Senin, 11 Mei 2009

SBY SOULMATE...

Sejak Yudhoyono pecah kongsi dengan JK memang asyik menyimak dinamika politik pilpres kali ini. Semula kabarnya SBY akan menetapkan cawapresnya sehabis pilleg lalu kemudian seusai Rapimnas Demokrat. Ternyata takada hasil jua dan suhu politik terus memanas dan makin atraktif. Lalu ada gertakan yang lebih spesifik: cawapres demokrat akan diumumkan 9 Mei. Ternyata lalu diundur ke tanggal 11 besok; dan terakhir malah diundur lagi kabarnya ke tanggal 15. Haha, secara citra politik ini makin meneguhkan sikap serba ragu SBY.


Yupsss, akhernya KPU berhasil juga menyelesaiin penghitungan suara pilleg 2009 ini pas deadline tanggal 9 Mei kemarin. Dengan berbagai kendala pada proses rekapitulasi di berbagai daerah seantero negri, kini selesai juga; dan anggota KPU terhormat kita terhindar dari konsekuensi masuk bui atawa penjara musabab tidak menyelesaikan dengan baik agenda konstitusional republik ini. Walhasil, Demokrat meraih kursi panas terbanyak di legislatif dan hasil penghitungan final ini memang takjauh beda dari quick count; dengan selisih cuma sekitar nol koma hingga 1%. Cuma saya heran juga kok dari perbandingan hasil survey, hitung2an LSI paling besar untuk Demokrat ya? Emang beda-beda tipis sih, namun ini seperti membuat kita bertanya2 lagi akan isu permainan dalam mengakali metode statistik yang digunakan perusahaannya. Hehe, yang jelas Demokrat sudah pasti bisa mengajukan capres sendiri sesuai ketentuan jumlah suara ataupun kursi parlemen yang disyaratkan Undang-Undang. Namun tiada semudah itu; hingga kini justru belum juga jelas siapa cawapres yang bakal digadang2 sama Mr. Soesilo Bambang Yudhoyono?

Sejak Yudhoyono pecah kongsi dengan JK memang asyik menyimak dinamika politik pilpres kali ini. Semula kabarnya SBY akan menetapkan cawapresnya sehabis pilleg lalu kemudian seusai Rapimnas Demokrat. Ternyata takada hasil jua dan suhu politik terus memanas dan makin atraktif. Lalu ada gertakan yang lebih spesifik: cawapres demokrat akan diumumkan 9 Mei. Ternyata lalu diundur ke tanggal 11 besok; dan terakhir malah diundur lagi kabarnya ke tanggal 15. Haha, secara citra politik ini makin meneguhkan sikap serba ragu SBY. Tentu bagi beliau dan Team 9-nya ini adalah langkah kehati2an penuh perhitungan; apalagi setelah melihat kenyataan dan dinamika yang luar biasa akhir2 ini. Tapi citra ya citra; sementara hari ini pasangan JK-wiranto tengah berdeklarasi-ria lagi dengan meyakinkannya di tugu proklamasi, di bawah patung proklamator Soekarno-Hatta (haha, sekalian ngambil hati Megawati-Mutia kalee pak ya?). Memang, salah satunya dari analisis Eep Saefullah Fatah, isu ketakragu2an inilah yang akan diangkat oleh pasangan JKW ini guna menghadapi kubu SBY-?.

Lalu siapa yang akan digandeng SBY sebagai soulmate-nya? Nama politisi PAN Hatta Radjasa lagi hangat2 tahi ayamnya diberitakan sekarang. Bisa pula beliau menggaet kalangan profesional seperti Boediono atau Sri Mulyani untuk jadi tameng ekonom pengganti JK. Mungkin juga Akbar Tandjung, andai masih punya kekuatan menggembosi Golkar. Bahkan seorang pengamat menyebut2 pula nama aktor gaek Amien Rais. Wah, emang ribet kemungkinannya. Dinamika koalisi politik (dan kepentingan) pemilu kali ini betul2 luar biasa. Bahkan lagi yang lebih mengejutkan tak-mengejutkan adalah upaya Blok S bersilaturahmi ke kubu Blok M. Meski kelihatan banget Mega jual mahalnya, sebagaimana beliau kabarnya sudah putus dengan Prabowo yang paling aktif di awal2 PDKT, tetap saja upaya utusan SBY ini--yakni Hatta Radjasa selaku Mensesneg--membuat kubuk JKW mendatangi Teuku Umar keesokan harinya untuk "mengatasi" peristiwa "selingkuh" ini. Wow, dahsyat. Asli dahsyat. Demokrat sekarang tengah begitu pelik hitung2an politiknya meski sudah tampil di pilleg sebagai juara yang cukup telak.

Bicara hitung2an koalisi kubu Blok S atau Golden Triangle ini pula ada kenyataan bahwa suara PKS-lah yang terbesar kedua sehingga Hidayat Nur Wahid-lah yang pantas dipersunting SBY. Tambah pula realitas poilitik bahwa partai inilah yang paling militan kadernya, profesional organisasinya, dan minim swing voter sehingga bisa menjadi suara yang lebih pasti untuk pilpres nanti. Cuma apakah SBY akan rela menjual diri dengan tokoh yang sangat berbau "kanan" ini? Makanya Si Kancil Pilek Amien Rais melihat peluang ini, hingga melakukan akselerasi manis bagi Hatta yang membuat down Soetrisno Bakhil setelah segitu banyak-e ngegelontorin dana kampanye (dirinya). Lalu tak semudah itu; PKB, PPP (kabar terakhir kembali merapat ke SBY), dan sejumlah partai pendukung lainnya tentu kepengen dapat "peluang" pula. Contohnya ya Cak Muhaimin. Keponakan nakal Mantan Presiden Gus Dur ini kelihatan makin sering senyum2 saja kalo tampil di TV dan mulai terdengar diusung2 untuk mendampingin SBY. Belum lagi kalangan profesional seperti para ekonom tadi; atau mungkin juga ada tokoh2 tak terduga lainnya.

Memang menegangkan proses pencarian pendamping SBY ini; dengan berbagai kemungkinan dan konsekuensi politisnya. PKS sebagaimana yang kita ketahui pada pemilu 2004 sempat pecah suara gara2 sekjennya Anis Matta lebih condong ke Wiranto sehingga mesin PKS jadi kurang efektif guna mendukung Amien Rais waktu itu. Nah, seandainya Hidayat Nur Wahid atau Tifatul Sembiring sebagai teman pembawa suara terbesar ini tak-diacuhkan SBY wahhhh bisa2 mereka melirik lagi Wiranto nih. Gejolak di tubuh PKS ini sepertinya cukup bergolak sehingga sampai2 Presiden PKS mewanti2 kadernya di media untuk ndak sembarangan ngomong cuap2 mengungkapkan pendapat. Sebagaimana diketahui kabarnya putri kandung Wiranto sendiri adalah seorang akhwat kader PKS. Nah lho, realitas hubungan emosional ini tambah memanasi dan membuat makin pelik deh itung2an politiknya. Saya sendiri agak bingung juga. Sumpeh. Fenomena hingga ke akhir ini sepertinya makin membuat SBY memiliki pilihan yang kian takmudah setelah begitu bahagianya mendapat dominasi suara rakyat pada 9 April lalu. Dan sepertinya pertarungan pilpres besok memang cukup sengit. Dan suhu politik negri ini akan makin kiat legit terus untuk ke depannya. Makanya, untuk menentukan cawapresnya ini SBY memang mau tak mau kudu terlihat hati2 (baca: ragu2) lagi. Entah bagaimana nanti "perang citra" yang akan terbaca oleh masyarakat pengagum "tampilan luar" kita. Untuk mencari pacar saja kita bahkan kadang terlalu sulit untuk mengetahui isi sejujurnya di dalam hati putih sucinya. Ah, pelik memang pelik ya menemukan pasangan jiwa...