Rabu, 17 Juni 2009

DEKONSTRUKSI CINTA PALSU

Anda perlu menyadari perasaan, dan mendengarkan perasaan, karena itu cara tercepat mengetahui apa yang sedang Anda pikirkan. (Rhonda Byrne)

cinta itu apa, dekonstruksi itu apa, dan kepalsuan itu apakah? ketiga [kata] yang kuw gunakan sebagai judul tersebut memiliki ranah ke-familiar-an makna tersendiri yang berbeda. kata [cinta] mungkin yang paling akrab terdengar di telinga setiap orang, bahkan dibanding istilah [kepalsuan], namun pemaknaannya apatah? apalagi pengertian orang untuk kalimat [dekonstruksi]? sekarang akan coba kugabungkan ketiga objek bahasa ini ke dalam satu pembahasan singkat; yang sejatinya dekat dan lekat dengan keseharian kita. jatuh cinta, menikah, konflik, benci, cerai, jatuh cinta lagi, kawin sembunyi2, haus kasih sayang, dan penuh siasat palsu adalah kosakata yang rutin bagi kamus kehidupan setiap manusia di dunia fana ini. dunia yang penuh dusta indi. karena itu dibutuhkan sebuah proses dekonstruksi.

dekonstruksi adalah istilah yang populernya pada kajian filsafat atau kultur-kebudayaan. merupakan hasil olah fikir jacques "el-biar" derrida atas istilah sebelumnya seperti destruksi oleh filsuf macam heidegger hingga husserl. jika dalam kata destruksi kita berhadapan dengan pengertian penghancuran, (maka) dalam dekonstruksi seolah ada makna pembangunan kembali. derrida adalah seorang filsuf prancis keturunan yahudi aljazair (imigran afrika utara, just like zinadine zidane) yang mati sekitar tahun 2004 silam. pemikiran derrida tentang dekonstruksi ini banyak mendapat kritik keras dari ahli2 filsafat lain sehingga ada istilah derridium yang merujuk pada kata delirium (orang yang menderita gangguan ilusi). dekonstruksionisme ala derrida ini dianggap terlalu mengada2 dan intelektual gimmick belaka. memang dalam ranah pendekatan/epistemologi filsafat modern atau kontemporer (atau sebut saja neo-liberal-lah) setahu gw hingga kini pendekatan yang dimunculkan derrida ini dianggap paling radikal menghantam sistem pemikiran positivisme yang telah mapan sebelumnya (dan hingga kini).

jadi apa itu dekonstruksionisme? dekonstruksi adalah (dalam bahasa, pengetahuan, dan pendapat guwe) upaya menelaah unsur marginal pada hegemoni yang dihadirkan (suatu) teks/wacana. sekarang kita langsung kaitkan dengan cinta dan kepalsuan ya, oks. dalam wacana atau diskursus tentang cinta, secara prespektif positivisme kita mungkin akan melihat hegemoni makna tentang rasa sayang, ketulusan, kejujuran, keindahan, dan bahkan keabadian. nah dengan pendekatan dekonstruksionisme kita diajarkan untuk bersikap kritis dan tak-terjebak dengan pakem bahwa cinta itu adalah hal yang indah2 saja. dengan sikap tekun-teliti, melihat sisi marginal yang terabaikan, memeriksa aspek minoritas yang disembunyikan, kita mungkin akan bisa menemukan wacana2 palsu yang dihadirkan oleh teks cinta yang indah2 itu.

secara konkret praktiknya dalam kehidupan manusia--lebih spesifiknya lagi hubungan cewe-cowo--sejatinya tuhan ataupun hantu telah membekali kita dengan apa yang dinamakan insting ataupun "feel" dalam menghadapi apa yang dinamakan kepalsuan cinta tersebut. cuma masalahnya interest masing2 kita ke berbagai macam hal lain terkait dunia ini kadang bisa sangat menumpulkan insting dan naluri tersebut. sebagai contoh kita kadang bisa membantah kata hati nurani kita sendiri dikarenakan gelap mata melihat konkretnya warna-warni pernak-pernik dunia yang ditawarkan oleh cinta. nah dengan punya pengetahuan tentang pendekatan dekonstruksi anda akan bisa secara lebih punya kesadaran nalar lagi untuk waspada atas segala wacana indah2 berkait cinta. anda jadi tahu bahwa sebuah hegemoni positif cinta bisa saja sangat terampil menyembunyikan aspek2 negatif kepalsuannya. dengan sedikit punya kesadaran, mudah2an anda bisa terhindar dari kemungkinan lengah atas berbagai macam tipuan.

kita memang tidak pernah bisa menetapkan ukuran2 jelas dan barangkali pula untuk itu pun masing2 kita akan berbeda pendapat bergantung per-interest tadi. pun jika mesti ada konsensi, konvensi, hingga standar pendapat umum pun kita akan bisa terjebak lagi ke tadi apa yang dinamakan hegemoni mayoritas. makanya secara per-kasus dan konteks individu nantinya, kesiagaan intelektual dengan mengenal metode pendekatan dekonstruksionisme ini akan membantu anda untuk lebih waspada terhadap berbagai tipuan dunia dan cinta yang makin kompleks bahkan kreatif hari ke hari ini. celakanya banyak orang yang karena sudah terbiasanya hidup dalam gelimang dusta dan kepalsuan menganggap hal2 seperti ini menjadi sesuatu yang biasa2 saja. bahkan meski tahu, sengaja terus mencemplungkan diri demi kepentingan pragmatis atau sesaat.

namun ingatlah bicara tentang cinta takbisa persis sama dengan politik ataupun perdagangan. dalam menjalin cinta ada unsur konstituen hati yang akan terlibat cukup dalam. banyak orang yang kadang menganggap remeh bermain2 dengan hal ini akhirnya jatuh menderita ke dalam hancurnya segala rasa di jurang kepercayaan nan paling kelam. inilah resiko bermain2 dengan perasaan; ibaratnya ada satu daging, yakni hati, dalam tubuh manusia yang jika ia rusak maka akan rusaklah seluruh kehidupan. tentu kita takperlu lari dari persoalan karena toh memang inilah tantangan hidup yang mesti dijalani dan membuat kita bernilai. karena itu maka cukup penting bagi kita mempersiapkan diri dengan berbagai instrumen2 yang memungkinkan untuk kita ambil guna menghadapi semakin rumitnya hegemoni wacana yang hadir di dunia ini. termasuk sikap dekonstruktif, waspada secara aktif, guna menghadapi berbagai kepalsuan yang semakin menggila dewasa ini; bermutasi seperti mutan seiring makin kompleksnya pola interaksi antar manusia; mulai dari dalam hal perihal cinta hingga bidang2 apapun lainnya dalam kehidupan.

ya waspada secara aktif. karena jika kita main waspada2an begitu saja tanpa argumentasi dan kerja keras untuk menghadapinya, kita hanya akan dibuat menjadi manusia negatif yang psycho terhadap individu lain. sebuah perlawanan ekstrim terhadap sisi lainnya berupa manusia ultra-positif yang menggunakan logika pragmatism untuk segala sesuatunya dan selalu takpeduli lagi pada segala rekam jejak pada bekas yang ditinggalkannya, ah gitu aja koq repot. sesekali, ya sekedar sesekali, memandang "negatif"-lah agar daya imun anda yang merupakan ekstraksi atas segala pengalaman "kesalahan" bisa bekerja menangkal segala macam tipu menipu dan palsunya fatamorgana kehidupan dunia. termasuk kehidupan cinta. haha okeh segitu dulu aja postingan maksa guwe yang mengait2kan dekonstruksime derrida dengan proses taaruf muda-mudi kontemporer gini. jika masih banyak hal ndak jelas dan terlalu sublim bahkan taksistematik kuuraikan di feature singkat gini ya lain waktulah kita bahas lagi. sip!

p.s tulisan ini kubikin beberapa hari yang lalu sebelum case cici paramida barusan ini yah, maklum kalo upload posting rada nggak up to date guwa ach hehe