Selasa, 24 November 2015

Pusako Minang dan Dinamika Famili


Menulis tentang "situasi kontemporer" dalam keluarga besar ibuku beberapa waktu lalu, ada yang sedikit terlewat tapi kayaknya penting untuk tidak dilewatkan untuk dicatat. Sebagaimana disinggung sedikit akibat pembicaraan tentang pertengkaranku dengan om/mamak (gara-gara anaknya ditempatkan di pusako kami lalu membuat masalah), terjadi sebuah situasi di tanah pusako nenek dari pihak ibuku ini yang mana daripada akan sangat rentan untuk mengarah pada potensi konflik besar. Sekarang makin tercium bau agenda dari pihak mamak2ku yang tengah bersiasat untuk "merampok" sebagian dari pusako kami untuk beralih2 ke anak2 mereka yang tentu saja akan dipilih bagian2 yang paling strategis untuk mereka. Ini karena mereka dalam posisi yang sangat menentukan buat ngakalin. Manusiawi memang, karena rampok adalah bagian juga dari tradisi/budaya seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya baik tingkat dasar ataupun hingga level menggapai kemewahan. Dulunya ini juga rasanya sudah mulai sedikit kumengerti tapi kuabaikan karena pertama, aq ndak matre lah yaw dan kedua, situasinya baru perang dingin belum meletus terbuka. Ibaratnya maling diam2 walau sama2 sudah tahu akan terasa lebih elegan ketimbang ngerampok terang2an. Dulunya karena ada harapan mereka bahwa aq jadi orang kaya mungkin diharapkan soal tanah pusako ini dapat dibagi2 saja buat mereka karena aq dianggap sudah tidak butuh. Dan ketika faktanya aq tidak kunjung kaya dikhawatirkan jika aq menguasai tanah pusako ini mereka jadi ndak bisa lagi merampoknya, alih2 mau berharap aq bagi2 kekayaan buat mereka. Padahal rasa2nya mau kaya atau tidak aq akan sama saja sikapnya. Kalo miskin aq tidak sudi dirampok, jika kaya pun bagiku itu juga bukan alasan membiarkan diri dirampok.

Part peristiwa penting yang ingin kutulisankan kali ini berkaitan juga dengan masalah ini yang terlewatkan kemaren adalah kejadian waktu kedatangan ibuku (bersama adik bungsuku) ke rumah adiknya (bibiku) di Bandung yang ditolak masuk rumah. Kabarnya pintu pagar rumah mereka tidak dibukakan dan bibiku sembunyi di dalam rumah. Tidak tahu apakah anak2 mereka dan omku (suami bibi) tahu peristiwa ini saat itu. Yang jelas bagiku, beberapa waktu kemudian om itu yang mana merupakan teman sekolah dan seumuran ibuku minta maaf atas kejadian tersebut. Perlu ditambahkan nih: padahal setahuku waktu mereka pindah ke Bandung ini ibuku sempat bantu meminjamkan uang kalau ndak salah buat beli mobil untuk si om (mungkin ini juga yang membuat ibuku merasa pede untuk mendesakkan kepentingannya kepada adiknya yang kaya tapi sempat ngutang itu haha). Dan yang jelas juga adik bungsuku merasakan langsung pengalaman tidak enak dengan dunsanaknya ini. Aq tahunya belakangan saja bahkan mungkin sudah tahunan setelahnya dari adik2ku. Waktu itu adikku yang bungsu itu baru tamat SMA (nganggur setahun) belum mulai kuliah di UNPAD, sementara aq dan adik nomer dua sudah di Jatinangor. Mungkin bibiku itu benar2 sudah muak ibuku memaksakan diri untuk menitipkan ketiga2 anaknya disana. Padahal sudah terbukti aq dan adikku nomer dua pada akhirnya kos sendiri. Tapi ya itulah, sudah tabiat ibuku kagum dan percaya pada orang kaya; ingin setidaknya anaknya yang paling bungsu ini bisa cocok dan nyaman tinggal di perumahan elite kota kembang itu. Aq bisa ketawa2 saja mengingat peristiwa ini sekarang tapi pas terjadi tentunya sakit hatinya tuh disini. Tapi ternetralisir karena aq bisa memaklumi tabiat mereka (keluarga ibuku); bahkan bersimpati juga dengan psikologis bibiku yang tertekan disodor2kan kakaknya anak2 miskin dari kampung ini yang tentunya berdampak bagi stabilitas keluarganya. Ibuku mungkin senang dan bangga anak2nya hidup dan tinggal sama orang kaya, lah bagaimana dengan kejiwaan adiknya tersebut yang merasa terteror dibebani mengasuh anak2 kampung ini? Sekali dua kali memaksakan diri untuk sabar toh kakak sendiri, tapi akhirnya untuk yang ketiga kali meledak juga hehe.



Kemudian sekalian nyambung dan kebetulan ingat juga: bagaimana dengan psikologis adik bungsuku itu menerima fakta ini? Kelihatannya ia juga maklum karena tabiat keluarga kami memang begitulah adanya. Kalau aq maklum tanpa membenarkan tapi kalau dia mungkin maklum sekalian tidak berani menyalahkan karena mindsetnya orang jika punya uang sudah selayaknya lebih dihormati. Tapi yang jelas faktanya lagi2 adik bungsuku ini sepertinya juga tak betah disana. Tak betah disini bukan dalam pengertian dia ndak suka. Pastilah dia senang tinggal di rumah orang kaya. Tapi dia, seperti juga aq dan adik nomer dua, pasti merasakan kalau bibiku merasa ndak nyaman dengan keberadaan kami dan dalam posisi memaksakan diri. Setelah bisa menyadari akhirnya toh dia keluar juga. Dan menariknya ini sempat jadi bahan pertengkaran kami berdua karena waktu itu aq ndak nyangka juga adik bungsuku ini seharusnya menurutku lebih bisa "adaptasi" untuk hidup di rumah orang kaya. Bahkan ia tidak secara terbuka pula ngomong kalau ia "menyerah" untuk bertahan lebih lama disana. Waktu yang ini adikku sudah kuliah di UNPAD dan ibuku dengan bibiku tentu saja sudah baikan dan melupakan peristiwa sebelumnya. Waktu ini adikku datang ke rumah kontrakanku di Tanjung Sari dan seingatku butuh aq untuk menemani ke kampus pusat di Dipati Ukur (dia baru masuk untuk pendaftaran ulang atau entah apalah, yang jelas belum mulai masuk kuliah). Nah, bis yang membawa kami dari Jatinangor ke kampus pusat kebetulan lewat depan komplek rumah bibi. Hmm sekarang aq baru ingat. Jadi waktu itu aq sudah tahu rasa2nya kalau ia ndak betah dan ingin cari kos (sehingga butuh aq untuk bantu). Cuma yang bikin aq marah karena ia menolak aq ikut dia ke rumah bibi untuk ambil tas membawa barang pindahan. Waktu itu aq belum tahu kejadian ibu dan adikku itu pernah diusir oleh bibiku. Mungkin ibuku mewanti2 adikku agar abang jangan dikasih tahu supaya hubunganku dengan bibiku tidak memburuk. Padahal kalaupun aq tahu ya maklum juga toh hehe. Mungkin gara2 inilah adikku bersikap sebaiknya aq tidak bertemu bibi dan menyaksikan suasana gak nyaman hubungan dia dengan bibi. Karena ndak mengerti alasan ini aq tentu saja jadi jengkel pada adikku kenapa ia melarang aq untuk turut mendekati rumah itu dan nyuruh aq nunggu di luar. Gara2 peristiwa ini aq balik ke Jatinangor dan dia nyari kos sendiri. Lalu ibu kami bersedih hiks hiks...

Tapi whatever, seburuk itupun hubungan kami, aq hingga detik ini ndak sampai level memusuhi bibiku itu (beda dengan mamak2ku yang kurasa sudah sampai pada titik tidak bisa ditoleran). Bahkan hingga aq bertahun2 berdiam di rumah sekarang, sesekali ia datang dengan om, aq bahkan santai aja ngobrol sebentar walau aq merasakan buat dia itu cuma basa-basi. Tapi ya itu aq bisa maklum karena sifat2nya 11-12 dengan ibuku hehe. Padahal kalau ke Bandung aq ndak pernah lagi ke rumahnya (tidak ingin jadi beban), tidur di stasiun Kiara Condong atau Mesjid Raya di Alun2 yang tentu saja tanpa memberitahu dia atau ibuku tentang keberadaanku di kotanya. Istilahnya kami saling jaga jarak utk tidak sampai ada yang terbebani tapi juga jangan sampai putus. Adik2ku apalagi; pastilah apapun yang terjadi sebegini begitu mereka tetap menaruh hormat dan jaga sikap pada bibiku itu. Oklah itu saja dulu yang kebetulan sekarang ingat. Tadinya mau masuk ke analisis tapi sekarang kepala jadi mumet juga memikirkan bagaimana aq harus berposisi ditengah2 kaum MATRE-linial ini karena bagiku jika uang jadi indikator itu berarti posisiku adalah bisnis dengan orang lain. Untung sama untung. Bagi keluarga, uang dan keuntungan tidak boleh jadi syarat. Adanya tidak boleh jadi tujuan atau modus karena itu akan membuat kita dalam posisi saling orang lain. Ya sudahlah puyeng gw, apalagi anda orang lain yang membaca ini hahahahaha. Okay assalamualaikum wa rahmatullahi wa kantongiyyun!

NB: Perlu sekalian ditambahkan disini kebetulan sedang ingat. Aq juga bisa merasakan sedikit banyak pastilah bibiku itu ada rasa sayang pada ponakannya walau terteror oleh kedekilan kami. Sewaktu tahun pertama kuliah dan aq masih sering berkunjung ke rumahnya, pernah sekali waktu aq disuruh nungguin rumah mewahnya itu selama semingguan (tentunya siang aq ke kampus Jatinangor pergi kuliah). Aq ingat karena waktu itu aq bawa teman2 se-kamar asrama dan dapat penyakit kulit karena ndak tahu kalau air sumur bornya harus pake penyaring karena kotor. Katanya sih waktu itu pergi liburan sekeluarga atau apalah aq tidak ingat persis. Yang jelas peristiwa itu sekarang aq membacanya sebagai upaya dia--atau mungkin inisiatif suaminya yang lebih cerdas hehe--untuk mendekatkan lagi hubungan kami pasca aq keluar dari rumahnya untuk masuk asrama. Karena mau seminggu atau sebulan juga rumahnya ditinggal pasti aman walau tak ada yang nungguin karena disana adalah perumahan elite yang satpam keliling setiap sekian jam. Ok itu saja, intinya hubungan kami di keluarga ibu jadi begitu buruk karena perbedaan mindsetku dengan mereka dan kondisi ekonomiku yang merupakan faktor penting bagi mereka. Tapi apapunlah kami memiliki pertalian darah di nenekku yang sangat kusayangi dan ia juga sangat menyayangiku sewaktu masih hidup. Berat sungguh bagiku kalau harus bermusuhun dengan anak2 dan cucu2 kandungnya cuma gara2 uang keparat! Wah uang mah bukan cuma ya kawan hahahahahahaha.