Ketemu Webnya Idola Hehe

Irfan TP (@irfanteguh) • Instagram photos and videos

"Kecuali darah, kau bisa memilih atau menawar segalanya di dunia ini. Makanan ringan kesukaanmu, tim sepakbola yg ingin kau benci setengah mati, pekerjaanmu, pasanganmu, agamamu, kecenderungan seksualmu, segalanya. Kau bahkan bisa memilih tak beragama atau aseksual. Tapi darah, belenggunya abadi."

Akhirnya ketemu juga akun yang cukup jelas dari penulis favoritku yang satu ini. Walaupun juga tidak detail dgn riwayat hidup--apalagi skrg aku memilih mahzab anti-siapanya dan fokus pada apa (yang "diperbuat")-nya--tapi setidaknya sekarang aku tahu mukanya seperti apa. Lho cowok juga koq kayak penting gitu mengetahui tampang orangnya. Karena salah satu yang bikin aku penasaran pada anak ini adalah kukira ia salah satu juniorku di kampus jatinangor dulu yang namanya kurang lebih sama--tentu saja ekey sudah lupa persis namanya atau mungkin memang tdk pernah tahu selain panggilannya saja. Kupikir dulu keren juga (mix perasaan dgn gak nyangka) punya "partner" se-almamater dengan skill menulis seperti itu karena in fuck gw merasakan kuliah di jurusan sastra indonesia penuh sesak dengan manusia-manusia medioker kalo berlebihan dibilang bodoh-bodoh. Sudah intelektual ala kadarnya juga tdk punya kecintaan pd bidang studinya alias jurusan tak ada pilihan lain hehe. Bahkan mantan dosen-dosenku tak ada satupun, sekali lagi gw ulang: satu orang pun (tambah tanda seru ! nih), yang punya kemampuan menulis spt itu (dosen-dosen ini kulihat juga keturunan para medioker juga, tdk ada yg istimewa atau khas dari mereka, pantesnya akreditasinya E hehe). Senior-seniorku pun hanya kuingat dua orang yang menonjol: Acep Iwan Saidi di artikel/analisis dan Pandu Abdurrahman Hamzah di karya. Tapi pun ini rata-rata air alias belum punya keunikan tersendiri. Dan ternyata si penulis favoritku ini juga bukan org sastra, kemungkinan anak teknik dari Polban kalo gak salah lihat di salah satu keterangan fotonya. Hal ini membuatku bertanya-tanya kenapa justru orang2 yang nyastra gaya narasi tulisannya justru orang2 yg tdk fokus menekuni studi kesusastraan? Hihihi, ini mungkin pertanyaan semi-retorik karena sebagian jawabannya sudah bisa dilihat dari syarat passing grade masuk fakultas sastra yang selalu paling terendah (tambah sangat lagi).

Yang aku ingat sekarang ada dua orang penulis paling menonjol buatku dibanding ratusan sastrawan Indonesia lainnya--puluhan ribuan mungkin kalo ditambahkan dengan sastrawan2 alay-pop pendatang baru--yakni Mbah Budi Darma dan Iwan Simatupang. Kalau di esei sudah pasti Goenawan Mohammad paling bersinar terang tapi menurutku di karya (puisi) ia medioker juga. Nah, Irfan Teguh ini bagiku masuk nominasi favorit juga diantara sangat selektifnya idolaku ditengah-tengah jumlah sastrawan yang bejibun itu--walau tentu masih prematur utk aq telah selesai menilai kualitasnya sejajar dgn duo-evergreen tsb. Kalau ndak salah orang ini aku kenal tulisan-tulisannya di situs kompasiana dulunya. Sama seperti Iwan dan Darma, orang ini kalau menulis menurutku punya gaya pribadi yang bisa kuendeus, maksudnya kudeteksi, walau tanpa ia menuliskan namanya. Bagiku seorang penulis jika tdk punya gaya khas akan jadi sastrawan biasa-biasa aja (salah satunya Mbak aktipis yang komisioner sastra di DKJ yang kujadikan pilihan objek studi utk skripsi terdesakku/berkompromi dgn selera dosen tak kompeten). Apalagi di esei, GM sudah pasti banyak "epigonnya" atau setidaknya pengaruh spt pd diriku sendiri mungkin atau Chairil Anwar kalau di sajak. Okeh segitu dulu, semoga bapak ini entah apa kegiatannya sekarang tetap akan menelurkan karya avant garde nantinya. Kalau kulihat aktivitasnya yang tak jauh-jauh dari dunia buku dan pemikiran (walau orang teknik/eksakta), kumengharapkan ia tidak layu sebelum sempat lebih mengepakkan sayap nantinya. Ia punya ciri khas dan saya sanggup membuktikannya (walau kadang saya juga berpikir jangan2 krn style berkisahnya mirip Budi Simatupang makanya kujatuh cinta). Tapi tidaklah, Simatupang dan Budi pun ada beda gaya yang jelas kukira walau ketiga makhluk ini mungkin punya medan gaya menulis yang berdekatan. Yang jelas Mas atau Akang Irfan Teguh ini kukira juga bermain dengan wawasan/refensi yang mahaluas (lintas bidang ilmu) maka aku kepincut pada narasinya (nge-link dgn pengetahuan di kepala kita) dan tidak sekedar ngutak-ngatik kata-kata indah dgn cara2 yg klise. Tidak juga hanya mencampur adukkan bejibun refensi tanpa benang merah yang jelas dan penyampaian yang bernas-ciamik sebagaimana penyakitnya para penyair obscurd yang berusaha terlihat pintar di tuntutan persaingan zaman posmo. Berusaha menghindari classy/klise tapi jatuh ke klise kuadrat bin primitif-norak! Aku suka tulisan Irfan Teguh ini karena ia punya gaya unik dari tren sami mawon generik regular gaya penulisan sastra boring lainnya saat ini. Oks congrats bro, "diJILat" pantatnya sama aQ sang Kritikus Edanan niy xixixi

"For what it's worth: it's never too late or, in my case, too early to be whoever you want to be. There's no time limit, stop whenever you want. You can change or stay the same, there are no rules to this thing. We can make the best of the worst of it. I hope you make the best of it. And i hope you see thing that startle you. I hope you feel things you never felt before. I hope you meet people with a different point of view. I hope you live a life you're proud of. If you find that you're not, i hope you have the strength to start all over again."
Posting Komentar

Media Kak Tarsis Dalam Karyo The Asu Sastrooo

Seorang koruptor zaman Orde Baru yang lolos dari pengawasan Indonesian Coruption Watch bersantap malam bersaama keluarga besarnya. Sambil me...