menjalankan kewajiban mengusahakan kehidupan gw saja tanpa tamak, muka dua belas, dan tanpa niat untuk menyingkirkan manusia lain dalam sistem kapital modern meminta-minta kerja dan saling sikut gini. Wow, betapa malangnya, untuk dipekerjakan (bahkan diperbudak) saja harus minta-minta. Bayangkan, bahkan harus ngutang sana-sini untuk bayar jut-an biaya "administrasi" untuk punya lisensi guna diperbudak sesama manusia demi hanya secuil duit dan status sosial pada tata nilai zaman edan. Entah dari mana masalah macam gini baegnya dilihat: putusan individu, tekanan keluarga dan lingkungan, atau ketakbecusan pelayanan negara. Gw tidak minat untuk terjun dalam persaingan taksehat dan tidak berkualitas seperti gitu. Gw punya medan juang sendiri yang akan sulit untuk awam pahami haha. Jadi kepada penduduk setempat diharapkan tidak usah cemas. Toh dalam agama yang secara formal kelihatannya sama kita anut, yakni Islam, mengajarkan bahwa kita sudah ada rejekinya masing-masing. Malaikat ndak mungkin salah kirim masing-masing posnya. Persoalannya hanya bagaimana menyikapi: menerima atau tidak pernah puas lalu mengajukan banding haha. Ini persoalan akidah tapi gw masih bisa tertawa.

Masalah sebetulnya pada urbanisasi kan pengaruhnya pada sistem sosial hingga frame besarnya dalam format kebangsaan. Ini pernah kudengar diakui sendiri oleh pejabat terkait yang menghimbau kaum profesional--plus embel-embel punya modal cukup--untuk silahkan datang ke Jakarta. Gw banget kan. Meskinya gw sudah membuktikan sendiri secara empirik dan faktual bahwa dengan cuman menganggarkan sekitar 500 ribu per bulan juga bisa saja untuk cukup. Bahkan tidak tanggung-tanggung saat itu gw bertempat tinggal di Jakarta Pusat, hanya sekitar sekilometeran dari Istana Presiden, tapi di daerah agak kumuhnya dan cukup merana hehe. Tapi tentu aparatur di tingkat bawah berpandangan ini mustahil. Lima juta saja kurang kalo kepengen memasuki gaya hidup kelas atas disana. Beginilah kemudian jika juga berbicara/berpikir efek sosial lain seperti timbulnya tindak kriminal bagi yang memilih akhlak bejat untuk mulai sekedar bertahan hidup (katanya) hingga nafsu bisa bergaya sedikit di depan manusia lain misalnya. Hasrat akan gengsi itu memang purba skali bagi makhluk socioeconomicus ini.

Birokrasi administrasi dan pengelolaan kependudukan semestinya punya alat/filter untuk mengkategorikan manusia-manusia urban biar tidak terjadi generalisasi sederhana seperti Jakarta only welcome untuk orang kaya dengan minimal anggaran 150 ribu per hari ada untuk dihabiskan. Lho pelaku kriminal macam kurir narkoba atau calo proyek utusan pemda-pemda pun bisa habiskan dua jutaan buat per malamnya. Kenapa rakyat kecil/dhuafa/miskin harus yang dijadikan sasaran untuk digencet, sebagai target kuota bahan laporan, sementara mereka belum punya skill untuk melakukan kelasnya kerah putih crime. Kriminal kecil-kecilan tetaplah kejahatan namun bicara prioritas bukankah kejahatan di tingkat atas lebih bahaya. Ya, lebih kuat, punya koneksi kekuasaan, dan lebih tidak mudah untuk digencet dibandingkan orang-orang miskin yang dengan wajah lugu datang dari kampung untuk mencari 2-3-4 suap nasi--kalo cuma sesuap nasi rasa-rasanya terlalu didramatisir deh. Pemerintah sebetulnya mampu untuk memikirkan ini dengan sebagaian aset SDM PNS-PNS bermutunya di tingkat atas. Jangan terlalu pesimis, pasti adalah. Tidak semua Parasit Negeri Sipil yang menghabiskan 70 persen APBN itu bermental penjilat atasan semua. Di sektor swasta pun kalau yang model begini juga tidak kalah banyak. Soalnya pengaplikasian nanti di tingkat bawah dengan SDM kelas kambing inilah dibuatkan prosedur penanganannya pun mereka tidak akan punya kemampuan (baca: juga kemauan) untuk menjalankannya.

Tapi untuk apa gw juga memikirkan ini, busyet dah udah injury time nih barisan postingan. Toh orang lain yang digaji untuk hal tersebut (pragmatis mode on). Dan gw juga sudah memperhitungkan tentunya bagaimana menyikapi kemungkinan-kemungkinan akibat kesemrawutan sistem sosial hingga administrasi pemerintahan yang seharusnya menejebel namun dismanajemen ini. Lebih baik kan seharusnya mempersoalkan kehidupan gw sendiri (egois mode off), apapunlah maunya dan jadinyalah kenyataan sosial masyarakat bernegara ini. Teori survival paling dasar bahwa setiap DNA hewani kita akan ego(isme) mempertahankan eksistensinya masing-masing telah mengajarkan ini. Sehingga seorang nabi atheisme modern bernama Profesor Dawkins terheran-heran memikirkan apa sekiranya alasan seseorang untuk berbuat baik tanpa pamrih ataupun motif politik. Tapi mungkin gw merasa tentang gw bisa disikapi sebagai engga persoalan banget. Biarlah ia menjadi persoalan bagi orang-orang yang hasad di sekeliling tanah 20 M ini disini, iri dengki, dan punya kepentingan yang tidak patut untuknya. Duh, apalah maksudnya. Singkat cerita, setelah pulang dari Bandung di 2007, hidup di Depok 2009, berputar-putar dari Pasar Minggu hingga Kemayoran di 2010, kini gw akan kembali ke Jowo.lt sana di edisi 2011; entah akan kemana burung ini kan hinggap. Semoga ia menemukan sarangnya yang tepat. ^_^