Sabtu, 23 Juli 2016

Clash of Islam: Gerakan Upgrade vs Reset

Bagai pertandingan el-classico, kontraksi antar kutub-kutub persektean sudah merupakan hal yang lumrah dalam sejarah agama-agama. Meski politik diplomasi berusaha untk meredam dan menutup-nutupinya demi keuntungan bersama. Namun kemudian apalah daya. Sifat laten pada keimanan tiap-tiap grup mengenai ajaran tuhan menurut versinya masing-masing tersebut selalu dalam posisi energi potensial yang siap menjadi kinetik ketika dipicu sebuah gaya.

Dalam sirah Islam, agama yg dianut hampir 2 milyar jiwa by administratif dari 7 milyar lebih manusia di abad ke-20 yang tercatat sejarah ini, sebetulnya sejak rasul wafat progresifitas peradaban melaju relatif linier dari zaman khulafaur rasyidin, dinasti umayah, abbasiyah, hingga runtuhnya khilafah utsmaninya bani seljuk di turki. Pada zaman kolonial, dimana banyak bagian bumi bermasyarakat muslim secara de facto dijajah oleh eropa kristen yang telah mengalami fase renassience, timbul perasaan berada di titik nadir pada peradaban Islam.

Di semenanjung arab atau arabian peninsula--tempat lahirnya rasul junjungan umat Islam--muncullah gerakan wahabi menjelang (sekaligus membantu) runtuhnya kekhalifahan islam turki utsmani. Setelah negara Saudi modern formal berdiri dan mendapat pengakuan dari bangsa-bangsa lain (terutama tentu Inggris sebagai mitranya dalam menghancurkan daulah islamiyyah terakhir di tahun 1924 tersebut, ia stick di wilayah stagnan dan tidak ada lagi ekspansi wilayah islam secara fisik geografis sekaligus wilayah muslim lain berpecah belah sudah.

Gerakan politik penguasa kerajaan Arab Saudi ini secara spritual didampingi oleh manhaj religius yg menyerukan kembali ke Islam orisinil alias gerakan puritan yang dinisbatkan bernama wahabi atau aliran sawah (salafi wahabi). Ini tentu mendapat sambutan di tengah kegalauan melihat kalahnya peradaban Islam yang sebelumnya melaju ke depan/progresif sekaligus penuh maksiat di Utsmaniyyah. Walau untuk mendefenisikan persis yang orisinal Islam atau sunnah rasul ini juga tidak mudah--sekedar bernuansa retro kah atau bagaimana?--tapi relatif ia menjadi sisi antagonik dari titik nadir peradaban Islam saat itu.

Setelah Islam konservatif ala Saudi stabil punya wilayah dan secara ekonomi disokong eksplorasi minyak yang tentu dibantu mitra peradaban modernnya dari Inggris dan Amerika, mulailah ia punya "energi" untuk mengemban kerja misionaris ke berbagai belahan dunia. Secara ekspansi wilayah memang sudah tidak mungkin tapi kini tinggal cuman berani ekspansi ideologi.

Menariknya visi konservatif Islam Saudi Wahabi yang kembali ke sunnah atau dengan identitas salafi ini kemudian harus bertemu terlebih dahulu dengan model keislaman yang sudah ajeg pula beratus-ratus tahun di negeri-negeri muslim laindari zaman kekhalifan yang dulu-dulu; boro-boro untuk mendakwahi orang-orang yang mereka anggap masih kafir, musyrik, dan atheis di negeri-negeri non muslim. Reflek denial pun terjadi meski sebagian kecil bisa "diislamkan kembali"; terutama anak-anak negeri lain tersebut yang bersekolah menuntut ilmu ke Arab Saudi.

Terlepas dari dialektika politik dan bisnis, secara sekadar aspek ideologi sekalipun gerakan Islam konservatif ini juga kemudian harus menemui di zaman modern ini gerakan Islam liberal yang bersifat progresif lagi-lagi; kembali ia bertemu dengan sisi antagoniknya. Menariknya, ekses gelap gerakan Islam konservatif/radikal yang berupa kelompok-kelompok teroris--yang bahkan saling "memakan" di antara sesama mereka sendiri--membuat sisi warna Islam di seberangnya yang progresif menjadi opsi yang menarik kembali.

Lalu bagaimanakah ummat Islam kebanyakan--yang sibuk dengan urusan cari makan lalu cari kaya lalu lebih kaya lagi dan terus lagi ini--harus memposisikan posisi keagamaannya di tengah dialektika orientasi keagamaan yang mereka tidak punya waktu dan kemampuan untuk mempelajari sendiri? Kelak deh gw sambung bahasannya; mau shalat dzuhur dulu nih... boleh kan pamer dikit? Setidaknya berfikir fositiflah bahwa ini merupakan ekspresi kebanggaan karena terlibat dalam kegiatan yang penuh bau agama, yoi!