Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Kontrakkin Ajah Negara Ini Pada ASing

Gambar
Karut marut yg berlarut-larut merudung negara ini mungkin membuat kita kadang nakal di hati jadi bertanya: apakah mampu bangsaku ini mengelola negaranya sendiri? Sebagaimana sejarah penjajahan negeri kita; yang mana pihak penjajah merasa kurang bertanggungjawab kalau harus melepas bangsa besar dan luas ini kepada orang-orang yang tak mampu mengurusnya sendiri. Memang politik etis yang (pada akhirnya) ditelurkan, tentu saja lewat ide politikus mereka sendiri di Amsterdam, telah cukup punya manfaat nyata untuk membuka akses pendidikan kepada pemoeda-pemoedi bumi poetra ini. Cikal bakal bapak-bapak dan ibu-ibu pendiri bangsa, mengurus pra hingga paska proklamasi untuk merdeka, yang mana anak cucunya hingga ke ujung abad milenium ini masih memegang (megang doank tidak menduduki) singgasana kuasa. Feodalisme sistem kerajaan negeri-negeri Indonesia lumrah membuat kultur begini awet, lah di Inggris Raya sana saja anggaran negara masih menggaji 'royal family'-nya. Fakta…

Review Film Bird Box (2018), Ketika Hidup Hanya Bisa Melihat Dalam Kotak

Gambar
Olympia: “You're not soft like me. I'm so spoiled. My parents have always done everything for me and then my husband, and I just... I got soft from all that love.”
Malorie: “Well, I was raised by wolves, so consider yourself lucky.”
(Bird Box, 2018)
Kalik ini hamba akan menulisken repiew pelem tepat sesudah menontoninya. Right above my this movie-laptop, not on mypetite compie ass usually. Walau sudah 9 malam, ternyata mitikiini belum kunjung kendor juga tegangan voltage-nya; se-hingga saat ini. Masih sore Om, kata Bang Bencong; mungkin krn efek tadi siang aku tidur2an siang meniru2in kebiasaan org2 Eropa Selatan sana (Spain, Italy, Balkan; ceileee) yg tak semakmur kubu Eropa Utara itu (Skandinavia, Germany, Holland, England, Scotland, Ireland, Woles; wakwaw). Yupss, daripada mengisi waktu luang yg (L)UANG SELALU gini dgn baca2 hatetepe//ceritapanasbas.kom atau nonton adegan Vivi (video virno)—dgn nawaitu supaya semakin termotipasi utk masyuk syurga apapunlah caranya (hasekk), yg…

Dapek Aa Den Dari Paja Ko

Gambar
"Aku diajar berpuasa bukan karena agama, bukan karena keinginan naik ke syurga. Kakek mengajariku buat menahan keinginan, untuk mengetahui sampai di mana aku dapat mengatur kekuatan."
(Nh. Dini, Sebuah Lorong di Kotaku)

Buanyakk daftar repiew pelem nan mesti ditumpahkan. Tapi krn mood pd seketika ini bkn ke arah sana melajunya, eke memutuskan utk nulis curcol2an sajalah buat bahan ketawa-ketiwi sendirian ajja. Nantik kalok online tak apdet biar dunia yg datang mengintip kesini turut bisa menikmati. Barangsesekali ada pun sobat maya sekalian di belahan lain buah dada sana, eh dunia sana kamsudku, yg juga sedang dirudung seteress tak kalah lebatnya dari ane. Yuk dibawah selow aja guys. Spt kata2 bijak utk menghibur para pecundang yg kalah ganas dari kompetitornya sesama hewan2 bersaing cari makan -- atau malah dipecundangi oleh rival2 yg sebenulnya less-competence cumak punya peruntungan: tertawalah maka dunia akan turut tertawa bersamamu atau menangislah sendirian, gak usah aj…

Jodoh di Tangan Aplikasi

Gambar
Oks, sementara itu kita setop dulu review2an film amatiran utk blog ini. Kita tulisken dulu hal2 harian yg kita alami sendiri. Dan mungkin sebuah kisah di blog/koran maya spt ini tak ubahnya drama atau film based on/inspired by true story--realita, dgn membuang part2 yg boring di dlmnya hehe. Mudah2an, aminkan dong sesekali. Jgn cuma like fanpage Ustat Yusman aja. Kan, Yusman konon di gerbong cebongnya Jokowi kini. Kayak Kak Yusril sbg representasinya "aliran" masyumi yg tadi kulihat diberitakan disopiri keliling2 istana Bogor oleh presiden kita terpilih utk saat ini yg sangat antum benci itu krn latah, hobi berbondong2, atau korban hoax viral grup wa.

Saya jadi teringat dgn Mak Itamku sendiri dgn mengenakan kaos bulan sabitnya PBB dari atas sebuah pematang sawah ketika berdialog dgn saya ttg politik-agama begitu berapi-apinya menyatakan "kekufuran" mayoritas masyarakat kini. Tentu saja aliran2 keagamaan yg motif electoral-oriented--dan ujung2nya tentu saja target…

A Prophet (2009), Film Disnormatif yg Mampu utk Memenarikkan Tema-tema Klise spt Kisah-kisah From Zero To “Hero” Gini

Gambar
Tell me something, girl Are you happy in this modern world? Or do you need more? Is there something else you're searching for?
Tell me something, boy Aren't you tired, trying to fill that void? Or do you need more? Ain't it hard, keeping it so hard-core?
(A Star Is Born, 2018)
Tadinya kuterakhir pantenginfilm Ghostland (Kanada, 2018) yg membikin aq jengkel sangat krn hingga pertengahan durasinya, film KAMPRETTT ini tak kunjung jelas buatku tentang apakah gerangan ini ceritanya. Padahal ini jelas2 film mainstream pop horror yg agak2 family themes mestinya krn ada unsur dunia badut dan boneka seandainya minus segi perhantuan dan banjir darah segala. Tapi itulah, film yg kuanggap pop dan menye2 tsb ternyata hingga setengah perjalanan mampujugamengicuhku yg semula mengira ini tentang hantu-hantuan belaka ala trending film selera spektator alayer fil al-Hindunesia. Menariknya, malah part yg gw kira fiksi dan dunia hantu ternyata malah kenyataan dan bagian yg kukira kenyataan ternyata ha…

In The Aisle (2018), Film Tdk Terlalu Banyak Bicara yg Membuatku Jadi Ingin Membicarakannya

Gambar
Nomor yg akan sa bicarakan kali ini adalah sebuah (mungkin) karya indie dari Eropa (entah NOMOR BRP maksudku, yg penting keren aja klo diksinya kuantitatif-numerik begini, berasa lebih ilmiyyah dan serba pasti gitu-gitu); yg jika ditilik dari bahasanya sptnya produksi dari negera Jerman sang agresor PD II ketika dipimpin ahli demagogi Sang Fuhrer yg berkumis menggemaskan kayak Kak Freddie Merkurie. Atau mungkin juga ini saya tenggarai dari negeri tetangganya di sebelah selatan (jadi tepatnya memang agak ke tenggara), yaitu Austria, yg kalo ndak salah juga menggunakan bahasa yg sama, masih pengaruh kebudayaan Eropa Barat, dan belum termasuk negri Balkan atau Eropa Timur spt Polandia, Hungaria, dan Rumania yg ce-nya cakep2 gitu (jadi ingat film Three Weeks, Two Days, and Four Mounth—kalo ndak salah—tentang gadis kuliahan yg menyewa dokter penggugur kandungan yg mana ilegal by law di negara bekas komunis keji tak bermoral non-Islam KONTOLOYO tsb, xixixi). Yang jelas semua pemain/pemeran …