Kamis, 11 Desember 2008

WEM TAYLOR

Setahun lebih daku tiada menjamah bisnis konveksi yg berada di sebelah rumah ku eh rumah sebelah ku. Beberapa bulan ini aku cuman tidur di atas kursi ruang tamu yg ukuran nya lebih pendek beberapa milimeter dari ukuran tinggi ku dan beberapa bulan sebelum nya sering nya tidur di antara mesin2 jahit di rumah sebelah tsb. Tiada terlintas di benak tak babanak ini utk menyentuh bisnis menggiurkan tsb. Sewaktu diadakan pelatihan bordir selama sekitar seminggu beberapa waktu yg lalu daku pun cuma ikut dapat jatah makan. Menjahit kasoer ku yg udah soak pun ndak bisa (tepat nya males hehe). Waktu didatangkan tehnisi yg ngajarin benerin mesin jahit yg bermasalah daku pun tiada nongol ke sana. Bahkan ketika bertemu dgn bapak pelatih yg kabar nya udeh malang melintang di berbagai perusahaan garmen di Jawa Barat tsb di sebuah toko lontong pagi kami pun tiada bertegur sapa. Cuih, bejat nya diriku. Padahal my mother udah keluar duit begitu banyak buat bayar orang "brengsek" tsb.


Nah, secara kebetulan dan mendadak, aku pun ditugas by the mother fucker buat ikut diklat manajemen konveksi di BDI ATIP Tabing. Maka ikut lah aku meski sebenar nya "males" banget. Tentu saja kuliah manajemen nya masih bisa kuserap dgn baik, namun tetep saja tanpa skill n minat pada teknis jahit menjahit ngikutin diklat selama 4 hari tsb cukup membuat bete dari segi tertentu. Tapi ndak apa, jadi ada refreshing. Seharus nya para peserta nginap di sana karena kuliah nya seharian, tapi karena deket ekey bolak balik wae. Finally, akhirnya di sana--setelah sekian lama--aku bertemu dgn kasur empuk (ya, saya kira salah satu kenangan terindah di diklat ini adalah ranjang empuk nya [sangat disayangkan tidak dilengkapi suguhannya]). Kalo capek ngikutin ceramah2 membosankan tsb aku biasa tiduran aja di kamar yg deket ruang diklat nya tsb. Enaaaaaak, zzzzzzz.

Meski membosankan tapi di sini aku mendapat rekreasi dgn berinteraksi dgn sesama manusia lagi; tentu saja salah satu nya godain cewek (ah yg ini ndak usah dibahas lah, menjemukan tapi indah). Jikalau orang2 mulai praktik menjahit terpaksa aku lihat2 saja. Ya emang pelatihan ini ndak efektif, karena menceramahi segi manajerial ke orang (ibu2) yg kapasitas "maaf" otak nya kurang tertarik ke sana. Tapi biasa lah proyek akhir tahun ni yeee. Sebetul nya di sana ada juga anak2 gadis yg juga tak terlalu menguasai konveksi spt aku, alias asal ikut. Tapi tetep aja gw yg paling parah.

Segi manajemen nya tentu saja aku bisa untuk tertarik berdiskusi setidaknya dgn tutor nya, tapi yah (spt biasa) gara2 penampilan aku dari awal udah dicap jelek dan kemudian ndak enak juga terlalu banyak omong. Seperti kata pey "pks" satriani nanti dikira buang "em". Ketika di hari terakhir mesti ke depan beberapa menit buat presentasi usaha yg digeluti mau ndak mau akhir nya aku bahas aja yg gw kuasain dan toh masih ada hubungan dengan konveksi, yakni sablon kaos digital. Hahahahah, secara teoritis sebenar nya udah menguasain tinggal praktik. Entahlah marisol, bukan ndak mau nyari duit, apa iya ada pemuda yg nyaman membiarkan diri nya hidup miskin begini sementara keinginan untuk menyunting seorang gadis sudah membuncah hingga ke ubun2?? Wuih, terlalu banyak yg harus dibahas...

Back to topic, dan di hari terakhir itu tentu saja kami dapat uang saku. Ckckckckc, lumayan buat biaya ngenet 2-3 bulanan. Tentang manajemen konveksi nya sendiri, sampai sekarang aku masih memendam keinginan utk buka usaha sablon digital, warnet, wargame, toko buku, hingga cafe (kalo tetep di rumah). Ha barangkali menunggu kristalisasi, sekarang fokus dulu bagaimana cara mendapatkan akses internet, berbisnis di sana, tidak perlu mengeluarkan duit yg aku sendiri emang ndak punya, dan selanjutnya tetep hidup bersahaja. Ceileeee freegan style, bukan; zuhud juga sepertinya ndak; linglung kali ya. Yang jelas idealisme mesti tetep ada and wem taylor kapan2 aja lah yaww..

Belajar di universitas adalah untuk membentuk pola pikir. Program S1 adalah mendidik karakteristik dan pemikiran konseptual. D3 dan di bawahnya lebih practical. S1 memang tidak mendidik SDM untuk siap kerja, tapi lebih tepat disebut “siap terap”. Pemikiran konseptual penting karena ini berpengaruh di daya nalar, pemikiran algoritmik, teknik pemecahan masalah dan metode untuk mencari kebenaran. Praktek lapangan memang menyenangkan dan kadang melenakan, karena semua lebih terang benderang. Menurut saya kombinasi keduanya akan menjadikan kita lebih bijak, tajam berpikir, runut menganalisa dan solusi sesuai dengan kenyataan di lapangan. (RSW)