Selasa, 12 Mei 2009

BOEDIONO AS SBY NEXT VICE PRESIDENT?

Makanya ini lagilah pula kecerdikan SBY menerapkan teori manajemen konflik. Nama Boediono sengaja dihembuskan lebih awal untuk melihat dinamika yang akan terjadi. Dengan demikian lalu ia akan berbagi beratnya beban pilihan yang harus diambilnya, karena dengan "isu" ini partai2 lain dipaksa untuk ikut keras berpikir tentang bagaimana solusi terbaik "bersama" untuk cawapres SBY dengan sekaligus membangun koalisi yang kuat.


Baru aja gw denger RRI kalo ternyata ada berita bahwa SBY men-choose Mr. Boediono, Gubernur Bank Indonesia, sebagai cawapresnya. Kabar ini mungkin keluarnya kemaren malam. Wah, dalam waktu singkat artikel yang baru kuposting kemaren tentang "SBY soulmate" jadi ndak laku nih karena terkoreksi oleh kabar teranyar ini. Gila, cepatnya peristiwa berlalu. Tapi ini belum final, karena kabarnya deklarasinya sendiri tetap sesuai jadwal tanggal 16 besok (sehari sebelum penutupan pendaftaran cawapres). Jadi masih agak abu2. Jadi taksalah kiranya postingan ini jadinya toh ndak terlalu meng-kick out artikelku sehari yang lalu sebelum ini tersebut. Jadi judulnya kuberi tanda tanya supaya secara reseptif pembacaan tidak terlalu mendelegitimasi artikel sebelumnya. Lagi pula memang begitulah faktanya, pencawapresan Boediono masih agak absurd. Tapi ini bagiku membuat sebuah terang baru: ini satu lagi strategi "cerdas" SBY.

Ya, pintar banget. Sebagaimana kita ketahui dialektika capres-cawapresan kali ini sangat luar biasa dinamisnya. Secara internal koalisi Golden Bridge yang digadang Blok S juga luar biasa gejolak tarik ulur kepentingannya. Capresnya sudah jelas SBY dari Demokrat sebagai peraih suara terbanyak. Tapi calon wakil presidennnya siapa? Dan ternyata sepertinya bukan pula dari sekian banyak partai pendukung. Bukan dari partai pendukung terbesar kedua yakni PKS dengan Ketua MPR Hidayat Nur Wahid. Pasti ribut2 nih dan banyak yang patah hati ketika calonnya kehilangan peluang dengan begitu saja. Ya, begitu saja karena yang keluar adalah nama Boediono. Bukan calon dari salah satu partai yang mendukung koalisi SBY. Menariknya lagi Boediono ini sepengetahuan saya adalah orangnya Megawati. Dan sebagaimana kita ketahui beberapa hari terakhir ini Blok S lagi terus berjuang mendekati Blok M. Padahal PDI Perjuangan adalah partai yang sudah sejak awak menjadi musuh bebuyutan koalisi yang dibangun Demokrat. Betapa hancurnya hati partai2 yang sejak jauh hari sudah mendukung SBY.

Apalagi PKS nih. Secara hitung2an kekuatan politis di kursi parlemen merekalah yang calonnya paling layak. Dan secara ideologis, PDIP yang banteng merah ini kan agak ndak sreg bagi PKS yang aliran putih2. Sejak awal Demokrat mendekat ke PDIP saja PKS yang telah berteman dengan SBY sejak lama terlihat mulai menjadi gerah. Apalagi sekarang cawapresnya diambil dari "orang sono" (walaupun resminya berlabel kalangan profesional sebagai ekonom); justru menyingkirkan calon mereka sendiri. Hmm bisa2 PKS melirik lagi ke Wiranto nih. Meski hitung2an realitas politiknya memang cukup rumit. Memang secara pragmatis PKS sejak awal sudah merapat ke Blok S karena survey membuktikan bahwa citra SBY paling lekat di hati masyarakat. Dan walaupun "benar" siapa juga yang mau hidup susah miskin sebagai partai oposisi yang tak punya akses ke tangan2 kekuasaan. Tapi ya ndak terlalu amat kalo PKS saya yakin mah dibanding partai2 lain yang sekuler dan udah pasti full duniawiah oriented. Di sisi lain kubu SBY memang membutuhkan suara PKS ini...

Dan partai2 lain pendukung koalisi dengan sekian calon2 mereka. Disinilah pinternya SBY mengelola konflik. Di tengah kerumitan untuk memenangkan berbagai kepentingan SBY sepertinya memutuskan untuk tidak mencomot cawapresnya dari parpol pendukung. Tapi dari kalangan profesional, seorang ekonom kaliber internasional, yang sekalian menjadi jalan untuk misi SBY menjadi tokoh dunia hehe. Sekalian pula jadi upaya untuk mengambil hati kubu PDIP. Ya, Boediono adalah mantan Menko Ekuin pada masa pemerintahan Megawati Soekarno Poetri. Sekalian pula untuk menghindari polemik pilihan paling rasional kuantitatif pada koalisinya SBY yakni berpasangan dengan Hidayat Nur Wahid yang kelihatan banget "islam ideologis"-nya. Persoalan tidak akan terlalu rumit seandainya Golkar berkoalisi dengan Demokrat kemaren2. Selain jumlah suara yang signifikan, juga secara ideologis citranya nasionalis (sekuler) yang lebih nyaman bagi kehendak rakyat kebanyakan. Tapi kenyataan kan jadinya lain. Namun SBY ternyata cerdik membalikkan lagi situasi; mencoba merangkul kubu Mega sebagai pengganti Golkar. Apalagi kenyataan sekarang membuat agak sulit dan situasi nggak pede buat Megawati maju lagi mencalonkan diri juga sebagai calon Presiden RI untuk kedua kalinya. Dengar punya dengar tinggal Mega saja yang masih ndak sreg dengan SBY, sementara para petinggi PDIP sudah makin ijo matanya diiming2i lagi porsi kekuasaan (yang berarti akses pada sumber keuangan) setelah begitu lama menderita sebagai oposan idealis. Tapi bagaimana pula dengan formasi yang sudah alot jauh sebelumnya di Blok Golden Bridge, bingung deh.

Situasinya memang sangat rumit. Makanya ini lagilah pula kecerdikan SBY menerapkan teori manajemen konflik. Nama Boediono sengaja dihembuskan lebih awal untuk melihat dinamika yang akan terjadi. Dengan demikian lalu ia akan berbagi beratnya beban pilihan yang harus diambilnya, karena dengan "isu" ini partai2 lain dipaksa untuk ikut keras berpikir tentang bagaimana solusi terbaik "bersama" untuk cawapres SBY dengan sekaligus membangun koalisi yang kuat. Dan penetapan pastinya sendiri tetap masih cukup lama, agar tak ada pihak yang terlalu terkejut dan "melawan" tiba2. Sekaligus pula memberi kesempatan isu pihak mereka tetap jadi porsi besar sorotan media. Entah bagaimana pula selanjutnya strategi kubuk JK Win menandingi dinamika politik menarik ini. Yang jelas pagi ini, dan seharian ini, dan semingguan nanti, udara Kota Jakarta akan cukup panas dengan uap kepala di ubun2 politisi2 yang punya kepentingan tentang para pemenang kursi panas kekuasaan negeri ini.