Netconomy dan Nikitamirzaniisme

Meski bukan ahli ekonomilogi apalagi seksologi atau entertainomi, saat ini saya sedang tergelitik untuk membahas dua isu yang dijadikan judul di atas tersebut. Seperti juga--meski bertahun-tahun disiplin ilmu mencekoki dengan doktrin kerapihan berbahasa yang terstruktur dan taat asas--saya gemar banget memulai berkata-kata dengan hal-hal yang tak lumrah seperti menulis artikel dengan diawali kata sambung [meki] bahkan tanpa penggunaan [pun] meskipun ia menjadi awalan sebuah klausa dari sebuah kalimat atas sebuah artikel. Berpanjang-panjang pula seperti begini-begini mungkin berkesan bertele-tele dan mencemaskan pembaca praktis, namun saya tipe pembosan pada tulisan yang kering gaya bahasa, terlalu formalitas, bahkan seperti membaca susunan angka-angka. Kadang saya ndak habis pikir; jika anda memang kurang suka/mampu membuat tulisan populer, kenapa tidak tulisan ilmiah tersebut dipublikasikan pada sebuah jurnal saja. Alangkah eloknya jika petunjuk teknis yang memaparkan ide praktis dan kongkret anda tersebut dikemas apik sedikit menjadi semacam narasi tekstual yang bermanfaat dan indah juga. Bahkan kalau perlu cuma indah saja, seperti orgasme intelektual kita saat membaca gado-gado referensi yang diracik kedalam susunan kata-kata indah oleh Goenawan Mohammad dalam capingnya yang kadang kita tidak mengerti inti dan maksud tulisan itu sebenarnya apa?

Beberapa waktu lalu kita seolah-olah dikejutkan lagi dengan berita sensasional ditangkapnya artis seksi Nikita Mirzani oleh pihak kepolisian dalam kasus prostitusi kelas atas. Sampai-sampai aktivis feminis berteriak protes atas persepsi penyudutan media massa atas kelakuan pihak perempuan yang melacurkan dirinya. Bagi feminis harusnya yang salah selalu laki-laki sebagai pihak pengguna "jasa". Mungkin juga laki-laki bosnya media massa yang mengeruk keuntungan berita komersil dari penistaan perempuan yang "bekerja keras" menjual dirinya. Dalam kasus pelacuran--bahkan kelas ataspun--pihak wanita adalah korban dan seolah makhluk lemah tidak berdosa. Kalaupun berdosa tetap itu tidak lebih besar dari pihak laki-laki penggunanya yang sudah keluar modal besar bahkan untuk membayarnya. Terlebih ini menjadi narasi olok-olok atas kelakuan primitif perempuan yang harus menjual diri untuk berbagai kebutuhannya. Kadang saya tertarik untuk ingin tahu kenapa kalau yang kena kasus selebritas, para aktivis gender ini mereka heboh teriaknya. Berbeda dengan saat yang kena pelacur kelas bawah seperti adik Tata Chubby beberapa waktu silam. Apa mungkin mereka dibayar juga? Wallahualam, kalau sudah soal kebutuhan ekonomi ini memang sulit untuk menyalahkan siapa-siapa. Halal-haram sekarang hanya istilah politis tergantung pihak/kelompok yang punya kepentingan untuk memberi nilai atasnya. Istilahnya tidak ada uang halal-haram, yang ada hanyalah uang. Kalau sudah punya uang kalau perlu Tuhan sekalian disogok nanti lewat derma "money laundry" kemana-mana.

Korsleting nilai antara moral/agama masyarakat timur seperti kita yang memandang haram pelacuran di satu sisi dengan pengaguman aktivitas ekonomi di sisi lain menarik juga untuk dikorek-korek pembahasan lengkapnya. Beberapa waktu silam juga, menteri kelautan Susi Pujiastuti yang seorang pengusahawati ini berani meneriakkan fatwanya kepada kaum perempuan supaya jangan mau dibeli. Ini kemudian dikaitkan dengan budaya mahar dalam pernikahan anak manusia dimana seolah-olah untuk dapat menikmati seks setiap pengantin lelaki harus menyediakan sejumlah uang tertentu. Ini kemudian menimbulkan kesan bahwa pernikahan agamis/adatis secara substansi ndak ada bedanya dengan perzinahan komersil. Transaksional juga. Cuma beda legalitas bahwa secara politik yang satu diperbolehkan oleh negara dan memperoleh sertifikat tertulis.Juga beda fleksibilitas tarif dan durasi karena pernikahan untuk jangka waktu lebih lama. Salah satu cara ngeles untuk membantah logika kesamaan ini adalah bahwa syarat uang dalam pernikahan tersebut bukanlah tarif melainkan tanggung jawab laki-laki pada perempuan yang dinikmatinya. Loh, tarif pelacur kan juga semacam tanggung jawab pula.

Tapi dalam tulisan ini saya tidak sedang dalam kapasitas membuat nilai salah-benar yang absurd dan politis itu. Saya hanya mencoba mendeskripsikan realita saja. Toh dalam sebuah peristiwa ekonomi setiap manusia pasti akan menggunakan apa saja potensi pada dirinya yang bisa dijual. Orang tentunya mau membayar karena ada kenikmatan yang ingin dibelinya. Mulai dari hal mendasar seperti makanan-minuman hingga yang sifatnya kebutuhan luxorious seperti mobil bermerk, tas branded, hingga jabatan/kursi terhormat. Kebetulan juga seks adalah kebutuhan dasar biologis manusia pula. Kenapa tidak perempuan memanfaatkannya untuk meraih penghasilan nilai tambah ekonomi. Tentunya berlaku logika makin cantik dan seksi makin mahal pula harganya. Tidakkah ini juga berlaku pada logika pernikahan?

Sekali lagi saya menghindar dari masuk ke judgement salah-benar meski terlalu banyak bertanya secara retorika. Saya hanya ingin meluruskan kembali logika-logika dasar dalam memahami persoalan yang sudah terlalu banyak dikaburkan oleh norma-norma ekstensi hasil kesepakatan/kejadian politis dalam sejarah peradaban manusia. Karena zaman terus berguling ke masa depan dan satu-satunya yang tidak akan berubah adalah terjadinya perubahan itu. Norma-norma yang menghipnotis kita di masa kini akan selalu mengontraksikan dirinya sesuai kenyataan baru zaman-zaman berikutnya dalam pergeseran nilai-nilai eksponensial pengukurnya. Salah satu isunya adalah masuknya kita ke zaman internet. Isu yang saya maksud disini bukan fitnah ya meski fitnah juga tidak satu pula arti tetapnya. Arti kata nggak stabil juga digerus konteks dan medan makna. Kali ini saya ingin mengaitkan Nikitamirzaniisme ini--yang mencoba membongkar kenyataan bahwa motif syahwatlah dasar bagi aktifitas ekonomi manusia--dengan perkembangan internet dewasa ini. Pada kasus adik Tata Chubby yang sempat saya senggol sedikit pada pembicaraan di atas, orang semakin ngeh tentang bagaimana para pelacur online jadi fenomena tersendiri saat ini. Mereka bisa menjual diri tanpa harus lagi membayar fee mucikari dan sekuriti; "dirrect selling" pada pelangannya.

Pada kasus diciduknya adik Nikita Mirzani--di bawah 30 tahun juga sepertinya--memang transaksinya masih konvensional. Pelanggan harus menemukan kontak dulu dengan germonya pada klub-klub papan atas baru kemudian me-reload "down payment" untuk kencan di lokasi hotel kelas atas banget juga. Dari informasi media massa dan simpang siur berita serta permainan pihak-pihak besar yang terlibat di dalamnya--bahkan badan intelijen negara pun disebut-sebut berperan juga sebagai pencipta isu--kita bisa menonton bantahan adik Nikita yang beralibi sewaktu ditangkap polisi bersama target lainnya yang seorang juara putri indonesia tersebut ia sedang dalam urusan bisnis dengan mas Ahmad Dhani, seorang musisi tersohor juga. Meski ini transaksi perzinahan konvensional--dengan kemungkinan ia berbohong tentang maksud "bisnis" disini--tak pelak lagi kita juga bisa menemukan logika-logika berkaitan ekonomi zaman internet dari peristiwa ini. Sebelum kisah ini akhirnya dibuat cerita indah yang dirangkai untuk kepentingan pihak terkuat, alangkah bermanfaatnya kita menganalisis logika dari serpihan-serpihan peristiwanya yang apa adanya terbuka. Sekali lagi, sebelum maksud cerita dikunci tafsirnya oleh pihak berkepentingan yang menitahkan hal-hal lain menjadi tidak relevan. Melambungnya "harga" seorang Nikita tentu tak lepas dari publikasi massif tentang "keindahannya" atau "nilai lebih manfaatnya" dari "display" oleh media elektronik dan internet. Terlihat masuk akal bukan bagaimana teknologi baru zaman ini tersebut punya peran strategis dalam menciptakan nilai keekonomian sebuah "komoditas"?

Saya betul-betul menyadari bahwa berbicara blak-blakan seperti ini mungkin akan menyakiti pemahaman mapan komunikasi palsu tapi sopan antar umat manusia. Jangankan anu, seorang dalai lama saja baru-baru ini dikritik karena makna pernyataannya yang vulgar mengakui nilai seorang wanita tak lebih dari kecantikannya (untuk dinikmati lelaki). Ini seorang Budha lho yang relatif dianggap belum terlalu diracuni virus komersil-kapitalis seperti agama-agama politis lainnya. Kalau yang ngomong semacam begini bosnya majalah playboy dengan istri muda betul-betul muda pewaris kekayaannya mungkin orang akan maklum-maklum saja. Di Indonesia sendiri saya pernah mendengar bahwa mas Ahmad Dhani yang disinggung di atas sedikit tadi juga menyebut bahwa perempuan itu yang dibutuhkan cantiknya bukan cerdasnya. Memperlakukan wanita sebagai komoditas begini tentu saja saya tidak setuju tapi ya begitulah realitanya. Saya dan dalai lama mungkin juga ndak tahan terus-terusan berbohong demi kebutuhan bahasa diplomatif meski di satu sisi bahasa basa-basi itu mutlak diperlukan juga agar tidak terjadi perang dunia.

Kembali lagi ke ekonomi zaman internet, selain website pornografi dan prostitusi sebagai embrionya, transaksi ekonomi mulai bisa jadi tren juga kepada entitas komoditi lain perlahan-lahan. Beraneka barang kebutuhan (syahwat) manusia selain seks kini banyak bisa ditemukan pedagangnya di dunia maya. Kalau beberapa tahun yang lalu masih didominasi para penipu, sekarang mulai eksis perusahaan-perusahaan yang jelas bisnisnya di dunia nyata dan bahkan salah satunya punya direksi yang mantan petinggi bumn di Indonesia. Realita terbaru ini menuntut aturan bisnis di dunia nyata harusnya juga mulai menancap di dunia maya. Katakanlah sekarang pasar ultra modern sudah semakin ramai, maka untuk mengendalikan kegaduhan massa yang makin sesak ini tentu perlu hadirnya ranah hukum juga. Sebab dimana ada kerumunan orang disanalah potensi kejahatan hadir. Bukan bermaksud suudzon namun seperti kata Profesor Mahfud MD: hukum itu hadir karena manusia dicurigai akan berbuat jahat. Sudah waktunya polisi cyber dikerahkan untuk melakukan patroli digital yang tentunya sebagai kelembagaan resmi negara mesti didasarkan kepada aturan hukum atau perundang-undangan sebagaimana perangkat ini dilembagakan untuk menghadapi kejahatan di dunia nyata. Sekarang ini kita baru menyaksikan tindakan bersifat sporadis oleh institusi kepolisian di dunia maya. Bahkan seperti pada kasus pidana "hate speech", jadi terkesan tindakannya pilih-pilih untuk menangkap pihak yang terkait kepentingan elit politik saja sementara kenyataannya dunia maya adalah panggung besar untuk drama hina menghina karena setiap personnya secara fisik tidak perlu bertatap muka. Sudah saatnya unit cyber kepolisian diperkuat. Bahkan syarat orang kekar cukuplah untuk polisi yang akan melakukan tindakan fisik di dunia nyata. Seorang cowok melow sekalipun tidak ada salahnya direkrut sepanjang ia bisa menjalankan tugas patroli dunia maya ini. Bahkan kalau perlu saya berimajinasi bahwa penjara tidak perlu dibangun. Ketika seseorang melakukan kejahatan ekonomi di dunia maya dan ketahuan, cukuplah ia ditandai untuk diblokir keluar dari rumahnya. Ditangkap secara fisik jika ia melanggar hukuman ini. Sebab bisa jadi di masa depan orang lebih banyak beraktifitas di depan komputer/gadgetnya saja. Kalau perlu pada pintu rumah semua orang dipasangai terali siap kunci yang otomatis menancap-menutup saat si pemilik rumah/apartement divonis melanggar hukum di dunia maya.

Kembali lagi ke dunia nyata setelah barusan saya terlalu jauh mengkhayal sedikit ke masa depan, realitanya juga aktifitas ekonomi saat inipun memang sudah banyak berpindah ke dunia maya atau internet ini. Hanya pengiriman barangnya saja yang belum bisa digital; masih harus manual diantarkan secara fisik/off line oleh sesosok kurir. Tapi ada juga barang-barang yang sepenuhnya proses transaksi berlangsung online seperti aneka voucher atau nomor lotere atau buku digital, video porno, dan sejenisnya. Sistem pembayaran non-tunai pun kini makin digalakkan oleh bank-bank dunia nyata yang meminimkan penukaran fisik uang cetak dari isi saldo pada akun seorang nasabah. Bahkan sistem keuangan bitcoin pun seolah akan meruntuhkan sistem uang kertas/surat utang dan sistem cadangan emas jaringan perbankkan dunia ini dalam beberapa dekade ke depan. Meski ada juga film yang kelewatan berkhayalnya dengan meramal internet pun bisa untuk upload pikiran dan jiwa seorang manusia. Kenyataannya memang sekarang kalau mau makan di restoran padang bukan saja anda tidak lagi harus ke kota padang seperti dinyanyikan adik Chikita Meidy, anda bahkan juga tidak harus ke luar rumah asal bumbu-bumbunya tersedia tinggal googling resep di internet mau masak rendang, ayam balado, atau apa. Makin ramainya pasar bagi transaksi ataupun sekedar aktifitas elektronik networking digital ini menuntut tata norma dan lembaga dalam hubungan fisik manusia di dunia nyata harus diadaptasi pula pada sosiologi dunia maya. Seperti sudah dibahas panjang lebar sebelumnya, dimana ada aktifitas ekonomi disitu hadir motif syahwat yang berpotensi mewujud pada aneka format kejahatan. Untuk itulah perangkat hukum diperlukan untuk memberi nilai salah-benar untuk berbagai aktifitas manusiawi yang akan makin meraja-lela dilakukan di dunia maya ini dan mereka perlu penguatan untuk pelaksanaanya dari sekedar gelar pasukan fisik gaptek di dunia nyata. Karena kejahatan itu terjadi dari aktifitas antar manusia dan manusia pulalah yang harus berfikir bagaimana mengatasinya ketika fenomena menunjukkan wadah interaksi manusia ini bertambah medan tempurnya ke dunia internet. Sekali lagi kejahatan itu melekat pada kemanusiawiaan, utamanya aktifitas bisnis dimana mereka saling berkompetisi mencari nilai tambah untuk mengeruk keuntungan dari sesamanya dan dengan pintar-pintaran mengakali aturan main yang ada. Bukan ketika seekor harimuau mencabik-cabik mangsanya, ini natural namanya dan sudah pasti polanya. Kejahatan dalam aktifitas ekonomi harus terus berinovasi, berpacu dengan kemajuan perangkat hukum untuk menangkalnya. Okay, salam syahwat manusiawi!

Pusako Minang dan Dinamika Famili


Menulis tentang "situasi kontemporer" dalam keluarga besar ibuku beberapa waktu lalu, ada yang sedikit terlewat tapi kayaknya penting untuk tidak dilewatkan untuk dicatat. Sebagaimana disinggung sedikit akibat pembicaraan tentang pertengkaranku dengan om/mamak (gara-gara anaknya ditempatkan di pusako kami lalu membuat masalah), terjadi sebuah situasi di tanah pusako nenek dari pihak ibuku ini yang mana daripada akan sangat rentan untuk mengarah pada potensi konflik besar. Sekarang makin tercium bau agenda dari pihak mamak2ku yang tengah bersiasat untuk "merampok" sebagian dari pusako kami untuk beralih2 ke anak2 mereka yang tentu saja akan dipilih bagian2 yang paling strategis untuk mereka. Ini karena mereka dalam posisi yang sangat menentukan buat ngakalin. Manusiawi memang, karena rampok adalah bagian juga dari tradisi/budaya seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya baik tingkat dasar ataupun hingga level menggapai kemewahan. Dulunya ini juga rasanya sudah mulai sedikit kumengerti tapi kuabaikan karena pertama, aq ndak matre lah yaw dan kedua, situasinya baru perang dingin belum meletus terbuka. Ibaratnya maling diam2 walau sama2 sudah tahu akan terasa lebih elegan ketimbang ngerampok terang2an. Dulunya karena ada harapan mereka bahwa aq jadi orang kaya mungkin diharapkan soal tanah pusako ini dapat dibagi2 saja buat mereka karena aq dianggap sudah tidak butuh. Dan ketika faktanya aq tidak kunjung kaya dikhawatirkan jika aq menguasai tanah pusako ini mereka jadi ndak bisa lagi merampoknya, alih2 mau berharap aq bagi2 kekayaan buat mereka. Padahal rasa2nya mau kaya atau tidak aq akan sama saja sikapnya. Kalo miskin aq tidak sudi dirampok, jika kaya pun bagiku itu juga bukan alasan membiarkan diri dirampok.

Part peristiwa penting yang ingin kutulisankan kali ini berkaitan juga dengan masalah ini yang terlewatkan kemaren adalah kejadian waktu kedatangan ibuku (bersama adik bungsuku) ke rumah adiknya (bibiku) di Bandung yang ditolak masuk rumah. Kabarnya pintu pagar rumah mereka tidak dibukakan dan bibiku sembunyi di dalam rumah. Tidak tahu apakah anak2 mereka dan omku (suami bibi) tahu peristiwa ini saat itu. Yang jelas bagiku, beberapa waktu kemudian om itu yang mana merupakan teman sekolah dan seumuran ibuku minta maaf atas kejadian tersebut. Perlu ditambahkan nih: padahal setahuku waktu mereka pindah ke Bandung ini ibuku sempat bantu meminjamkan uang kalau ndak salah buat beli mobil untuk si om (mungkin ini juga yang membuat ibuku merasa pede untuk mendesakkan kepentingannya kepada adiknya yang kaya tapi sempat ngutang itu haha). Dan yang jelas juga adik bungsuku merasakan langsung pengalaman tidak enak dengan dunsanaknya ini. Aq tahunya belakangan saja bahkan mungkin sudah tahunan setelahnya dari adik2ku. Waktu itu adikku yang bungsu itu baru tamat SMA (nganggur setahun) belum mulai kuliah di UNPAD, sementara aq dan adik nomer dua sudah di Jatinangor. Mungkin bibiku itu benar2 sudah muak ibuku memaksakan diri untuk menitipkan ketiga2 anaknya disana. Padahal sudah terbukti aq dan adikku nomer dua pada akhirnya kos sendiri. Tapi ya itulah, sudah tabiat ibuku kagum dan percaya pada orang kaya; ingin setidaknya anaknya yang paling bungsu ini bisa cocok dan nyaman tinggal di perumahan elite kota kembang itu. Aq bisa ketawa2 saja mengingat peristiwa ini sekarang tapi pas terjadi tentunya sakit hatinya tuh disini. Tapi ternetralisir karena aq bisa memaklumi tabiat mereka (keluarga ibuku); bahkan bersimpati juga dengan psikologis bibiku yang tertekan disodor2kan kakaknya anak2 miskin dari kampung ini yang tentunya berdampak bagi stabilitas keluarganya. Ibuku mungkin senang dan bangga anak2nya hidup dan tinggal sama orang kaya, lah bagaimana dengan kejiwaan adiknya tersebut yang merasa terteror dibebani mengasuh anak2 kampung ini? Sekali dua kali memaksakan diri untuk sabar toh kakak sendiri, tapi akhirnya untuk yang ketiga kali meledak juga hehe.



Kemudian sekalian nyambung dan kebetulan ingat juga: bagaimana dengan psikologis adik bungsuku itu menerima fakta ini? Kelihatannya ia juga maklum karena tabiat keluarga kami memang begitulah adanya. Kalau aq maklum tanpa membenarkan tapi kalau dia mungkin maklum sekalian tidak berani menyalahkan karena mindsetnya orang jika punya uang sudah selayaknya lebih dihormati. Tapi yang jelas faktanya lagi2 adik bungsuku ini sepertinya juga tak betah disana. Tak betah disini bukan dalam pengertian dia ndak suka. Pastilah dia senang tinggal di rumah orang kaya. Tapi dia, seperti juga aq dan adik nomer dua, pasti merasakan kalau bibiku merasa ndak nyaman dengan keberadaan kami dan dalam posisi memaksakan diri. Setelah bisa menyadari akhirnya toh dia keluar juga. Dan menariknya ini sempat jadi bahan pertengkaran kami berdua karena waktu itu aq ndak nyangka juga adik bungsuku ini seharusnya menurutku lebih bisa "adaptasi" untuk hidup di rumah orang kaya. Bahkan ia tidak secara terbuka pula ngomong kalau ia "menyerah" untuk bertahan lebih lama disana. Waktu yang ini adikku sudah kuliah di UNPAD dan ibuku dengan bibiku tentu saja sudah baikan dan melupakan peristiwa sebelumnya. Waktu ini adikku datang ke rumah kontrakanku di Tanjung Sari dan seingatku butuh aq untuk menemani ke kampus pusat di Dipati Ukur (dia baru masuk untuk pendaftaran ulang atau entah apalah, yang jelas belum mulai masuk kuliah). Nah, bis yang membawa kami dari Jatinangor ke kampus pusat kebetulan lewat depan komplek rumah bibi. Hmm sekarang aq baru ingat. Jadi waktu itu aq sudah tahu rasa2nya kalau ia ndak betah dan ingin cari kos (sehingga butuh aq untuk bantu). Cuma yang bikin aq marah karena ia menolak aq ikut dia ke rumah bibi untuk ambil tas membawa barang pindahan. Waktu itu aq belum tahu kejadian ibu dan adikku itu pernah diusir oleh bibiku. Mungkin ibuku mewanti2 adikku agar abang jangan dikasih tahu supaya hubunganku dengan bibiku tidak memburuk. Padahal kalaupun aq tahu ya maklum juga toh hehe. Mungkin gara2 inilah adikku bersikap sebaiknya aq tidak bertemu bibi dan menyaksikan suasana gak nyaman hubungan dia dengan bibi. Karena ndak mengerti alasan ini aq tentu saja jadi jengkel pada adikku kenapa ia melarang aq untuk turut mendekati rumah itu dan nyuruh aq nunggu di luar. Gara2 peristiwa ini aq balik ke Jatinangor dan dia nyari kos sendiri. Lalu ibu kami bersedih hiks hiks...

Tapi whatever, seburuk itupun hubungan kami, aq hingga detik ini ndak sampai level memusuhi bibiku itu (beda dengan mamak2ku yang kurasa sudah sampai pada titik tidak bisa ditoleran). Bahkan hingga aq bertahun2 berdiam di rumah sekarang, sesekali ia datang dengan om, aq bahkan santai aja ngobrol sebentar walau aq merasakan buat dia itu cuma basa-basi. Tapi ya itu aq bisa maklum karena sifat2nya 11-12 dengan ibuku hehe. Padahal kalau ke Bandung aq ndak pernah lagi ke rumahnya (tidak ingin jadi beban), tidur di stasiun Kiara Condong atau Mesjid Raya di Alun2 yang tentu saja tanpa memberitahu dia atau ibuku tentang keberadaanku di kotanya. Istilahnya kami saling jaga jarak utk tidak sampai ada yang terbebani tapi juga jangan sampai putus. Adik2ku apalagi; pastilah apapun yang terjadi sebegini begitu mereka tetap menaruh hormat dan jaga sikap pada bibiku itu. Oklah itu saja dulu yang kebetulan sekarang ingat. Tadinya mau masuk ke analisis tapi sekarang kepala jadi mumet juga memikirkan bagaimana aq harus berposisi ditengah2 kaum MATRE-linial ini karena bagiku jika uang jadi indikator itu berarti posisiku adalah bisnis dengan orang lain. Untung sama untung. Bagi keluarga, uang dan keuntungan tidak boleh jadi syarat. Adanya tidak boleh jadi tujuan atau modus karena itu akan membuat kita dalam posisi saling orang lain. Ya sudahlah puyeng gw, apalagi anda orang lain yang membaca ini hahahahaha. Okay assalamualaikum wa rahmatullahi wa kantongiyyun!

NB: Perlu sekalian ditambahkan disini kebetulan sedang ingat. Aq juga bisa merasakan sedikit banyak pastilah bibiku itu ada rasa sayang pada ponakannya walau terteror oleh kedekilan kami. Sewaktu tahun pertama kuliah dan aq masih sering berkunjung ke rumahnya, pernah sekali waktu aq disuruh nungguin rumah mewahnya itu selama semingguan (tentunya siang aq ke kampus Jatinangor pergi kuliah). Aq ingat karena waktu itu aq bawa teman2 se-kamar asrama dan dapat penyakit kulit karena ndak tahu kalau air sumur bornya harus pake penyaring karena kotor. Katanya sih waktu itu pergi liburan sekeluarga atau apalah aq tidak ingat persis. Yang jelas peristiwa itu sekarang aq membacanya sebagai upaya dia--atau mungkin inisiatif suaminya yang lebih cerdas hehe--untuk mendekatkan lagi hubungan kami pasca aq keluar dari rumahnya untuk masuk asrama. Karena mau seminggu atau sebulan juga rumahnya ditinggal pasti aman walau tak ada yang nungguin karena disana adalah perumahan elite yang satpam keliling setiap sekian jam. Ok itu saja, intinya hubungan kami di keluarga ibu jadi begitu buruk karena perbedaan mindsetku dengan mereka dan kondisi ekonomiku yang merupakan faktor penting bagi mereka. Tapi apapunlah kami memiliki pertalian darah di nenekku yang sangat kusayangi dan ia juga sangat menyayangiku sewaktu masih hidup. Berat sungguh bagiku kalau harus bermusuhun dengan anak2 dan cucu2 kandungnya cuma gara2 uang keparat! Wah uang mah bukan cuma ya kawan hahahahahahaha.

Potensi Sangketa Tanah Pusako

Aq seorang minangkabawer yang dilahirkan dari keluarga ibu di daerah koto panjang kanagarian koto tangah kotamadya padang. Tempat ini lebih dikenal sebagai daerah lubuk minturun yang merupakan sebuah kawasan/area pemandian tak jauh dari rumahku ini. Sementara keluarga bapakku berada di muaro labuah kabupaten solok selatan. Setelah numpang lahir sebentar pada kontrakkan ibu-bapakku sewaktu mengajar SD di daerah pamancuangan-aie cama, sejak kelahiran adik-adikku, disinilah aq menetap hingga tamatkan SMA. Kuliah sekitar 6,5 tahun di jatinanjer bandung, lalu kembali lagi bermukim disini meski sesekali kadang mondar mandir ke pulau jawa sana.

Kampung halaman tempat tinggalku ini dulunya adalah "rural area". Atau dalam istilah olok-oloknya disebut dengan akronim "papiko" alias padang pinggir kota. Dahulu bagiku kesannya adalah pelecehan untuk membedakan strata sosial anak padang pusat kota dengan orang2 daerah pinggiran (kuranji, pauh, dan koto tangah ini). Mirip2 pengkastaan anak komplek vs anak kampung gitu dah. Terlebih bagi orang2 kuranji yang bahasanya "eksotik" dengan banyak /e/ dan ada "nyeh"-nya. Padahal penduduk padang asli--dalam artian pendatang yang pertama kali nongol--justru adalah orang2 tua leluhur tiga kenagarian ini (turun dari pegunungan bukit barisan solok). Sedangkan wilayah padang pusat kota yang dekat pelabuhan/pantai lebih dominan dihuni oleh pendatang kemudian hari dari darek (luhak agam, tanah Data, 50 koto) atau rang piaman, pasaman, painan, ataupun daerah2 luar minang's seperti keturunan mentawai, nieh, aceh, tapanuli, batak, cina, jawa, arab, india hingga belanda bahkan mungkin afrika. Tentunya pada zaman belanda pun hanya pemuda2 daerah pinggiran ini pulalah yang punya nyali atau motivasi untuk melawan penjajahan seperti pandeka si patai, meski pada analisis pragmatisnya kebanyakan mereka mungkin hanya ikut2an saja untuk bergerombol merampok (tuntutan ongkos kawin hehe).

Pasca gempa dan potensi tsunami tahun 2007 dan pun sejak walikota padang dipimpin oleh "seekor kuda hitam" yakni seorang pamen komandan pasukan katak TNI AL yang keturunan asli koto tangah, maka orientasi pembangunan kota padang berubah ke arah papiko ini. Dimulai dengan pembangunan terminal di aie pacah yang sekarang telah berganti menjadi kantor walikota dan DPRD yang baru. Kemudian, terlebih sejak tahun 2015 pembangunan 6 lajur jalan raya padang by pass dilanjutkan dan pemerintah mulai bertegas2 soal pembebasan lahan. Maka tanpa dinyana papiko inipun telah berubah menjadi "downtown" juga (nanti) pada akhirnya. Tak ada jalan di seluruh sumbar ini yang lajurnya sampai enam track sepanjang sekitar  hampir 30 km-an; hampir sepertiga jarak lurus padang-bukittinggi yang sekitar seperempat lebar ujung ke ujung provinsi barat pulau andalas swarna diva ini. Kebetulan ataupun tidak yang pasti sudah qadarullah, tanah pusako nenek dari ibuku ini berada persis di simpang empat antara pelabuhan/pusat kota-bandara internasional/terminal baru dengan lanud/stasiun tabing-kawasan agrowisata lubuk minturun/kampus baru iain/jalan baru ke solok. Tidak tanggung2 ke empat2 sisinya adalah diborong merupakan "milik" keluarga besar ibu/nenek kami.

Beberapa bulan yang lalu--aq tidak ingat persisnya, yang jelas rasanya belum lebih setahun--pecah juga konflik terbuka antara aq dengan om/mamak/adik ibuku. Ini bisa dibilang diawali ketika bagian tanah di simpang yang dikuasai om ini beralih dari kontrakan orang lain kepada anak tertuanya yang sudah kawin meski usia lebih muda dariku. Sebagai catatan dan ini penting untuk analisis: si pengontrak sebelumnya tersebut sepertinya dipaksa pindah karena ia bukan tutup usaha ataupun tak laku jualannya melainkan toko bangunannya pindah tak jauh dari sini. Dan penting juga dicatat: apapun yang mau om ini lakukan di lahan yang ia kuasai, ibuku apalagi aq tak bisa mencampuri bahkan juga tidak diberitahu sama sekali. Di sebuah bengkel mobil yang dikontrak wong jowo bahkan hingga bertahun-tahun kini aq ndak tahu siapa2 orangnya; bahkan mereka termasuk daftar yang aq curigai anak2 buahnya pelaku maling rumahku beberapa waktu lalu. Begitulah tradisi kekeluargaan yang mengenaskannya pada keluarga besar ibuku ini hiks hiks.

Kembali ke kontrakan yang di-"over" anak omku tadi, lokasinya persis di sebelah rumahku/ibu-bapakku yang dulunya merupakan rumah nenek-kakekku ini. Disana oleh adikku tersebut didirikan tempat jualan bunga taman yang umum di daerah lubuk minturun sini. Penting untuk diketahui adik/anak omku ini kawinnya sama anak dari salah satu cucu beda istri dari bapaknya atau abaknya ibu dan omku tersebut, jadi level cucu bagi ibuku (tapi persisnya saya juga tidak tahu karena istri resmi kakek tersebut yang kutahu cuma ada tiga sedang konon katanya yang non-resmi masih banyak). Dan penting juga lagi diketahui, kakekku ini konon katanya sangat berjasa untuk "merebut" kembali tanah pusako nenekku ini dari tangan orang lain. Cucu kakekku sekaligus besan omku ini kebetulan juga punya usaha bunga di daerah lubuk minturun atas sana. Tapi sebetulnya seingatku walau mungkin sudah menduga, aq juga tidak terlalu mempersoalkan kemungkinan konspirasi yang sedang omku rencanakan; toh anaknya itu juga adikku sendiri walau bukan pusakonya tanah di simpang strategis ini. Awal2nya aq yang tipe jarang bersosialisasi atau berpolitik silaturahmi ini juga menyempatkan mampir dan ngobrol sama mereka karena bagiku adikku ini juga termasuk yang baik2lah, bukan orang yang macam-macam. Kalaupun ia punya niat mau "mengakuisisi" tanah pusako kami, selain karena tuntutan hidup pastilah karena akal-akalannya omku juga alias bukan inisiatif dia. Kalau dengan omku, ibuku memang sudah lama tidak berhubungan baik. Dengan aq baru meledaknya akhir2 ini saja. Awalnya aq selalu bersikap baik pada dia kalau kebetulan bertemu.

Singkat cerita kemaren2 itu keluarga anak omku itu membersihkan lahan pekarangan mereka yang kulihat merembet jadi ikut membabat pohon2 yang memang sengaja untuk jadi pagar halaman samping rumahku ini. Waktu itu kebetulan adikku ini gak ada disana dan yang "merambah" sepertinya dari keluarga ibunya/istrinya. Karena aq tidak ada yang kenal mereka maka muncratlah kemarahan yang membuatku menyuruh mereka untuk datangkan adik dan omku ini kesini. Belakangan aq baru tahu kalo istri adikku ini sudah beritahu bapakku jika mereka mau "beres2" dan kebetulan karakter bapakku memang pengalah dan penyabar kalo urusannya sama orang lain; kebalikan dengan keluarga sendiri hehe. Tapi aq tentunya juga harus bertindak jangan sampai pohon samping rumahku yang sangat berguna itu keburu dibabat oleh orang2 yang aq gak kenal itu.

Singkat cerita akhirnya aq dan omku bertemu dan bertengkarlah kami. Putus sudah hubungan baikku selama ini kepadanya. Bahkan sampai2 ibuku melarangku untuk ngalor ngidul di luar rumah karena katanya takut ditembak. Kebetulan omku ini seorang polisi sekaligus preman juga jadi mungkin menurut ibuku bukan tak mungkin ia tega bunuh aq demi mengikuti maunya atau kemarahannya. Dari pertengkaran itu hal yang paling kuingat adalah caci makinya pada ibuku yang menunjukkan hubungan tidak harmonis mereka dari dulu. Dia juga menjelaskan kalau adikku/anaknya itu disini cuma ngontrak yang sebetulnya buatku bukanlah persoalan. Tapi ini jadi menunjukkan kalau ia memang punya niat2 tertentu menyangkut adat tanah pusako ini supaya jadi beralih ke anak2nya dan ia mungkin menduga aq tidak terima kalau anaknya numpang "hidup" disini.

Sebelum hubunganku memburuk secara langsung head to head dengan mamak/omku ini rasanya aq juga tidak akan mempersoalkan jika keluarga besar kami nanti sepakat misalnya mengalihkan sebagian tanah pusako ini kepada "orang lain" atau anaknya itu. Meskipun yang mau beralih itu tidak tanggung2 persis berada di lokasi sangat strategis, di simpang bana ko ha kawan hehe. Toh memang ada mekanisme hibah lapeh dan seterusnya dalam adat (konvensi nenek moyang minangkabau). Yang penting itu tidak ada paksaan dan tidak ada satu orangpun yang tidak menyetujui. Kalau soal akal2an dan siasat/motif/modus biarlah itu urusan si fulan dan Tuhannya nanti haha. Yang menarik adalah anak-anak omku ini justru hidupnya lebih sejahtera ketimbang kemenakannya ini--tahulah polisi sawerannya bisa datang dari mana2 hehe--koq masih tega "merampok" tanah pusako dari kami?

Saya ingat persis bahwa bapakku yang tipe kompromistis itu sendiri pernah memberi nilai buruk pada omku (juga kakak tertua ibuku uwan) sebagai orang yang jahat pada saudari2 perempuannya dalam hal menguasai tanah pusako. Tapi seperti kata ibuku, sifat2 materialis itu juga ada pada dirinya jadi ndak usahlah dipersoalkan. Jika secara teoritis Anda mungkin pernah membaca filosofi laki2 minang yang tidak mau membawa sebutir telurpun dari rumah (ibu)-nya untuk dialihkan jadi milik anggota keluarga istrinya, maka khusus untuk nagariku ini memang sudah jadi adat (kebiasaan) sekarang2 ini bagi seorang laki2 untuk membawa hasil tanah pusako ke rumah bini. Padahal harusnya kan kebalikan. Ketika dahulu kala manaruko tanah/lahan baru seorang mamak/datuk yang tadinya memiliki/mendapatkan pusako randah akan bisa menjadi pusako tinggi karena diberikan pada keturunan saudari2 perempuannya. Konsepnya tanah pusako tinggi suku "bermahzab" matrilinial di minangkabau ini bukanlah milik atau kepunyaannya seseorang/individu, melainkan pewarisan hak pakai menurut jalur keturunan perempuan yang "dimiliki" secara bersama2 oleh orang2 yang saparuik/seibu.

Ibuku sendiri kebetulan punya anak lelaki semua. Artinya aq bersaudara juga tak boleh menurunkan tanah pusako ini ke anak2 kami kecuali ada sebagian yang dihibahkan (dan catat: mutlak harus mendapat kesepakatan bulat seluruh anggota keluarga besar yang masih hidup). Menariknya karena tidak punya saudara perempuan kandung maka juga tidak ada secara otomatis kemenakan yang menjadi penerus kami selain jika kami limpahkan "tanggung jawab" tanah pusako dan pandam kuburan kami ini kepada anak2 saudari perempuan jauh dari keturunan bibi2ku yang bahkan aq tidak terlalu ingat/tahu siapa saja namanya--cuma satu yang pernah aq bertemu--bahkan sekarang sewaktu menuliskan ini salah satu kakak jauhku itu aq lupa anaknya masih satu apa sudah dua atau tiga. Percayalah kawan kalau aq orang kaya mereka akan mengenalkan anak2nya kepadaku... Sewaktu bicara dengan ibuku juga ia katakan bahwa mungkin saja omku itu iri padaku karena bisa menguasai seluruh pusako ibuku sementara ia harus berbagi dengan saudari2 perempuannya yang otomatis punya anak2 yang akan meneruskan. Dahulu sekali, saya lupa tahun berapa, saya bahkan pernah mendengar langsung omku ini minta pada ibuku untuk menjual sebagian tanah pusako ini. Mungkin lagi butuh duit banyak atau hanya iseng manasin atau ngetes aq, padahal ia punya penghasilan sebagai polisi dan kemenakannya inilah yang "menganggur" tidak punya sumber pendapatan.

Bala memperjual belikan tanah pusako ini memang sedang jadi topik yang lagi "hot2nya" di ranah minang seiring perubahan ke zaman modern yang membuat sistem komunal "kepemilikan" tanah ulayat harus menyesuaikan dengan aturan sertifikasi hukum negara yang mengatur sebagai kepemilikan individual. Perubahan ini tentunya akan seiring kepada wilayah2 dimana mulai tersentuh aktifitas ekonomi berkaitan komersialisasi asset. Bagi yang masih patuh pada adat leluhur minang, orang yang menjual tanah pusako ini dianggap akan sempit dan dijepit tanah nanti dalam kuburannya. Kalau merujuk pada hukum jual beli dalam agama islam, sebuah barang itu harus jelas asal usul atau kepemilikannya sedangkan tanah pusako bukanlah milik seseorang pribadi yang diwariskan kepada seseorang lagi melainkan sekedar hak pakai bersama dan "miliknya" generasi di masa depan. Makanya walau mulai banyak terjadi--dengan berbagai alasan dan skema kasus--secara umum menjual tanah pusako masih dianggap aib atau setidaknya perilaku hina. Salah satu mamak di keluarga agak dekat ibu (hubungan kami di nenek) yang dianggap pernah berbuat tidak baik dalam mengurus tanggung jawab pusako, konon kabarnya mukanya menghitam sewaktu mati.


Aq sendiri dulunya juga tidak terlalu peduli apalagi serakah untuk urusan pewarisan pusako ini. Walaupun sedang hidup susah banget nih bro umur kepala tiga belum ada modal kawin hehe. Bahkan dalam salah satu pengembaraanku di pulau jawa--mirisnya punya pusako laweh yang dikuasai mamak2ku tapi harus cari uang di jalanan perantauan bahkan sempat masuk selnya tuna wisma segala hehe--aq pernah berkata pada adik2 kandungku bahwa urusan pusako yang dikuasai ibu biar mereka berdua saja yang "ambil" nanti. Aq ndak mau ikut2an karena memang merasa nggak nyaman berada di tengah2 keluarga besar ibuku ini. Ndak tahu juga apa masih kuat imannya kalau sudah punya anak2 yang imut dan isteri2 yang banyak kebutuhan perawatan nanti xixixi. Soal2 adat pusako ini juga baru aq browsing internet akhir2 ini untuk menambah pengetahuan dari apa2 yang sedikit kuketahui sebelumnya. Bahkan, meski jadi lelaki tertua di generasi anak2 saudara2 ibuku--artinya akan jadi mamak perwakilan keluarga nantinya kalau "mereka" sudah tewas--aq juga tidak tahu persis dan tidak pernah diberitahu batas2 tanah pusako nenekku ini di sebelah mana saja persisnya berbatasan dengan pusako keluarga lain. Baru2 sekarang saja aq mulai "care" untuk urusan ini. Kemaren2 sewaktu sambil lewat pakai motor habis beli ikan hias aq baru diberitahu ibuku kalau salah satu warung yang jadi tongkrongan preman sini adalah masuk tanah kami. Daerah sana kebetulan dikuasai uwan/kakak lelaki tertua ibuku.

Bagiku ini bukan soal harta; bahkan hingga kinipun rasa2nya idealismeku belum berubah dan meluntur. Ini mungkin dianggap naif atau bodoh oleh orang lain yang "normal2" saja. Hingga kinipun aq sedang menimbang2 dan mencari2 "dalil" untuk tidak usah turut mengambil tanggung jawab tanah pusako ini karena aq sudah melihat potensi sangketanya. Bagiku harta itu lebih baik dilihat sebagai beban bukan hadiah supaya kita jadi hati2 karena bakalan dihisab; alih2 dijadikan sarana untuk bernikmat2 karena syahwat kita akan cari akal untuk mendapatkannya dengan segala cara. Terlebih di tengah keluargaku yang merupakan "orang2 normal" yang mengintai2 kapan yang bukan miliknya ini bisa turut diembat juga. Adik2 kandungku mungkin lebih bisa nanti untuk kompromistis terlibat secara komunal mengurus pusako bersama2 anak2 keluarga besar ibuku lainnya yang "normal2" itu. Tapi mau bagaimana lagi toh setidaknya kuburan ibuku dan untuk diriku sendiri nanti juga disini. Tidak bisa aq pergi saja menjauh merantau dan lepas sama sekali karena menghindari konflik (bahkan mungkin pertumpahan darah karena rebutan "kue" ini). Apa aq rela rumah ibuku nanti dikuasai orang2 yang hubunganku tidak baik dengannya. Apalagi dijualnya karena bagi mereka rumah kami tidak ada nilai historiknya. Karena, adik2ku bisa saja mengalah dan berkompromi. Aq mungkin bisa lepas tangan kalau yang mereka kompromikan itu tidak ada urusannya langsung denganku seperti misal kontrakan tanah di bagian lain yang secara "orang normalnya" justru aq nanti yang paling bisa bikin "urusan". Tapi kalau untuk rumahku, ibuku, dan tanah kuburanku sendiri nanti, apakah suatu sikap dan tindakan yang benar aq melepaskan begitu saja pada "orang lain"? Satu contoh menarik adalah ketika aq hanya bisa menahan jengkel setiap melewati sebuah warung penjual bir yang disewakan uwanku; yang ibuku katanya cuma bisa lepas tangan karena toh dosanya bukan dia yang nanggung.

Karena di antara aq bersaudara lelaki semua, maka yang akan menjadi pewaris pusako ibuku--diluar kemungkinan kami putuskan untuk dihibahkan/apalagi jual sebagian/apalagi seluruhnya--adalah keturunan anak2 perempuan dari bibi2ku. Katakanlah untuk bagian ibuku ini yang terdekat adalah dua anak dari adik ibuku. Keduanya adalah lahir, tumbuh, dan besar di rantau. Mereka tidak akan tahu adat minang kecuali kalau mau mempelajari sendiri lewat buku karena kulihat keluarga bibiku tersebut juga tidak menganggap penting pendidikan keminangkabauan pada anak mereka yang merasa orang kota. Bahkan karena suaminya kaya, bibi/etek tersebut juga tidak menguasai sejengkal pun tanah yang luas disini kecuali membuat sebuah rumah untuk nenek kami yang semeninggalnya kini dikuasai uwan dan dikontrak orang yang membuatku sangat nggak nyaman hehe. Seolah timbul kesan mereka tidak berminat soal tanah pusako. Tapi kulihat bukan tak mungkin suaminya/omku juga punya back up plan dengan menyekolahkan salah satu putrinya itu di jurusan hukum dan di eropa tentunya hehe. Padahal its no matter lah yaw setidaknya buatku tanah ini memang sudah haknya mereka jika semuanya berjalan baik2 saja, kenapa harus takut untuk berperkara? Tapi ini bisa dimengerti karena om tersebut mungkin khawatir aq punya karakter seperti laki2 minang matre lain yang bukan saja akan mempertahankan milik ibuku tapi juga bernafsu ekspansi sebagai cucu lelaki tertua menguasai semuanya sepeninggal generasi ibuku.

Selain putri2 dari satu adik perempuan ibuku itu, yang grow up disini sih ada putri2 dari satu orang kakak perempuan ibuku. Mereka juga dua orang, satu tinggal di depok lulusan UGM tapi hingga SMA di padang ini dan sepertinya juga tidak mau berurusan dengan pusako2 yang dikuasai mamak2 kami. Satu lagi kini tinggal di jambi bersuamikan ajo piaman (sama2 lulusan pertanian UNAND) yang memang punya usaha dan kontrakan disini walau kecil aja depan rumah ibunya. Yang terbesar--dalam artian menghasilkan uang kontrakan paling banyak--ya yang dikuasai dua orang mamakku. Ibuku juga menguasai lahan cukup luas, cuma sebagian besar masih dijadikan sawah. Kakak perempuan ibuku/tanteku bagian lahannya yang luas cuma dikontrakkan untuk kebun bibit pada orang yang masih dekat hubungan keluarga dengan kami. Bukan tak mungkin juga uang sewa kebun itu ditilep oleh omku karena dulu aq pernah dengar ia yang marah2 karena terlambat bayar si pengontrak yang juga kawan karib ibuku itu. Kayaknya siapa yang dekat sama ibuku dimusuhi sama dia. Sungguh di akhirat kelak aq ingin berperkara dengan dia di depan almarhumah nenekku/ibunya. Seandainya tidak takut dosa aq juga siap bunuh2an sama bangsat itu rasa2nya wkwkwkwk.

Selama ini kami tidak pernah "clash" mungkin karena kami memang jarang interaksi/ketemu; dan harap pemirsa catat gw tidak pernah sekalipun minta tolong apalagi minta duit sama dia sang mamak tersebut walau aq hidup susah merana begini. Paling2 juga sewaktu kecil dulu beberapa kali dikasih rambutan dan manggis sama keluarga istrinya; atau sering dikirimi makanan2 enak pada waktu2 tertentu. Yang terakhir ini tradisi babako orang minang dan lagian maklum aja sudah makan banyak dari pusako kami hehe. Satu2nya pemberian uang kontan dari dia pernah sekali sewaktu aq sudah jadi pengangguran dengan jumlah sekitar 300 ribu (seingatku) yang katanya hasil sewa toko bangunan di sebelah itu yang itupun aq tidak harap apalagi minta2. Entah kalau waktu kecil/lebarang mungkin ia pernah ngasih seribu dua ribu tentu aq sudah tidak ingat. Tapi kalaupun ada pasti jarang karena pemberian dari bibi2ku masih bisa kuingat dengan baik. Dan aq berani taruhan jika hidupku "sukses" ia pasti nempel dan juga nempel2in anak2nya kepadaku. Beda kalau kita susah ia ndak mau tahu. Ibarat pepatah cina dalam pembukaan film legendaris "Old Boy": menangislah maka engkau akan menangis sendirian, tertawalah maka dunia akan ikut tertawa bersamamu qiqiqiqi.

Tapi itupun aq maklum karena memang begitulah karakter manusia "normal". Ibuku sendiri juga mengakui sifat2nya kurang lebih juga seperti omku itu, cuma aq aja yang orangnya aneh: "gak minat" jadi orang kaya (agar disukai orang banyak) dan ndak punya hobi--istilah haditsnya--mengunjungi orang2 kaya. Terus terang saja walau punya pusako laweh di kampung halaman ini yang bisa bikin ongkang2 kaki ndak perlu repot cari duit sampai wafat nanti, kalau bukan demi melihat orang tua yang semakin tua ini sudah terbang kembali aq merantau meninggalkan tempat ini (kedua adikku yang lain merantau). Apalagi jiwa masih mudaku tentunya bergejolak tak tahan untuk berdiam diri. Cuma jika aq tidak bisa menghasilkan uang yang cukup untuk sering berkunjung pulang ke rumah (minimal transport untuk sekali sebulan, kalau bisa sih tiap minggu) lebih baik berdiam dulu disini dan masih terus cari akal untuk usaha yang bisa dijalankan ndak jauh2 dari sini setelah bisnis jualan onlineku mulai sangat sepi hihi.

Kembali ke mister om tersebut tentu aq juga tidak bisa menafikkan posisi dia sebagai mamak yang merupakan polisi paling ditakuti dan disegani disini tentunya menguntungkan bagi pergaulan "preman2an"-ku. Jadi secara tak langsung ia tetap saja harus diakui berjasa pada "keamanan"-ku di tengah kerasnya pergaulan muda-mudi. Namun aq juga bukan termasuk yang terlalu nakal meski juga bukan anak rumahan total. Dari beberapa kali perang "antar geng" yang pernah aq ikuti--rasanya juga ndak lebih dari lima kali--cuma sekali yang dia datang melerai. Tapi harus diakui jika ada diantara temanku yang berniat jahat kepadaku--entah karena iri dengki atau aq memang ada salah sama dia--pasti akan berpikir 100 kali untuk berperkara dengan keluarga kami melihat status mamakku tersebut. Just fyi salah satu pamen Polri Kombes WW yang eks kapolres jak-sel kemudian jadi terpidana kasus heboh pembunuhan yang melibatkan mantan jaksa dan ketua KPK AA kabarnya kawan sepermainan dan selettingan omku ini. Kombes tersebut meski bukan orang asli sini tapi sangat dikenal dan sering main karena ibunya adalah guru SD di daerah rumah istrinya omku ini. Omku sendiri baru kemaren2 disekolahkan jadi perwira setelah bangkotan mungkin sering masuk tahanan karena termasuk polisi yang mbandel. Setidaknya seingatku pernah satu kali sewaktu nenekku masih hidup kami sekeluarga ramai2 berkunjung ke "tahanannya" bersama polisi2 nakal lainnya. Kabarnya dia bisa juga dapat sekolah perwira sebagai deal dengan walikota dan Kapolda agar mau "merelakan" lahan pusako kami untuk jalan by pass ini (sangketa ganti rugi lahan masih belum selesai2 sampai sekarang).

Kembali ke soal jalur "pewarisan" pusako minang. Buatku juga belum terlalu jelas apakah mutlak nanti saudari2 bukan kandungku itu yang akan menguasai tanah dan rumah ibuku ini (juga calon kuburanku nanti). Tadinya aq juga tak mau ambil pusing mencari tahu apalagi mempersoalkan. Tapi sekarang melihat gelagat mamak2ku yang sekarang kunilai sudah keterlaluan, aq sepertinya juga harus punya persiapan pengetahuan setidaknya. Kalau soal anak2ku (jika ada hehe) tidak berhak atas pusako ini sudah pasti dan clear setahuku dalam hukum adat minang (diluar perkara hibah yang disepakati). Aq awalnya juga gak masalah dengan ini karena memang bercita2 utk mendidik anak2ku untuk zuhud terhadap harta dan kekuasaan juga seperti bapaknya ini serta takut memakan yang haram/bukan haknya. Kalau aq nyari2 akal juga agar bagianku lepasnya ke anakku ya apa bedanya kelakuanku dengan om/mamakku itu; diluar perbedaan konteks bahwa aq tidak punya saudara perempuan kandung plus hubungan juga tidak terlalu baik/dekat dengan saudara2 perempuan jauh bahkan tidak kenal sama sekali dengan anak2 mereka. Yang paling mengkhawatirkan adalah bahwa anak2 saudara perempuan jauhku yang tidak kukenal itu nanti tanpa beban moral menjual begitu saja tanah pusako kami ini yang mungkin di dalamnya kuburanku dibongkar karena toh mereka juga tidak kenal aq. Beda tentunya kalau anak2ku sendiri yang mewarisi tanah, rumah, dan kuburan bapaknya; sesusah2 cari makan tentu tak tega membongkar kuburan bapaknya. Aq saja sebenci2 sama omku juga tidak akan tega membongkar kuburnya nanti bahkan juga tidak ingin mendendam minta sama allah untuk mengazab dia atas kezalimannya padaku. Karena toh kami masih sedarah juga.

Anak2 dari saudari2 perempuan jauhku tersebut umumnya besar di kota dan mungkin sudah tak mau tahu tentang tanggung jawab tanah pusako. Mungkin buat mereka pusako kami ini nantinya tak lebih dari asset komersil yang hanya punya nilai jual. Dan jika mereka termasuk golongan pecinta hidup mewah tentulah acara jual menjual ini tidak lagi sekedar urusan tuntutan kebutuhan hidup dasar. Kurang bisa rasanya aq terima kalau kelak kuburanku mereka bongkar lalu lahannya dijual pada orang untuk uang mereka gunakan beli mobil sport atau wisata ke planet (kalau2 sudah ada hehe). Meski apalah artinya segenggam tanah kubur dan toh ujung2nya bumi ini milik allah tapi yang ingin aq bicarakan disini adalah ikatan generasi penerus tersebut dengan para leluhurnya. Anak2 ku sendiri tentu tidak ada jaminan akan bagus akhlaknya karena akhirnya takdir allah lah yang menentukan tapi setidaknya sejahat2nya mereka nanti pastilah masih punya perasaan sama almarhum bapaknya. Beda kalau "orang lain". Sebagai contoh seingatku salah satu adik jauhku itu dulu pernah hampir nyenggol aq waktu nyetir mobil dan aq lagi luntang lantung di bandung lalu ia pura2 gak kenal. Walau aq maklum (tanpa membenarkan) sebagai putri kota ia mungkin malu punya saudara kayak gembel begini. Apalagi perangai anak2 mereka nanti.

Tapi aq nggak bisa bilang total mereka jahat banget juga. Secara relatif di keluarga besar ibuku juga gak ada yang penjahat atau kriminal misalnya. Tapi tentu dalam sebuah hubungan ini bukan itu ukurannya karena toh Adolf Hitler saja sangat2 penyayang pada keluarganya. Ini cuma soal "dunsanak kayo" dan itu biasa dalam perikehidupan orang2 "normal" dan aq bisa memaklumi (tanpa harus membenarkan). Setidaknya salah satu dari adik perempuan bukan kandungku itu kukenal berkarakter baik dan mudah2an tidak berubah sehingga ada yang patut untuk aq limpahkan "pewarisan" pusako ibuku ini. Tapi apakah sesederhana itu persoalan beres. Tetap saja kalau bukan darah daging kita yang mewarisi dan mayoritas dalam hubungan tidak baik was was rasanya hati ini. Sementara itu persoalan masih jauh di belanda, di depan ini aq masih harus berhadapan dengan sikap mamak2ku. Apakah mungkin mereka bisa lebih "menguangkan" lagi tanah pusako ini? Makanya sekarang bagiku prinsipnya seperti: jika ada orang hendak merampok ya aq wajib mempersiapkan diri untuk melawannya dan kalaupun dia berhasil ya itu takdir allah haruslah diterima. Toh memang ada yang diberi makan tuhan dengan rejeki haram masak kita harus dengki hehe. Ok lah segitu doeloe buat bikin blog ini tetap "too stay on", ciaoooo.

Posisi Rembulan dan Terbitnya Mentari

Lagi sering mantau tentang kabar astronomi, ana perhatikan klo pada pertukaran akhir Bulan Juni ke awal Juli, tepatnya sekitar tanggal 1-2 Juli posisi bulan pada sekitar pukul 6 pagi adalah antara 2 kabel tower listrik pln yg melintas di atas jalan by pass jika dilihat dari arah tiang listrik tepi jalan ke tower telkomsel sebrang rumah. Sementara mentari terbit di searah ke jalan lubuk minturun atau dari balik bukit arah lori. Guwe lihat pada sekitar tanggal 30 juni bulan pada jam segitu posisinya hampir tenggelam di arah yg sama sehingga kalo awan lagi tipis bagus untuk menghasilkan rona pagi yang merah ini bagus banget sepertinya dipotret dari arah jembatan ke koto tuo.

Selain itu ana juga catat bahwa pada hari-hari itu pada sore dan (mungkin) pagi hari ada dua bintang terang di arah kiblat 45 derajat dari tanah. Awalnya bintang yg lebih kecil di atas bintang yg besar lalu seiring hari si kecil menyalip ke bawah. Dugaan ana itu venus dan merkurius. Yang kunanti adalah bulan agustus september katanya galaksi bima sakti bisa terlihat pusat semestanya di langit. Semoga nanti bisa dilihat. Soal rasi bintang ana sih belum sempat mempelajari lagi. Memangnya nahnu nelayan, xixi. Ok dah ini aja dulu buat bahan fostingan daripada manyun bok. ^_^

Media Kak Tarsis Dalam Karyo The Asu Sastrooo

Seorang koruptor zaman Orde Baru yang lolos dari pengawasan Indonesian Coruption Watch bersantap malam bersaama keluarga besarnya. Sambil me...