Postingan

Menampilkan postingan dengan label carpon

BUKAN CERPEN, BUKAN $ FIFTY GRAND

Gambar
"telah lahir dg slamet 5 ekor bayi ayam kami pd sekitaran rebo dini hari kemarin dg berat yg--walau tak ditinimbang--ka mi taksir paling hanya sekitaran beberapa gram-an-lah, terlebih ini sejenis ayam kate yg membuat beliau semakin lebih ringan sj utk menantang tarikan hukum gravitasi dari lokasi kandang yg menjadi tempat hunian "ekslusif" ke luarga kita orang, tdk ada biaya bidan yg perlu difikirkan atau ongkos ambulans apalagi kartu bpjs yg ditolak ibu-ibu resepsionis bermuka sewot ataupun uang rokok preman parkir meski diakui ini bukti kami kurang terlihat terlibat terlangsung dlm memutar turbin ekonomi mikro rakyat jelita sehingga mereka yg terdesak oleh perut kosong akan lari ke nafkah samar2 bahkan yg jelas2 hoream dan teganya teganya krn asasnya skrg apapunlah caranya sementara kolega mereka dr kalangan white-scholar crime lbh cerdik membungkus dgn wewangian aksi2 yg intinya tetap sj taktik kutil-mengutila n, kembali ke dunia hayam: terlihat begit...

LAGU LOKAL

Gambar
TOETI SENANG DUDUK JAGA WARNET? Hari menunjuk pukul sepuluh nol-nol kelihat di dinding kamar Mahmoed; 10:20 w.i.b pada jarum jam tangannya yang kanan; dan pada layar komputer jangkrik yang sedang error tertayang 03:20 a.m malahan. Berarti sekarang waktunya ke situ seperti biasa. Pemuda penganggur ini biasanya memang selalu meluangkan waktu sekitar jam segitu buat main ke warnet sesosok pemudi berparas cakap bernama Toeti. Sebetulnya juga bukan meluangkan waktu karena waktunya memang luang selalu. Tapi memang pada jam segitulah ia bisa meminjam motor tua bapaknya sepulang sang bokap dari ladang cabai dan daun koka keluarga besar mereka (baik menggunakan izin, dengan ijin, atau secara diam-diam, ataupun hanya secara). Kadang-kadang bapaknya Mahmoed pulang lewat dari jam 12:00. Kalo udah jam segitu, Mahmoed biasanya mengurungkan niat buat pergi. Karena tarif akses internet di warnet Toeti kembali ke standar di atas pukul 13:00, jadi sekian rupiah per hours. Ya, warnet Toeti jadi pilihan b...

LAGU LOKAL

SMS SERIES Cerpen 081563xxxxxx65 Akhirnya penulis bisa juga jatuh ♥. Begini diriwayatkan – sebuah kisah tentang Diriku Nih (DN) dan Lelaki Tersebut (LT): 15/04/07 – 15/05/07 ... ( data-data periode awal ke tengah raib di tangan pencuri data digital, jadi berikut-berikut ini hanya beberapa kutilan yang terselamatkan ) ... halo DN ini sy LT temen barumu, kenal sm ... iya, kakaknya tmn sy ... sy ga tau bsk gmn, yg jelas saat ini i care about u ... bsk ketemuan ya? ... biar DN yg ksna ... tanpa kemunafikan aku cinta kau ... LT juga ... mesjid agung ... uda nyampe rmh ... perpus ... hati2 y ... DN kangen LT ... lg dimn nih, cinta? ... aishiteru ... 10/05>20:53>from-0852xxx18355 Surat Al-A'raf ayaT 12. MudaH2an skrG maH beNer. 15/05>22:50>from-02199326587 Masa akt!f H!dup aNda aKan s9era brAkhr, SaLd0 D0sa AnDa sUdaH Tdk MnCukup! L9 d! 17/05>09:57 halo DN yg manis, lagi ngapain tuh. msh push-up dgn skripsi. kenalin donk ini nmr alternative aa LT. keur gp...

nah, ini lagu lokal

HERMAN KARANGAN: PADA SUATU HARI Aku herman, eh, heran? Untuk kedua kalinya aku melewati tempat itu, laki-laki tersebut masih saja disana. Apa mungkin memang karena hal itu? Masa iya sih, Kekuatan ©inta itu sebesar (I)tu? Alaahhh... Waktu pertama kali melihatnya, kemaren malem, aku sudah menduga. Bagaimana tidak. Kira-kira apa yang akan muncul di benak para pembaca budiman sekalian, melihat seorang pemuda atau (barangkali masih remaja) sedang berdiri nggak jelas di gang sempit depan sebuah pondokan (kost) putri. Gelap-gelapan dan sendirian. Nggak ada orang lain, sebab tempat itu memang sekedar jalan kecil yang sesekali dilewati. Sekedar dilewati. Kecuali tempat keluar masuk para penghuni pondokan putri tersebut. Dan se-pengetahuanku, seperti umumnya tempat ngekost kaum putri, tempat itu termasuk yang sepi dari aktifitas ramai-ramai. Pintu pondokan itu selalu tertutup, sekedar dipakai keluar masuk lalu tertutup lagi. Dan belum pernah aku melihat ada penghuni pondokan tersebut yang duduk...

KOIN SERATUSAN, DADA SEORANG PEREMPUAN DAN MATA-MATA BERWARNA MERAH

Sopir angkot itu menyerahkan koin seratusan kembalian ongkos kepada seorang mahasiswi yang baru turun dari angkotnya. Gadis itu sangat cantik. Rmbutnya yang tak sampai sebahu dioles dengan cat rambut sehingga berwarna pirang. Kulit wajahnya, dan juga seluruh tubuhnya, yang putih mulus memberi kesan cewek modernya. Apalagi jika dilihat pakaian yang dikenakannya, sebuah kaos mini dengan lengan sangat pendek dan bawahan sangat pendek juga sehingga terlihatlah daerah yang bebas lihat pada pinggang dan perut mulus itu. Celana jeans yang dikenakannya juga tak tanggung-tanggung super-ketatnya, super bermodelnya dan tentunya juga bakal super menarik perhatian orang lain. Koin seratus tersebut oleh gadis ini dimasukkan ke kantong baju kaos ketat dan mininya, yang terletak di dada kirinya. Tapi sesaat gadis ini terlihat tertegun. Ia merasa aneh, entah apa. Sejenak dirabanya koin seratus di saku dada kirinya itu. Tapi tak lama raut mukanya kembali berubah. Ia lalu terlihat tersenyum saja pada or...

LELAKI FAUJAH

Ia berdiri, menatap ke luar jendela. Bukan pandangi langit dengan sia. Tapi kosong. Mata menerawang. Entah kenapa, bisa-bisanya sekarang batin yang bicara. Dan apa betul ini batin? Ah, hidupku ini terlalu indah untuk kutinggalkan. Bah! Apa yang ada sekarang terlalu nikmat untuk dilepas. Bangsat!! Apa yang ada dalam otakku ini. Iblis! Persetan….Persetan nurani! Laki-laki itu hampir saja membanting genggaman gelas di tangannya. Tapi keburu sentuhan tangan nn.Barbara lembut membelai kepalanya. “Hmnsijidjieioeofjfjjgj.” “Dsheufmfkfklrorklf!” “Mhshdriucvufnfhjfjfjfjfjhgfujfgjfififiktfrjfu.” Kembali aku ke tengah ruangan tempat pesta dilangsungkan. Dengan tangan saling bergandengan, aku dan nn.Barbara berdansa mengikuti musik yang mengalun. Sambil berpelukan, di telingaku ia terus membisikkan: apa yang kuharap dari bangsa yang tenggelam dalam kebodohan dan kehinaan ini? Dan, ketika berhadapan lagi dengan pertanyaan seperti ini, biasanya aku selalu hanya mengiyakan. Aku selalu tertawa terbaha...

PERANG ( palingkaya vs palingkeraskepala…? )

Nama saya George. Entah ada angin apa papa dan mama memeberikan nama tersebut kepada saya. Mungkin dikarenakan demi lebih mengukuhkan lagi status terhormat keluarga kami dirasa perlu bagi mereka untuk anak-anaknya, seperti saya, diberi nama yang keren dan modern. Keluarga kami memang merupakan keluarga terkaya di kampung ini. Papa pernah bercerita kepada saya betapa dia sangat bekerja keras untuk mencapai ini semua. Dan sekarang, semua ini telah diwariskan kepada saya. Papa dan mama telah tiada. Sayalah sekarang yang menjadi tumpuan pada keluarga besar kami ini. Ternyata sungguh beban yang sangat berat bagi saya setelah mewarisi sebagai pimpinan di keluarga besar kami ini. Sebelumnya, bagi saya segala sesuatu pada keluarga kami terasa begitu mudah, indah, harmonis, dan damainya. Tak pernah rasanya saya merasakan hal-hal yang buruk seperti yang pernah saya ketahui lewat para pembantu keluarga kami tentang perikehidupan orang-orang lain di kampung. Benar-benar semuanya terasa indah pada ...