Senin, 27 Januari 2014

Komprador

Menkeu baru Uda CB yang isunya antek liberal dan titipan kompromi kepentingan Golkar makin menambah sedap wacana tentang telah tergadainya kemandirian bangsa ini pada 'interest' pemodal besar asing dengan segala kepentingannya atas dan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di tengah fakta statistik bahwa porsi terbesar SDM angkatan kerja produktif muda Indonesia berpendidikan hanya menengah dasar, sementara yang susah payah menyelesaikan pendidikan tinggi juga tidak produktif karena salah perencanaan untuk diselaraskan kepada dunia industri--yang insinyur pertanian kerja di bank, lulusan keuangan jadi pengajar bahasa inggris, eh lulusan sastra tak cocok jadi sastrawan, bahkan lebih parah lagi lulusan sekolah jalanan alias preman malah jadi konglomerat berkat skill politik tentu alias bukan preman bego--kita jadi memang patut bertanya: mampukah pengurus bangsa ini mengelola negara sesuai konstitusi untuk keadilan sosial bagi semua, bukan cuma cari selamat masing-masing seperti para insinyur-insinyur cerdas lokal yang dimanfaatkan perusahaan asing, yang menahan diri dari ikut memikirkan keruhnya politik negara ini karena bisa dimaklumi akan bisa menganggu 'cash flow' ke mereka punya periuk nasi? Yang tidak disediakan oleh sesama bangsa sendiri?


Makanya jangan heran jika penulis dhoif ini punya ide: ya sudahlah daripada bertengkar terus dengan antek-antek asing atau yang sering kita tuduh dengan komprador atau PBB (Persatuan Babu Barat) itu lebih baik langsung saja kita kontrakkan negara ini untuk dikelola SDM asing beneran sekalian. Mana tahu karena secara peradaban ilmu mereka lebih mapan jadi pengelolaannya lebih maknyos ketimbang kita-kita yang ras lokal. Insaallah uang sewanya cukup untuk ngebulin periuk nasi secukupnya dan sama rasa sama rata. Toh Pak Harto sudah memulainya di Bukit Grasbergnya Freeport. Ide ini muncul karena penulis melihat daerah tambang tersebut mirip banget dengan yang ada di Grand Theft Auto San Andreasnya perusahaan amrikiyah bernama Rockstar.