Lanjutan Pengamatan Bahasa Ayam

Wokehhh, perlukah dilanzutkan crita2 tak bermanfaat dan ndak bisa dimanfaatin ini (#unsosialita mode on)? Kalok waada dihantara pembaca yang budiman sekalen yang misal kembalik menengok2 untuk kedua kalinya ke blog imutku ini (dgn menunggingi resiko bahwa Anda akan difersulit ketemu istilah2 inkonvensional dan terbata2 membaca susunan kosakata taklumrah yang mendurhakai kamus bahasa formiil itu), pastilah bisa dicurigai sedikit banyak apa yang kutulis telah memengaruhi Anda. Menggoda, menyihir, menghipnotize... atau ah—ke-PD-an gw yakk—setidaknya mengundang nasar Anda (pe-nasar-an maksud sayahh, mungkin etimologinya dari Tasar krn di kampunganku ini ada kakek2 yang bernama nyentrik begituw; walok mungkin jugak dari ‘nazar’ atau ‘nazarrudin’ krn pengaruh pemomuleran istilah xenobis nge-gaya dari kaum snobiya pemuja negeri Onta sana). Atau penasarannya adolalah krn kangen tahuan aja spt apa stupiditas manusia keliatannya lagi tress tak nentu arahan kemana ini. Atau jg, mungkin entertain wae, coz ada di antara kita yang merasa senasib beda tanggungan lain tunggingan; dan supaya Anda tetap bisa men-sugesti rasa syukur-rekayasa terpaksa kepada Tuhan yg menakut2i dgn neraka menyala itu, Anda mungkin merasa butuh utk melihat org yg lebih menderita hidupnya (kelihatannya) hehe #mood us

Baeklah. Mau cerita masalah hayam yang pegimane kemaren yee? Woini, sayah mo crita ttg solidaritas di kalangan ayam-ayam sekandang dan sepemeliharaan (spiritnya chicken_korsa). Jadi gini. Entah sedang lihat2 video virno di depan kompi, atau mungkin sedang nyam-nyam dengan nikmatnya di meja dapur sana, kudengar di telingaku suara salah satu ayam betina kami berkotek2: tek kotek kotek kotek.... kira2 begitulah konon transliterasi onomatope-nya katanya dibuat2 dalam bahasa manusianya. Beberapa detik setelah kotek2-nya salah satu ayam gadis ini (belum pernah bertelur, walau kulihat sudah sering di-kimpoi oleh sang ayam jantan yang jadi kepala suku atau leader komunitasnya), langsung terdengar hayam2 lainnya menjawab “salam” temannya ini untuk saling bersahut2an seakan-akan saling berlomba2 utk mendapatkan pahala dari setiap butir butir salam yang mereka berjamaah lafadzkan—walaupun hanya berputar2 di empat fonemik ini: k-o-t-e-k. Mendengar sikon momentum inersia ini, yang kesejenakannya melipat dimensi waktu ini, aq-ku atau ke-akuan-ku langsung mengalah dan mengalihkan perhatian dari aktivitas kepentingan soliter diri sendiri sebelumnya menjadi sedikit punya kepekaan sosial bahkan kosmos kepada apa yang sedang terjadi di alam sekitar. Kutinggalkan tempatku semula dan berburu-berburu menuju (walau hanya jarak 5-6 meteran) ke spot paduan suara kotek ayam-ayamku ini untuk bisa segera mendapatkan pengetahuan gratis tentang apa yang sedang terjadi.

Rupa-rupanya, bulanku ada kelabu warnanya. Aq terkecoh menilai emergensitas pekikan ayam2 betina itu sebagai alarm “nain wan-wan” kepada Tuan pemelihara mereka. Rupanya ada seekor ucing yang mendekat permisi mau lewat ke arah tongkrongan komunitas hayam sayur (pengecut’s) ini. Kebetulan gang (tepatnya: berupa sekat2 “security-check” menuju kandang mereka) yang mengarah ke area lain yang perlu dilintasi orbit si ucing mau tak mau memapasin mereka. Tadinya aq deg2an jangan2 ada anjing atau musang yang mengincar anak2 ayamku. Setelah gate alias “gapura” security-check kumaksud tadi ku-open utk si ucing supaya flow ia keluar dari wilayah feeling safety komunitas para kotekkotek itu, heninglah kembali suasana, reda kembali segala keributan yang tadinya sempat mendebar2kan perasaan kasih sayangku kepada ayam-ayam yang kupelihara. Udah, gitu aja cerita-nya koq. Cerita nggak penting. Puitisasi narasi biasa-biasa saja. Tidak ada kajian lanjutan. Atau penelitian serius tentang tata-bahasa ayam. Mungkin kelak fonem ‘kotek’ itu akan ada yang bisa kembangkan lebih rinci berikut eksistensi bunyi suprasegmental dan referensi paralingual serta ekstra-fonetiknya. Sehingga Bang Tarzan bisa jadi profesor-riset (bukan politik hibah gelar) di dunia perspektif positivisme-reduktif descartesian itu. Dengan skill yang bisa diekplanasi kepada obyektifikasi tafsir diagram-diagram bunyi.

Tentu saja sepintar2 Abang Tarzan di dunia praktek, secara normatif supaya karir tidak mandeg ia harus purak-purak santun dulu pada para senior akademisi gaek yang tak-update di zona nyaman menara gadingnya itu. Artinya, Abang Tarzan harus pintar kuadrat alias pintar-pintar (soft-skill). Jangan mengeluh jadi doktor yang ahli membolak-balik mesin fotokopi dan sortir menyortir-menyortir dlm “manajemen” dokumentasi dokumen (kerja administratif dalam birokrasi dan sistem jadul ini) seperti si Lukito UGM itu. Nanti orang-orang tua yang sudah terbiasa megah dan disanjung2 dalam kedudukan bergengsi dari masa lalu itu tersinggung pula mengira tidak dihargai kemilau cahayanya yang kian memudar. Baiklah, mulut gw mulai kelewatan neh. Krn terbukti analisisku kali ini tanpa pendalaman materiil, sila saja para pembaca budiman menyimpulkan “risetku” kali ini baru level takhayul psikis. Terakhir, salam dari ayamku untuk ayam-ayam di rumah Anda semuanya. Tek kotek kotek kotek (= salam kenal sob, semoga tuanmu tdk kapok utk ikuti lagi postingan terbaru Tuan-caem kesayangan kami ini nantinya) katanya, wkwkwkwk. Bahasa ayam saja bisa diterka2, kenapa Anda spt hilang akal kalow ada anak-manusia doyan utak-atik mengkreasi ekspresi bhasanya. Ya ya ya, bentrok dengan kaidah kepraktisan utk dlm tempo sesingkat2nya ingin memastikan tafsir maksud kata-kata (kalaupun yg pasti itu ada). Ya sudah, kalok begitu kapan2 kita berbicara seperti para robot sajalah dalam angka-angka. Tekonologi nanomaterial zaman sekarang telah memungkin komputasi kompleks bisa diselesaikan dalam hitungan miliseken yang padahal dulunya oleh kompi IBM sebesar kulkas di markas CIA bisa berjam-jam prosesing kalkulasinya. Atau konsensus komunikasi kita pakai sistem binari hitam-putih saja, seperti mesin analog yang hanya mengenal oh yes or not untuk instruksinya. Bak pepatah, number don’t lie. Jadi Anda tidak perlu menghabis2kan energi utk mendemo Kakanda Ahok, karena merasa dibohongi pakai bahasa yg mengaburkan kepastian kenikmatan janji-janji syurrrga!

selebpost

LAGU NGETOP JULI 1998 - OKTOBER 2000, MY DIARY: THE MEMORY REMAINS!

Ragam Bahasa Setya Novanto dalam Transkrip “Papa Minta Saham”

Contoh Perbandingan Cerpen (Silakan Copas dan Jangan Lupa Bayar PAKAI Do'a-in Aq Yah) -- JILID 2

PIKIR DULU, BATU BICARA…!!

Fenomena Islamis Cinta Harta (Al-Wahn Syar'i)

DIARIKU SEPANJANG TAHUN 2002

KOIN SERATUSAN, DADA SEORANG PEREMPUAN DAN MATA-MATA BERWARNA MERAH

PEMERKOSAAN SISWI SMP DI PADANG