Experience Near to Death on 34th Birthday (Pengalaman Nyaris Mati!)

neraka itu mah iaitu org lain, ceunah kitu
Hallo, jumpa lagi bersama kami di ruang hampa ini, maka terpujilah segala kehampaan di dalam hampa yang menghampa bersama kehampaan-Mu (bergaya Hemingway mode on). Memang dini hari ini terbangun utk sesuatu birday2an, namunkali berkebetulan dan berkebenaran juga sedang ada momen ajib yang baru terjadi yang perlu dicatat. Kebeneran mungkin gak ada bahan lain yang sedang perlu dicatat atau hadir untuk diingat oleh otak kosong (dan hati yang tengah hampa ini) xixixi.

Nah begini. Ane akan riwayatkan langsing live dari mulut monyongku ini sendiri yo bro, jadi insyaallah tsiqah, lebih kecil kemungkinan miss-information delivery. Tapi perlu juga terlebih dahulu kita berdo'a agar oleh Allah Taala pada sudut hati Anda itu diterangi pelita sehingga tak salah tangkap akan maksud hatiku ini bercerita. Amen.

Emang sih, ini mungkin cerita gak penting yang ada berbau2 nyinyirisme getho. Topi ya so what gitu loh. Lagi pula ini bukan peristiwa klise. Dan semua harus dicatat, semua mendapat tempat. Jadi begindang guys. Kemaren, pas kemaren, nyawaku nyaris melayang sehari menjelang genap berumur 34 tahun ini. Yoi, hari ini ultah nih dan berlebay2an meski muka tua sejenak bermanja2 bagai teenager berumur 20-an. So twat getho lho!

 Alkisah-kasih, seperti biasa, menjelang jum'atan kemaren aq nganter bapakku ke mesjid (cuma nganter doang dik?). Nah, di perempatan rumahku ini--yang sedang kacau lalu lintasnya karena proses pengaspalan jalan padang bypass ini--aku dan bapakku nyaris ditabrak sama sebuah mobil sedan. Bahkan bukan nyaris lagi tepatnya tapi memang kehantam selayang. Kira-kira mungkin beberapa milimiter pada roda bagian depan. Mungkin juga lebih karena kulihat mobil yang menabrak ini agak berantakan sebagian body sampingnya yang kutabrak. Ajaibnya, motor ndak sampai jatuh apalagi aku dan bapakku mati bersimbah darah di atas tanah nenek moyangku ini untuk saat ini meski waktu itu setir terasa goyang aja karena menghantam "sesuatu".

Suwerrr deh bro. Tercepat seper-nol koma nol nol sekian detik saja saat itu benturannya lewat sudah nyawaku ini. Di umur hampir saja 34 seharinya lagi. Terbayang-bayang nih sekarang pada batu nisanku tertoreh wafat pada umur 33 tahun saja, sebelum menjadi apa-apa, meski sedikit melewati Chairil Anwar hehe. Memang ada sebuah "pola" yang seru juga nih. Nyaris mati gara-gara perbedaan waktu yang 0,00... sekian detik saja bagai selisih finish-nya mobil jet darat F-one di saat umur gw sedang hampir digenapkan di posisi 33,999999% menjelang sekarang, hari ini, jam menit dan detik ini sudah menjadi cowok dewasa lebay di angka 34, enam tahun lagi menuju 40 atau empat puluh sebagaimana titah penulisan dari mahzab eyd yang mutlak benar itu (life begin at fourty, katanya sih).

-oke, qita lanzutkan, kita? lo aja keleuss!-

Ya itulah, terjadilah yang memang harus terjadi. Bagai ditarik oleh tangan "tuhannya" Maradona, terlambat sekali lagi sepersekian seperdetik tamat sudah gw. Lho tadi lo bilang kecepetan sekaran koq "paradigmanya" pake bohong eh pakai kelambatan? Perhatiken deiksisnya mengacu kemana bro! Hehe ketahuan deh anak studi bahasa. Jadi kembali ke konteks--walau tidak tepat juga dipilih kata ini tapi pas aja oleh nilai rasa digunakan untuk saat ini--saat terjadinya peristiwa itu atau ini itu atau hal tersebut, mobil yang menabrakku ini dikendarai oleh seorang anak muda yang kalau bukan masih sekolah ya paling umur masih kuliahan. Dan mereka bertiga seumuran semua yang ada di mobil (muuph sayah menolak ngatur-ngaturan bahwa dan tidak boleh digunakan di awal kalimat). Jadi ceritanya dalam selang kepercayaan eh waktu yang hitungan detik itu aku tidak menoleh lagi ke arah kanan karena sebelumnya sudah melihat jalur kosong dan sedang fokus memantau arah kiri. Jadi kemungkinan gerombolan anak muda di atas mobil ini juga malah tidak memperhatikan ke depan sehingga nyaris kami saling bertabrakan. Maklum remaja mungkin ia sedang ngobrol, nelpon, mengkhayal atau apapunlah. Dan waktu itu ia melintas dengan kecepatan lumayan, memperlihatkan ketidakhati-hatiannya. Dalam sepersekian detik itu, pas bagian terdepan motorku mulai mencium mobil lewat tersebut --sebelumnya aq dalam posisi berhenti lalu dan baru jalan ketika merasa jalanan sudah kosong--pas bapakku di boncengan lebih dulu meneriaki kalau di depan mobil lewat dan "menabrak" kami.

Karena cuma sepersekian milimeter roda depan itu mungkin menggesek mobil itu dan tidak terjadi hal-hal yang mengerikan maka meski ngasih kode ke mobil itu untuk nunggu aq terlebih dulu mengantar bapakku ke mesjid yang juga tidak terlalu jauh. Bapakku melarang untuk menemui orang itu. Tadinya pas balik dulu ke rumah (jadi curiga nggak jum'atan nih?) aq mau mengabaikan saja mobil itu yang ternyata memang menunggu (ndak tahu dia klo TKP ini adalah tanah keluargaku hehe) tapi kenyataannya aq samperin juga anak2 muda itu. Tapi toh happy ending aq bisa menahan diri untuk tidak marah-marah, lagi pula aq sedikit-banyak juga ada salah tidak tengok-tengok kanan terlebih dahulu sebelum nge-gas. Anak-anak itu mungkin tadinya mau protes karena kulihat bemper samping mobilnya agak lepas dihantam "sedikit" oleh roda depan motorku tapi akhirnya kami saling berjabat tangan saja dan selesai sudah.


tkp, lokasi kejadian, simpang bypass

Okeh, itu saja sedikit cerita yang ingin aq sampaikan pada kesempatan yang berbahagia ini. Mungkin hanya jadi catatan peristiwa saja dulu belum dikontemplasi dan direnungi lagi secara lebih mendalam dan subtil (opo iki?) lalu "dibuat-buat" tafsirannya. Tapi terus terang memang sebuah kebetulan-kebetulan menakjubkan seperti ini membuat kita seperti merasakan sendiri, privat, personal akan kehadiran tuhan atau semacam tuhan tersebut karena bagaimana mungkin "pola" yang indah macam ini begitu saja acak terjadi tanpa ada yang ngatur. Tapi sudahlah saya juga tidak bernafsu mengguru2i orang lain seperti para penjual ayat yang menjadi tuhan sosok tunggangan dan pesuruh untuk melayani syahwatnya di akhirat nanti. Lagi pula peristiwa ini adalah menggurui diri saya sendiri. Ini numpang mejeng di blog juga supaya jadi catatan "abadi" saja selain daripada web gretongan ini tidak mengganggur dari informasi terbaru dari kehidupan orang yang tidak penting yang bahkan tidak menyiapkan peta rencana yang ambisius sebagai road map menuju posisi bergengsi sebagai orang penting yang manusia-manusia sebaran normal berlomba-lomba demi meraihnya. Baiklah, sekian saja dari kami corat-coret tidak bermanfaat ini (bahasa retorika ala mario teguh mode on). Sungguh kami sadar akan kekeliruan kami yang tidak sudi jadi baut-baut supporting bagi geliat kapitalisme global itu. Gembira berada di kaki piramida untuk feed the rich para pemain judi investasi di bilik-bilik gedung menjulang wolf of wallstreet sana yang memainkan aturan dalam berekonomi kita, sadar ataupun (kebanyakannya sih) tidak sadar. Oh tidak, sama sekali gw sekarang tidak lagi ada tendensi menyalah2kan, mengeluh, apalagi tulisan cilik ini merasa daud yang hendak menjungkirkan goliath peradaban mapan ini. Sama sekali tidak. Dan sungguh ngeri juga efeknya jika semua kebohongan terbongkar maka destruksi massal terjadi karena setiap baut-baut ini (redundan on com) akan makin liar memperjuangkan masing-masing punya kepentingan (kebelanda-belandaan) yang tidak ada batasnya bagi warna biru di langit yang fana atau sebetulnya tidak ada itu. Tidak oh sungguh tidak, ini hanyalah kronik refleksi pribadi yang entah dibaca orang atau tidak juga tidak peduli dan Anda lihat sendiri sama sekali bebas iklan alias tidak dimonetisasi karena penulis blog ini tahu diri tengah melemparkan wacana-wacana non-profitable alias "tidak bermanfaat" hahaha. Lagi pula seperti kata ibu direktur perusahaan rating asuransi yang manipulatif dalam "dokumenter" The Big Short itu: "memang saya harus bagaimana? Memang beginilah cara sistem dunia ini bekerja!" Dan aq pun terhanyut melihat senyum manis capres 2019 potensial Ibunda Sri Mulyani Indrawati itu atas segala dagelan kebodohan festival politisasi ini, oknum2 setan yang dibutuhkan (necessarily devil), sementara ia harus jaga kesetimbangan ekonomi sebuah sistem yang memberi makan 200 juta lebih mulut manusia buih Indonesia oleh tuan-tuan pintar di mama2rika sana xixixixixi. Tabik yaa Akhiii!


Posting Komentar

Media Kak Tarsis Dalam Karyo The Asu Sastrooo

Seorang koruptor zaman Orde Baru yang lolos dari pengawasan Indonesian Coruption Watch bersantap malam bersaama keluarga besarnya. Sambil me...