Kebodohan Bukan Penghambat "Kesuksesan"

Salam berfikir fositif dan fragmatis wahai ummat konformitas, yang percaya-percaya aja dan ikut-ikut aja kemana angin surga di-katanya-kan sedang mengarah berhembus. Berkali-kali lagi kami kembali hadir dan hadir kembali untuk turut nyinyir-nyinyirin berbagai benturan wacana yg mengopulasi kepada bermacam-bagai tindak-tanduk politiking manusiawiyyah kita; yang merupakan kesebuah keniscayaan untuk mereka keep survival di dunia yang semakin padat dengan pesaing, dengan berbagai modal kompetensi uniknya masing-masing yang dimodalin oleh tuhannya tiap-tiap. Huffftt... panjangnya yaa punyaku!

Kemaren-kemarin aq berkomunikasi lagi dengan seorang mantan teman dahulu kala yang mengingatkanku kepada teman lainnya di zaman dulu tersebut. Sebut saja teman kita yang lainnya ini Agus dan dia orang bodoh. Sementara saya dan mantan teman yang itu agak pintar. Memang masalah bodoh-pintar ini agak relatif, tapi kami butuh juga istilah atau semacam label ini untuk menjelaskan maksud; yang mudah-mudahan oleh pembaca budiman sekalian konteksnya bisa direkonstruksi tidak terlalu jauh berbeda dari apa yang kami maksud untuk disampaikan. Jadi kembali ke cerita, dua orang agak pintar dan satu orang bodoh ini kebetulan sekolah di tempat yang sama (isunya si bodoh bisa juga masuk sekolah disana karena faktor kekuasaan makmaknya). Sekolah kami bertiga agak jauh dari lokasi kami bertiga berkediaman. Jadi kami bertiga berasal dari lingkungan rumah yang agak saling dekat satu sama lain; sehingga kami sering bertemu ketika akan pergi dan pulang ke sekolah kami yang jauh itu.

Saya sebetulnya sangat suka secara personal pada teman saya yang bodoh ini. Walau intelektualnya kurang tapi ia orang yang relatif asyik untuk berteman; humble kata orang-orang snobis zaman sekarang namun saya tahu pasti itu memang sudah melekat pada kepribadiannya dan tidak dibuat-buat untuk keperluan politiking sementara. Kebodohannya jadi begitu membekas di ingatan saya selain karena ia sering (bahkan selalu) mencontek kepada saya jika ujian adalah karena kata teman saya yang agak pintar untuk menghiperbolakan kebodohan teman yang lain ini: “nambahin garis panah vektor saja ia ndak bisa!” Jlebbb banget bukan, makanya susah buat saya melupakan (walau sekarang saya juga sudah lupa persisnya ini masalah apa hehe). Ya kebetulan kami bertiga dulu sama-sama bisa duduk di kelas MIPA dan kenapa si bodoh juga bisa (naik kelas) rasa-rasanya terlalu kejam kalau saya sebut-sebut lagi kenapanya.

Mari kita potong garis waktu dan tibalah kita di masa depan. Sementara kami berdua yang mengaku agak pintar ini melanjutkan kuliah, si bodoh tentu saja tak tembus UMPTN. Terus terang berat bagi saya buat bercerita ini karena saya punya banyak kenangan begitu manis dengan si bodoh. Salah satunya ketika kami berdua menginap di rumah kakaknya supaya tidak terlambat datang ke ujian masuk universitas yang agak jauh dari rumah kami. Tentu saja di ujian itu ia tak bisa lagi mencontek kepada saya dan lobi-lobi ortunya mungkin sudah tak mempan (walau saya agak heran dengan fakta bahwa di universitas dan jurusan tempat saya nembus ada dan bahkan banyak juga toh orang bodoh yang bisa masuk, mungkin kerena ini jurusan sontoloyo yang passing-gradenya keterlaluan rendahnya, ah jadi gw juga orang sontoloyo dong hehe).

Lalu bagaimana dengan dunia pasca-sekolah dimana sekarang hepeng dan kedudukan politik menjadi illah dan segala ilmu-pengetahuan hanya relevan jika dipandang bisa “menghasilkan” rupiah? Saya sendiri masih tertatih-tatih meniti karir di bidang saya walau asyik-asyik saja tidak merasa perlu untuk menyesalinya. Walau kompeten tapi saya memang tidak berorientasi kepada monetisasi ilmu. Saya bahkan cari uang dari hal-hal yang nggak ada kaitannya sama sekali dari kompetensi keilmuan saya sementara banyak orang-orang tak kompeten yang dapat penghasilan dan mencari penghidupan disini. Teman saya yang agak pintar tadi kuliah di bidang teknik namun karena satu dan lain hal yang tak elok saya ceritakan ia jadi “terjerambab” ke bidang agama. Walau sarjana teknik ia kerja di departemen agama dan tidak tertarik lagi dengan diskusi-diskusi intelektual selain membicarakan bagaimana supaya masuk surga dan mendapatkan 72 bidadari bugilnya. Sebagai pegawai negara tentu kita mengerti bahwa ia hanya hidup dari gaji standar oleh pemerintahan “thogut” yang tentu saja kalau ditanyakan akan ada saja alesannya hehe.

Nah, bagaimana dengan nasib-penghidupan teman kami si bodoh yang tidak lulus untuk melanjutkan sekolah tadi? Sekarang ia menjadi pengusaha rumah makan yang sukses di kota kami ini. Punya rumah/kediaman pribadi megah sendiri bahkan sebelum menikah atau berkeluarga. Bahkan mempekerjakan sebagian teman-teman sekolah kami dulu. Waktu saya secara spontan dan tanpa maksud mengatakan bahwa ia bisa sukses berkat orang tuanya yang memang aktivis perdagangan kelihatan betul berubah air mukanya seolah-oleh saya meremehkan dia. Padahal saya setuju bahwa ia punya soft-skill untuk dunia ekonomi dan politiking walau “agak kurang” dalam intelektual. Intinya dari cerita saya kali ini adalah motivasi untuk para pembaca sekalian yang merasa bodoh atau minimalis secara intelektual lalu frustasi tentang bagaimana caranya supaya kaya-raya atau sukses finansial-material di duniawi ini.

Saya tidak sanggup lagi untuk melanjutkan cerita tentang teman saya sendiri ini, namun butuh menyampaikannya untuk pelajaran, nasehat, ataupun boleh-boleh saja dipandang narasi satire kepada ummat manusia. Seandainya ada dari dua teman itu yang meminta tulisan ini dihapus, pasti akan saya lakukan walau dalam tulisan ini saya tak menyebutkan nama dan sudah berusaha untuk mengaburkan fakta kenyatannya. Jika tulisan ini masih ada, berarti mereka berdua tidak ada yang baca atau memang merasa nggak masalah dengan apa yang saya sampaikan. Terakhir saya akan kutip quote bijak atau boleh saja dipandang satire dari almarhum Bob Sadino: “orang pintar kebanyakan ide dan akhirnya tidak ada satupun yang jadi kenyataan, orang goblok cuma punya satu ide dan itu menjadi kenyataan.” Jadi jangan pernah patah semangat dalam mengejar status dan gengsi di politiking duniawi ini, membahagiakan orang-orang terdekat kita dengan sejuta kenikmatan riil/semu serta siasat-pamrih keuntungan timbal balik juga bisa kita dapatkan dari sini; dan terakhir salam go-blog yo!

Logika dalam Pelajaran Bahasa Indonesia


oleh Geko Kriswanto

Suatu pengajaran bahasa selalu berhakikat pada proses pembentukan logika dalam diri peserta didik (dalam mengkomunikasikan ide dengan bahasa yang dipelajarinya). Acuan pokok yang paling mendasar ini agaknya telah diabaikan dalam praktik pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah. Kurikulum terbaru sebenarnya telah memberikan peluang yang luas bagi guru untuk menggali kreativitas, baik yang menyangkut sumber bahan maupun metode penyajian.

Kecenderungan lama masih saja muncul dengan mengajarkan bahan-bahan pelajaran yang kira-kira akan keluar pada waktu ujian akhir. Ukuran keberhasilan pengajaran bahasa Indonesia hanya ditolok dengan ketepatan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam testing. Keadaan pembelajaran seperti itu telah menjadi unsur dominan yang menggagalkan proses pembentukan logika dalam pengajaran bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia mulai dilirik bangsa lain untuk dipelajari sebagai suatu disiplin ilmu, tetapi di negaranya sendiri masih diposisikan sebagai mata pelajaran yang ambigu. Kita tidak bisa berpaling dari latar belakang historis pada 28 Oktober 1928, tetapi keputusan yang menetapkan nilai minimal harus enam (6) untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, justru mengebiri perkembangannya.

Dengan demikian penelitian dan diskusi ilmiah tentang bahasa Indonesia menjadi sia-sia, sebab hanya bergerak pada tataran akademisi kampus belaka. Sekolah sebagai basis perkembangannya telah terjebak ke dalam pengajaran teori saja. Bahasa sebagai sarana untuk membentuk logika, akhirnya terwujud dalam pengedrilan materi untuk menjawab soal-soal testing dan ujian akhir.

Tahun pelajaran 2003/2004 diumumkan bahwa kelulusan siswa ditentukan oleh pencapaian nilai di atas 4,00, berarti dalam ujian akhir siswa minimal harus mencapai 4,01 untuk setiap mata pelajaran yang diujikan (nasional maupun lokal). Pengumuman ini diharapkan berlaku pula untuk nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia, agar kemandiriannya sebagai sebuah disiplin ilmu sungguh-sungguh murni.

Tahun yang lalu, Juwono Sudarsono pernah menulis artikel berjudul "Delapan Kompetensi Dasar Pendidikan dan Kebudayaan" (Kompas, 24 Agustus 1998). Pada bagian awal tulisannya menekankan bahwa kedelapan kompetensi ini bermanfaat dalam menunjang kegiatan belajar-mengajar serta dalam menggairahkan kebudayaan nasional. Kedelapan kompetensi tersebut adalah membaca, menulis, mendengar, menutur, berhitung, mengamati, mengkhayal, dan menghayati. Apabila dicermati, sebagian besar
kompetensi tersebut berkaitan erat dengan pengajaran bahasa Indonesia.

Namun, bagaimana peranan pelajaran bahasa Indonesia dalam menumbuhkan kompetensi-kompetensi di atas? Pembelajaran bahasa Indonesia tidak akan mampu mencapainya selagi masih dimuati dengan unsur-unsur politis. Secara konkret begini, nilai empat (4) atau lima (5) untuk pelajaran bahasa Indonesia masih dihubung-hubungkan dengan paham kebangsaan siswa.

Siswa yang mencapai nilai di bawah enam (6) berarti rasa cintanya terhadap Tanah Air, pengetahuan sejarah nasionalnya, bahkan moralitas kebangsaannya dipandang sangat rendah. Kriteria tidak tertulis demikian justru mengebiri tujuan pembelajaran bahasa yang bermaksud membentuk logika siswa.

Krisis multidimensional yang masih melanda Indonesia sekarang, seandainya dirunut secara jernih, mungkin pula disebabkan pengajaran logika berbahasa yang salah kaprah. Kegamangan masyarakat terhadap arus globalisasi bersumber pada logika dalam berpikir. Cara berpikir seseorang sangat ditentukan oleh pengajaran bahasa yang pernah diterimanya. Kita tidak bisa berharap dari anak-anak TK yang bermain huruf-huruf, siswa SD perkotaan yang mengarang tentang sawah-sawah menghijau, siswa SLTP yang jarang mengungkapkan ekspresi, dan siswa SMA/SMK yang kebingungan membedakan premis mayor dan premis minor.

Sinyalemen ini memang bukan sesuatu yang mutlak, melainkan sebagai upaya alternatif untuk menemukan unsur-unsur yang mempengaruhi timbulnya krisis. Jadi, pengajaran bahasa Indonesia sangat membutuhkan kebijakan untuk menata kembali praktik-praktik pembelajaran dan penilaian yang selama ini berlangsung. Pada abad ke-21 negara ini memerlukan suatu masyarakat yang mempunyai landasan berpikir kuat, salah satunya dengan merintis pola pembelajaran bahasa Indonesia secara benar.

Karangan ini sekadar mengingatkan bahwa pengajaran bahasa (Indonesia) itu penting. justru pada saat arus globalisasi mengalir deras ke semua penjuru kehidupan. Bahasa Indonesia yang telah dibangun dengan susah-payah telah menjadi media komunikasi paling andal dari Sabang sampai Merauke.

Geografis negara Indonesia yang terbentang luas, ternyata mampu membudayakan satu bahasa nasional bagi rakyatnya, hal ini harus dipandang sebagai suatu bentuk keberhasilan. Namun, rasa kebanggaan ini masih perlu ditata kembali untuk mendudukkan bahasa Indonesia menjadi disiplin ilmu yang mandiri.

Salah satu caranya dengan membebaskan pengajarannya dari berbagai kepentingan politis yang tidak logis. Apakah para guru telah siap untuk mereformasi diri dalam pembelajaran?

================================================

Tulisan asli dimuat di Kompas, 31 Mei 2004

Drs Geko Kriswanto, SLTP Pangudi Luhur Bintang Laut, Surakarta

(Profil singkat dari kompasiana) Lahir 19 Januari 1965 di Gunung Kidul, Yogayakarta. TK SD SMP SMA di kotanya, studi terakhir IKIP Sanata Dharma Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia lulus 1989. Kegemarannya membaca dan menulis (tentang apa saja). Kini mengajar di SMP Pangudi Luhur Bintang Laut Surakarta 57131

Ini tulisan keren, walaupun topiknya mungkin sudah sering dibahas di sebagian buku atau makalah (seperti tulisan Prof. Budi Darma). Walau hanya seorang guru smp bpk ini ternyata bisa berpikir melampaui zamannya, menyalip dosen2 berparadigma oldskul di fakultas2 sastra bahkan yg sudah bergelar guru besar tapi masih ngotot dgn pendekatan2 kuno. Biasanya aq ndak doyan artikel-artikel agak normatif dan minim kreatifitas retorika, serta kering konsep-konsep baru. Andai saja aq baca artikel ini 10 tahun yang lalu mungkin punya semangat sedikit untuk lanjut sekolah atau setidaknya "turun gunung" tetap bekerja/fokus dalam bidang ini; walaupun problem2 "politis" spt dikemukakan penulis inilah yg bikin aq eneg bahkan mual dengan bidang studi sarjanaku sendiri. Tapi lama2 difikir2 lagi that's way life it is, politiking toh ada dimana2. Dan toh pengalaman menjadi guru yang sangat afektif, di tengah banjir guru-guru yang tak kompeten (tapi tetap harus dimaklumi yg namanya org/saudara2 kita itu mencari penghidupan). Apalagi aq sendiri besar sbg anak bpk/ibu guru juga neh kk... sengaja kukutil ulang kesini krn artikel ini kutemukan agak terserak di (sepertinya) tugas copasan anak kuliahan yg diupload ke blog, terus kulihat juga direferensi oleh makalah ibnu wahyudi (dosen ui) dan belum kutemukan bentuk utuhnya, entah apa penulisnya sendiri memang tdk pernah meng-online-kan atau sudah dihapus. Kulihat di kompasiana beliau jg tdk aktif bertahun2. Mudah2an ia tdk keberatan jika ketemu via google kumuat ulang karyanya hehe

7Bh Per 7 Thn, Budget-kate Knowledge-update Seorang Sarjono Paimo

Mungkin ini akan terdengar memalukan. Sangat teramat memalukan bahkan betul. Tapi ya sudahlah me-redundant. Nih aji mumpung aq sedang-sudah tidak punya kemulaan eh “kemaluan”. Ataupun punya, tapi terasa ia tak ade kerana sudah lama tidak tiada kunjung untuk “kami bergunakan". Mohon maaf wak haji, jika kata sambung yang harusnya-mutlak ditulis secara karena ini memang sengaja saya ejain berbeda dengan versi resmi/monotone yang tertera dalam keterangan (atau opini pembuat) kamus; mungkin untuk membuat jengkel para dogmator tata bahasa Indonesia beku hehe. Bagiku agak menggelikan saja ketika doktrin konvensi (entah dimana bermufakatnya?) aturan bahasa formal dipaksakan untuk dipatuhi juga dalam situasi dan ragam lain. Plank nama usaha  misalnya, ya suka-suka kreatifitas orang gila itulah ianya. Bahkan dalam penulisan ilmiyyah pun seyogyanya saran-teknis penulisan jangan malah menghambat (bahkan mereduksi) dalam pengungkapan ide dan konsep, lalu memandulkan perkembangan ilmu. Apalagi berkait kreatifitas dan estetika.

Oh, ini otoritas ahli! Sorry dude, gw udah baca penjelasan katanya ahli itu; banyak yang argumennya ndak jelas dan ternyata mendalilkan ke paradigma pokoknya (kalok subjek agama atau ilmu perdukunan sila-silahkan ajalah visinya begitu). Apalagi ahli yg punya afiliasi politik, entah sukarela atau terpaksa, pasti bias dan penuh tendensi. Hasilnya argumen ilmiah akal-akalan (dunia kepentingan). Atau barangkali aja gw yang begok, penyakit sok-sokan ngritik para pemula. Tapi yahh bagaimanapun koplak juga klo kita ngomong melenceng dari konsensus komunikasi. Seperti kretin (anak alay), kata seorang bos mafia: "speaks nonsense that only another cretin can understand" wkwkwk. Kembali ke “kemaluan”, untuk sementara-sering faktor anu itu akan kuabaikan. Mudah-mudahan tulisan nakal ini tidak dibaca oleh para bocah itu yang anu masih kecil. Bahaya memang, bisa ngebuat ngeguncang.

Beberapa minggu yang silam, “negara federal” Sumatera Barat sedang ada perhelatan huakbar. Mungkin intel-intel KPK-RI turut memantau ke kota Padang dengan kode sandi baralek untuk operasi tangguak gadang-nya; seperti sesaat sebelum dibongkarnya gurita sogok bisnis pembangunan infrastruktur jalan ala politik bagi-bagi jatah untuk raja-raja kecil di “negara-negara bagian”. Tapi mungkin juga tidak, karena perhelatan daerah kali ini terdapat di sektor kering yang miskin penganggaran bernama dunia perbukuan. Ya, Minang Book Fair itulah namanya yang entah kenapa diinggris-inggriskan oleh para region-stakeholders yang (pada) snobbis itu, sebagaimana dikritik oleh penulis-penulis yang fanatik bahasa Indonesia baik dan benar. Para fundamentalis bahasa iki hehe. Kerana tidak sempat juga kasena (muuph disengaja lagi)--takut dicegat razia polisi-jujur karena lokasi festivalnya yang di area pusat kota sehingga bisa kanai tilang yang kini nilainya ratus-ribuan (alesan)--akhirnya aq mengobati kekecewaan dan rasa rindu melihat tumpukan buku (diskon) ke Gramedia Padang saja di Jalan Damar deket taplau sana. Cukup sekali naik angkot sajah ti imah abdi mah. Sakalian pengen napak tilas menggelandang tadinya ke Sari Anggrek dan sekeliling Pasar Raya. Melakoni dramaturgi kehidupan bak tokoh kitanya Lelakon karya Iwan Simatupang atau ibarat aksi resedivis Carl Johnson yang punya pekerjaan menabrak-nabrakkan mobil yang ditumpanginya ke segenap penjuru kota San Andreas dalam storyline game fenomenol Grand Theft Auto III itu halahhh.

Singkat cerita--nantik semampai pulak cerita awak nie ke Nieu Orleans, Greenland, hingga La La La Land sana--sampailah aq di toko buku usahanya grup Kompos yang satu itu setelah terengah-engah nikmat kerana jalan kaki sikit dari BRI-S jl.veteran yang sudah lama juga tak ku-update-in sisa saldo rekening tabungan pembayar tagihan bulananku (secara daring) itu. Seperti sudah kuprediksi sebelumnya, begitu masuk spot pajangan buku-buku (katanya) sastra aq langsung disambut tumpukan buku best seller dari “sastrawan-sastrawan besar” seperti Tere Liye dan sejenisnya. Langsung kuperhatikan satu demi satu judul buku “ustadz” motivator yang pinter merangkai kata-kata klise yang satu itu (untuk memikat para gadis-gadis remaja labil penggemar harapan-harapan indah yang dilukiskan lelaki-lelaki buaya produser sinetron-sinetron “positif’); dan rasa-rasanya hanya dengan membaca judul saja saya merasa sudah tahulah kira-kira isinya akan seperti apa.

Lalu kulihat barisan rak-rak lainnya, syukurlah masih ada nama-nama sastrawan beneran walau jauh dari kata komplit untuk merepresentasi peta kesusastraan yang sebenarnya. Tapi ya bisa dimaklumilah, karena ini memang ranahnya dunia bisnis yang punya perhitungan tersendiri, bahkan syahadat khusus barangkali. Bahkan, pertimbangan politik geng-geng relasi-koneksi antar kubu-kubu sastrawan pun aromanya kuat tercium bawunya. Dan sudah pasti, buku kritik sastra tak akan laku. Tukang kritik, siapa pula yang mau tahu? “Simply the way the world works. Holy shit!” (The Big Short 2015, menit ke 01.05.50) Akhirnya, setelah bosan nyinyir-nyinyirin orang lain kayak begini, aq pun turun ke lantai bawah meninjau lapak bursa. Memang tidak terbersit niat sedikit pun di sukma dompetku untuk mengeluarkan Rp.100 ribu perak hanya untuk mendapatkan satu eksemplar kumpulan sajak-sajak yang tidak begitu istimewa itu. Hanya karena kebetulan penyairnya dikenal aktif ikut acara ini itu dan punya teman dimana-mana jadilah seolah-olah karyanya ditafsir-tafsirin punya makna mahadahsyat luar biasa. Dunia puisi. Dunia yang kering pembaruan akhir-akhir ini.

Bahkan ada juga yang “ditolong” menerbitkan buku puisi hanya karena ia dosen fakultas sastra. Padahal karya kreatifnya itu ndak kreatif sama sekali adanya. Mungkin karena terlalu banyak terpengaruh dengan apa yang ia (diwajibkan) baca. Sehingga tulisannya itupun terlihat kaku; karena ia gemetaran berkarya akibat “tugas itu” adalah hasil perintah resmi (ancaman) atasan di Kemenristek dan birokrat oldschoold  di Dikti sana. Walau mungkin gak salah juga karena that's life is... tapi ini mengingatkanku pada kakaknya Bu Yuk yang dicaci maki Wisaran Hadi dalam novel Negeri Perempuan-nya. Saya sendiri pernah membaca cerpen karya seorang dosen yang keterlaluan sangat baku dan eyd-nya. Konstruksi-konstruksi kalimatnya terasa seragam diulang-ulang model begitu-begitu juga. Nyaris tidak ada irama. Apalagi dinamika melodi yang bermain di dalamnya untuk membaharui "standar" estetika. Estetikanya hanya meniru model-model bersajak lama. Full of cliche. Oh Dear Godot... sebegitunya guwa mengkritik rekan sejawatku seolah-olah aq mampu untuk menulis dengan lebih baik dari mereka xixixi. Ah setidaknya “karya sastra” yang sangat tertib, santun, dan very-very templately so much seperti itu kukira sangat tepat untuk bahan ajar anak SD atau TK setidaknya. Sudahlah, mari kita ambil sisi positifnya aja deh.


Waduhh, kemana pula ceritaku kali ini berkelok-kelok mengalurnya. Baiklah kita flashback saja. Di lapak bursa lantai bawah Gramedia Padang ini akhirnya aku beli buku yang hanya dijual 10k saja per item­-nya (snobbis.xom). Lumayan tebal-tebal untuak pambungkuih lado yang sudah kuprediksi tak akan punya waktu untuk membacanya; dan itupun hanya satu yang terkait bidang sususastra, tepatnya susastra kuna, yang aq sendiri juga kurang meminatinya (karena lebih tertarik sastra kontemporer, bahkan futuristik {bukan future-mistik}, kalau-kalau kelak ia belum sirna hehe). Ada tujuh biji buku yang kuboyong pulang ke peraduanku; kebanyakan bertema sosial-politik bahkan ekonomi (eh profilnya Sofyan Wanandi, entah kenapa kubeli juga walau tahu biografi terbitan sendiri banyak ngarang cerita pilihan saja tentunya). Tapi lumayanlah. Uang cepek-ceng yang tadinya bisa habis hanya untuk satu ekstemplar jika beli baru itu, sekarang jadi masih ada kembalian untuk biaya pacaran. Dan lumanyun berat juga ketika aq harus ngangkutnya dengan-secara berjalan dikit; karena kuawatir kelamaan nanti nunggu angkot buat pulang kampuang. Mungkin angkot yang kunaiki kemaren itu adalah rit yang terakhir buat langsung ke depan rumah; karena waktu sudah hampir maghrib ini adalah jatah cari nafkahnya papa-papa pengojek di Simpang Tebiang sono. Lewat counter Oppo Smartphone kulihat gerombolan sales-sales muda sedang dilatih supervisor-nya untuk punya nyali berjualan hingga ke tengah-tengah jalan raya--bersaing dengan pengemis-pengemis jujur rahimullohutaala dan para pengumpul dana sumbangan bencana banjir Kabupaten 50 Kota--seperti terlihat dari yang sempat kufoto pada gambar terakhir.*

Media Kak Tarsis Dalam Karyo The Asu Sastrooo

Seorang koruptor zaman Orde Baru yang lolos dari pengawasan Indonesian Coruption Watch bersantap malam bersaama keluarga besarnya. Sambil me...