Minggu, 02 Juni 2013

Masuk Akal Untuk Nafsu

Seorang anti “wahabi”, bahkan ikhwani, dalam akun ‘tweet’-nya pernah membahas sebuah kitab klasik popular di Hadramaut (Yaman) yang membahas tentang hubungan hawa (nafsu) dan akal dalam (tassawuf) Islam. Simpulannya, hawalah yang berperan “menyesatkan” orang dan manusia yang berakal (berilmu) yang diseruduk hawa lebih sulit disembuhkan. Ini sekirannya memperlihatkan misi ‘ngetweet’-nya yang anti kalangan radikal. Dalam sebuah akun lain seorang pilot penggemar Marteg punya analisis menarik tentang “sukses” duniawi dengan pembicaraan teyori SKA (skill, knowledge, attitude) dan ‘game(bler) japan’-nya. Kemudian ada sosok yang mengukuhkan diri sebagai salafyunpad eh ternyata fans Marteg juga seperti @nagascorpio. Garis merah dari semua ini hingga ke LHI barangkali seperti slogan populer, “dalam hal uang agama semua orang adalah sama”. Sistem ekonomi/kehidupan membuat ini merupakan keniscayaan, namun bisa macam-macam pemahaman; menariknya semua aliran ini bisa disatukan dengan uang meski kadang pecah juga perang yang konon ujung-ujungnya juga demi uang….

Menarik menyimak biang motivator Indonesia Mister Tung Desem Waringin ternyata retorikanya ndak canggih-canggih amat ketimbang murid-muridnya yang menimbulkan inflasi profesi motivator di Indonesia. Tidak soal karena ini mengalir saja sesuai hukum ekonomi dimana market sedang tinggi ‘demand’-nya untuk di-’power supply’ dengan retorika-retorika motivasi untuk kaya dan memuaskan nafsu. Pantas saja buku sastra yang berbelit-belit tidak lagi laku. Masuk akal. Nah ini ternyata yang kerap digunakan kakek TDW tersebut dalam ceramahnya. Menurut hemat saya dalam konteks retorika ia perlu ditegaskan dengan kata-kata “masuk akal” justru menunjukkan tidak masuk akalnya retorika-retorika tersebut. Lebih tepat menurutku “masuk nafsu”. Ya, apa yang dibicarakan itu semua sebenarnya untuk memuaskan hawa nafsu kita sebagai manusia. Akal diperalat untuk mewujudkan. Termenung, pantas tauhid itu di atas segalanya karena secara spontan alamiah manusia akan seperti binatang untuk “bekerja keras, cerdas, culas” mengupaya-upayakan hawa nafsunya meski banyak juga yang tersedia gratis–ex: udara–di alam raya. Menuhankan hawa nafsu jangan sampai, hanya kerja ikhlas obatnya.

Betul, jika sudah menyangkut upaya memuaskan nafsu yang tak tersedia oleh alam raya, kita manusia lebih hewani dan buas dengan senjata akal bulusnya. Pantas kotoran bayi tidak sebusuk orang dewasa. ^_^