Kamis, 09 April 2009

PARIWISATA PADANG BY AKU

Dengar punya lihat salah sanu isu yang cukup gejreng dibicarakan adalah tentang pariwisata. Terutama karena disini ada duit. Di tangan saya saat ini tak ada data statistik saklek untuk mengargumentasikan tentang pentingnya kue ekonomi dari sektor pariwisata dalam perputaran uang di kehidupan rakyat negeri zamrud khatulistiwa ini. Alhamdulilah saya juga kurang giat untuk memiliki akses referensi online yang instan dus rentan tersebut (bahkan saja untuk mencari rujukan offline saya sepertinya kudu jalan kaki sejauh sekitar mungkin 20 kilo meteran guna sambil jogging track ke perpustakaan daerah provinsi sumatera barat yang, alhamdulilah lagi, sekarang kelihatan lebih ramai dibanding jaman2 aku jadi remaja bandit salon2 padang theater 10 tahun silam). Walhasil dengan pede dan taktahu malunya guwa cuma nyatakan sepengetahuan guwa: cukup besar. Walaupun kabarnya dari segi dana APBN yang dialokasikan--akuan pejabat eselon tinggi--pada depbudpar sangatlah kecil, tapi dana2 (bahkan yang liar) di luar itu sangatlah besar. Salah satu indikator kasat mata yang cukup bisa dijadikan patokan adalah menggiurkannya bisnis penerbangan serta yang terkait untuk masa sekarang ini. Bagaimana dengan pariwisata padang by aku?


Dari apa yang saya dengar2 lagi--guwa kayak kakek2 jomplo yah yang tahu informasi sekarang hanya bisa dari dengar siaran radio nasional--di koto padang ini pun lagi gencar2 lagi gema program proyek wisata resmi oleh pemerintah nan tentu disokong asita niy. Bahkan pak tua penulis posting ini sempat mendengar pula tentang kepergian pak walikota ke dubai nan barangkali salah satunya studi banding wisata barat ala timur tengah yang me-mix islam dengan modernisme. Cuma dari dulu sayah dengar sepertinya wacananya tak bergerak2 dari pemikiran tentang apa yang dimaksud pariwisata yang sesuai dengan budaya setempat tersebut. Dan pergulatan pemikiran memang sesuatu yang berproses tanpa selesai, bahasa gaulnya dialektik, sementara langkah2 praktis toh telah diambil bagi orang2 yang cekatan di asita melihat pel(uang). Hidup adalah perbuatan, kata Soetrisno Bakhil. Lalu apakah dengan meniru dubai persoalan akan selesai? Secara praktis bisa jadi ya, secara konsep sudah pasti tidak. Dan uang memang bukanlah sekedar abstraksi ideal.

Kemudian masalah timbul lagi jika kita bertanya apa itu "sesuai kultur setempat"; apakah memeras, mengicuh, dan pasang muka masam atau menjilat adalah juga bagian dari kebudayaan luhur setempat? Sementara padahal perbincangan tentang apa itu adat basandi syarak sbk pun juga adalah kabut awan gelap kiblat kultural tersendiri. Makanya memang takperlu pusing2, biarlah segala kerumitan itu memang jadi gaweannya para manusia2 bego yang mau2nya hobi berpikir selain demi tujuan uang yang nyata, wanita yang bukan sekedar khayalan, dan kekuasan (entah setingkatan manapun). Praksisnya roda ekonomi akan tetap berjalan. Secara acak quantum akan selalu ada peluang2 emas yang bisa diraih "pedagang2" yang jeli membaca situasi dan kondisi lokal-regional-spesifik-praktis-pragmatis. Tentunya mesti disokong kongkalingkong dengan otoritas berwenang sehingga menjaga "silaturahim" itu penting. Toh ini negeri yang hukum dan segala peraturan sekedar hiasan dinding kelas2 reot dan hafalan murid2 SDuntuk lomba cerdas cermat P4 karena praksisnya di lapangan semua bergantung pada "kebijaksanaan".

Dan situasi (agak mirip) hukum rimba di negeri kita ini dapat kita lihat petandanya pada kaburnya arah tujuan peradaban bangsa besar ini (selain fatamorgana adil dan makmur tersebut). Bidang pariwisata sedikit banyak telah menyumbang bagi masuknya budaya "negatif" dari luar. Bukan karena "branded" dari barat hebat melainkan karena kita tak punya "identitas" lagi. Kita mungkin takperlu terlalu jauh2 mengambil contoh bagaimana negara2 adidaya memformulasikan kepentingan nasionalnya. Toh pemilu dengan cara mencontreng saja masih jadi sesuatu yang heboh makanya dibolehkan saja mencoblos seperti Kamerun. Ini bukan tentang menghina orang2 bodoh karena masyarakat primitif terasing sekalipun punya keistimewaan sesuai takarannya. Ini adalah tentang pembodohan, pemiskinan dan sejenisnya yang terus terjadi pada rakyat kita yang entah apa siap menghadapi segala "kemajuan" barat dengan identitas yang konseptual, terukur dan tak sekedar membeokan lagi doang pepatah petitih yang digagas nenek2 moyang primitif kita sejuta tahun sebelum masehi yang silam lamanya!

Ini adalah nusantara. Sebuah negeri dengan begitu banyak gugus kepulauan. Secara sejarah bangsa ini telah begitu berjasa membuat oportunity untuk memperkaya orang2 yang terjun ke dagang2an. Beda dengan masyarakat agraris di daratan ataupun nelayan di lautan. Ini adalah negeri yang menguntungkan bagi yang senang mengail keuntungan dan mencuri2 kesempatan. Karena ini adalah rimba besar kebudayaan. Tak ada kepastian hukum karena hukum ada di kaki kekuasaan (baca: kekuatan) dan perkawanan. Hyang kuat itulah yang menang, tidak peduli salah atau benar karena dalam dagang segalanya akan dikompromikan. Karena tujuannya jelas dan fokus: money money. Beruntunglah kita koto padang ini punya seorang walikota yang eks perwira marinir sehingga cukup "berkekuatan". Dan berdoa sajalah arah liar bisnis pariwisata yang menggiurkan ini tetap akan terkontrol sehingga tidak secara taksadar akan merugikan bangsa ini dalam hal jauh ke depan. Oportunity yang senantiasa terlihat oleh mata2 jeli ijo para pedagang bisa cukup disaring sehingga secara konseptuil, sekali lagi substantif, tidak justru lebih berdaya rusak bagi ke-obscurd-an identitas masyarakat2 yang lapar money money ini.

Tentu semua ini hanya jika dan harus akan terbaca juga oleh kekuatan pikiran, wawasannya, dan pengetahuan. Dan praktiknya di kenyataan juga tak semudah bercuap2 ria lewat esei longgar dan sangat sederhana ini. Seorang pemimpin mesti berhadapan dengan sekian banyak pertimbangan yang setiap putusannya berakibat nyata bagi kehidupan masyarakat yang dipimpinnya. Dan sangat rumit komplikatit. Bisa saja ada kebijakan anggaran, misalnya, untuk jor2an iklan di radio milik sepupunya ipar dari menantu paman istri ketiganya. Atau ada anggaran proyek yang disunat staff di bawah yang sangat menjadi miskin karena sebagai pegawai mesti terlihat gengsi bergaya menyediakan anggaran dalam kemewahan. Dan seorang pemimpin mesti berani mengambil tanggung jawab dan pertanggungjawaban atas bermacam2 soal tersebut. Makanya ia haruslah orang yang terbaik dalam masyarakatnya. Pun begitu saking beratnya tugas seorang pemimpin ia masih membutuhkan doa dari kita semua. Mari doakan, aminnnnnnn... Lho, koq jadi bicara tentang kriteria kepemimpinan bukannya pariwisata?