solikuiqu



===============================================


Dalam perspektif waktu, segala materi hadir dalam sebuah keadaan yang akan terus berubah. Adalah takdir dan keharusan bagi semua hal yang material untuk berubah menjadi hal yang lain daripada dirinya sendiri. Segala hal yang ada layak untuk dihancurkan (Alan Woods and Ted Grant, 1995). Segala yang ada disusul oleh ketiadaan. Tidak ada ada yang tanpa adanya tidak ada. Dan tidak ada akan menjadi tidak ada atau tidak bisa ada jika ada tidak ada. Sehingga ada adalah supaya tidak ada, tidak ada adalah supaya ada. Selamat datang generasi berikutnya, selamat jalan yang akan segera lenyap ke keadaan tidak ada! Kita justru saling bekerjasama ketika berjalan ke arah yang saling berbeda! Penaklukan kolosal yang dilakukan nalar manusia memungkinkannya untuk membebaskan dirinya sendiri dari perbudakan waktu, untuk melampaui realita dan menjadi "hadir" bukan hanya di sini untuk saat ini, tapi juga di masa yang lalu dan pada masa yang akan datang (lewat pikiran). Bahkan hadir di tempat ini, situ, sana, dimana-mana secara paralel dalam waktu mendekati non detik lewat sebuah gelombang radio dunia maya.... (Wemblogsfotcom and God's, 2017)


================================================


menguasai ilmu bahasa itu akan sempurna jika diiringi dengan skill matematika krn pd keduanyalah otak bg semua cabang ilmu: bahasa adalah "konsensus" peng-arti-an (kompetensinya adam alaihisalam yg membuat hasad malaikat iblis) dan kompetensi matematis sbg metode menalar/pemahaman/pemaknaan, kita sering menyebut filsafat sebagai akar semua ilmu pengetahuan dan filsafat itu sesungguhnya adalah matematika bahasa atau ilmu logika: bagaimana berpikir sistematis, argumentatif, terperinci sehingga bisa melepaskan diri dari pra-asumsi yg dibentuk oleh mitos yg diyakini dan perasaan, praanggapan ini membuat org berpikir deduktif dan hanya menalar utk mencari2 pembenaran bagi hasil yg sudah ia khayalkan terlebih dahulu (disebutkan dlm sebuah studi oleh universitas duke bahwa org cenderung mengevaluasi bukti2 ilmiah berdasarkan implikasi politik yg diinginkannya, jika solusi yg dihasilkan bertentangan dgn aspirasi politiknya maka mereka akan menyangkal dan tdk mengakui keberadaan masalah atau ini bs kita sebut dgn istilah riset bertendensi pesanan sponsor hehe), jika kemampuan menafsirkan bahasa tdk dibarengi kompetensi menalar secara matematika maka dikhawatirkan kita akan lebih dikuasai perasaan daripada logika, dan pd masyarakat yg levelnya seperti ini ditambah mental konformitasnya tinggi maka hoax akan begitu mudah utk menjelma sesuatu yg diimini....

Posting Komentar