Sabtu, 28 Februari 2009

BERANI MENIKAH

Ini adalah sebuah tulisan yang cukup menarik, menurut selera sayah. Di-pos-kan oleh saudara Bungzhu Zyraith pada sebuah blog komunitas bloger sumatera. Link sumbernya ada di akhir artikel ini. Tak ada salahnya kukira berbagi dan kukutip utuh. Saya juga tak mau banyak ceracau, nanti dikira jadinya gue banget. Ndak lah, meski mungkin memang gue banget makanya menarik hati namun ku juga ndak pengen dibanget2 makanya ndak banyak komentar juga. Tapi yang jelas tema tulisan ini memang sesuai dengan kegelisahan pikiran guwe (bukan sekedar soal pribadi) mengenai kenyataan standar sosial yang "rusak" sekarang ini. Lihat saja fenomena aborsi dll (dari sedikit yang terungkap) belakangan ini. Ada yang sedang ndak beres dengan lakon alamiah "percintaan serius" di tengah standar sosial masyarakat kita yang tengah pangling/linglung akan arah/pedoman. Namun lain waktu lah aku akan secara khusus nulis tentang ini. Oke, langsung batca dulu aja yang atu ni dech:

Otak Kiri terlalu rasional, sedangkan otak kanan irasional. Semakin orang pintar terkadang semakin rasional. Agar punya pengalaman yang unik dalam pernikahan, menikahlah dengan dengan yang beda suku dan daerah asal. Karena akan sangat unik. Kalau terjadi pertengkaran tidak akan lari ke mertua. Dengan menikah jauh itu, minimal orang semiskin-miskinnya pun akan naik bis antar kota antar propinsi. Jangan terlalu rumit-rumit menikah itu, permudahlah.


Hati-hati yang uangnya terlalu banyak dan pendidikannya terlalu tinggi, biasanya perhitungannya terlalu matematis. Bila menikah itu tidak cocok justru itu menarik karena ada tantangannya. Bila menikah itu kurang cinta, justru itu luar biasa paling menarik. Karena banyak yang pacaran lama tapi akhirnya putus. Nikah itu tinggal bersabar dan bersyukur.

Jangan terlalu banyak rumus dalam pernikahan. Maka jika ingin siap menikah, sabarnya harus sangat bagus dan syukurnya pun harus sangat bagus. Orang yang sangat bagus adalah orang yang dalam posisi sabarnya sangat baik dan syukurnya sangat baik, karena dia akan bersabahat. Karena nanti masalah akan selalu ada. Kalau sabarnya sangat baik, syukurnya sangat kurang, nanti pasif terhadap masalah. Kalau sabarnya sangat kurang, syukurnya sangat baik, nanti pasif pula terhadap masalah. Sedangkan, bila sabarnya sangat kurang syukurnya sangat kurang, maka reaktif terhadap masalah. Bila kita siap menikah mari kita nikmati segala kekurangan pasangan kita, karena latar belakangnya yang berbeda. Yang penting kita tingkatkan rasa sabar kita dan rasa syukur kita. Tidak ada masalah itu. Tidak rumit-rumit amat, biasa saja.

Bila kita memikirkan menikah itu susah, maka susah betulan. Bila kita memikirkan bahwa menikah itu mudah, maka Allh akan memudahkannya, sebagaimana hadis qudsi "Allah itu sebagaimana persangkaan hamba-Nya".

Keberanian itu penting. Banyak laki-laki yang minder tidak berani karena tidak ada pekerjaan, maka pihak wanita jangan terlalu menonjolkan optimalisasi dirinya. Dan kaum wanita pun harus berani menyatakan. Permasalahannya adalah yang penting gerak, bukan hanya siap-siap saja. Oleh karena itu proklamasikan diri kita bahwa kita adalah orang yang pemberani untuk menikah.


sumber tulisan,
http://andalas-comunity.blogspot.com/2008/12/berani-menikah.html