Mencopas Lagi Tulisan Orang Yang Mengcopas Tulisan Kita (Siklus 'Kejahatan')

Beginilah jadinya jika tulisan kita sendiri dicopas adik manis ini untuk tugas kuliahnya hehe #bikin_ngakak #dialektika_kreativitas


EFEK KATARSIS DALAM PEMBACAANATAS CITRAAN TERHADAP BUDAYA KORUPSI DI INDONESIA PADA CERPEN “TELEPON DARI ACEH”
KARYA SENO GUMIRA AJI DARMA


oleh : Dian Purnamasari Abidin

sumber seken: http://shildavtec.blogspot.com/2012/05/kritik-sastra.html

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pada perkembangannya, penelitian sastra pun mulai bergerak ke arah penelitian yang berorientasi pada pembaca. Hal ini mulai mendapat bentuk secara sistematik dan metodologik lewat tangan Jauss dan Iser, keduanya dari Jerman, pada sekira tahun ’60-an (Junus, 1985). Berbeda dengan pendekatan struktural terhadap karya sastra, dengan bentuk yang paling radikalnya seperti yang dilakukan aliran New Criticism di Amerika atau juga Formalisme di Rusia, pendekatan pada pembaca ini mulai menyangsikan otonomi pemaknaan yang mutlak hanya didapat dari teks karya. Menurut pendekatan ini, karya sastra sejak terbitnya selalu mendapat beragam tanggapan dari pembacanya dan tanggapan dari pembaca tersebut adalah tidak sama (pembacaan, pemahaman, dan penilaiannya) sepanjang masa atau dalam seluruh golongan masyarakat (Abdullah, 2003). Fakta inilah yang diketahui oleh semua orangy. Sebab itu, pendekatan ini penelitiannya adalah berupa pemeriksaan proses pembacaan teks oleh pembaca dengan segala variable pembeda tersebut, berbeda dengan analisis struktural murni yang secara terbatas hanya berangkat dari otoritas penilaian terhadap apa yang terdapat pada teks. Pendekatan inilah yang dikenal dengan istilah resepsi sastra atau ada juga yang menyebut dengan istilah estetika resepsi sebagai terjemahan dari rezeptionaesthetik.
Jauh sebelum konsep tentang resepsi sastra ini dikembangkan oleh Jauss dan Iser, Mukarovsky, yang dikenal dengan sistem semiotiknya guna mengembangkan kekakuan analisis struktural klasik terhadap karya sastra atau juga dikenal sebagai salah seorang tokoh pengembang pendekatan strukturalisme dinamik, pada tulisan-tulisannya sejak sebelum Perang Dunia Kedua juga telah menyinggung-nyinggung soal proses penerimaan pada pembaca ini (Junus, 1985). Selain itu juga bisa disebut sederet kritikus sastra lain yang juga menyinggung persoalan pentingnya peran pembaca, mulai dari Vodicka, Ingarden, Riffaterre, hingga Warning dan Segers yang telah mendapat pengaruh pemikiran Jauss dan Iser. Foulkes, salah seorang kritikus sastra juga, menyatakan bahwa penelitian karya sastra dalam rangka model semiotik mau tak mau harus mencurahkan perhatian penuh pada situasi pembaca sebab pembaca penting dari dua segi, sebagai subjek dan sebagai objek (Teeuw, 1984). Sebagai subjek, dialah yang membaca, menafsirkan, dan menilai karya sastra ; dalam proses interpretasi, dia selalu berada dalam tegangan antara textual structure, sebagai sesuatu sesuatu yang diberikan secara objektif di luar dirinya, dengan “persediaannya” yang subjektif untuk memasuki hubungan estetik dengan teks, yang sebagian ditentukan oleh konvensi-konvensi sastra, sebagian lagi oleh faktor-faktor di luar sastra. Hal terakhir tadi lah yang dimaksud oleh Foulkes dengan situasi pembaca sebagai objek: dia, sadar atau tak sadar, terkena berbagai pengaruh dan kekuatan sosial, politik, dan budaya.



....skip,
skip,
skip,
skip,
skip,
skakkk.... <<------- mohon maaf jika mbandel sengaja menyalahi struktur tipe sangat2 sederhana and make it simpel aja itu, kekangan eyd ortodoks nirdinamis out of date oleh pecinta gaya retro dan purisme itu memang belum mengatur teknik penulisan cemini, entah nunggu anggaran atau memang ndak kompeten!



PENUTUP

A.       SIMPULAN
1.   Dengan menggunakan sarana stilistik berupa ironi, hiperbolisasi, metafor, dan sebagainya, terlihat bagaimana cerpen yang dianalisis kali ini mempunyai keunggulan pengaruh tekstual dengan serangan “halus”-nya terhadap sisi reaktif emosionil pembaca. Kekuatan pengaruhnya tersebut ditunjang oleh kemampuan teks mengatur relasi-relasi koheren maupun kontradiktif antar unit satuan wacana dan pemilihan referensi kontekstual yang dimungkinkannya untuk dimaknai oleh pembaca.
2.   Dengan pengecualian pembicaraan terhadap unsur-unsur lain dalam teks yang tak dibahas disini, cerpen tersebut terlihat cukup memiliki kepaduan afektif yang memadai guna memberikan efek pencerahan pada pembaca. Memang, sekali lagi, masih terdapat kekurangan pembahasan tentang ragam penyikapan pembaca.
3.   Dari upaya generalisasi terhadap posisi pembaca tersebut dapat dilihat faktor-faktor yang menentukan tingkat efektifitas keterpengaruhan pembaca oleh teks yakni: kemampuan mengenal sarana estetik teks sastra, wawasan tentang wacana yang dibicarakan teks, kondisi psikologis berupa tingkat kemampuan berempati dan hal-hal lain terkait keterlibatan emosional seorang individu, dan latar belakang pembaca yang membentuk penyikapannya terhadap teks (semisal ideologi yang dianut).

B.        SARAN
1.      “Kita ini manusia sampah,” kata Bambang Q-Anees dalam sebuah artikelnya yang berawal dari keprihatinan terhadap musibah longsoran sampah yang menelan korban jiwa di sebuah TPA “strategis” di Jawa Barat.Dengan renungan dan penalaran filosofisnya Anees sampai pada kesimpulan bahwa musibah tersebut sebetulnya mengingatkan kita, manusia, bahwa kita tak kalah busuknya(!) dibanding sampah-sampah tersebut.
2.      Eksistensi sesuatu yang baik justru lebih mencolok jika dikonfrontasikan dengan hal yang sebaliknya (Nurgiyantoro, 2000). Sastra yang adiluhung tidaklah membuat kita menjadi seorang narkisus, tetapi malah menampilkan betapa bobroknya makhluk bernama manusia (Darma, 1984). Sebab itulah diperlukan rasa mual terhadap diri sendiri seperti yang terjadi pada Fanton Drummond dalam Olenka. Sebelum menuju pencerahan. Sebab kita ini memang manusia yang penuh kekurangan maka hendaknya senantiasa berkaca pada setiap perbuatan yang dilakukan.



DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Imran T.. “Resepsi Sastra: Teori dan Penerapannya”. Dalam Jabrohim (ed).Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Hanindita.
Darma, Budi. 1984. “Moral Dalam Sastra”. Dalam Sejumlah Esei Sastra. Jakarta: Karya Unipress.
Jatman, Darmanto. 1985. Sastra, Psikologi, dan Masyarakat. Bandung: Alumni.
Junus, Umar. 1985. Resepsi Sastra. Jakarta: Gramedia.
Nurgiyantoro, Burhan. . Teori Pengkajian Fiksi.
Q-Anees, Bambang. “Kita Ini Manusia Sampah”. Dimuat dalam Pikiran Rakyat 26 Maret 2005.
Sastrowardoyo, Subagyo. 1992. Sekilas Soal Sastra dan Budaya. Jakarta: Balai Pustaka.
Selden, Raman. 1991. Panduan Membaca Teori Sastra Masa Kini. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Suwondo, Tirto. 2003. Studi Sastra: Beberapa Alternatif. Yoyakarta: Hanindita.
Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
van Zoest, Aart. 1991. Fiksi dan Non-Fiksi Dalam Kajian Semiotik. Jakarta: Intermasa.
Wuradji. 2003. “Pengantar Penelitian”. Dalam Jabrohim (ed). Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Hanindita.
Al-Fadhli, Wemmy. 2005. Efek Katarsis…. Diakses tanggal 16 Desember 2008.
http:bohewemian.blogspot.com/2005/12/makalah-seminar.html.

Koq link citation ke web kakang komandanie che guenievara salah gitu dik nulis syntax url-nya ??? #cedihhhh #merasa tak dihargai #gengsiiiii

ketemu tulisan cantik (milik orang lain)

"masyaallah, cantik nian tulisan adik kita yg satu ini, wanita berjilbab, cerdas, dan berani berbicara melawan arus adalah hal yang langka, dan aku tak bisa menahan syahwat untuk tidak memuat ulang tulisannya tsb di blog marjinalisme ku ini sbg tanda apresiasi, luar biasa, dgn umur sedasawarsa jauh di bawahku kadang aku bertanya mampukah menulis spt yg ia lakukan setelah selama ini berkoar-koar ngerti mainnya politiking, mikro ataupun makro, coba anda tengok paragraf terakhir yg ia kutip lagi dari marx tersebut, anda tidak akan bisa menikmati humor satirenya kepada acuan intertekstual ttg keyakinan agama2 samawi bahwa mataharilah yg mengelilingi bumi (flat earth society)..." -lol-


Stereotip Agama dalam Politik

oleh Ariyanti, Mahasiswa Jurusan Ilmu Sosial Politik 2010

sumber: http://www.ganto.or.id/artikel/610/stereotip-agama-dalam-politik.html

Karl Marx menyebut agama sebagai candu. Pemikiran landasan untuk kritik sekulernya adalah karena manusialah yang menciptakan agama, bukan agama yang menciptakan manusia.

Interpretasi mengenai agama adalah candu. Salah satu yang  paling umum adalah bahwa agama merupakan sebuah ekspresi dari kesadaran diri atas ketidak sempurnaan manusia. Dalam kaitan ini, manusia yang ditunjuk Marx bukanlah manusia dalam lingkup individual abstrak, melainkan manusia yang bersifat sosial atau kumpulan manusia. Agama menjadi candu ketika fungsinya tidak lebih sebagai penghilang rasa sakit yang dialami oleh masa yang menderita (Bottomore, 1988).

Melanjutkan pemikiran Feurbach, Marx memberikan jawaban kenapa agama hanya menjadi ilusi yang diciptakan manusia sebagai pelarian. Menurutnya, manusia melarikan diri ke dunia khayalan yang ia sebut agama, karena dunia nyata menindasnya. Marx tentu menolak hal tersebut, ia menolak doktrin ilusi yang menyatakan bahwa apapun yang diciptakan sistem yang menindas, maka manusia hanya perlu pasrah pada harapan (dunia khayalan) tersebut.

Kritik Marx mengenai agama bukan membicarakan fungsi positif maupun negatif agama bagi manusia. Objek kritik Marx adalah manusia yang menjalankan agama, bukan agama itu sendiri. Sehingga dalam pandangan penulis, anggapan Marx mengenai apa yang ia takutkan di tahun 1844 silam, masih dapat dilihat kenyataannya sampai sekarang. Mengenai kenapa agama malah menjadi pemicu konflik intoleran antar umat beragama dan kenapa agama justru digunakan sebagai alat mobilisasi massa paling laku bagi kelompok kepentingan.

Agama sebagai candu terwujud bila manusia mengatasnamakan agama demi kepentingan politik mereka. Karenanya, agama hanya terlihat sebatas ritual simbolik dengan formalisasi tanpa nilai-nilai subtansial yang maknawi. Dengan pandangan agama sebagai suatu yang simbolik pula, stereotip akhirnya tumbuh menjamur di kalangan masyarakat. Hal ini dikomersialkan lewat televisi dan sosial media, lalu diperparah oleh elit politik.

Melanggengkan agama sebatas hal yang simbolik dapat menjelaskan apa itu pandangan stereotip. Bahwa misalnya Islam lebih diidentikkan dengan terorisme, sedangkan Kristen lebih didentikkan dengan sikap hedonis dan kristenisasi. Stereotip yang memperlihatkan bagaimana permusuhan Islam dan Kristen ini sebatas kecurigaan melalui kejadian yang dilakukan satu individu dalam satu kelompok. Misalnya mengenai sentimen Islamofobia yang menjadi sangat populer di Amerika Serikat sejak Peristiwa 9/11. Dan misalnya kampanye negatif yang menyerang masalah personal agama antara Jokowi dan Prabowo pada masa-masa pemilu beberapa bulan kemarin.

Isu mengenai agama adalah hal yang masih dan tetap menjadi isu yang sensitif, terutama di Indonesia. Dengan melanggengkan stereotip, agama justru hanya akan hadir sebagai lahan kepentingan atau parahnya, agama justru hadir sebagai pemicu konflik. Padahal kita sama-sama tahu bahwa masalah agama adalah masalah personal yang intim antara individu dengan Tuhannya masing-masing. Ia tidak bisa diukur dari cara pakaian, memakai peci atau tidak, apakah ia sering berkhutbah atau tidak. Dengan membenarkan pandangan stereotip atas agama, maka secara tidak sengaja, kita ikut membenarkan agama sebagai suatu tindak pelabelan. Agama hanya akan menjadi label, bila ia hanya bergerak pada batas-batas simbolik, bukan suatu yang substansial.

Lantas siapa sangka, ternyata bukan hanya Marx yang muak. Pada bulan Juli tahun 1969 seorang pemikir Islam Indonesia, Ahmad Wahib juga meresahkan hal yang sama. “Sungguh saya benci pada pemerkosaan ayat-ayat Al Quran dan lafal-lafal hadis sekarang ini dalam pemakaian maupun penafsiran: “Mengapa kamu angkat orang-orang kafir menjadi pemimpin Islam?” ayat-ayat Al Quran semacam ini digunakan oleh propagandis-propagandis untuk membakar semangat massa. Mereka kurang sadar perbedaan antara situasi di zaman nabi dan zaman sekarang. Di zaman nabi, golongan nabi betul-betul baik, sedangkan golongan kafir betul-betul jahat. Di zaman sekarang, golongan kita antara baik-jahat, sedangkan golongan lawan pun antara baik-jahat. Bukankah konstelasi spiritualnya sudah lain? Bukankah secara material kita sebagian telah kafir, walaupun formal Islam? Jadi penggunaan ayat-ayat tersebut tidak tepat lagi” (Pergolakan Pemikiran Islam; 11).

Apa yang dibenci Ahmad Wahib masih bertahan hingga sekarang. Seperti sejarah berulang dalam ungkapan Marx, bahwa sejarah selalu berulang pada dirinya sendiri, pertama sebagai tragedi, kemudian menjadi lelucon. Iya, kita anggap saja hal ini lelucon, bahwa baik buruknya seseorang pada saat sekarang bisa diukur berdasarkan label kolom agama yang tertera pada kartu identitas mereka.

“Kritik terhadap agama menghancurkan ilusi manusia, supaya dia berpikir, bertindak, dan menghiasi kehidupan nyatanya seperti seorang manusia yang telah menyingkirkan ilusi-ilusinya dan memperoleh kembali kesadarannya, supaya dia bergerak memutari dirinya seperti mataharinya sendiri. Agama hanyalah matahari ilusi yang berputar mengitari manusia selama dia tidak berputar mengitari dirinya sendiri,” Karl Marx (1844).

Cluthak Ora Galak: A Soloensis Proverb

mt. kerinci, swarnadwipa island
"assalammuailaikum waalaikumussalam... ane nemuin sebuah artikelku yg kucek belum diposting di blog tapi ada kesimpen dipada salah satu email gw, sptnya ini karya tulis gagal muat krn bernada menanggapi artikel lain di mass media, mungkin dipublish berginian terkesan tak tau malu padahal sempat berpikir mau tutup blog biar matching dengan agenda politix atau bikin disclaimer, tapi memutuskan memberi "warna lain" pada panggung monotone dan tipikal alur statis habitat perpolitikan mikro, sejak zaman habil dibunuh qabil gara2 jatah ceweknya lebih cakep, bahkan sedari masa malaikat iblis iri dengki sama pengetahuan bahasa buyut kita adam alaihisalam di semesta kerajaan surga sana (sebagaimana diberitakan oleh mitos yg belum ada sumber tandingannya ^_^) hingga abad ini montase wajah perikehidupan penghuni planet bumi, ketika geng mamarika mengokupasi minyak arab yg orgnya pandir2 sembari terdepan dlm teknologi sumber2 energi baru yg bikin drop daya tawar oki yg tengah gontok2an, sebuah pola2 persaingan abadi utk rebutan sumber daya syahwat terbatas dlm durasi tdk terbatas sinetron pertunjukkan sandiwara duniawiyyun gini hehe tentunya aq kudu menyiapkan diri akan resiko atau setidaknya akibat logis atas "pertaruhan visioner" yg awak berazam nak perbuat, counted or infinite... dan lagi pula bagai sdg training kadet navy seal gw juga sedang mengukur diri akan sejauh mana I could push myself into the limit... & ini aja lah cerocosan gw utk terakhirnya spy gak bikin bt lo2 pademu negeri: to make it simple for regular couple or random people gini aja deh:: drpd hangus dimakan jin mending di re-run lg di blog ini::: spy aktif lalu robot search engine google mau datang bersilaturrahmi:::: cara berpikir praktis n short-term banget kan? (ngajak salaman #setipe.com) okayy cekidot wee gan gin..."

JUDUL ASELI: Tanggapan Secakap-Non-lisan dari Non-tokoh n’tuk Tokoh Penulis Teks tentang Kematian Teks 
Kemaren-kemaren, sebuah teori baru lahir: teks telah mati. Tak usahlah saya beri tanda seru, nanti dibilang hiperbolik dan hiper-ekspretik. Nanti dibilang propagandis dan  provoka(tif/toris) dan, apalagi, teroris! Ngeri. Padahal saya cuma menulis apa yang orang (Tokoh) telah tuliskan, apa yang orang (Lain) telurkan, apa yang...nah itu! Djoe-djoer saya, saja terguncang. Dengan hebat. Saya rasa (bukan saya pikir) hal ikhwal tentang kematian teks itu akan cukup menyiutkan nyali kami. Siapa kami? Saya Noto, asal Sono, kerjanya di bidang reparasi’ teks. Bahkan bukan pemroduksi teks. (Konsumtor teks, saya yakin negeri ini rajanya. Apalagi hal perihal yang berbau keilmuan seperti itu.) Ibarat motor, ibarat TG (Telepon Genggam), dan ibarat dan lain sejenisnya, kami, saya, hidup dari “hidup”-nya teks. Dan harus disertai: kehidupannya yang bermasalah, ber-masalah. Jika teks telah dibunuh diri?
Sebagai seorang reparasi’, kami (saya) punya solusi. Tapi tidak, dan tak, untuk yang seperti ini. Perkembangan tentang pengajian teks (atau kita sebut saja literatur, biar kelihatan sub-pokok bicara tentang sastranya {sekalian saya memaklumkan disini: adalah reparator teks sastra}) sangat menarik. Menarik yang tak saja dalam makna metaporik-nya, tetapi pun sekalian dalam artian denotatiknya, kerah bajuku dipegang, hingga urat-urat leherku menegang, dan kata (yang dianggap sudah) tokoh: mulutmu belum pantas untuk pun sekedar mengerang. Tapi celakanya, dibegituin, saya tetap kecanduan. Dan kecanduan berarti cukup sulit diobati. Dan, obatnya datang hari ini (eh, hari itu). Teks telah mati, saya bebas.
Lalu kemana setelah ini? Ada apa paska-dekontruksi? Begitu tanya yang timbul dalam rasa Derrida yang sebetulnya (bukan se-kebenaran-nya) percaya pada ketiada berhinggaan makna. Namanya tak berhingga, lalu mau minta umur berapa kita untuk mencapainya? Mintalah umur yang tak berhingga, orang-orang tertawa mendengarnya. Dan mereka senang, itu yang penting. Masalahnya kemudian, perasaan saya ternyata kurang manusiawi untuk turut serta menikmatinya. Lalu pergilah saya menuju dunia fauna (bukan Fana), sifat hewani lebih tak bisa diajak buat ber-apa?-apa?. Pergilah saya mencari para flora (bukan Florina), tetapi percayalah: tak ada pohon yang bisa bicara. Saya pusing, saya mumet, saya kalap, saya lapar. Tapi kemudian, sambil bersantap sate unggas dan lalap kangkung, saya menemukan sebuah kesadaran baru: mereka tak bicara, tak perlu mengerti apa-apa, tiada tertawa, dan: netral. Saya menemukan kebebasan disini, saya lebih merasa dihargai disini, saya bahagia disini. Dan saya jadi: raja hutan.
statistik fonem rubrik sajak pikiran rakyat sekitar juni-juli 2005 atau 2006 (lupa.com)
gelanggang 2001 at tampomas mountain, sumedang larang, medio 2002 AD
Namun, lama-lama kesepian.
Dan saya teringat pada teks, teks yang telah almarhum(ah). Tak ada lagi mungkin-memang-barangkali yang bisa diperbaiki. Teu (ndak) perlu. Saya telah lama pensiun dari. Saya telah lama menjadi di. Namun kini, ada himbauan untuk kembali. Maka, wahai bung Tokoh,  jikalah betul (dan benar) teks telah mati, tunjuki aku dimana kuburannya. Izinkan aku ikut menabur bunga. Apa? Jangan, janganlah kau mempersoalkan tentang aku yang mencatat diri sebagai seorang reparasi’. Teks lagi. Sastra pula. Tak ada waktu cukup untuk berpilih kata dalam ini secakap yang dia-nya singkat. Pun itu sebuah dosa, jadikanlah catatan sejarah guna meminta ampunan Anda. Aku janji untuk tak pula mempersoalkan bagaimana simpulanmu itu menjadi. (Tidakkah ini sebuah kebohongan yang senyata-nyatanya? {saran: jangan dibaca dengan !}—Atau, ah, mungkin aku saja yang selalu terpana pada ujung cerita) Tapi begini sajah, mungkin nggak ya yang telah mati itu hidup kembali. Atau kita harus menuju pesta pora umat manusia yang penuh rahmat dan ketimpangan semena ini. Jika tidak (baca juga: ya), aku janji lagi untuk tak akan lagi menggunakan kata reparatisi”, lagi....
**
Legian, pepatah Planet xena menyatakan: lebih baik berkawin tanpa cinta daripada menjadi si pecinta buta. (Dan konon kabarnya, sastrawan muda malaysia {persona tunggal} sudah membuktikannya.) Barangkali memang tak tepat menge-klaim diri bak insinyur, seberbagai reparator. Ini sinekdoke pro pak toto. Ada pilihan untuk memberi nama si/sang pemakna, tapi Iser dan Jauss mewanti-wanti, ah masa? Daripada aku jadi satu yang tenggelam di seribu, lebih baik balik lalu ke masa dulu. Di kampus, sebagai bekal akademis, dan ciri profesionalitas tinggi, kami, saya, diajari seperangkat peralatan bertukangteks yang berpasti dan sesuai Sni. Dan, dilarang disalah guna ; dimodifikasi melanggar hak cipta. Namanya anak-anak (mahanakanak), ya nurut aja. Tapi kemudian-kemudian sempat ragu, meski perbiar diri merobot berbeku. Untunglah Mbah Budi Darma pernah memberi siraman rohani. Ki Tikus dan teoritikus berada diwilayah reaktif, sementara para pengarang (teks {sastra}) berada di wilayah kreatif. Yang satu pihak nanti bertugas menguraikan dari yang satu lagi yang berusaha memadatkan. Nah, kami-kami, saya-saya, di mampus di tuntut untuk bekerja dalam sebuah kepastian sistemik, sementara Ki Tikus lepas bebas guna juga bermain di wilayah intuitif. Untungnya banyak diantara mereka yang berhasil menghasilkan analisis berbobot. Karena apa? Sebab prinsip penalaran telah mereka terapkan meski tak, eh, kurang kongkrit. (Dan, bukankah rakyat kita suka sama yang kongkret-konkret?) Mereka-mereka, yang tadi itulah, yang Darma bilang telah memiliki: makrifat. Sementara banyak, sangat barangkali, di antara kalangan kampus yang dipaksa untuk menalar secara kongkret tadi sementara daripada itu berada dalam daripada serba kekurangan kapabiliti kontekstili (termasuk saya barangkali, hihi). Jadilah banyak terjadi apa yang disebut asal tempel teori. Tapi sulit juga, kalo saya boleh bela negara, menyalahkan sepenuhnya realitas tersebut. Seperti sering dibilang oleh banyak orang, yang juga Tokoh seperti sodara, pengajian teks jenis ini selalu harus bersinggungan dengan sekian pelbagai hal (yang seharusnya) bagian bagi disiplin keilmuan lainnya. Sementara kemampuan untuk berpikir tak bisa melewati suratsi takdir. Itu sebab barangkali, intuisi, ia, kembali harus diberi peran. (Bukankah hal satu ini kabarnya membuat terkagum-kagum sang Immanual Kant.) Tapi kali ini intuisi yang berpelengkap dengan apa yang dinamakan wawasan, anehnya juga, tentu serta: kemampuan menalar. Semacam Intuisi tingkat tinggi barangkali (ITTB). Dalam bahasanya Budi tadi mereka adalah kritikus yang makrifat, teoritikus yang makrifat. Tentu untuk menemukan "jiwa-jiwa agung" seperti ini tak lah seperti menemukan, (dengan berat hati) semisal, tukang kupat tahu (segala hormat buat bibi pemberi sarapanku setiap pagi). Maka, mahabesaR Tuhan yang memilih hamba-hamba terpilih yang Dya cinta dan Dya kasih, memberi hikmah dibalik segala sesuatu (hingga banyak orang sukses meski tak hobi baca buku, juga dapat ijasah tanpa perlu kuliah), dan menakdirkan umat manusia untuk selalu saling kritis mengkritiki demi kemajuan pengetahuan. Maka itu, saya bersetuju dengan pendapat Tokoh Teknik Lamunan bahwa aneh kalau kritikus sastra justru jadi pengiklan karya. Tidakkah setiap orang diberi hak lagi untuk memahami pengertian dari kata-kata sesuai apa yang, masing-masing, sanggup pahami? Setiap orang toh punya nilai sendiri-sendiri. Bekal untuk selanjutnya bisa didiskualifikasi. Haha. Tukang, seperti saya, pada hakikatnya, kan, menemukan dan mengemukakan masalah. Dan dalam sejarahnya pertikaian, kan, selalu menarik perhatian, lalu dicatat dan mendapat tempat. Sebab itu bung, sodara Tokoh, kembali ke cetusan istilah yang saya ungkapan di tadi, maka itu, teks tak akan mati selama masih ada yang sanggup bermakrifat, makrifatuteks. Sudahlah Baik, saya permisi dulu. Mau belajar lagi tentang bagaimana Kebenarannya menyusun Komposisi.
SIAPA INI? adalah seorang bekas JII yang telat nyadar. Tinggal Di serang.
panitia ospek ala mahasiswa jadul, angkatan 2001 gelanggang jatinangor km 21

lagu barat: gara2 menyastera lagi, jadi berpoetika lagi neh

"Just another politisheet, luv money and seat, en pray for goddes to get fuk w/ naked wimin above the heaven, just like ass ordinary human being should be, follow the devil-circle of our realivity, this routine path of our solar-id system, en swim to beat mycompetitor like a sperm, oh lord bless me as humanitiy monster, in the masked of a hipocrite-angel, this is infinite dimensions of knowledgeable, en they said there's no such like an evil in the detail, so do gud damn it I me why revelation anywait She's hide!" (keep update insaallah)

nb: puisi ini buat solilokui diriku sendiri, mohon tdk ada org lain yg tersinggung, klo ada kemiripan waktu tempat atau modus misalnya anggap saja kebetulan belaka, juga tdk perlu pula kagum2 amat, gw tdk sanggup tanggung-jawab di akhirat kalo ada diantara keyakinan sementara gw yg bikin org lain ikut2an tersesat, tetaplah kritis dan waspada, orang pandir gw larang keras membaca blog ini! lho klo bukan utk nunjuk2 org lain ngapain dipublish segala di blog? suka2 gw dong! otak gw yg mikir, tangan gw yg ngetik (buat bantu mengingat), mbah blogger aja ngasih hostingan gratis ndak keberatan tuh kafir mamarika koq elo yg sewot brayy wkwkwkwk

Terakhir ini perlu ditekankan: "kalo ada yg salah itu datangnya dari gw sbg insan biasa, jadi tidak usah menyalah2kan yahudi dan mamarika, apalagi setan minal jinni ataupun keturunan anak manusia, semua allah yg bertanggung-jawab koq beliau punya "permainan" ini terserah lo mau pilih jadi bad cop banyak sawerannya atau nice guy yg dibullying teman2nya, kecuali lo sedang berpolitik jilat pantat kepada-Nya demi kepentingan syahwathuakbar lo ataupun semata-mata motif2 politik kepentingan sesaat tapi penting begitu deh namanya hidup dalam sistem ribawi dunya hari ginih, ujung2nya ya udahlah gw maklum aja!"


Alternatif Motivasi Selain Motivator "Sekuler" Om Marteg dan Motivator Berkemasan "Religi" Si Mantan Napi Ustad Yusman Rahimullahubilhartawattahta

Seorang pria yg tidak lulus ujian masuk universitas, di nikahkan orang tuanya.

Untuk mendapat penghasilan, ia pun melamar menjadi guru sekolah dasar dan mulai mengajar. Karena tidak punya pengetahuan mengajar, belum sampai satu minggu mengajar ia sudah dikeluarkan.

Setibanya di rumah, sang istri menghapuskan air mata nya, menghiburnya dengan berkata: "Banyak ilmu dalam otak, ada orang yang bisa menuangkannya, ada pula yang tidak bisa. Tidak perlu bersedih karena hal ini. Mungkin ada pekerjaan lain yang lebih cocok untukmu sedang menantimu."

Kemudian ia melamar dan melakukan pekerjaan lain, namun dipecat juga karena geraknya lambat.

Saat itu sang istri berkata : kegesitan kaki - tangan setiap orang berbeda, orang lain sudah bekerja beberapa tahun lamanya, kamu hanya belajar di sekolah, bagaimana bisa cepat?

Ia pun bekerja lagi di banyak pekerjaan lain, namun tidak ada satu pun yg berhasil, semua gagal di tengah jalan.

Namun demikian, tiap kali pulang dengan patah semangat, sang istri selalu menghiburnya, tidak pernah mengeluh.

Ketika sudah berumur 30 tahun-an, ia mulai dapat berkat sedikit melalui bakat berbahasanya, menjadi pembimbing di sekolah luar biasa tuna rungu wicara.

Kemudian ia membuka sekolah siswa cacat, dan akhirnya bisa membuka banyak cabang toko yang menjual alat-alat bantu orang cacat di berbagai kota.

Akhirnya ia menjadi boss yang memiliki kekayaan berlimpah.

Suatu hari, ia yang sekarang sudah sukses besar, bertanya kepada sang istri, kenapa ketika masa depan nya masih suram, engkau tetap begitu percaya kepada ku ?

Jawaban sang istri ternyata sangat polos dan sederhana :
Sebidang tanah yg tidak cocok ditanami gandum, bisa dicoba untuk ditanami kacang. Jika kacang pun tidak bisa tumbuh dengan baik, coba tanami buah-buahan; jika buah-buahan pun tidak bisa tumbuh, semaikan bibit gandum hitam, pasti bisa berbunga, karena pada sebidang tanah, pasti ada bibit yang cocok untuknya, pasti bisa menghasilkan panen dari nya.

Mendengar penjelasan sang istri, ia mengeluarkan air mata terharu.... Keyakinan kuat, ketabahan serta kasih sayang sang istri, bagaikan sebutir bibit unggul.

Semua prestasi dirinya, adalah berkat keajaiban bibit unggul yang kokoh hingga bertumbuh kembang jadi kenyataan.

Di dunia ini tidak ada seorang pun yg hanya sekedar sampah, dia hanya tidak berada di posisi yang tepat.



p.s i love twist :: sedikit komen utk menetralisir kelebayan sebuah retorika motivasi positif maksa pada kalimah-pamungkas di kisah atas, yang namanya manusia sampah itu pasti ada-lah, bahkan al-qur'an menyebutnya sebagai kebanyakan manusia itu begino dan diulang-ulang lagi manusia kebanyakan itu begina, tapi juga jangan menjudge yg dipenjara/dihukum itu org yg pasti salah dan yg di luar penjara ini manusia baik-baik, kita tidak tahu topeng permaninan org lain, yg penting itu adalah hikmah dan ibroh bagi diri kita sendiri agar tidak jadi sampah dan terus berjuang menjadi manusia yg lebih baik, jadilah egois utk menggapai kebaikan pribadi, gak usah repot ngurusi dan menilai kejahatan org lain, dia punya tuhan sendiri yang sedang mengujinya, yg penting dari kisah org lain itu adalah refleksi buat diri kita sebenar-benarnya yang tak akan pernah kunjung lepas dari siasat akal bulus orientasi hawa nafsu alami ini karena mekanisme to fit and survival, mari menjadi pribadi "oportunis" positif... lho koq gw sendiri seolah menceramahi org lain, waini....

Estetika Bunyi Dalam Irama Kata-Kata: Sebuah Kemolekan Auditori Pada Message Delivery


"THE FACT THAT A BOOK IS FULL OF MATHEMATICAL EQUATION DOES NOT NECESSARILY MAKE IT MORE SCIENTIFIC."

(Prof. William R. Uttal, katanya sih terdapat dalam "Dualism: The Original Sin of Cognitivism") 
 #belagak_udah_baca.oncom

Yuk mari bercantik-cantik lagi dengan puisi. Kembali Aq hadir berolahraga-otak dengan materi yang sempat menjadi studi formalku selama bertahun-tahun yang ijazahnya ndak pernah kepake sampe plastik mapnya nempel nyaris melekat kayak lem tuh ke kertasnya. Untung sempat dicek sekarang gara2 membutuhinnya buat mendaftar sekolah es teller lanjutan. Untung gak sampai tak sobek2 waktu coba dilepasin dari plastik pelindung di depan yang membungkusnya tsb. Kalo kubiarkan barang setahun dua tahun lagi ndak ditengok2 bisa "menyatu" mereka (melahirkan bayinya ijazah haram). Tinta dawat dari goresan tanda tangannya Prof. Genjer2 Karunia saja setengahnya sudah pindah memrasastikan jejak biru pada bagian permukaan-dalamnya plastik itu. Untung lagi juga sejumlah fotokopian yang sudah dilegalisir masih ada dan buannyaaakkk masih (D-M syntax mode on). Kenapa? Karena seingatku yang dilegalisir ini cuma sekali dipake buat daftar Cp & 'S sekitar tahun 2010 lalu ke Dephub di Sunter sana. Maklum gw orgnya gitu (pasang pipi chubby bagai sesosok moody teen). Agak lalai disengaja dalam hal administratif, formalitas, dan rutinitas normatif. Mungkin krn 'w not a regular person typically maybe yaa. Bahkan berani berijtihad sendiri ttg term of condition bagi syariat sholat jamak qashar kontemporer sub-kontekstual kehidupan unik gw walau tidak ada di antara imam mujtahid empat mahzab yang merumuskannya (fatwa mereka berlaku buat tipe orang umumlah: the muqoliddun fanatiqqun membebekiyyun). Tapi sudahlah Marisol.... Sekarang gw udah tobat dari dunia idealisme yang memang tdk kunjung sempurna bahkan untuk sekedar dikhayalkan. Mungkin menjadi oportunis itu ada kebaikannya juga dalam konteks2 tertentu.

Begini para pembaca blogger sekalian yang semoga rahmat Gusti Allah swt senantiasa tercurah kepada Anda walau doyan politikin cewek2 dan menenggelamkan saingan bisnis Anda (manusiawi koq, gak usah sewot gw eksplisitkan). Ada materi menarik yang sempat ingin kuoprek a long time ago di kampus biru sana yakni mengenai "rahasia" bunyi puisi. Dan memang, sudah kujalankan setengah jalan--ini konsepsi kualitatif atau kira2 yaa (bahkan hiperbola), persis kuantitatifnya mungkin baru 0,00000000001~ persen jalan kayak angka2 promo dalam perang tarif antar operator seluler eehh tetep aja ilmu kira2 euy--dengan menciptakan metodologinya sendiri dibantu asisten gw bernama Ms. Wordstats dengan objek/sampel penelitian pada alofon-alofon penyusun puisi-puisi di rubrik puisinya (ya pastilah masak rubrik kesehatan) surat kabar Pikiran Rakyat, terbitan Bandung, Jawa Barat, untuk dalam rentang sebuah bulan atau dua mungkin. Aq lupa persisnya dan males mengecek krn waktu nulis ini lagi offline, modem tergeletak dua meter di sebelah kanan sana sementara daripada sim card untuk konek ke tower BTS di seberang jalan depan rumahku ini ia sedang terpasang di sebuah hp yang lebih jauh lagi jaraknya sekitar sepuluh meter di ruang makan sana (pakar alesan.xom). Tapi jujur aja kalaupun lagi online tetap aja gw merasa rugi meluangkan waktu untuk cek2 hal sepele untuk sementara ini. Oke pause dulu, mau mandi nih. Biar pas maghrib nanti tercium wangi semerbak sewaktu agenda rutin "nelpon" Tuhan qiqiqiqiqiqi.

--one day after--

Olraik beibeh, kita lanjutkan celoteh postingan blog gw dahulu (sehari yang lalu atau kemarin itu termasuk terminologi dahulu juga kan?). Dan gak pakai terlebih ya. Jadi begitulah. Jadi ingin lanjut meneliti kaji lama tersebut. Dan sembari sekolah master kiranya adalah wadah yang tepat. Setidaknya dengan beking infrastruktur sebuah universitas hasil penelitian kita akan lebih punya saluran publikasi. Kalau tidak, terlebih kita nie ndak/belum punya nama dan networking, paling2 kirim2 ke koran2 yang redakturnya karena gak kenal mengabaikan untuk membacanya. Mungkin pada pengiriman yang keseribu mulai ditengoknya jika terlihat email kita sekilas berjudul ciamik. Atau malah karena muak melihat si pengirim itu2 lagi, pada pengiriman ke-100 akun kita otomatis dimarker sbg spammer. Dan tidak bisa pula disalahkan karena kita masuk ke system business yg tentunya profit oriented dan berprinsip efisiensi meskipun ada sepikan2 interest individu di dalamnya. Jangankan orang yang ndak kenal kita, dosen pembimbing saja yang bahkan mengenal baik kita dan kita akrab betul dengannya bisa malas membacanya krn keterlaluan inovatifnya "berkarya" hehe (pengalaman.xom). Belum lagi kemudian soal bagaimana membuat format penelitian ini menjadi naskah populer. Termasuk jika kalaupun atau kalaupun jika aq bisa mendapat bantuan dr kawan2 yang kerja di penerbit buku dengan syarat untuk 10.000 cetakan pertama kubeli sendiri xixixi. Kajian bunyi puisiku yang penuh tabel2 fonem tersebut tak terbayangkan olehku bagaimana format artikel populernya. Walau kalau baru untuk sekedar judul buku yang eye catching and could fish for public attention gw udah punya nih: "Keindahan Bunyi Puisi by Wemmy Al-Fadhli SS" (halah, kesannya sebuah buku memoir dari seorang mantan tentara NAZI-Hitler).

Tapi ini harus diakui bahwa Belanda masih jauh cuy. Ketika gw dengan noraknya berani-beraninya merumuskan hukum analisis bunyi sajak satu dekade (dasawarsa) yang lewat karena setahu gw tidak ada pakar resmi yang menyentuhnya, sampel puisi yang kutelitiin cuma hitungan puluhan dengan sumber publikasi yang sama yang artinya belum bisa dianggap jadi representasi populasi. Dan pula gw harus mencari-cari lagi publikasi asing mana tahu ada yang sudah atau bahkan lebih maju dengan penelitian yg perkara subjeknya seperti ini (oprek2lah jurnal sastra hingga ke universitas2 di benua afrika sana lo kalo kuat!). Kalau ada, seharusnya kabar akan menyebar untuk menyusun teori general lebih upgrade lagi mengenai bunyi puisi yang saat ini setahuku sangat minimalis itu (dibanding ulasan mengenai semiotika tingkat kata ke atas misalnya). Tapi begini2 yang pekerjaannya dosen/peneliti lembaga resmilah yang mestinya tahu dan punya network informasi. Makany gw bersiasat nih menyusup lagi ke dunia kampus buat nguping xixi. Tentu hambatan-hambatan selanjutnya sudah akan menanti gw di depan mata dan gw pun sekarang merasa semakin matang untuk menyiapkan diri, pikiran, dan mental untuk selow aja kelak menemuinya. Apa yang harus terjadi pasti akan terjadi; ndak usah pengecut dan depresi. Setangkai daun jatuh pun di muka bumi ini sudah tersurat dalam Lauh Mahfudz di kolong Arasy sana tempat Gusti Alloh beristiwa (<--- ceileee belagak hafal ayat2 khabar dari langit pada lembar2 kitab suci). Dan tinta-tinta mengering sudah fren, ndak bisa Tuhan dan para malaikat kita sogok dengan uang walau berkedok amal sedekah... siasat seperti itu namanya menyamakan Rabb kita dengan kelakuan makhluk-Nya dengan alesan supaya semua menjadi jelas dan sederhana!

Selain ingin menggali kajian ilmiyyah pada estetika bunyi bermedia teks sastra sebetulnya gw juga makin penasaran dengan pemanfaatan estetika bunyi ini pada media-media non-sastra seperti propaganda, retorika, iklan, bahkan teks atau percakapan biasa, bahkan pada kitab2 suci juga ada. The power of repetition, begitu judul bukunya seorang ustadz yang menjadikan ilmu agamanya sebagai jualan kemana2. Saat-saat seperti ini (mengutip larik pertama sebuah lagu Sheila On 7) juga sedang hot2nya nih kasus Kanjeng Nabi Mariyo Teguh vs anak buangannya. Keep positive men! Retorika bunyi ini sangat akrab kita lihat ditunggangi oleh profesi motivator sejenis ini. Menarik jika dikontraskan ke profesi psikolog yang disebut penyair Sapardi bahwa penjelasan ilmiahnya yang terlalu rumit malah bisa membuat pasien tambah stress, again keep on positive! Terlebih kemudian juga gw pernah baca berita ttg penelitian seorang doktor fisika yang mencoba menciptakan metode/alat untuk mendeteksi kebohongan dari frekuensi suara seseorang. Dalam teori dia ketika sebuah kata diucapkan dengan konfigurasi indah maka sel-sel didalam tubuh kita akan bereaksi/bergetar jika bertemu dengan gelombang getaran di frekuensi yang sama. Oke sekian dulu, sudah mau ashar nih. Wahhh.... hebat! Sudah dua kali sholat gw nih dalam satu postingan blog saja. Do'akan gw masuk sorga yaa para pembaca yang budiman. Ketemu cewek2 bugil cantik sempurna kelak disana betapa gw impikan. Maklum sudah umur masuk setengah jalan menuju liang kuburan gw masih menjomblo juga nih. Tidak ada pasangan atau teman2 wanita yang bisa dipeluk-kecup sewaktu hening malam (dan kalau bisa bergiliran secara adil/justice variety) qiqiqiqiqiqi. Jangan ketawa donx, memang dari syahwatlah--air yg hina dalam bahasa vulgar kibat suci kita alias muncratan tetes2 mani penis lelaki baligh yang terangsang lobang betina--para manusiawi yang banyak aqal-bulusnya ini oleh Tuhan konon katanya diciptakan. Jadi mohon likenya dan aminnnnnkkkkaannnnn!

#ustat_ucup_manjur_rhetoric_mood_oon


nb: bagi penikmat bintang malam, hari2 ini sehabis maghrib menjelang isya planet venus ("bintang" kejora) terlihat sangat terang di ufuk barat walau tertutup awan tifis sekalifun! seakan2 do'i mau meledak dgn warnanya yg tersipu kemerah2an; tadinya gw kira lampu sorot pesawat yang mau landing ke bim setinggi ga lebih satu kilometer di angkasa eh ternyata ndak gerak2 krn ternyata itu pantulan cahaya planet tetangga berjarak jutaan kilometer out of space sana! sementara di sepertiga akhir malam engkau akan melihat orion belt dengan gugus bintang atau mungkin nebula tepat di sebelah kanannya plus di kiri agak jauh dikit di atas siku2 aldebaran ada the seventh sister yang begitu terang, gw kadang agak heran kenapa center the milky way di kaki capit rasi scorpio suka ditutupin awan tapi kalo rasi sang pemburu atu nie sering kali clear langit tak ada awan tipis pun yang menghalangi mata telanjang orang awam! "tak jauh" di kanan bawahnya lagi ada bintang paling terang kedua yang menyinari bumi setelah mentari yaitu sirius si anjing besar (jarak dari bumi 8,6 tahun kecepatan cahaya) yang konon katanya sampai dimuat dlm al-qur'an surah an-najm ayat 49: "dan bahwasanya ialah tuhan (yang memiliki) bintang syi'ra..." duh jadi keinget derita anak2 syiria/syam sana yaa... yg bagi mereka malam2 ini suara bom serasa bagai petasan aja dan didoktrin bahwa membunuh org itu berpahala dan berhadiah bidadari bugil yang tak pernah hilang perawannya! (tetep wae lagi2 gw berusaha keliatan sbg orang yg paham betul agama2 sehingga dipercaya utk "jualan" surga syahwat kpd para manusiawi yg bisa ditebak apa maunya ini!)

Bohewemian Pergi Skul Lagi, Oalah Mak 'e...

Nantilah kunulis lagi biar blog ini tetap update ndak jadi zombie, mo ngerjain tugas mat kul dulu nih udah injury time tapi belum baca bab 2 nya wardaugh, an introduction to sociolinguis, ceilee gaya buku bhs inggrisnya ebook bajakan, bacanya juga sambil nengok2 sofware kamus besutan mas ebta, kelar gak nih ye... ok yg penting nongol dulu, update subtitle blog gw ini dgn pepatah jepang utk mengingatkan diriku selalu yg amatir ini mulai terjun ke dunia sosial-politik xixixixixi #the_diplomat

Oke gw selesaikan postingan atu nie: kufikir2 bukan tak mungkin blog cantikku ini dikunjungin oleh fihak2 terkait yang akan aq sebutkan dlm topik satu ini. Berhubung gw masih seorang amatiran yang baru terjun kembali di dunia sosio-politik mikro ini (praksis keseharian) dengan "kesadaran" yang lebih sekarang, takut2 ada tindak tutur yang tdk mengenakkan menyinggung fihak2 yang sengaja atau tidak mengintip (<--- klausa ambigu.xom edisi disengaja), sekaligus pula gw praktikkan saat ini juga sikap yang lebih pragmatik, kuputuskan untuk tdk terlalu banyak omong dulu soal sekolah2an ini. Lagipula ini bagus untuk melatih kesabaran atau daya tahan menjadi seorang diplomat kehidupan harian. Bahasa dan wacana bisa menjadi resolusi konflik; begitu juga sebaliknya. Kita tidak bisa mengatur2 respons pembaca toh di pada ujung2nya. Lebih baik berkoar2 lagi tentang makro-politix, geopolitik dan dunia2 outside world sana yg tdk langsung bersentuhan dgn kehidupan pribadi kita seolah2 kite beneran pakar yang ngerti aja. Tapi inilah asiknya. Komen kita jadi lebih natural, bukan propaganda bayaran (walau ini ndak salah juga mungkin dalam konteks org mencari penghidupan), dan kalo ada salah2 referensi ataupun asumsi harap pembaca maklum dan abai-in aja yaa. Celoteh gw bukan analisis politix beneran (profesional atawa dibayar) tapi lebih sbg solilokui bagi gw pribadi utk memahami apa2an sih hidup ini, Han?

Clash of Islam: Gerakan Upgrade vs Reset

Bagai pertandingan el-classico, kontraksi antar kutub-kutub persektean sudah merupakan hal yang lumrah dalam sejarah agama-agama. Meski politik diplomasi berusaha untk meredam dan menutup-nutupinya demi keuntungan bersama. Namun kemudian apalah daya. Sifat laten pada keimanan tiap-tiap grup mengenai ajaran tuhan menurut versinya masing-masing tersebut selalu dalam posisi energi potensial yang siap menjadi kinetik ketika dipicu sebuah gaya.

Dalam sirah Islam, agama yg dianut hampir 2 milyar jiwa by administratif dari 7 milyar lebih manusia di abad ke-20 yang tercatat sejarah ini, sebetulnya sejak rasul wafat progresifitas peradaban melaju relatif linier dari zaman khulafaur rasyidin, dinasti umayah, abbasiyah, hingga runtuhnya khilafah utsmaninya bani seljuk di turki. Pada zaman kolonial, dimana banyak bagian bumi bermasyarakat muslim secara de facto dijajah oleh eropa kristen yang telah mengalami fase renassience, timbul perasaan berada di titik nadir pada peradaban Islam.

Di semenanjung arab atau arabian peninsula--tempat lahirnya rasul junjungan umat Islam--muncullah gerakan wahabi menjelang (sekaligus membantu) runtuhnya kekhalifahan islam turki utsmani. Setelah negara Saudi modern formal berdiri dan mendapat pengakuan dari bangsa-bangsa lain (terutama tentu Inggris sebagai mitranya dalam menghancurkan daulah islamiyyah terakhir di tahun 1924 tersebut, ia stick di wilayah stagnan dan tidak ada lagi ekspansi wilayah islam secara fisik geografis sekaligus wilayah muslim lain berpecah belah sudah.

Gerakan politik penguasa kerajaan Arab Saudi ini secara spritual didampingi oleh manhaj religius yg menyerukan kembali ke Islam orisinil alias gerakan puritan yang dinisbatkan bernama wahabi atau aliran sawah (salafi wahabi). Ini tentu mendapat sambutan di tengah kegalauan melihat kalahnya peradaban Islam yang sebelumnya melaju ke depan/progresif sekaligus penuh maksiat di Utsmaniyyah. Walau untuk mendefenisikan persis yang orisinal Islam atau sunnah rasul ini juga tidak mudah--sekedar bernuansa retro kah atau bagaimana?--tapi relatif ia menjadi sisi antagonik dari titik nadir peradaban Islam saat itu.

Setelah Islam konservatif ala Saudi stabil punya wilayah dan secara ekonomi disokong eksplorasi minyak yang tentu dibantu mitra peradaban modernnya dari Inggris dan Amerika, mulailah ia punya "energi" untuk mengemban kerja misionaris ke berbagai belahan dunia. Secara ekspansi wilayah memang sudah tidak mungkin tapi kini tinggal cuman berani ekspansi ideologi.

Menariknya visi konservatif Islam Saudi Wahabi yang kembali ke sunnah atau dengan identitas salafi ini kemudian harus bertemu terlebih dahulu dengan model keislaman yang sudah ajeg pula beratus-ratus tahun di negeri-negeri muslim laindari zaman kekhalifan yang dulu-dulu; boro-boro untuk mendakwahi orang-orang yang mereka anggap masih kafir, musyrik, dan atheis di negeri-negeri non muslim. Reflek denial pun terjadi meski sebagian kecil bisa "diislamkan kembali"; terutama anak-anak negeri lain tersebut yang bersekolah menuntut ilmu ke Arab Saudi.

Terlepas dari dialektika politik dan bisnis, secara sekadar aspek ideologi sekalipun gerakan Islam konservatif ini juga kemudian harus menemui di zaman modern ini gerakan Islam liberal yang bersifat progresif lagi-lagi; kembali ia bertemu dengan sisi antagoniknya. Menariknya, ekses gelap gerakan Islam konservatif/radikal yang berupa kelompok-kelompok teroris--yang bahkan saling "memakan" di antara sesama mereka sendiri--membuat sisi warna Islam di seberangnya yang progresif menjadi opsi yang menarik kembali.

Lalu bagaimanakah ummat Islam kebanyakan--yang sibuk dengan urusan cari makan lalu cari kaya lalu lebih kaya lagi dan terus lagi ini--harus memposisikan posisi keagamaannya di tengah dialektika orientasi keagamaan yang mereka tidak punya waktu dan kemampuan untuk mempelajari sendiri? Kelak deh gw sambung bahasannya; mau shalat dzuhur dulu nih... boleh kan pamer dikit? Setidaknya berfikir fositiflah bahwa ini merupakan ekspresi kebanggaan karena terlibat dalam kegiatan yang penuh bau agama, yoi!

Bisnis di Padang: Lubuk Minturun Landscape Menantang



Berbicara tentang lokasi bisnis atau usaha di Kota Padang, Sumatera Barat, saat ini sedang terjadi pergeseran pusat pemerintahan dari Pasar Raya Padang di Kecamatan Padang Barat yang berada tak jauh dari pantai padang ke Kecamatan Koto Tangah yang dilintasi jalan padang by pass. Spekulasi bencana gempa dan tsunami berikutnya dalam skala besar yang akan terjadi membuat arah pembangunan Padang menjauhi garis pantai pada sebelah barat daya kota dan merapati jejeran bukit barisan di arah timur laut. Tak jauh dari area balai kota dan gedung DPRD baru di Aie Pacah, berjalan ke arah Bandara Internasional Minangkabau atau luar kota menyusuri sepanjang jalan by pass, arah sebelah timur-utara akan bisa anda saksikan lanskap Lubuk Minturun menyuguhkan panorama persawahan dan gunung-gunung sebagai backgroundnya.

Daerah Lubuk Minturun ini sejak dahulu terkenal hanya sebagai daerah pemandian dan wisata penjualan bunga hias di sepanjang jalannya. Sebelum tragedi tsunami Aceh 2004 dan gempa dahsyat Mentawai 2009, daerah ini hanyalah rural area yang mayoritas dihuni penduduk yang sudah turun temurun asli sini. Namun sejak pembangunan baru berusaha menjauhi garis pantai dari sebelah barat ke selatan, mulai banyak di daerah ini dibangun perumahan-perumahan baru yang dihuni pendatang belakangan. Terlebih sejak pusat pemerintahan kota dipindahkan tak jauh dari sini. Akses ke area kota lama Padang pun juga makin tidak sulit dengan jalan yang sangat lebar baik lewat simpang Stasiun Kereta Api Tabing ataupun lewat jalan by pass yang sedang tahap finishing menjadi enam lajur besar sepanjang hampir 30 km dari Pelabuhan Teluk Bayur hingga Bandara.

Pertumbuhan pembangunan di daerah Lubuk Minturun ini serta merta menghadirkan peluang bagi siapa saja yang hendak berinvestasi membisniskan modal yang dimilikinya untuk menciptakan profit. Tempat ini memang unik karena tidak sesumpek kawasan kota lama yang hanya dipenuhi bangunan layaknya kota-kota besar lainnya tapi di sela-sela pembangunan yang masih baru digenjot masih banyak terdapat lanskap persawahan dan ladang di sana-sini. Penduduknya pun makin ramai dan beragam karena akses transportasi dan telekomunikasi disini sudah makin sangat gampang. Sebagai contoh, jika ada yang mau berbisnis menjual makanan di tempat ini, saya lihat variasi jenis makanan saji pun belum begitu beragam. Selain warung nasi ampera tentunya, bisa disebut beberapa saja jenis makanan saji yang dijual. Khusus pagi menjelang siang yang ada hanyalah kedai lontong sayur, pical (semacam gado-gado), dan sate. Belum pernah ada disini yang menjual makanan seperti bubur ayam, ketupat tahu, sego pecel (versi jawa timur), nasi kuning, dan sejenisnya karena di Padang itu memang sangat jarang. Saya pribadi pernah mencicipi ketupat tahu yang sangat lezat bukannya di Kota Bandung atau Jakarta melainkan Kota Kecamatan di Pare, Kediri, Jawa timur malahan, tepatnya dekat pasar sayur atau rumah dinas Kapolres.

Siang hingga malam di Lubuk Minturun ini bahkan Kota Padang pada umumnya jenis makanan juga masih kurang variatif. Paling adanya Mieso/Bakso, Lotek, Pecel Ayam/Lele, sudah itu saja sepertinya. Kalau makanan ringan seperti martabak atau roti bakar atau gorengan mungkin cukup banyak bisa ditemui. Sementara Martabak Mesir di daerah Lubuk Minturun cuma satu yang ada, tepatnya di depan rumah saya hehe. Padahal tempat ini penduduknya makin ramai dan jika mencari menu makanan lain tentu mereka terpaksa pergi agak jauh ke Tabing atau Lubuk Buaya. Menurut hemat saya begitu beragam model makanan berat hingga ringan yang diciptakan di Indonesia ini alangkah menantangnya jika ada yang mau mencoba menghadirkan santapan baru di daerah ini. Mengenai peta detail dan lebih lengkapnya tentang "dompet" calon konsumen di tempat ini nantinya silahkan dilihat sendiri hasil sensus ekonomi 2016 supaya lebih update kalau sudah selesai nanti. Sebagai gambaran tambahan, kedai bubur kacang ijo atau ketan hitam juga tidak ada sehingga tongkrongannya lelaki malam disini cuma di warung kopi biasa. Sementara selain kampus Universitas Bung Hatta dan Baiturrahmah di dekat balai kota, kampus baru IAIN Imam Bonjol Padang juga akan segera selesai dibangun di bukit Sungai Bangek yang masih bisa dibilang daerah Lubuk Minturun juga. Di Simpang By Pass Lubuk Minturun juga terdapat Akademi Maritim Sapta Samudra yang para mahasiswanya rata-rata indekost disekitar kampusnya.

Sebagai orang yang juga biasa bolak balik ke perantauan di Pulau Jawa saya melihat jika ada di antara perantau minang yang ingin mencoba memindahkan bisnisnya ke kampung halaman bisa mempertimbangkan devoleping area semacam Lubuk Minturun ini. Daripada terus-terusan membangun negeri orang kenapa tidak membangun negeri sendiri jika bisa menemukan tempat atau lokasi yang pas dan cocok guna menghidupkan bisnis Anda. Jika di kampung sendiri tidak memungkinkan, daerah Lubuk Minturun yang akan jadi pusat keramaian baru ini kiranya boleh juga diperhatikan kemungkinannya. Lokasi yang strategis membuat dari tempat ini mudah untuk kemana-mana, baik pusat kota lama, luar kota, ataupun luar negeri lewat BIM Ketaping Pariaman yang hanya sekitar 10 km dari sini jaraknya. Sejauh ini memang saya sendiri baru terpikir lahan kosong untuk bisnis makanan yang sangat cocok untuk investasi disini. Kalau developer perumahan ataupun bangunan ruko apalagi membangun hotel mungkin butuh modal cukup besar dan keuntungannya jangka sangat panjang. Sementara usaha kecil-kecilan non makanan seperti konter pulsa, warnet, fotokopi, kedai groceries saya rasa sudah cukup kehandle dengan penduduk setempat yang ada saat ini.

Satu lagi ada keunggulan yang menarik dari daerah Lubuk Minturun ini selain lokasi strategisnya saat ini dan hawa udara/lanskapnya yang masih cukup sejuk. Keunggulan tersebut ada pada situasi sosialnya. Berbeda dengan pusat kota yang relatif sudah kehilangan tali sosial nuansa perkampungan, di Lubuk Minturun ini warga-warga pendatang kemudian relatif baru mulai masuk sehingga masih dominan dihuni oleh keturunan penduduk asli. Sebagaimana bisa dibaca lewat literatur pustaka, grup pendatang pertama Kota Padang untuk kecamatan-kecamatan selain pusat kota di sekitar Muaro Padang adalah nenek-nenek moyang kami yang turun dari daerah Solok menembus bukit barisan. Kakek saya sendiri masih tahu kampung asal orang tuanya di Saniangbaka tepian danau Singkarak. Jadi relatif yang dominan menghuni daerah sini orang-orang yang masih punya hubungan kekerabatan. Struktur sosial seperti ini membuat situasi keamanan relatif lebih terjaga ketimbang struktur sosial masyarakat heterogen kota yang sepenuhnya hanya terikat pada keluarga inti lalu langsung ke aparat negara. Di kawasan padang lama yang sudah sangat bercampur asal-usul penghuninya akan terasa berbeda sekali upaya penertiban hukumnya dengan daerah-daerah perkampungan yang selalu bisa diselesaikan dengan kekeluargaan. Bisa ditracing juga riwayat kriminal yang sangat jarang di daerah ini. Karena saling mengenal, calon pembuat onar akan malu untuk berulah disini. Demikianlah sementara asumsi yang dapat saya berikan untuk pertimbangan investasi ekonomi Anda jika berminat membuat pulang uang ke kampung untuk tujuan tetap produktif alias diputar lagi haha. Okay wassalim.

Lokasi ATM Bersama di Daerah Lubuk Minturun


Menyebut Lubuk Minturun biasanya konotasinya adalah daerah Tabing ke dalam atau ke arah atas menuju kaki bukit barisan dari pusat Kota Padang. Lokasi persisnya adalah sebuah kelurahan yang mana terdapat sebuah tempat pemandian umum dengan tebing tinggi yang di atasnya di lewati oleh jalan sebelum pertigaan penanda Lubuk Minturun ini. Penduduk kelurahan lainnya di sekitar tempat itu, yakni Air Dingin, Balai Gadang, Koto Panjang Ikur Koto, Koto Tuo, Tanjung Aur, Sungai Bangek hingga orang Pulai, Parak Buruk, Sungai Lareh, Air Pacah, dan Bungo Pasang pun lebih akan dikenal sebagai orang daerah Lubuk Minturun untuk mudahnya. Pada tahun 1990-an sewaktu aq masih SD cuma jalan Tabing ke Lubuk Minturun ini yang diaspal; itupun cuma satu lajur. Kini sejak tahun 2013-an, semua jalan utama kelurahan lain sudah diaspal; cuma tetap jalan Tabing-Lubuk Minturun inilah yang lajurnya paling besar selain jalan raya Padang-By Pass yang mau finishing jadi enam lajur besar dengan pembatas di tengahnya.

Itu baru jalan beraspal; boro-boro mesin ATM. Kartu ATM pun mungkin baru dikenal orang sini sejak 2000-2010-an ketika mulai banyak orang luar/pendatang masuk dengan mulai banyaknya dibangun komplek perumahan baru yang seiring perpindahan kantor balai kota dari Pasar Raya/Padang Barat ke Air Pacah. Seingat saya sebelum 2010-an mesin ATM terdekat ke Lubuk Minturun cuma ada di Simpang GIA/Bandara Tabing, Bank Nagari Tabing, dan Pasar Lubuk Buaya. Pasca 2010-an mulai ada ATM di Rumah Sakit/Kampus Baiturrahmah kemudian kantor walikota. Lalu sekitar mungkin setahun lalu ada ATM milik BRI di Air Dingin yang terdapat banyak komplek rumah mewah baru berdiri. Kemudian beberapa bulan kemaren sudah pula berdiri mesin ATM BRI di Simpang By Pass Koto Panjang Ikur Koto yang merupakan perempatan menuju empat arah: Balai Kota/Teluk Bayur, Simpang Tabing, Pemandian Lubuk Minturun, dan Bandara/Luar Kota.

Jika Anda jalan-jalan ke Lubuk Minturun maka urutan mesin ATM yang terdekat bisa Anda temui adalah ATM BaiturrahmaH/Simpang Tabing kemudian ATM perempatan By Pass menuju lokasi pemandian Lubuk Minturun tadi dan setelah melewati tempat pemandian ini barulah ATM Air Dingin. Sebagai tambahan yang saya belum sempat cek di Pesantren Ar-Risalah mungkin juga ada ATM tapi lokasinya jauh masuk ke arah gunung. Kemudian nantinya jika kampus IAIN baru sudah aktif mungkin juga akan ada mesin ATM; cuma juga lokasinya sudah di pinggang perbukitan Sungai Bangek. Lokasi ATM paling mudah dijangkau yaitu yang di perempatan lampu merah By Pass-Lubuk Minturun tadi yang sementara ini cuma ada satu mesin BRI pecahan lima puluh ribu yang tentunya bisa digunakan untuk jaringan bersama dan prima. Jadi kalau Anda hendak "flower shopping" ke kawasan agrowisata Lubuk Minturun ini--yang banyak terdapat di kiri kanan jalan mulai dari simpang by pass ini sampai pertigaan Lubuk Minturun nanti--ndak perlu repot lagi bawa tumpukan uang cash dari rumah. Kalau pembayaran dengan kartu kredit sepertinya belum ada disediakan para petani bunga tersebut. Menarik menyaksikan ketika teknologi pembayaran modern mulai hadir saat amak-amak di pasar tradisional di Lubuk Minturun ini masih saja menyimpan uang kartal hasil transaksi harian tersebut di balik kutang barendonya sebagaimana tradisi lama hehe.

NB: Nanti klo sempet akan aq lengkapi dengan foto, mudah-mudahan tidak dicurigai sebagai anggota sindikat kejahatan, mohon do'anya, okay!

Media Kak Tarsis Dalam Karyo The Asu Sastrooo

Seorang koruptor zaman Orde Baru yang lolos dari pengawasan Indonesian Coruption Watch bersantap malam bersaama keluarga besarnya. Sambil me...