Pengalaman "Dikafirkan" oleh "Radikalis"



Seberapa waktu berlalu seseorang relationship dlm koneksi yang semi anonim kalo ndak salah ingat--maklum bukan muhadits yg hafal 100.000 kabar sunnah lengkap dgn garis sanadnya, tapi masih juga dikafirkan xixi--di jarsos facebook mengundang akun resmi gw untuk bergabung ke sebuah grup gerakan politik agama lokal. Sewaktu itu misi utama grup ini adalah mengganyang syiah yg de factonya merupakan mayoritas historik dakwah islam yg dominan tassawuf di Minangkabau. Orang minang memang tidak bisa persis dibagi kepada kaum santri dan abangan seperti thesis Cliff "Burton" Gerts tentang kultur islamis jawa, namun umumnya di luar org islamis biasa aka duniawis--disini antara moderat dan sekuler nyatu--yang tersisa adalah kalangan ustadz sufi atau "urang surau" baik yang kental banget atau agak tawar sedikit. Sedikit-sedikit baru kemudian ada generasi islamis yang bersentuhan dengan model-model baru seperti sekte sawah dan lain-lain namun tidak signifikan. Belakangan berkat gerak politik PKS aka ikhwan mulai banyak generasi muda yg didoktrin untuk ke "sawah" dan sekte kawan-kawannya ini. Walaupun, berdasarkan pengalaman gw, di Minangkabau yang kulturnya egaliter ini militansi mereka ndak seganas di Jawa. Seorang legislator PKS di Pariaman bahkan pernah saya baca di koran diberitakan sedang membantu pembangunan makam salah satu syaikh tarekat paling top dalam pengenalan islam di Minangkabau. Padahal kalau sudah menyinggung-nyinggung soal kuburan ini kalau di Saudi bisa sudah saling bantai. Tentu kemudian tetap dicatat fakta sejarah kekalahan para pendaulu paderi mereka di abad ke-19 yang kabarnya sadis juga saling main bantainya.


Meski tidak mau mengaku liberal, meski terus disudutkan utk ngaku liberal, bahkan dianjurkan keluar dari islam karena islam itu hanya tafsir versi kami yang tanpa tafsir aka leterlek yang benar xixi, gw termasuk bukan yang anti dengan jihad qital dalam syariat islam. Gw setuju dengan Nabi bahwa dunia ini sekedar tempat ujian sebentar jadi jangan mengira yang damai-damai dan enak-enak saja itu yang benar, meski lagi dari sudut lain mewujudkan kedamaian itu juga merupakan kebaikan. Yang bikin gw puyeng ada sekte yang ngerasa fundamentalis tapi tujuan duniawinya sangat kental sampai-sampai memfitnah Nabi sosok yang kaya raya dan mendoktrin umatnya bahwa jika kita dekat dengan Tuhan maka akan enak kehidupan (duniawinya) xixi. Cuma yang perlu jadi perhatian karena dogma tentang perang itu adalah untuk ujian bukan melampiaskan amarah dan hawa nafsu maka perlu kehati-hatian agar tidak terjerumus 180 derajat jadi anjing-anjing neraka saat seorang pelacur yang cuma punya amalan memberi minum seekor ANJING saja mendapatkan rahmat syurga. Saat bendera islam tidak jelas seperti sekarang maka berlakulah kaidah patahkanlah tongkat-tongkatmu dan gantilah jadi pedang dari kayu. Waduh, gw bisa dicap sufi sesat penghuni neraka nih gara-gara mengutarakan hadits yg bisa dipilih-pilih sesuai kepentingan begini, ahayyy.

Kembali ke facebook, suatu waktu grup radikalis lokal tersebutkan tadi mengubah tema utamanya jadi anti investasi kristen. Sebagai catatan gw juga setuju dengan pendapat seseorang yang menyebut secara bahasa radikal dan fundamental tersebut justru bagus, tapi sekarang kita berbicara dalam wilayah lebih luas: cap, identitas, hingga persepsi. Nah, dalam salah satu sesi diskusi di grup ini--yang tentunya dipenuhi oleh kalangan sekte "radikal" yang antar mereka juga saling mengkafirkan dengan dalih asal tidak tunjuk hidung karena ada penanda dan penghalang bagi kekufuran--terjadilah keributan ketika pendapat gw dihajar mereka. Sampai yang paling parahnya ada pak haji riya yang mau cari-cari alamat untuk (mungkin) mau bunuh gw. Petunjuk Nabi tentang ini yang jadi pegangan gw sih jelas: membunuh khawarij ini berpahala dan terbunuh oleh mereka syahid. Cuma tetap perlu kehati-hatian di zaman ketidakjelasan ini dan menghisab sendiri masih sedikitnya ilmu kita (wkwkwkwk). Untuk itu opsi bersabar adalah pilihan terbaik menghadapi tantangan dan cercaan kekanak-kanakan mereka-mereka para khawarij yang labil emosi ini. Padahal meski punya akun anonim di fesbuk, akun yang gw pakai buat bersuara di forum tersebut adalah officially jadi gw juga menganggap tidak perlu lari dari tantangan anjing-anjing neraka ini. Kalaupun kadang gw suka berkeliaran di dunia maya dengan identitas anonim--yang itu juga bukanlah hal yang sulit jika punya keahlian untuk menelusuri bila ingin membongkarnya--adalah lebih bukan karena pertimbangan pribadi melainkan mengingat kaitannya dengan keluarga gw yang pasti kebawa-bawa dengan keadaan mereka tidak sesiap keyakinan gw pribadi. Tapi apapunlah tetap gw yang lemah ilmu ini harus takut salah menilai dan lebih baik menghindari "perang" dengan pak haji riya dan kawan-kawannya yang mungkin (hihi) penganut mahzab anjing-anjing neraka ini. Ada benarnya juga kata salah seorang pentolan sekte sawah utk hindari perdebatan, masih banyak yang belum kita tahu, sibukkan diri dengan mencari ilmu. Jangankan gw yang masih culun ilmu, seorang pentolan salah satu sekte sawah yang kemudian dikeluarkan dari harakahnya yang tiap hari berjuang untuk syariat islam di Indonesia saja juga tidak lepas dari cap kafir dan sesat menyesatkan ini. Cuma kadang jiwa muda gw penasaran kenapa pak haji riya dan kawan-kawannya tersebut tidak membantah argumen gw, apa karena ia juga kurang ilmunya dan hanya membabi-buta penuh amarah? Duh, udah tua masih pemarah.... xixixixi!

Memaknai Tuduhan Jualan Agama


 Ini klise saja, sejak kasus “Robert Al-Baqarah”-nya PKS meledak kemaren-kemaren jadi muncul lagi ke permukaan perdebatan tentang orang-orang yang berpolitik dengan membawa-bawa isu–bahkan klaim identitas–keagamaan. Buya “Sapi Arif” dalam sebuah tulisannya di media terbesar di Indonesia, yakni KxxPxS, beberapa waktu lalu menceritakan lagi perdebatan lama ini di kalangan politisi Indonesia sewaktu akan merdeka. Ada yang berpendapat bahwa kekotoran dunia politik sudah tidak seharusnya dirasuki eh merasuki pula kesucian agama–inilah yang kemudian dilabeli dengan kaum sekuler–dan ada pula pihak yang justru berpendapat kesucian agama bisa digunakan untuk “merinso” kekotoran politik. Jauh berabad sebelumnya sejak dunia pemikiran dan ilmu bahasa berkembang di kalangan manusia dunia sebetulnya ini juga sudah kontroversi; dan terus berlangsung, hanya berwacana seperti tanpa ujung hinggat kini. Di berbagai forum komentator dapat kita saksikan–dan nikmati–kecaman “kalangan sekuler” kepada pihak yang mereka istilahkan: “jualan agama”. Terlebih saat ada peristiwa politik yang membangunkan lupa dan abai kita; seperti kasus korupsi “diduga” PKS yang selama ini diklaim berpolitik “bersih”. Entah apakah di tengah krisis penemuan ilmiah spektakuler dan mendasar masa sekarang, kelak akan ada jenius bahasa yang bisa memformulasikan dengan sempurna arti kamus “jualan agama” ini.

Bahasa terus perkembangan, arti bisa mengalami pergeseran mengikuti zaman, makanya dalam ilmu (tentang) bahasa ada pula istilah medan makna untuk menjelaskan kemustahilan upaya membaku-dan-bekukan arti bahasa atau kata. Bahkan pada jarak zaman yang jauh arti sebuah kata bisa meloncat keluar dari medan pemaknaan sebelumnya. Namun menarik bahwasanya pemahaman tentang istilah jualan agama ini masih berputar-putar di satu tempat saja sepertinya selama berabad-abad lamanya. Buya yang kami kutip sebelumnya tadi juga tidak mampu membuat kesimpulan jadi harus bagaimana sebelumnya. Padahal beliau dianggap trio pembaharu pemikiran Islam modern Indonesia karena bersama-sama dengan Azyumardi Azra dan Amien Rais termasuk generasi awal pribumi yang bisa pergi sekolah tinggi-tinggi ke Amerika sana. Dua di antara mereka ini keturunan Minangkabau yang sudah kita maklumi kelihaian dalam sejarah bermain kata; dan yang dua ini pula dicap sebagai mentornya Islam liberal di Indonesia di tengah identitas Minangkabau yang kental banget keislamannya. Satu diantaranya teman sekolah ibu kami sewaktu pendidikan sekolah calon guru agama dulunya dan mungkin karena persepsi “menyimpang” tersebut kurang disukainya. Kata Mama: “ia punya rumah mewah di Pondok Indah namun sanak famili di kampung hidup biasa-biasa saja”. Soal ekonomi memang sensitif bagi orang minang yang bisa merembet ke hal-hal lain seperti mulai menyimpang pulanya tulisanku ini.

Kembali ke khitah, khusus dalam khazanah Islam sampai sekarang masih jadi perdebatan apakah boleh mendapat imbalan finansial dari mengajarkan Al-Quran. Dalam Islam rezeki boleh dicari tapi tidak perlu dicari-cari karena bisa berujung pada tamak dan cinta padahal dalam esensi iman keberserahan pada takdir Tuhan adalah intinya. Beramal adalah semata karena itu perbuatan baik, tujuannya ridha ilahi, kalaupun dapat imbalan rezeki itu hanyalah akibat logis atau bahkan efek samping saja. Sangat banyak rezeki yang tidak diniatkan bisa datang dari arah tidak diduga-duga sehingga soal niat beramal soleh bisa terjaga keikhlasannya dan kalaupun harus minim rezeki mewah toh ada keutamaan cara hidup Nabi yang sengaja diberikan contohnya; meski ada pendakwah zaman kini yang memfitnah Muhammad kaya raya. Sekali lagi ini bukan larangan buat muslim kaya raya, cuma ndak penting saja karena sabar ikhlas itu berbeda dengan kesabaran Iblis dalam mewujudkan kekufurannya. Orang-orang yang ingkar (tidak berserah) itu kata Tuhan berlomba-lomba untuk mengeruk “dunia” ini dan mereka memang akan mendapatkan yang diinginkannya tapi tetap saja tidak lebih dari apa yang telah ditetapkan/dijatahkan/ditakdirkan untuknya. Tidak tahu juga apakah doktrin “kuno” ini masih relevan dengan struktur ekonomi modern mengingat dalam hadits lain tentang larangan meminang perempuan di atas pinangan orang lain disebutkan juga tentang keburukan persaingan dalam jual beli meski berdagangnya sendiri halal tentu. Sebagaimana kita ketahui persaingan atau kompetisi adalah jiwa dari sistem kapital modern hari ini yang menghasilkan angka-angka indeks pertumbuhan ekonomi.

Wajar kiranya doktor bidang akidah mantan ketua MPR Hidayat Nurwahid pernah terdengar sempat “mengeluh” bahwa kondisi masyarakat zaman nabi tidak sekompleks di saat ini. Artinya: kita butuh ahli tafsir yang bisa membuat relevan ajaran Islam di setiap zaman; termasuk untuk memaknai istilah jualan agama tadi; atau kalau perlu juga memikirkan tentang tidak stabilnya defenisi korupsi; Anak TK yang belum tersentuh dosa memang lebih yakin tentang arti bakunya. Terlanjur berbicara tentang khusus pandangan Islam–yang kebetulan the best of the beast menurut saya–mengenai iman dan uang ini kami hanya kebetulan teringat tentang ayat-ayat “Demi Masa” di lembaran-lembaran akhir kitab Quran Utsmani yang mengatakan: dunia ini hanya permainan dan kesia-siaan kecuali untuk orang-orang yang saling bertolongan dalam kebenaran dan kesabaran. Jadi apa salahnya beramal 100% diniatkan meraih keridhaan semata dan soal rezeki serahkan pada apa yang telah dikehendaki-Nya. Kalaupun masih dituduh ini tulisan yang jualan agama ya “la tahzan”, toh hidup ini hanyalah “games” semata (dengan sedikit penderitaan nyata hahahaha)?

Masuk Akal Untuk Nafsu

Seorang anti “wahabi”, bahkan ikhwani, dalam akun ‘tweet’-nya pernah membahas sebuah kitab klasik popular di Hadramaut (Yaman) yang membahas tentang hubungan hawa (nafsu) dan akal dalam (tassawuf) Islam. Simpulannya, hawalah yang berperan “menyesatkan” orang dan manusia yang berakal (berilmu) yang diseruduk hawa lebih sulit disembuhkan. Ini sekirannya memperlihatkan misi ‘ngetweet’-nya yang anti kalangan radikal. Dalam sebuah akun lain seorang pilot penggemar Marteg punya analisis menarik tentang “sukses” duniawi dengan pembicaraan teyori SKA (skill, knowledge, attitude) dan ‘game(bler) japan’-nya. Kemudian ada sosok yang mengukuhkan diri sebagai salafyunpad eh ternyata fans Marteg juga seperti @nagascorpio. Garis merah dari semua ini hingga ke LHI barangkali seperti slogan populer, “dalam hal uang agama semua orang adalah sama”. Sistem ekonomi/kehidupan membuat ini merupakan keniscayaan, namun bisa macam-macam pemahaman; menariknya semua aliran ini bisa disatukan dengan uang meski kadang pecah juga perang yang konon ujung-ujungnya juga demi uang….

Menarik menyimak biang motivator Indonesia Mister Tung Desem Waringin ternyata retorikanya ndak canggih-canggih amat ketimbang murid-muridnya yang menimbulkan inflasi profesi motivator di Indonesia. Tidak soal karena ini mengalir saja sesuai hukum ekonomi dimana market sedang tinggi ‘demand’-nya untuk di-’power supply’ dengan retorika-retorika motivasi untuk kaya dan memuaskan nafsu. Pantas saja buku sastra yang berbelit-belit tidak lagi laku. Masuk akal. Nah ini ternyata yang kerap digunakan kakek TDW tersebut dalam ceramahnya. Menurut hemat saya dalam konteks retorika ia perlu ditegaskan dengan kata-kata “masuk akal” justru menunjukkan tidak masuk akalnya retorika-retorika tersebut. Lebih tepat menurutku “masuk nafsu”. Ya, apa yang dibicarakan itu semua sebenarnya untuk memuaskan hawa nafsu kita sebagai manusia. Akal diperalat untuk mewujudkan. Termenung, pantas tauhid itu di atas segalanya karena secara spontan alamiah manusia akan seperti binatang untuk “bekerja keras, cerdas, culas” mengupaya-upayakan hawa nafsunya meski banyak juga yang tersedia gratis–ex: udara–di alam raya. Menuhankan hawa nafsu jangan sampai, hanya kerja ikhlas obatnya.

Betul, jika sudah menyangkut upaya memuaskan nafsu yang tak tersedia oleh alam raya, kita manusia lebih hewani dan buas dengan senjata akal bulusnya. Pantas kotoran bayi tidak sebusuk orang dewasa. ^_^

Akronim Jokowi


Beberapa waktu yang berlalu sebuah berita yang mengezutkan kita tanpa perlu terkejut-kejut betul muncul: suatu survei menempatkan elektabilitas 'Jakarta Elected Governor' Mr. Joko Widodo atau yang lebih kerap disebut Jokowi berada di atas mantan wapres Megawati Soekarno Poetri dan bekas pangkostrad Letjen (Pur) Prabowo Subianto untuk kandidat capres 2014. Tidak saya ketahui, jujur aja, apakah juga bisa mengalahkan popularitas pertahana Haji SBY jika disurveyi juga saat ini ataupun apabila nanti. Walaupun semua juga tahu dan dapat mengertiin berita "heboh" ini dikarenakan fenomenalnya Jokowi akhir-akhir ini, namun terkemas menarik untuk dipublikasikan ke publik ketika nama Jokowi ini disandingkan langsung 'head to head' dengan para "sponsornya" di PDIP maupun Gerindra tersebut. Terlebih lagi jika kita mencermati peristiwa ini dalam konteks bahwa Joko Widodo "dipasang" menjadi gubernur ibu kota sebetulnya hanya untuk digunakan sebagai alat "memuluskan" jalan mereka ke kursi presiden RI pada 2014, baik Mega pun Prabowo.

Apa yang membuat Jokowi jadi "tiba-tiba" begitu menarik? Bayangkan, Prabowo telah investasi "nama besar" setidaknya ketika ia mulai masuk di lingkaran elite petinggi ABRI sebagai menantu mantan Presiden Soeharto. Bahkan santer isu bahwasanya meski baru berpangkat lebih rendah Prabowo bisa 'melawan' pada para jenderal atasannya di TNI. Triomacan2000 bahkan mengghibah bahwa Prabowo pernah lari dari Akmil dan kembali masuk asrama dengan santai. Kita juga pernah dengar isu "perlawanannya" atas karib Soeharto Jendral L.B Moerdani hingga persaingannya dengan atasan langsungnya mantan Panglima TNI Wiranto. Coba lihat mana mungkin ini terjadi pada orang yang berkarir dalam sistem komando tentara kecuali bahwa ini peristiwa yang "mie telor spesial". Mungkin di Royal Air Force-nya Inggris pun Pangeran Harry tidak seistimewa ini. Kemudian kita lihat Megawati yang tentu bahkan sejak masih menjadi putri presiden di zaman kemerdekaan sudah mulai mencicil nama besar.

Menurut pendapat saya yang melejitkan nama Jokowi adalah namanya itu sendiri. Sekali lagi aq ulangi yang membuat besar nama mantan Mahasiswa Kehutanan UGM Si Joko Widodo tersebut adalah bunyi nama Jokowi itu sendiri. Tentu kita tidak menafikkan "prestasi" Jokowi sendiri. Baik yang betul-betul prestasi ataupun pengemasannya oleh media. Ataupun bantuan berbagai pihak untuk "mengangkat" nama Jokowi sendiri yang awal mulanya dilakukan Prabowo yang ditengah jalan dikudeta Megawati karena Jokowi bagaimanapun kader PDIP sehingga belakang dituduhkan Taufik Kiemas istilah penumpang gelap kepada Gerindra karena sebagai partai mereka masing-masing sepertinya belum bisa berkongsi lagi (mungkin karena tipikal konstituennya saling berebut). Tapi saya tetap percaya pada kekuatan nama Jokowi itu sendiri, sekali lagi bunyi Jokowi itu sendiri. Kita ingat lagi bahwa nama Jokowi dipopulerkan oleh Stasiun Metro TV ketika ia "menciptakan" mobil esemka. Meski katanya ada prestasi dalam penataan PKL, mendamaikan konflik dalam keluarga kraton di Solo dan lain sebagainya, namun itu semua tak akan istimewa tanpa itu dilakukan oleh orang bernama menarik: Jokowi. Banyak juga mungkin walikota atau bupati daerah lain yang punya prestasi serupa tapi mereka tidak punya nama yang semenarik bunyi 'JOKOWI' untuk "LAKU" diberitakan oleh 'INDUSTRI' TV. Foke atau Insinyur Fauzi Bowo bahkan tidak cuma merakit mobil tapi menghasilkan anak-anak SMK yang mampu merakit pesawat (yang betul-betul bisa) terbang, tapi kenyataannya di Pilkada DKI baru-baru kemaren putra asli betawi katanya ini tumbang. Sejak menjabat Gubernur DKI inilah nama Jokowi makin meroket semakin sangat kencang lewat aksi 'blusukannya' sampai-sampai--analisisnya--ditiru-tiru SBY pemilik suara 60% lebih rakyat Indonesia ini.

Lalu, apa istimewanya nama dan bunyi 'jokowi' dibanding bunyi 'foke' sehingga bisa menang dan katanya menciptakan sejarah baru yang anomali dalam catatan empiris percaturan politik perebutan kekuasaan di Indonesia? Apakah nama eh bunyi 'jokowi' tersebut lebih unggul ketimbang nama dan bunyi 'megawati' dan 'prabowo'? Atau jangan-jangan juga lebih "unggul" dihadapkan kepada nama besar SBY? Bagaimana pula dengan nama-nama ini: Mahfud MD, Dahlan Iskan atau DI atau Demi Indonesia, ARB, JK? Apakah perlu juga bagi capres termuda dan terganteng Farhat Abbas meng-akronim atau singkatin namanya dengan FA (barangkali singkatan terakhir ini mengingatkan kompasianers pada sejarah konflik adminnya dengan Fron Indonesia Timur haha) sebagaimana capres alternatif Fadjroel Rachman punya teknik lain untuk mengemas namanya di jejaring sosial twitter dengan gaya sedikit alay... faDjR0eL? Memang untuk membuat seseorang menang dalam perebutan kekuasaan ini tidak hanya soal "kemasan" nama, sangat banyak faktor lain. Namun menurut pendapat saya soal bunyi nama ini penting, perhatikanlah wahai para tim sukses yang suka menyingkat-nyingkat berbagai pasangan nama dalam pilkada. Terlebih dalam situasi masyarakat kIta yang katanya mayoritas masih juga belum 'well educated' sehingga faktor-faktor 'supra-segmental' dan 'methaphisic' seperti ini kukira PENTING!! Orang tidak selalu memilih dengan rasionalitas apalagi hitungan matematis yang saya tidak tahu apakah sudah ada model-model politik sainsnya. Dalam bisnis demokrasi seperti ini mau tak mau para sales partai-partai harus mampu menyerang aspek bawah sadar 'market' mereka, termasuk kecendurangan manusiawi manusia untuk senang pada keindahan atau keunikan. Termasuk bunyi nama. Bagaimana efektifitas pengemasan nama ini sehingga dari aspek bunyi bisa menjual? Apakah lebih menarik bunyi-bunyi kakofoni seperti ARB, yang kelihatan banget cuma meniru-niru tren singkatan nama SBY, atau gunakan saja nama akrabnya: Ical? Sebuah nama yang sangat remaja sebagaimana mayoritas swing voter kita yang bukankah lebih baik ditimbang-timbang kembali oleh Golkar. Selanjutnya pengamatan akan bunyi nama capres untuk pilpres 2014 ini akan saya bahas lagi nanti. Sabar, saya juga amati dulu tingkah laku pasar.

Politik Uang dan Islam

maharani suciyono, "psk"
 "Musibah" yang "menindas" PKS baru-baru ini semakin meyakinkan saya bahwa memang Islam tidak sejalan dengan cinta harta dan jadi menyimpang andai diseret-seret untuk cinta harta. Dengan alasan atau dalih apapun boleh sementara dibilang, tapi bisa diperdebatkan terlebih dahulu "cinta harta" itu didefenisikan bagaimana. Memang juga tidak mudah untuk mengukur seperti apa peran harta pada zaman Nabi Muhammad SAW, dibandingkan kepada kedudukan harta dalam "sistem keuangan" zaman sekarang. Alih-alih mengukur "pasti", niscaya untuk hal-hal begini disandarkan saja pada keyakinan yang bisa saja diklaim sebagai ukuran yang paling pasti. Karena, umat Islam percaya dan harus yakin ajaran Rasulullah adalah tanpa tanggal kadaluarsa hingga akhir zaman, nubuat armageddon, turunnya Isa, datangnya Mahdi. Sekali lagi ikhtilaf timbul pada tafsir, karena Khatimul Anbiya agama hanif ini juga telah mengisyaratkan tentang mutjahid atau pembaharu untuk setiap seabad. Tentu antar golongan penafsir bisa timbul saling klaim, hingga klaim dari kelompok binaan. Yang terang, untuk terakhir ini mantan mufti Negara Arab Saudi menganggap Syekh Albanny yang berjenggot pirang tersebut sebagai penghasil ijtihad terbesar abad ini dengan upaya pembersihan hadits-hadits palsunya. Salah satunya hadits populer karena sejalan dengan hawa nafsu manusia yang cinta harta: "kemiskinan mendekatkan pada kekufuran", yang memang tidak sampai dicap palsu namun dianggap dhaif riwayatnya (apalagi isinya: mungkar?). Tiada heran jika Kyai Ulil Absar--yang tidur seranjang dengan Ustadz Tifatul Sembiring Amd dalam koalisi SBY--mengklaim hadits-hadits bisa saling bertentangan "tafsirnya" satu sama lain. Entah jika pernyataannya ini ada sponsor yang membiayai cc: Asian Foundation. Meski bukan Salafy, apalagi ustadz yang disegani atau bercitra atau dipersepsikan baik oleh kalangannya seperti Umar Budiargo Lc dari Yogya yang mungkin kisah hidupnya seperti Che Guavara itu (dari kemapanan ke kedhuafaan), saya pribadi ketika meledak berita skandal suap daging PKS justru bersimpati meski senyum-senyum kecut lihat di media sosial mereka giliran di-bully. Cuma yang wallahualam apa orang benar-benar tak tahu taktik 'fund rising' PKS dan berilusi tentang orang-orang suci di organisasi politik ini. Lupakah orang, terutama para kader internal, tentang para mujahid uhud yang tergiur ghanimah ketika hampir menang malah jadi kalah perang. Nabi sampai berdarah giginya, itu terjadi pada orang-orang yang bertemu langsung dengan beliau, apalagi generasi yang setelahnya dan setelahnya. Dan ingatkah pada hadits yang mengatakan bahwa setelah perang bunuh-bunuhan ada yang lebih berat lagi, yakni perang melawan hawa nafsu. Ataukah Nabi dianggap hanya bermetafor atau beretorika seperti "dagangannya" para motivator, yang supplynya tumbuh bak jamur musim hujan di saat demand orang butuh motivasi di negeri ini lagi banyak lalu peristiwa saling menasehati dalam kebaikan pun komersil dan menjadi peristiwa business as ussual. Apakah lagi yang lebih bisa memuaskan hawa nafsu selain harta (jaman gini lho!)? Lalu apakah kita harus "memusuhinya"? Seperti apa strateginya? Seperti PKS? Lain kali akan saya sambungkan diskusinya.

Media Kak Tarsis Dalam Karyo The Asu Sastrooo

Seorang koruptor zaman Orde Baru yang lolos dari pengawasan Indonesian Coruption Watch bersantap malam bersaama keluarga besarnya. Sambil me...