Minggu, 13 Februari 2005

LELAKI FAUJAH

Ia berdiri, menatap ke luar jendela. Bukan pandangi langit dengan sia. Tapi kosong. Mata menerawang. Entah kenapa, bisa-bisanya sekarang batin yang bicara. Dan apa betul ini batin? Ah, hidupku ini terlalu indah untuk kutinggalkan. Bah! Apa yang ada sekarang terlalu nikmat untuk dilepas. Bangsat!! Apa yang ada dalam otakku ini. Iblis! Persetan….Persetan nurani! Laki-laki itu hampir saja membanting genggaman gelas di tangannya. Tapi keburu sentuhan tangan nn.Barbara lembut membelai kepalanya.
“Hmnsijidjieioeofjfjjgj.”
“Dsheufmfkfklrorklf!”
“Mhshdriucvufnfhjfjfjfjfjhgfujfgjfififiktfrjfu.”

Kembali aku ke tengah ruangan tempat pesta dilangsungkan. Dengan tangan saling bergandengan, aku dan nn.Barbara berdansa mengikuti musik yang mengalun. Sambil berpelukan, di telingaku ia terus membisikkan: apa yang kuharap dari bangsa yang tenggelam dalam kebodohan dan kehinaan ini? Dan, ketika berhadapan lagi dengan pertanyaan seperti ini, biasanya aku selalu hanya mengiyakan. Aku selalu tertawa terbahak-bahak bagai berhadapan dengan sebuah lelucon yang sungguh dahsyat. Memang. Apalagi yang kuharap dari bangsaku yang bodoh ini. Mereka semua makhluk-makhluk hina yang bisa dengan gampang ditindas. Seperti sekarang. Seperti sekarang…, ah, sekarang akulah yang ditunjuk guna menjadi pimpinan atas mereka. Rakyat yang bodoh ini! Rakyat yang hina ini! Dan aku adalah anak bangsa ini! Oughhh, sepertinya sekarang aku tak sanggup lagi tertawa mendengar lelucon nn.Barbara tadi. Dan aku kembali lagi mendengar suara-suara sayup seperti tadi.
Di luar sana. Diantara kepulan asap dan bising letupan segala macam senjata, pria-pria pemberani kota ini turun serta ke medan pertempuran mempertahankan harga diri. Ya, harga diri. Dan pada saat-saat seperti itu, memang akan terasa semakin tak berbatas jarak antara hidup dan mati. Mengapa mereka mau? Ya tadi, soal harga diri. Untuk itu mereka pertaruhkan jiwa. Mereka tak mau tunduk pada orang-orang asing yang sekarang sedang menjajah ke tanah mereka. Mereka turun, mereka turun angkat senjata! Melawan! Mempertaruhkan nyawa! Ah, lihat disana. Di jalan-jalan sana. Entah sudah berapa onggokan tumpukan mayat penduduk kota ini bergelimpangan.
Dan mereka saudara-saudara sebangsaku…
Telah sejak kecil aku dibesarkan dalam lingkungan barat, aku pun mendapat pendidikan barat, dan terdidik sebagai manusia barat. Tapi darahku Irak, darah ini adalah saripati tanah Fallujah. Hingga tiba saat untuk kembali ke sini. Barat sedang membutuhkan aku guna menjadi “orang pilihan mereka” untuk memimpin tanah airku. Dan untuk sebuah pekerjaan yang bergelimangan harta siapa yang tak mau. Huh, orang-orang bodoh dan hina yang memberontak itu biar kutangani dengan cara baratku. Tak sadarkah mereka bahwa mereka harus berubah. Segera! Menjadi barat. Seperti aku. Ya! Saddam telah disingkirkan maka selamat tinggal masa lalu. Hei segenap rakyat Irak, jadi BARATLAH kamu! Teman-temanku, relasi-relasiku, kroni-kroniku, konco-koncoku, hingga kencanan-kencanan aku meyakinkanku tentang pentingnya untukku membuat rasku, bangsaku juga menjadi barat seperti aku. Maka aku dukunglah bagi barat melabuh sauh disana. Uang! Minyak! Ya wajarlah teman-teman baratku juga punya kepentingan akan itu. Akupun saja juga.
Tapi bagaimana dengan pria Irak lainnya? Oh, lihat disana, di jalanan-jalanan sana: para lelaki Fallujah! Mereka begitu tegar mempertaruhkan nyawa. Bagaimana mungkin mereka akan mampu mengahadapi modernnya senjata tempur teman-teman baratku, dan juga cerdasnya taktik strategi jenderal-jenderal perang barat itu. Mereka hanya bermodalkan senjata-senjata bekas dan ala kadarnya yang mereka punya. Tapi toh mereka melawan juga. Dan uh, lihatlah betapa tiap sebentar aku harus mendengar kabar tercabik-cabiknya potongan-potongan tubuh mereka dimakan senjata. Ah, salah sendiri. Tapi…, ah tidak, memang salah sendiri. Kenapa mereka mau saja hidup sengsara seperti itu dengan jalan memilih menjadi seorang pemberontak. Kenapa mereka masih saja membela perikehidupan mereka yang hina itu. Kanapa mereka tidak…seperti aku, menggabung pada bangsa barat agar hidup lebih beradab. Walaupun…ya…kesannya teman-teman baratku menjajah datang kesini, tapi toh kalau dengan itu bangsa ini bisa berperi kehidupan lebih baik,…why not?
“No way…!!!!!”
“Hah,” tiba-tiba aku teringat pada Sarief al Basr, kata-kata penolakan itu ia lontarkan dengan lantang kemukaku sewaktu di suatu hari saat kami suatu kali sedang bercakap. Sarief, seorang teman yang brilian pemikirannya, keras pendirian dan sifatnya, tapi sangat halus akhlak dan tingkah lakunya. Sebetulnya Sarief juga masih ada hubungan keluarga walau cukup jauh denganku. Keluarga kami, seperti umumnya bangsa Arab yang kuat ikatan pertalian darahnya, masih cukup mengenal dengan baik keluarga Sarief. Berbeda denganku yang telah sedari kecil dibesarkan di luar negeri, Sarief menghabiskan masa kecil dan remajanya di Fallujah. Baru setelah ia berkuliah ke luar negri, kami bertemu disini. Ia berasal dari keluarga tak mampu dan keluargakulah yang membiayai pendidikannya disini, mungkin sebab potensi yang dimilikinya maka ia berhasil mencuri perhatian keluarga kami. Dan aku, walau sebenarnya kurang sreg juga dengan pemuda yang, yah, kampung ini, tapi entah kenapa ada sesuatu yang menarik dalam pribadi Sarief yang membuat aku betah kalau sedang berhubungan dengannya. Dan ya, mungkin karena sifat-sifat dasarnya yang halus itu tadi, Sarief memang sosok yang hangat dan selalu menyenangkan bagi orang lain. Kepribadian yang sulit untuk ditemui di tengah-tengah perikehidupan barat tempat kami menimba ilmu. Sulit mencari sebuah ketulusan dalam sikap orang lain disini, dan aku sangat senang sekali menemukan kejujuran pribadi seorang seperti Sarief. Tapi sifat kerasnya juga tak tanggung-tanggung pula, meski kadang kuakui aku cukup menikmati pula sikap blak-blakannya itu.
“Buatku, meski untuk sekarang ini kita harus mengakui bahwa bangsa barat dapat menciptakan tatanan hidup bermasyarakat yang lebih beradab dan menjadi patokan dalam menilai kemajuan sebuah bangsa, bukan berarti kita harus merasa lebih rendah apalagi harus merendah dihadapan mereka. Sekali lagi tidak! Tak perlu pula kita mengungkit sejarah bahwa bangsa kita juga pernah memiliki peradaban yang tinggi dan bangsa barat itu di suatu masa juga pernah hidup dalam keadaan yang sangat bar-bar, pun sebagai sesama umat manusia kita harus sanggup sama-sama menegakkan kepala. Masing-masing bangsa punya sejarah dan cara hidup tersendiri yang harus diletakkan dalam posisi saling menghormati. Ada hal-hal yang buruk pada kita, memang, harus kita perbaiki dan kita belajar hal-hal yang baik yang bisa diambil dari barat, tapi itu bukan berarti menghinakan diri sendiri ke hadapan mereka. Apalagi harus melacurkan diri untuk kepentingan mereka!”
Puih! Apa si Sarief itu akan dengan enak saja menuduhku sebagai pelacur. Tidak! Aku adalah barat dan aku memang hidup dengan cara mereka jadi wajar aku bekerja untuk mereka. Aku tidak suka cara hidup mereka-mereka yang memberontak di jalanan itu, sangat tidak terhormat. Dan darah Irak ini, darah Fallujah ini, bangsat! Mengapa harus mengalir di tubuh ini. Tubuhku mengeras, otot-ototku mengeras, saraf-sarafku mengeras, otakku panas, bangsat! Bangsat! Sial! Terasa kemarahan di mata ini, terasa geraman dan teriak menyumpal di mulut ini, terasa jantung ingin meledak ke dalam hati ini. Nafasku memburu. Sial! Sial!
Dan Sarief al Bashr, lelaki goblok itu pasti sekarang sedang dengan lantang bersuara memberi perintah pada gerombolannya untuk terus melakukan perlawanan terhadap pasukan koalisi, tentara kami. Aku terkejut juga ketika mendapat informasi tersebut beberapa saat setelah aku ditugaskan sebagai perwakilan pemerintahan tentara koalisi di kota ini. Sarief, ialah salah satu otak perlawanan terhadap tentara pendudukan di kota ini. Orang yang terus terang aku kagumi akan sosoknya yang sangat membangkitkan harga diri kami sebagai orang timur di tanah perantauan. Dengan ketangkasan dan citra terhormat Sarief yang membuat segan dan kagum banyak orang itulah kami mahasiswa yang berdarah timur lainnya juga terbawa punya harga diri. Sebagai pemuda Arab, ternyata Sarief dengan segala kemampuan dan kecerdasannya itu telah mampu membuat ia punya tempat terhormat tersendiri di tanah barat yang beradab ini. Bangsa barat meyeganinya. Bangsat! Sekarang ia malah pergi ke jalanan dan lorong-lorong persembunyian itu untuk mengabdikan diri kepada sesuatu yang katanya, bangsat, idealisme…ya, idealisme bangsat itu. Buat apa? Lihatlah aku. Akhirnya sekarang Barat membutuhkanku umtuk menanggulangi manusia-manusia bodoh sepertimu Sarief. Ya, setiap potongan tubuhmu artinya adalah uang buatku. Dan sebentar lagi kau akan berakhir. Aku telah memerintahkan operasi yang tak tanggung-tanggung kepada tentara koalisi untuk segera mengakhiri pemberontakan di kota ini. Ya, kau bakal segera dihabisi! Dihabisi!
Haaarrrggghhhhh…!!!!! Makian itu akhirnya meyembur sekuat tenaga dari mulutnya. Dan tangan itu, semakin kuat otot-ototnya mencekik leher nn.Barbara. Semua orang yang sedari tadi tak sanggup memisahkan tubuhnya yang betul-betul telah mengeras mencengkram tubuh nn.Barbara itu hanya bisa tertunduk lemas saat nn.Barbara menghempaskan hembusan nafas terakhirnya. Dan laki-laki itu terpana…

Padang, 27 November 2004


-------------
-------------
keywords, content:

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city
-----------------
-----------------