Logika dalam Pelajaran Bahasa Indonesia


oleh Geko Kriswanto

Suatu pengajaran bahasa selalu berhakikat pada proses pembentukan logika dalam diri peserta didik (dalam mengkomunikasikan ide dengan bahasa yang dipelajarinya). Acuan pokok yang paling mendasar ini agaknya telah diabaikan dalam praktik pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah. Kurikulum terbaru sebenarnya telah memberikan peluang yang luas bagi guru untuk menggali kreativitas, baik yang menyangkut sumber bahan maupun metode penyajian.

Kecenderungan lama masih saja muncul dengan mengajarkan bahan-bahan pelajaran yang kira-kira akan keluar pada waktu ujian akhir. Ukuran keberhasilan pengajaran bahasa Indonesia hanya ditolok dengan ketepatan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam testing. Keadaan pembelajaran seperti itu telah menjadi unsur dominan yang menggagalkan proses pembentukan logika dalam pengajaran bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia mulai dilirik bangsa lain untuk dipelajari sebagai suatu disiplin ilmu, tetapi di negaranya sendiri masih diposisikan sebagai mata pelajaran yang ambigu. Kita tidak bisa berpaling dari latar belakang historis pada 28 Oktober 1928, tetapi keputusan yang menetapkan nilai minimal harus enam (6) untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, justru mengebiri perkembangannya.

Dengan demikian penelitian dan diskusi ilmiah tentang bahasa Indonesia menjadi sia-sia, sebab hanya bergerak pada tataran akademisi kampus belaka. Sekolah sebagai basis perkembangannya telah terjebak ke dalam pengajaran teori saja. Bahasa sebagai sarana untuk membentuk logika, akhirnya terwujud dalam pengedrilan materi untuk menjawab soal-soal testing dan ujian akhir.

Tahun pelajaran 2003/2004 diumumkan bahwa kelulusan siswa ditentukan oleh pencapaian nilai di atas 4,00, berarti dalam ujian akhir siswa minimal harus mencapai 4,01 untuk setiap mata pelajaran yang diujikan (nasional maupun lokal). Pengumuman ini diharapkan berlaku pula untuk nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia, agar kemandiriannya sebagai sebuah disiplin ilmu sungguh-sungguh murni.

Tahun yang lalu, Juwono Sudarsono pernah menulis artikel berjudul "Delapan Kompetensi Dasar Pendidikan dan Kebudayaan" (Kompas, 24 Agustus 1998). Pada bagian awal tulisannya menekankan bahwa kedelapan kompetensi ini bermanfaat dalam menunjang kegiatan belajar-mengajar serta dalam menggairahkan kebudayaan nasional. Kedelapan kompetensi tersebut adalah membaca, menulis, mendengar, menutur, berhitung, mengamati, mengkhayal, dan menghayati. Apabila dicermati, sebagian besar
kompetensi tersebut berkaitan erat dengan pengajaran bahasa Indonesia.

Namun, bagaimana peranan pelajaran bahasa Indonesia dalam menumbuhkan kompetensi-kompetensi di atas? Pembelajaran bahasa Indonesia tidak akan mampu mencapainya selagi masih dimuati dengan unsur-unsur politis. Secara konkret begini, nilai empat (4) atau lima (5) untuk pelajaran bahasa Indonesia masih dihubung-hubungkan dengan paham kebangsaan siswa.

Siswa yang mencapai nilai di bawah enam (6) berarti rasa cintanya terhadap Tanah Air, pengetahuan sejarah nasionalnya, bahkan moralitas kebangsaannya dipandang sangat rendah. Kriteria tidak tertulis demikian justru mengebiri tujuan pembelajaran bahasa yang bermaksud membentuk logika siswa.

Krisis multidimensional yang masih melanda Indonesia sekarang, seandainya dirunut secara jernih, mungkin pula disebabkan pengajaran logika berbahasa yang salah kaprah. Kegamangan masyarakat terhadap arus globalisasi bersumber pada logika dalam berpikir. Cara berpikir seseorang sangat ditentukan oleh pengajaran bahasa yang pernah diterimanya. Kita tidak bisa berharap dari anak-anak TK yang bermain huruf-huruf, siswa SD perkotaan yang mengarang tentang sawah-sawah menghijau, siswa SLTP yang jarang mengungkapkan ekspresi, dan siswa SMA/SMK yang kebingungan membedakan premis mayor dan premis minor.

Sinyalemen ini memang bukan sesuatu yang mutlak, melainkan sebagai upaya alternatif untuk menemukan unsur-unsur yang mempengaruhi timbulnya krisis. Jadi, pengajaran bahasa Indonesia sangat membutuhkan kebijakan untuk menata kembali praktik-praktik pembelajaran dan penilaian yang selama ini berlangsung. Pada abad ke-21 negara ini memerlukan suatu masyarakat yang mempunyai landasan berpikir kuat, salah satunya dengan merintis pola pembelajaran bahasa Indonesia secara benar.

Karangan ini sekadar mengingatkan bahwa pengajaran bahasa (Indonesia) itu penting. justru pada saat arus globalisasi mengalir deras ke semua penjuru kehidupan. Bahasa Indonesia yang telah dibangun dengan susah-payah telah menjadi media komunikasi paling andal dari Sabang sampai Merauke.

Geografis negara Indonesia yang terbentang luas, ternyata mampu membudayakan satu bahasa nasional bagi rakyatnya, hal ini harus dipandang sebagai suatu bentuk keberhasilan. Namun, rasa kebanggaan ini masih perlu ditata kembali untuk mendudukkan bahasa Indonesia menjadi disiplin ilmu yang mandiri.

Salah satu caranya dengan membebaskan pengajarannya dari berbagai kepentingan politis yang tidak logis. Apakah para guru telah siap untuk mereformasi diri dalam pembelajaran?

================================================

Tulisan asli dimuat di Kompas, 31 Mei 2004

Drs Geko Kriswanto, SLTP Pangudi Luhur Bintang Laut, Surakarta

(Profil singkat dari kompasiana) Lahir 19 Januari 1965 di Gunung Kidul, Yogayakarta. TK SD SMP SMA di kotanya, studi terakhir IKIP Sanata Dharma Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia lulus 1989. Kegemarannya membaca dan menulis (tentang apa saja). Kini mengajar di SMP Pangudi Luhur Bintang Laut Surakarta 57131

Ini tulisan keren, walaupun topiknya mungkin sudah sering dibahas di sebagian buku atau makalah (seperti tulisan Prof. Budi Darma). Walau hanya seorang guru smp bpk ini ternyata bisa berpikir melampaui zamannya, menyalip dosen2 berparadigma oldskul di fakultas2 sastra bahkan yg sudah bergelar guru besar tapi masih ngotot dgn pendekatan2 kuno. Biasanya aq ndak doyan artikel-artikel agak normatif dan minim kreatifitas retorika, serta kering konsep-konsep baru. Andai saja aq baca artikel ini 10 tahun yang lalu mungkin punya semangat sedikit untuk lanjut sekolah atau setidaknya "turun gunung" tetap bekerja/fokus dalam bidang ini; walaupun problem2 "politis" spt dikemukakan penulis inilah yg bikin aq eneg bahkan mual dengan bidang studi sarjanaku sendiri. Tapi lama2 difikir2 lagi that's way life it is, politiking toh ada dimana2. Dan toh pengalaman menjadi guru yang sangat afektif, di tengah banjir guru-guru yang tak kompeten (tapi tetap harus dimaklumi yg namanya org/saudara2 kita itu mencari penghidupan). Apalagi aq sendiri besar sbg anak bpk/ibu guru juga neh kk... sengaja kukutil ulang kesini krn artikel ini kutemukan agak terserak di (sepertinya) tugas copasan anak kuliahan yg diupload ke blog, terus kulihat juga direferensi oleh makalah ibnu wahyudi (dosen ui) dan belum kutemukan bentuk utuhnya, entah apa penulisnya sendiri memang tdk pernah meng-online-kan atau sudah dihapus. Kulihat di kompasiana beliau jg tdk aktif bertahun2. Mudah2an ia tdk keberatan jika ketemu via google kumuat ulang karyanya hehe
Posting Komentar