Kamis, 19 Juni 2008

Ayat-Ayat Cinta, ceileee

kemaren, akhirnya, ikut2an juga nontonin Ayat2 Cinto. setelah seminggu ndak kena sinar mentari, maklum gw kembali lagi ke siklus kehidupan jahiliah: siang waktunya tidur dan malam nyari inspirasi, akhirnya tak ada awan tiada angin muncul bang zal ngajak liat2 film cemen itu. dan seperti sudah kuduga, meski keliatannya banyak juga orang yang terharu, saya merasa ndak begitu rame dibanding saat baca yang lebih mengoyak perasaan di novelnya sendiri. tapi ini yg lebih bikin kesel, orang2 menyangka kami pasangan gay (padahal sama sekali benar, haha). maklum gw datangnya sama mai… alias mairizal, haha. langsung aja si mai tapi rizal ini melabrak salah seorang di sana:
“apa lu bilang gw homo?!”
“enggak, gw ndak bilang.”
“ayo ngaku aja lu mau bilang gw ini homo!”
“suerr bang, awak ndak ngomong apa2 dari tadi….”
“itu mimik muka lu seolah2 mau bilang bahwa kami ini homo brengsek!”
“hah?”
ia tumbuk bibir orang yang terlihat monyong keheranan itu. walau yang bersangkutan tidak mengucapkan langsung tuduhan tsb secara verbal dan eksplisit, ekpresi mukanya yg terlihat bersilau2 menatap kami sudah terlanjur begitu melukai perasaan ini. lengkap sudah penderitaan saya hari sial itu. tapi ndak apa2 ini demi menghibur bang rizal yang lagi stress berat ini. dikejar2 sama nyong ambon pake golok segala ceritanya di jkt sana. emang mending die pulang kesini karena orang timor sana udah ga punya otak kalo urusan duit. oya wong edan, seandainya mana tau anda baca ini, utang bang zal nanti biar gw yg bayar. tapi 10 tahun lagi karena sekarang gw kudu nyari duit sendiri. hahaha
tentang ayat2 cinta ini, terlalu banyak yang mesti dikomentari. singkatnya gw mau nguntil lagi ucapan si suster maria tsb: “ternyata cinta dan keinginan untuk memiliki itu tidak sama”.

kemaren juga nonton Indonezian Movie Award di er-ze-te-i. cukup kecewa karena saya gagal meraih oscar untuk kategori pemeran utama pria terunik. tapi ada satu yang spesial, di sono gw liat mbak djenar mahesa ayu bersastra-wangi lewat pakaian minimnya, duh.. apalagi membacakan nominasi bersama sarah sechan yang juga aduhai, ah.. mataku terbelalak, air liurku jatuh ke lantai, dan jantungku berdegup sangat kencang dengan detak yang tiada beraturan. “mbak ayu kapan kita bisa bersetubuh?” sms-ku. “ayo kalo mau begituan ke sini dong sekarang,” balasnya. “malu ah..” tapi anuku menegang. “sampeyan kan udah ada yang ngegilir tiap malam..” sambungku dan sesuatu di bawah memuncak hingga semakin tegang. “sekarang punyaku ini sanggup dimasukin dua sekaligus loh,” ujarnya layaknya tante girang. “ok bye..” perutku mual, rasanya mau muntah dan sesuatuku tadi terasa telah menjadi layu kembali. hahaha. mbak djenar mahesa ayu seandainya baca ini jangan marah ya, becanda. kutunggu loh prosa2 sampeyan berikutnya. saran saya sih ndak usah terlalu vulgar dan cabul. udah ga jaman. sekarang trennya model ayat2 cinta, genre romantisme religius. hahaha. mencari nafkah dengan menjual sila keuangan yang maha esa. eh salah, ketuhanan yang maha ika. bhineka tunggal ika. ga nyambung kaleeeeeee.

nb: aku rindu kepada engkau yang kemaren. gadis baik-baik sebagaimana pertama kali dirimu kukenali. tapi kalo pun engkau memilih jalan hidup yang seperti ini sekarang percayalah aku tiada pernah membencimu. aku selalu menyayangimu karena kuyakin cinta tidaklah harus memiliki. dan aku akan selalu memelihara kenanganku tentang engkau yang dulu di dalam hati…

Maret 29, 2008


-------------------------
key:
ayat cinta homo ayat cinta homo ayat cinta homo ayat cinta homo ayat cinta homo ayat cinta homo ayat cinta homo ayat cinta homo ayat cinta homo ayat cinta homo ayat cinta homo ayat cinta homo ayat cinta homo ayat cinta homo ayat cinta homo ayat cinta homo ayat cinta homo ayat cinta homo ayat cinta homo ayat cinta homo