Selasa, 12 November 2013

Pengalaman "Dikafirkan" oleh "Radikalis"



Seberapa waktu berlalu seseorang relationship dlm koneksi yang semi anonim kalo ndak salah ingat--maklum bukan muhadits yg hafal 100.000 kabar sunnah lengkap dgn garis sanadnya, tapi masih juga dikafirkan xixi--di jarsos facebook mengundang akun resmi gw untuk bergabung ke sebuah grup gerakan politik agama lokal. Sewaktu itu misi utama grup ini adalah mengganyang syiah yg de factonya merupakan mayoritas historik dakwah islam yg dominan tassawuf di Minangkabau. Orang minang memang tidak bisa persis dibagi kepada kaum santri dan abangan seperti thesis Cliff "Burton" Gerts tentang kultur islamis jawa, namun umumnya di luar org islamis biasa aka duniawis--disini antara moderat dan sekuler nyatu--yang tersisa adalah kalangan ustadz sufi atau "urang surau" baik yang kental banget atau agak tawar sedikit. Sedikit-sedikit baru kemudian ada generasi islamis yang bersentuhan dengan model-model baru seperti sekte sawah dan lain-lain namun tidak signifikan. Belakangan berkat gerak politik PKS aka ikhwan mulai banyak generasi muda yg didoktrin untuk ke "sawah" dan sekte kawan-kawannya ini. Walaupun, berdasarkan pengalaman gw, di Minangkabau yang kulturnya egaliter ini militansi mereka ndak seganas di Jawa. Seorang legislator PKS di Pariaman bahkan pernah saya baca di koran diberitakan sedang membantu pembangunan makam salah satu syaikh tarekat paling top dalam pengenalan islam di Minangkabau. Padahal kalau sudah menyinggung-nyinggung soal kuburan ini kalau di Saudi bisa sudah saling bantai. Tentu kemudian tetap dicatat fakta sejarah kekalahan para pendaulu paderi mereka di abad ke-19 yang kabarnya sadis juga saling main bantainya.


Meski tidak mau mengaku liberal, meski terus disudutkan utk ngaku liberal, bahkan dianjurkan keluar dari islam karena islam itu hanya tafsir versi kami yang tanpa tafsir aka leterlek yang benar xixi, gw termasuk bukan yang anti dengan jihad qital dalam syariat islam. Gw setuju dengan Nabi bahwa dunia ini sekedar tempat ujian sebentar jadi jangan mengira yang damai-damai dan enak-enak saja itu yang benar, meski lagi dari sudut lain mewujudkan kedamaian itu juga merupakan kebaikan. Yang bikin gw puyeng ada sekte yang ngerasa fundamentalis tapi tujuan duniawinya sangat kental sampai-sampai memfitnah Nabi sosok yang kaya raya dan mendoktrin umatnya bahwa jika kita dekat dengan Tuhan maka akan enak kehidupan (duniawinya) xixi. Cuma yang perlu jadi perhatian karena dogma tentang perang itu adalah untuk ujian bukan melampiaskan amarah dan hawa nafsu maka perlu kehati-hatian agar tidak terjerumus 180 derajat jadi anjing-anjing neraka saat seorang pelacur yang cuma punya amalan memberi minum seekor ANJING saja mendapatkan rahmat syurga. Saat bendera islam tidak jelas seperti sekarang maka berlakulah kaidah patahkanlah tongkat-tongkatmu dan gantilah jadi pedang dari kayu. Waduh, gw bisa dicap sufi sesat penghuni neraka nih gara-gara mengutarakan hadits yg bisa dipilih-pilih sesuai kepentingan begini, ahayyy.

Kembali ke facebook, suatu waktu grup radikalis lokal tersebutkan tadi mengubah tema utamanya jadi anti investasi kristen. Sebagai catatan gw juga setuju dengan pendapat seseorang yang menyebut secara bahasa radikal dan fundamental tersebut justru bagus, tapi sekarang kita berbicara dalam wilayah lebih luas: cap, identitas, hingga persepsi. Nah, dalam salah satu sesi diskusi di grup ini--yang tentunya dipenuhi oleh kalangan sekte "radikal" yang antar mereka juga saling mengkafirkan dengan dalih asal tidak tunjuk hidung karena ada penanda dan penghalang bagi kekufuran--terjadilah keributan ketika pendapat gw dihajar mereka. Sampai yang paling parahnya ada pak haji riya yang mau cari-cari alamat untuk (mungkin) mau bunuh gw. Petunjuk Nabi tentang ini yang jadi pegangan gw sih jelas: membunuh khawarij ini berpahala dan terbunuh oleh mereka syahid. Cuma tetap perlu kehati-hatian di zaman ketidakjelasan ini dan menghisab sendiri masih sedikitnya ilmu kita (wkwkwkwk). Untuk itu opsi bersabar adalah pilihan terbaik menghadapi tantangan dan cercaan kekanak-kanakan mereka-mereka para khawarij yang labil emosi ini. Padahal meski punya akun anonim di fesbuk, akun yang gw pakai buat bersuara di forum tersebut adalah officially jadi gw juga menganggap tidak perlu lari dari tantangan anjing-anjing neraka ini. Kalaupun kadang gw suka berkeliaran di dunia maya dengan identitas anonim--yang itu juga bukanlah hal yang sulit jika punya keahlian untuk menelusuri bila ingin membongkarnya--adalah lebih bukan karena pertimbangan pribadi melainkan mengingat kaitannya dengan keluarga gw yang pasti kebawa-bawa dengan keadaan mereka tidak sesiap keyakinan gw pribadi. Tapi apapunlah tetap gw yang lemah ilmu ini harus takut salah menilai dan lebih baik menghindari "perang" dengan pak haji riya dan kawan-kawannya yang mungkin (hihi) penganut mahzab anjing-anjing neraka ini. Ada benarnya juga kata salah seorang pentolan sekte sawah utk hindari perdebatan, masih banyak yang belum kita tahu, sibukkan diri dengan mencari ilmu. Jangankan gw yang masih culun ilmu, seorang pentolan salah satu sekte sawah yang kemudian dikeluarkan dari harakahnya yang tiap hari berjuang untuk syariat islam di Indonesia saja juga tidak lepas dari cap kafir dan sesat menyesatkan ini. Cuma kadang jiwa muda gw penasaran kenapa pak haji riya dan kawan-kawannya tersebut tidak membantah argumen gw, apa karena ia juga kurang ilmunya dan hanya membabi-buta penuh amarah? Duh, udah tua masih pemarah.... xixixixi!