Sabtu, 09 Februari 2013

Politik Uang dan Islam

maharani suciyono, "psk"
 "Musibah" yang "menindas" PKS baru-baru ini semakin meyakinkan saya bahwa memang Islam tidak sejalan dengan cinta harta dan jadi menyimpang andai diseret-seret untuk cinta harta. Dengan alasan atau dalih apapun boleh sementara dibilang, tapi bisa diperdebatkan terlebih dahulu "cinta harta" itu didefenisikan bagaimana. Memang juga tidak mudah untuk mengukur seperti apa peran harta pada zaman Nabi Muhammad SAW, dibandingkan kepada kedudukan harta dalam "sistem keuangan" zaman sekarang. Alih-alih mengukur "pasti", niscaya untuk hal-hal begini disandarkan saja pada keyakinan yang bisa saja diklaim sebagai ukuran yang paling pasti. Karena, umat Islam percaya dan harus yakin ajaran Rasulullah adalah tanpa tanggal kadaluarsa hingga akhir zaman, nubuat armageddon, turunnya Isa, datangnya Mahdi. Sekali lagi ikhtilaf timbul pada tafsir, karena Khatimul Anbiya agama hanif ini juga telah mengisyaratkan tentang mutjahid atau pembaharu untuk setiap seabad. Tentu antar golongan penafsir bisa timbul saling klaim, hingga klaim dari kelompok binaan. Yang terang, untuk terakhir ini mantan mufti Negara Arab Saudi menganggap Syekh Albanny yang berjenggot pirang tersebut sebagai penghasil ijtihad terbesar abad ini dengan upaya pembersihan hadits-hadits palsunya. Salah satunya hadits populer karena sejalan dengan hawa nafsu manusia yang cinta harta: "kemiskinan mendekatkan pada kekufuran", yang memang tidak sampai dicap palsu namun dianggap dhaif riwayatnya (apalagi isinya: mungkar?). Tiada heran jika Kyai Ulil Absar--yang tidur seranjang dengan Ustadz Tifatul Sembiring Amd dalam koalisi SBY--mengklaim hadits-hadits bisa saling bertentangan "tafsirnya" satu sama lain. Entah jika pernyataannya ini ada sponsor yang membiayai cc: Asian Foundation. Meski bukan Salafy, apalagi ustadz yang disegani atau bercitra atau dipersepsikan baik oleh kalangannya seperti Umar Budiargo Lc dari Yogya yang mungkin kisah hidupnya seperti Che Guavara itu (dari kemapanan ke kedhuafaan), saya pribadi ketika meledak berita skandal suap daging PKS justru bersimpati meski senyum-senyum kecut lihat di media sosial mereka giliran di-bully. Cuma yang wallahualam apa orang benar-benar tak tahu taktik 'fund rising' PKS dan berilusi tentang orang-orang suci di organisasi politik ini. Lupakah orang, terutama para kader internal, tentang para mujahid uhud yang tergiur ghanimah ketika hampir menang malah jadi kalah perang. Nabi sampai berdarah giginya, itu terjadi pada orang-orang yang bertemu langsung dengan beliau, apalagi generasi yang setelahnya dan setelahnya. Dan ingatkah pada hadits yang mengatakan bahwa setelah perang bunuh-bunuhan ada yang lebih berat lagi, yakni perang melawan hawa nafsu. Ataukah Nabi dianggap hanya bermetafor atau beretorika seperti "dagangannya" para motivator, yang supplynya tumbuh bak jamur musim hujan di saat demand orang butuh motivasi di negeri ini lagi banyak lalu peristiwa saling menasehati dalam kebaikan pun komersil dan menjadi peristiwa business as ussual. Apakah lagi yang lebih bisa memuaskan hawa nafsu selain harta (jaman gini lho!)? Lalu apakah kita harus "memusuhinya"? Seperti apa strateginya? Seperti PKS? Lain kali akan saya sambungkan diskusinya.