Kamis, 21 Mei 2009

PERANG CIVIL PARA MANTAN JENDERAL

...mendorong secara lebih damai proses sukesesi kepemimpinan negeri ini lewat reformasi politik dari sistem otoriter ke demokratisasi. Kabarnya lagi seandainya Wiranto lewat Amien ndak menahan mahasiswa untuk demo ke Istana Negara Mei 1998 itu, wakil Prabowo di Kostrad Mayjen Kivlan Zein sudah memerintahkan prajuritnya di atas tank2 baja TNI untuk menggilas mati siapa saja yang berani memasuki kawasan monas.


Ketika dalam Todays Dialog Metro TV--gw emang cuman bisa nonton siaran tundanya--seorang Fadhli Zon meng(/y?)atakan bahwa Prabowo tengah melakukan serangan lewat udara dan Megawati serangan darat, saya taktahan lagi rasanya untuk tidak mulai bicara soal persaingan panas kursi kekuasaan RI 2009 antara tiga petinggi TNI 1998: mantan Pangab Wiranto, eks-Kasospol SBY, dan bekas Pangkostrad Prabowo. Apalagi ketika Fadhli terang2an menyebut perbedaan antara karir seorang tentara tempur vs tangan "bersih"-nya para staf. Perny(/k?)ataan putera minang sohib karib Prabowo yang kalo saya taksalah ingat lama di luar negeri meski juga sudah sangat lama--kalo ndak salah lagi--hadir dalam kancah liputan kecamuk peristiwa politik nasional ini saya kira cukup signifikan untuk mulai membuka episode perang bintang antar 3 mantan jenderal menuju kompetisi pilpres beberapa bulan lagi. Ya, perang bintang dan mulai "terbuka-bukaan".

Metro Realitas sendiri telah membuat sebuah liputan semi-investigatif tentang orang2 di belakang tiga mantan pati AD ini. Ya, ini disebut Metro TV sebagai perang bintang karena masing2 jendral tersebut didukung oleh sejumlah eks-pati TNI/POLRI pula di belakangnya. SBY antara lain disokong oleh mantan pangab satu2nya dari AU dan AL, yakni Laksamana (Pur) Widodo AS (yang bikin "sakit ati" Gus Dur taon 2002) dan Marsekal (Pur) Djoko Suyanto. Kabarnya pula pangab sekarang Jendral Djoko Santoso juga orangnya SBY sehingga menyingkirkan Jenderal (Pur) Ryamizard Ryacudu (yang "orang"-nya Taufik Keong Mas) ke kursi pati tanpa kursi di Mabes TNI sebelum pensiun. Juga di barisan SBY terdapat, sebut saja, Mantan Kapolri Sutanto, Menseskab sekarang Sudi Silalahi, Mantan Pangdam Iskandar Muda (yang jadi bintang media sewaktu operasi militer di Aceh diaktifkan lagi beberapa waktu sebelum kejadian Tsunami 2004) Mayjen (Pur) Djali Yusuf, dan masih banyak lagi. Sementara itu dibelakang mantan atasan SBY sendiri yakni Wiranto diantaranya terdapat dua jenderal bintang empat yang sewaktu SBY masih aktif di TNI adalah merupakan koleganya sendiri yakni Subagyo HS dan Fachrur Rozi. Dan terakhir, setelah jendral2 sebelum ini kebanyakan berlabel pati administratif, Prabowo yang semula pangkatnya sangat melesat cepat ini (sempat dijuluki the shining star berkat status mertuanya Soeharto) namun terakhir dipecat Wiranto dengan masih hanya berbintang tiga memiliki gerbong yang kebanyakan diisi oleh prajurit2 lapangan yakni jenderal2 eks-stafnya di Kostrad maupun Kopasus.

Sulit untuk dihindari perkiraan bahwa strategi "perang" yang akan digunakan oleh ketiga kubu ini akan (mau tak mau) mirip2 taktik militer. SBY saja sebagai penguasa negara defenitif sekarang misalnya sudah terlihat jelas formasi tim suksesnya yang banyak menggunakan istilah strategi2 perang (meraih hati rakyat) seperti Tim "Anu" (saya lupa namanya) yang digalang oleh Sutanto yang tentu masih cukup kuat koneksinya ke mantan2 anak buahnya di Polri. Atau lihat saja dengan penamaan Tim Bravo (mirip sandi tempur aza ah) bagi tim sukses utama SBY dan penamaan itu juga digunakan untuk media centernya. Kabarnya SBY memang membagi2 beberapa tim2 kecil dengan misi dan operasi spesifik masing2 kepada masing2 eks-jenderal di pangkuannya. Tentu sebagai mantan "kepala dinas" biro sosial-politik di Mabes TNI Cilangkap beliau tahu betul bagaimana memodifikasi taktik2 militer dalam peperangan tersebut ke dalam bentuk strategi "perang sipil" macam pemilihan pesinden eh presiden ini.

Pun Wiranto. Dari segi kepangkatan beliau adalah yang paling senior dan sesungguhnya paling matang pengalaman dalam lingkar kekuasaan negeri ini beberapa tahun sekitar masa awal Reformasi 1998. Kabarnya beliau juga bahkan sempat mendapat (semacam) "supersemar"--yang juga disaksikan SBY sendiri--dari Soeharto namun ia tak mempergunakannya saat itu dan membiarkan rakyat Indonesia memilih sendiri pemimpinnya. Dari Pangab beliau mau nyantai dulu saja di pos Menhankam lalu baru mentok ketika di 2004 kalah sebagai capres dari Partai Golkar oleh (ternyata) SBY yang mendapat "momentum" dan mengambilnya, tiada menunda. Sepertinya Wiranto sangat takpuas dengan kinerja SBY makanya sekarang seperti turun gunung lagi. Mungkin dia merasa ada tanggungjawabnya yang belum tunai. Sebagai diketahui kabarnya beliau "main mata" dengan Amien Rais dkk untuk mendorong secara lebih damai proses suksesi kepemimpinan negeri ini lewat reformasi politik dari sistem otoriter ke demokratisasi. Kabarnya lagi seandainya Wiranto lewat Amien ndak menahan mahasiswa untuk demo ke Istana Negara Mei 1998 itu, wakil Prabowo di Kostrad Mayjen Kivlan Zein sudah memerintahkan prajuritnya di atas tank2 baja TNI untuk menggilas mati siapa saja yang berani memasuki kawasan monas. Sebagai orang yang lama menjadi ajudan kepercayaan Soeharto, bukan tentara tempur seperti Prabowo dkk, seorang Wiranto memang tak perlu diragukan lagi tingkat kesabarannya. Apalagi kesediaannya untuk sekarang turun gunung lagi dan bersedia jadi cawapresnya JK makin menunjukkan itu. Namun ketegasan dalam mengambil keputusan tetap adalah jualan JK-Wiranto menghadapi kubu "lamban" SBY-Berbudi. "Lebih cepat, lebih baik," itulah moto JK-WIN yang sudah mulai menunjukkan strategi yang akan digunakannya, termasuk strategi untuk pilpres ini. Memang formulasi yang cukup menarik melihat kedua pasang ini. Paduan antara pedagang yang blak2an dengan tentara yang penyabar. Entah seperti apa persisnya taktik militer Wiranto selanjutnya untuk menjual slogan lebih cepat lebih baik itu. Nan pasti tidak berbunyi lanjutkan! hehehe. Kesabaran dan kehati2an telah jadi modal seorang Wiranto dan ketegasan pun sepertinya kini ia janjikan guna menjadi pembeda dengan SBY. Pengalamannya sebagai Panglima ABRI pada masa2 kritis NKRI taon 1998 dulu tentu tiada bisa dianggap remeh untuk mengukur keberaniannya mengambil keputusan. Apalagi keberaniannya mencopot Prabowo yang karir cemerlangnya terseruduk kasus "Tim Mawar" yang notabenenya sebetulnya juga demi negara.

Jadi bagaimana dengan Prabowo? Yang jelas mantan jenderal satu inilah yang akan paling blak2an dan offensive melakukan serangan. Dulu di TNI ia sudah sangat ekspansif berani menyerangan atasan, senior, sekaligus saingannya sendiri Panglima Wiranto. Dengan tetap membawa revolver di pinggang (ralat: waktu itu Letjen Prabowo sudah tak bersenjata) ia menemui Presiden Habibie meminta agar ia naik pangkat segera dari jabatannya sebagai Pangkostrad dan Kasad Jendral Subagyo HS diangkat sebagai Panglima ABRI--yang ini berarti Wiranto akan pensiun. Ternyata Habibie lebih ce-esan dengan Wiranto dan malah ia yang disegerakan dipecat sehingga Prabowo takbisa apa2 melawan perintah Kasad sebagai atasannya langsung. Ya, lewat buku Detik2 Yang Menentukan-nya Habibie dan Badai Pasti Berlalu-nya Wiranto memang banyak fakta kontroversial seputar peristiwa lengsernya Pak Harto di tahun 1998 tersebut yang terungkap. Kabarnya pula Prabowo di saat2 genting tersebut sempat menggerakkan pasukannya di Kostrad tanpa sepengetahuan (dan membuat khawatir) Wiranto sebagai panglima, apalagi disokong oleh pasukannya Danjen Kopasus Mayjen Muchdi Pr yang orangnya dia, ah Prabowo memang penuh inisiatif. Walhasil Wiranto justru bisa membuat Soeharto hingga Habibie lebih percaya kepadanya dibanding suaminya putri kandung Soeharto Ny. Titiek Prabowo itu.

Tapi sekarang sejarah telah berputar ke periode baru. Wiranto dan Prabowo kelihatannya sekarang mulai akrab dan bersatu menyerang kubu SBY. Mereka berkata telah mengenyampingkan persoalan pribadi di antara mereka di masa lalu dan sekarang sama2 mengemukakan isu berdikari dan berkedaulatan rakyat untuk menghadapi kubu SBY yang "pro-asing". Secara koalisi di legislatif mereka pun secara formal telah menandatangi kebersamaan lewat partai masing2 bersama PDIP, Golkar, dan beberapa partai lain. Ya, dan isu yang dimainkan adalah utamanya ekonomi kerakyatan versus ekonomi ke-elite-an kubu SBY. Terutama setelah salah satu dedengkot intelektual neolib di Indonesia (tapi sekaligus mantan menterinya Megawati) Boediono yang terlihat bersahaja itu dipilih SBY sebagai pendampingnya.

Jadi bagaimanakah peta "perang2an" antar 3 kubu--atau 2 lawan 1--ini akan terjadi? Kita tanyakan saja pada 234 yang berasap, ssshhhh hahhhh...

cekian dulu yah, nanti2 kapan kulanjutin nulisnya, capek dulu niye

6 komentar:

  1. iyo patiak dji sam soe tuu ciek dulu kawan.....

    BalasHapus
  2. inilah pemilu capres yang paling seru sob, jenderal jendral langsung action ne, ntah dengan bom, roket ataukah rudal senjata yang akan mereka keluarkan untuk mendapatkan tanah kekuasaan yaitu hati rakyatnya untuk melancarkannya menjadi org nomor 1 ataupun no.2 dinegeri ini, semua senjata mereka kluarkan untuk 1 tujuan yaitu menjadikan indonesia lebih baik kedepaannya, dan itulah harapan kita, mantap sob tulisannnya,
    eh saya no 3 ne, berarti dapat
    "solar" donk bukan pertamax, heheh

    BalasHapus
  3. thx teman2 semua yg uda komen yahh

    BalasHapus

silakan komen yaw mmmmmmuuuahhhhh