Rabu, 01 April 2009

MUNAWIR OH MUNAWIR

Setelah sebelumnya aku berceloteh dengan posting berjudul "pilkada oh pilkada" yang nyaris tak ada hubungan nya dengan pemilu, sekarang gw kembali melakukan perbuatan repetitif dengan memberi judul yang se-konstruksi dengan posting belum lama ku tuw. Secara teknis resepsi pembaca, pola2 repetisi macam ini bisa ber-efek negatif namun bisa pula konstruktif. Sangat banyak (f)aktor dan konstituen yang menentukan--sebagaimana lumrahnya analisis ilmiah non eksak/pasti/terukur-jelas. Bahkan penjelasan kualitatif non-kuantitatif pun terasa tak cukup menjelaskan. Kualitas kadang malah bisa mengaburkan. Dan, tulisan ini mulai mengabur kala belum juga menyinggung munawir. Siapakah anak ini?


Bocah kurus, keriting, item dekil, dan akan kerap bisa Anda jumpai kala tengah cekakak-cekikikan dengan suara keras ini adalah seorang nyong ambon berumur sekitar 25 tahunan yang terakhir saya jumpai tengah berjuang menghidupi anak bininya di belantara Kota Bandung, Propinsi (bukan provinsi) Jawa Barat. Aslinya sih niy anak sempat mengecap bangku kuliah di Pasundan dan pula bapak kandungnya adalah seorang guru besar matematika. Saya takbisa membuktikan 100% kebenaran ini, tapi yang jelas saya sedikit lebih jauh belajar (kerusakan) komputer adalah dari bocah ini. Ceritanya niy anak mengawini (mungkin accident) pembokatnya sendiri (mungkin juga anak pembantunya). Singkat kisah, ortu tak merestui dan ia diusir dari rumah.

Saya berteman dengannya mulai dari sejak istrinya masih hamil hingga anaknya sudah terlahir. Awalnya ketemu sewaktu ngekos di jatinangor; kemudian sempat lama tak jumpa, lalu jumpa lagi ketika anaknya sudah cukup berumur satu atau dua tahun. Kami awalnya jadi tak selalu bersama salah satunya karena saya juga takbisa sepenuhnya percaya anak ini tentu. Hidup di rantau gheto lo bo, sehati2 gini saya juga masih takjarang ketipu orang! Dan hingga kini pun tentu masih cukup banyak selaput misteri tentangnya. Di masa2 terakhir ketemunya itu (waktu anaknya yang juga keriting itu udah jadi manusia) saya sempat diajak ke rumah ortunya (saat itu ortu ataupun saudara2nya yang kontra sedang tak dirumah). Dari tatapan wajah (mungkin saudaranya) yang menyambut di rumah, saya bisa melihat betapa besar keprihatinan yang tengah menimpa sahabat saya ini. Sewaktu di jatinangor dulunya pun--kebetulan saya jadi tetangga kamar kos--tengah malam saya juga bisa mendengar bagaimana ia dan istrinya memanjatkan doa dengan terisak2 tengah2 malam ke hadirat ilahi robi...

Untuk menyambung hidup paska terusir dari rumah munawir melakoni takdir berjualan pulsa elektrik dan kartu perdana. Tapi ia masih jadi pedagang jalanan yang berjualan dari pasar kaget ke pasar pagi-siang-malam atau meloncat2 dari satu kereta ke lain kereta api. Kebetulan anaknya sangat mudah bergaul dengan setiap orang dan inilah andalannya untuk bertahan hidup di jalanan Bandung. Saya ketika telah menjalani sidang sarjana dan mulai jadi pengangguran sempat mau terjun ke bisnis ini bersama beliau. Waktu itu saya sudah sengaja ke Sukabumi (bersama akhi cahya bos) untuk mencari lokasi jualan, tapi karena lain sesuatu hal saya malah jadinya pulang kampung (dan mau2nya "manyun wae" hingga dua tahun ini). Sempat juga tercetus ide bagi kami untuk jualan di kapal ke arah Indonesia timur. Munawir katanya sih bisa meng-handle kalo urusan nanti di pelabuhan dengan preman2 ambon dan semacamnya; yang jelas bisnis dagang jalanan laut ini kami nilai waktu itu cukup prospek dilakoni. Dia jualan pulsa-perdana, gw disuruh beli kain di tanah abang. Kabarnya di kapal, ataupun Indonesia timur tersebut, barang bisa kita jual hingga 10x lipat. Haha, cuma ya ndak jadi terlaksana, nasib berkata lain. Tapi seandainya ide kami ini memang terlalu edan, ini menggambarkan betapa kerasnya tekanan hidup munawir untuk menafkahi anak istrinya. Oya, satu lagi yang kebetulan kuingat niy: ini anak juga pernah kepergok lagi jualan donat sewaktu gw juga lagi ngegembel di masjid raya layaknya tunawisma. Sempat juga kami mau ngontrak bersama (jadi istrinya buat dinikmati berdua haha) buat nekan biaya, tapi ya singkat cerita ndak jadi. Sekarang aku di sini, di kampung halaman tercintaku yang malah makin terasa asing ini. Cuma orang tuaku lah satu2nya alasan aku masih merasa terikat dengan ranah kelahiranku ini. Tiada sudi aku bergaul dengan orang2 padang minang yang rata2 berwatak culas dan berkarakter pangicuh ini. Haha, dimana2 juga ada orang macam gini ya. Inilah tantangan dan perjuangan hidup untuk memilih jalan idealisme kita. Saya tidak menyalahkan siapa2. Silahkan saja; itu pilihan masing2 kita dan sekali lagi selamat berjuang aja dech dengan pilihanmu. Kalo saya boleh memilih, saya lebih suka tak berteman dengan makhluk2 yang oportunis tersebut. Toh gini2 guwa masih dikasih makan sama kanjeng gusti. Cuma memang sulit melawan tekanan2 yang senantiasa tamak menginginkan lebih dan terus menerus lebih lagi dan terus lebih. Dan berbagai pembenaran bisa dicari2 untuk dijadikan alasan mengikuti bisikan hawa nafsu itu. Dimanakah sabar dan ikhlas bisa ditemui sekarang2 ini?

Pada munawir sebelumnya yang membuat saya agak "manjarak" adalah karakter "sales barang maka kudu gaul dan oportunis" ini. Tentu saja ini sebenarnya melibatkan berbagai faktor persepsi yang cukup kompliks (antara kompleks dan komplit) dalam sekian masa interaksi dan proses saling mengenal kami. Seperti bagaimana ia (dan istrinya) terlihat bagai pasangan saleh dus ikut audisi Indonesian idol karena hobi nyanyi sekaligus ngaji (sebetulnya kalo ini sih sama sih sama guwa sih). Masih banyak tentu faktor2 penilaian lain, baik yang masih keingat jelas maupun yang lebur ke-arsip pada ingatan bawah sadar, namun yang pasti takmungkin semua bisa terceritakan; bagaimanapun. Makanya harus ada konklusi yang mewujud pada persepsi. Agak obscurd mungkin karena di sini fakta dan rasa campur aduk menjadi intuisi. Namun, nah, dalam serpih2an persepsi ini satu hal "yang fakta" yang juga masih bisa kuingat jelas pada pemuda ambon ini adalah: kesabaran dan keikhlasannya menerima semua yang terjadi? Kerja keras bukan berarti bentuk ketaksabaran menerima takdir dan segala dera keterpurukan juga tidak mesti menjadi berbuahkan ketidak-ikhlasan menjalani nasib.

Tidak ada manusia yang sempurna, namun--di tengah watak pragmatisnya--beliau juga punya kelebihan untuk bisa sabar dan ikhlas menjalani peran hidupnya. Setahu saya dia cukup punya skill untuk menjadi seorang teknisi komputer misalnya. Ternyata dia malah memilih jalan hidup dari berjualan pulsa, secara kaki lima. Mungkin memang di sinilah jalan rejeki yang terbuka. Kalo kita berpikir secara logika sempit, bisa saja kita berteriak: its not fear! Tapi keadilan itu secara lebih utuh memang hanya Tuhan lah yang benar2 tahu barangkali. Kita tentu tahu, seorang wanita yang bertubuh sexy walaupun takpunya otak dan sangat goblok bisa mengeruk uang yang banyak dengan memanfaatkan daya tarik seksual sematanya itu tanpa mesti "merasa" dirinya adalah beda2 tipis dengan pelacur. Entah bagaimana kilahan aktivis gender jika kita mencap fenomena ini sebagai eksploitasi sexual kaum wanita untuk kesenangan birahi mata2 nakal kaum pria. Yang jelas kita semua, mungkin, juga tahu bahwa kekayaaan dan kemiskinan itu bukan sesuatu yang paralel dengan ukuran2 berupa kerja keras maupun kerja cerdas. Tidak sedikit dari orang yang hartanya berlimpah itu tolol2 dan pemalas. Namun itulah authority tuhan dan tantangan bagi kita untuk ikhlas menerimanya. Sehingga, jika sedang berlebih kita bisa senantiasa bersyukur dan taklupa diri; andai kekurangan kita bisa untuk bersabar dan taklupa diri. Salah besar jika ada yang menganggap orang kalo miskin berarti sedang dihukum tuhan dan kalo kaya raya berarti ia disayang tuhan. Sebagai sebuah generalisasi ini adalah kesalahan yang sangat besar. Sejarah dan ibroh2 telah mengajarkan cukup banyak tentang ini. Kezuhudan terhadap dunia adalah nilai utama bagi seseorang yang betul2 penuh iman (engga muna) pada ilahnya. Hidup miskin pun Anda akan punya cara tersendiri untuk bahagia dan orang kaya pun tak akan menghindarkan Anda dari merasakan sengsara!

Untuk kemalangan yang menimpa munawir ini sepertinya tidak berlaku. Haha... ini cuma persepsi sempit dan sangat subjektif impresionis gw saja. Saya tahu koq di tengah penderitaannya beliau senantiasa hobi tertawa (meski mungkin juga ini tanda2 stres; namun yang penting bisa membuat bahagia kan?). Sungguh berat beban yang ia tanggung saya lihat. Dari seorang anak mapan dan terdidik, kini harus hidup bagai gembel di jalanan kota mertropolitan. Barangkali betul ini adalah hukuman karena dosanya yang entah apa. Tapi ingatlah bahwa orang yang disegerakan hukumannya di dunia ini justru adalah orang yang disayang oleh Allah. Orang2 yang udah bebal dan terbiasa dengan dosa akan senang senantiasa kepada dunia ini dan bersiap aja dech menerima utuh bagiannya di neraka nanti. Tentu kemudian juga persoalan munawir ini taklepas dari ortunya yang kemungkinan juga orang engga beres sehingga menumpukkan beban problema ini semata dengan menyalahkan anaknya (lain waktu gw akan nulis tentang pemahaman bakti terhadap ortu versi zaman primitif para penyembah dewa2an vs kemerdekaan manusiawi yang dibawa bendera Islam). Yang jelas terakhir ketemu, munawir ini senantiasa tabah menjalani keras kehidupannya. Dan di tengah dera itu ia senantiasa bisa bercanda dan menghibur anak istri tercintanya.

Saya sendiri tidak tahu bagaimana cara mencari anak ini karena sarana komunikasi kami sudah lama terputus. Nomor ponselnya dulu sering gonta-ganti maklum juragan perdana, di internet juga ndak gampang apalagi kalo anak ini belum juga cukup mapan untuk beraktifitas di warnet, alamat kos terakhirnya mungkin saya masih ingat tapi itu udah lama banget, dan jaringan pertemanan kami nyaris tak ada pihak lain. Satu2nya jaringan yang bisa saya manfaatkan mungkin anak2 jalanan stasiun2 kereta di Bandung seandainya ia masih jualan pulsa di sana. Entah kapan bisa kujumpai nyong ambon ini. Munawir oh munawir, kisah hidupmu menurutku sangat berharga bagi setiap anak manusia indonesia untuk menjalani kehidupan ini dengan penuh kesabaran dan utuhnya keikhlasan!

Pada keramik tanpa nama itu, kulihat kembali wajahmu
mataku belum tolol ternyata, untuk sesuatu yang tak ada
apa yang berharga dari tanah liat ini? selain separuh ilusi
sesuatu yang kelak retak, dan kita membikinnya abadi (g.m)