Selasa, 15 November 2016

ketemu tulisan cantik (milik orang lain)

"masyaallah, cantik nian tulisan adik kita yg satu ini, wanita berjilbab, cerdas, dan berani berbicara melawan arus adalah hal yang langka, dan aku tak bisa menahan syahwat untuk tidak memuat ulang tulisannya tsb di blog marjinalisme ku ini sbg tanda apresiasi, luar biasa, dgn umur sedasawarsa jauh di bawahku kadang aku bertanya mampukah menulis spt yg ia lakukan setelah selama ini berkoar-koar ngerti mainnya politiking, mikro ataupun makro, coba anda tengok paragraf terakhir yg ia kutip lagi dari marx tersebut, anda tidak akan bisa menikmati humor satirenya kepada acuan intertekstual ttg keyakinan agama2 samawi bahwa mataharilah yg mengelilingi bumi (flat earth society)..." -lol-


Stereotip Agama dalam Politik

oleh Ariyanti, Mahasiswa Jurusan Ilmu Sosial Politik 2010

sumber: http://www.ganto.or.id/artikel/610/stereotip-agama-dalam-politik.html

Karl Marx menyebut agama sebagai candu. Pemikiran landasan untuk kritik sekulernya adalah karena manusialah yang menciptakan agama, bukan agama yang menciptakan manusia.

Interpretasi mengenai agama adalah candu. Salah satu yang  paling umum adalah bahwa agama merupakan sebuah ekspresi dari kesadaran diri atas ketidak sempurnaan manusia. Dalam kaitan ini, manusia yang ditunjuk Marx bukanlah manusia dalam lingkup individual abstrak, melainkan manusia yang bersifat sosial atau kumpulan manusia. Agama menjadi candu ketika fungsinya tidak lebih sebagai penghilang rasa sakit yang dialami oleh masa yang menderita (Bottomore, 1988).

Melanjutkan pemikiran Feurbach, Marx memberikan jawaban kenapa agama hanya menjadi ilusi yang diciptakan manusia sebagai pelarian. Menurutnya, manusia melarikan diri ke dunia khayalan yang ia sebut agama, karena dunia nyata menindasnya. Marx tentu menolak hal tersebut, ia menolak doktrin ilusi yang menyatakan bahwa apapun yang diciptakan sistem yang menindas, maka manusia hanya perlu pasrah pada harapan (dunia khayalan) tersebut.

Kritik Marx mengenai agama bukan membicarakan fungsi positif maupun negatif agama bagi manusia. Objek kritik Marx adalah manusia yang menjalankan agama, bukan agama itu sendiri. Sehingga dalam pandangan penulis, anggapan Marx mengenai apa yang ia takutkan di tahun 1844 silam, masih dapat dilihat kenyataannya sampai sekarang. Mengenai kenapa agama malah menjadi pemicu konflik intoleran antar umat beragama dan kenapa agama justru digunakan sebagai alat mobilisasi massa paling laku bagi kelompok kepentingan.

Agama sebagai candu terwujud bila manusia mengatasnamakan agama demi kepentingan politik mereka. Karenanya, agama hanya terlihat sebatas ritual simbolik dengan formalisasi tanpa nilai-nilai subtansial yang maknawi. Dengan pandangan agama sebagai suatu yang simbolik pula, stereotip akhirnya tumbuh menjamur di kalangan masyarakat. Hal ini dikomersialkan lewat televisi dan sosial media, lalu diperparah oleh elit politik.

Melanggengkan agama sebatas hal yang simbolik dapat menjelaskan apa itu pandangan stereotip. Bahwa misalnya Islam lebih diidentikkan dengan terorisme, sedangkan Kristen lebih didentikkan dengan sikap hedonis dan kristenisasi. Stereotip yang memperlihatkan bagaimana permusuhan Islam dan Kristen ini sebatas kecurigaan melalui kejadian yang dilakukan satu individu dalam satu kelompok. Misalnya mengenai sentimen Islamofobia yang menjadi sangat populer di Amerika Serikat sejak Peristiwa 9/11. Dan misalnya kampanye negatif yang menyerang masalah personal agama antara Jokowi dan Prabowo pada masa-masa pemilu beberapa bulan kemarin.

Isu mengenai agama adalah hal yang masih dan tetap menjadi isu yang sensitif, terutama di Indonesia. Dengan melanggengkan stereotip, agama justru hanya akan hadir sebagai lahan kepentingan atau parahnya, agama justru hadir sebagai pemicu konflik. Padahal kita sama-sama tahu bahwa masalah agama adalah masalah personal yang intim antara individu dengan Tuhannya masing-masing. Ia tidak bisa diukur dari cara pakaian, memakai peci atau tidak, apakah ia sering berkhutbah atau tidak. Dengan membenarkan pandangan stereotip atas agama, maka secara tidak sengaja, kita ikut membenarkan agama sebagai suatu tindak pelabelan. Agama hanya akan menjadi label, bila ia hanya bergerak pada batas-batas simbolik, bukan suatu yang substansial.

Lantas siapa sangka, ternyata bukan hanya Marx yang muak. Pada bulan Juli tahun 1969 seorang pemikir Islam Indonesia, Ahmad Wahib juga meresahkan hal yang sama. “Sungguh saya benci pada pemerkosaan ayat-ayat Al Quran dan lafal-lafal hadis sekarang ini dalam pemakaian maupun penafsiran: “Mengapa kamu angkat orang-orang kafir menjadi pemimpin Islam?” ayat-ayat Al Quran semacam ini digunakan oleh propagandis-propagandis untuk membakar semangat massa. Mereka kurang sadar perbedaan antara situasi di zaman nabi dan zaman sekarang. Di zaman nabi, golongan nabi betul-betul baik, sedangkan golongan kafir betul-betul jahat. Di zaman sekarang, golongan kita antara baik-jahat, sedangkan golongan lawan pun antara baik-jahat. Bukankah konstelasi spiritualnya sudah lain? Bukankah secara material kita sebagian telah kafir, walaupun formal Islam? Jadi penggunaan ayat-ayat tersebut tidak tepat lagi” (Pergolakan Pemikiran Islam; 11).

Apa yang dibenci Ahmad Wahib masih bertahan hingga sekarang. Seperti sejarah berulang dalam ungkapan Marx, bahwa sejarah selalu berulang pada dirinya sendiri, pertama sebagai tragedi, kemudian menjadi lelucon. Iya, kita anggap saja hal ini lelucon, bahwa baik buruknya seseorang pada saat sekarang bisa diukur berdasarkan label kolom agama yang tertera pada kartu identitas mereka.

“Kritik terhadap agama menghancurkan ilusi manusia, supaya dia berpikir, bertindak, dan menghiasi kehidupan nyatanya seperti seorang manusia yang telah menyingkirkan ilusi-ilusinya dan memperoleh kembali kesadarannya, supaya dia bergerak memutari dirinya seperti mataharinya sendiri. Agama hanyalah matahari ilusi yang berputar mengitari manusia selama dia tidak berputar mengitari dirinya sendiri,” Karl Marx (1844).