Rabu, 06 Mei 2009

WELCOME PANDEMI FLU BABI, MAKES RANDOMIZE SOCIAL CHEMISTRY

Jika Anda telah merasa menjadi manusia yang sangat positif dan mengikuti dengan tertib tanpa cela setiap instruksi Dale Carnegie untuk setiap step kerja keras Anda dengan tujuan yang jelas dan terukur (:apalagi kalo bukan kejayaan di dunia fana), apakah akan masih sanggup melawan jika pandemi flu babi ditakdirkan tuhan mengisi hari2 Anda.


Sebetulnya saya mah ndak enak juga nulis artikel kali ini. Bersikap oposite guwa mah udah lumrah, tapi kalo sampe nyakitin orang lain ya setidaknya ndak niat ding dong. Rasul (ceileee bawa2 kanjeng nabi lagi ni ye) pernah marah ketika mendengar ada orang yang bersumpah tidak akan berbuat kebaikan dengan atas nama Allah. Sesakit apapun yang dikau alami, baiknya tetaplah jadi gadis elok2 pun pejantan baik2, jadilah orang yang baik, ihsan, hasan. Bahkan ekstremnya Yesus mengazarkan: jika ditamparnya pipi kananmu, berikanlah pipi kirimu. Dan ndak gampang emang jadi orang yang baik, yang benar2 baik (yang tanpa dusta dan kepalsuan). Tapi kupikir2 dan kurasa2 hal gini2 perlu jua dikemukakan. Mungkin jarang kepikir dalam indoktrinasi orang kebanyakan, dan kalo pun ada yang kepikir juga ndak banyak yang berani mengungkapkan. Karena ini sesuatu yang kontrapragmatik, tak banyak orang yang mau berdarah2 untuk menegakkan idealisme yang absurd. Karena duitlah yang konkret. Iman itu obscurd, surgalah yang nyata dan harta lebih nyata lagi. Hehe, jadi kalo bukan aku yang "terlaknat" ini, siapa lagi yang bakal punya nyali bicara berikut ini. Ya, ini berkaitan dengan babi (bukan nabi).

Kedatangan flu babi yang diidentifikasi dengan nama mirip2 avian influenza ini, H1N1 (kalo ndak salah), sebagaimana juga gelombang krismon global sekarang2 ini menurut hematku adalah ANUGERAH. Bukan MUSIBAH. Ya ini dari suatu sudut pandang tertentu ya (dan sama sekali bukan triks meraih kesempatan dalam kesempitan ala tukang dagang). Dengan situasi abnormal seperti ini terjadilah apa yang dinamakan ledakan2 statisme liniar dari kehidupan. Situasi krisis dan kritis akan memunculkan titik2 keseimbangan baru. Sebagaimana peristiwa2 alam tidak mengenal kata musibah karena bencana apapun yang terjadi hanyalah proses alamiah alam untuk menjaga titik keseimbangannya. Bagi manusianya yang dipandang musibah karena "merugikan" (meski bukankah dengan itu ada yang justru diuntungkan?). Nah dalam dinamika sosial pun seperti itu. Sebagian pengamat mengatakan resesi ekonomi global dewasa ini merupakan puncak ledakan dari situasi sistem keuangan dunia yang sudah tak sehat. Dengan ini transaksi keuangan yang tidak riil dan permainan2 spekulan secara alami dikoreksi dan mencari jalan sendiri bagi terdistribusikannya, misal salah satu aspek efeknya, kue ekonomi secara lebih adil bagi seluruh masyarakat dunia. Negara2 yang sudah merasa mapan ternyata tahu bahwa mereka pun tetap dalam proses menuju bentuk2 kemapanan baru. Jadi apa itu negara miskin, berkembang, dan maju adalah kategori2 temporal yang indikator2nya pun bersifat temporal. Meski tentu ada (barangkali) master grand theoritys-nya namun itu tak menghilangkan faktor abadi dinamika ritme2 dialektisnya.

Pun begitu dengan nabi (eh babi). Kemunculan "wacana" flu babi ini buat saya adalah anugerah tersendiri. Secara kepentingan pribadi (sih) ini setidaknya membuat aku menjadi kurang berkecil hati. Ya dengan ini terjadi kocok ulang distribusi "takdir" kesehatan setiap orang. Saya kadang2 jengah (bahkan bersedih hati) dengan pandangan yang gold, glory, and gospel tentang kesuksesan. Seolah garis perjalanan hidup itu adalah sesuatu yang liniar dan terukur dengan instrumen2 yang beku. Banyak orang berpandangan jika seseorang tidak menjadi KAYA itu adalah karena kemalasannya atau kurang bekerja keras; dan seseorang yang SUKSES itu adalah berkat ketekunannya dan selalu berpikir positif. Saya tidak setuju dengan pandangan ini. Mayoritasnya benar saya juga tidak yakin, mana statistik penelitian kuantitatif yang meyakinkannya? Kesuksesan dan kerja keras menurut hemat saya ada dalam domain yang berbeda. Pihak pertama adalah hasil yang merupakan otoritas tuhan sedangkan pihak kedua adalah proses yang merupakan bagian manusia. Orang yang sukses mestinya adalah orang bekerja maksimal dalam bagiannya, terserah hasilnya seperti apapun! Karena itu sudah ada suratannya dan seseorang yang KAYA RAYA suratan takdirnya pasti demi tuhan akan mendapatkan itu persetan dia pun tiada kerja keras, kerja cerdas, kerja culas, bahkan tak percaya tuhan sekalipun (makanya tentu kebanyakan orang siapa yang tak mau mendapatkan hartanya Qarun?). Tapi keterbatasan mata kasat manusia mau tak mau mesti mengkonkretkan abtraksi kesuksesan itu dengan ukuran2 yang nyata: harta yang banyak, kekuasaan yang banyak, dan wanita yang banyaaaaaaakkk.

Biarlah. Inilah tantangan hidup. Cuma ada yang perlu dibahas lagi terkait babi. Suer deh, kali ini ada hubungannya dengan flu babi. Dalam proses menggapai kesuksesan itu, setiap manusia dimodali dengan bekal2 yang sama pun tak sama. Yang sama misalnya: sama2 punya waktu 24 jam dalam sehari, sama2 punya mata tangan kali dan telinga dua biji, sama2 punya 'maaf' anu, sama2... masih banyak lagi. Yang tak sama misalnya: uang jajan dari ortu, jabatan ortu, wawasan ortu, keterpandangan ortu, dunsanak2 ortu, jumlah mobil yang parkir di garasi ortu, kegantengan ortu, dan kesehatan. Nah, kadang orang lupa bahwa dalam menggapai sebuah kesuksesan itu kita "ndak selalu" berawal dari titik start yang tak sama. Sehingga ndak fair jika ukuran keberhasilannya hanya berpedoman pada siapa yang menggapai garis finish jawara utama. Namun sekali lagi pandangan kasat mata manusia membatasinya. Maka mau ndak mau piala cewek bergilir mesti dianugerahkan pada yang terlihat juara pertama. Sekali lagi: yang terlihat!

Nah nah nah dengan adanya flu babi, flu nabi, flu burung, flu buyung dan berbagai macam pandemi tersebut saya kira akan ada sebuah kebijaksanaan diri yang baru untuk menghargai modal kesehatan pada manusia. Jika Anda telah merasa menjadi manusia yang sangat positif dan mengikuti dengan tertib tanpa cela setiap instruksi Dale Carnegie untuk setiap step kerja keras Anda dengan tujuan yang jelas dan terukur (:apalagi kalo bukan kejayaan di dunia fana), apakah akan masih sanggup melawan jika pandemi flu babi ditakdirkan tuhan mengisi hari2 Anda. Apapun solusi duniawi dengan segala perkembangan pengobatan vaksin medisnya, yakinlah kalo udah kehendak tuhan Anda tewas pasti akan tewas dengan naas bagaimanapun kerja keras Anda untuk tidak bertujuan mencapai kesuksesan dengan begini cara. Dengan menderita flu babi Anda akan sadar bahwa bersabar dan ikhlas dengan segala derita di atas tempat tidur pun adalah kerja keras yang jauuuuhhh lebih keras dibanding dengan sekedar rajin hadir ke workshop2 mubazir dengan wanita2 berpantat sexy atau pun kucar ngacir syuting tipi sana sini saban hari yang tentunya juga lagi2 dengan cewek2 berpantat2 sexy. Anda baru akan bisa mengerti apa kata pujangga tentang dalam diam aku bicara atau antara ada dan tiada. Ya sesuatu yang gerak secara nyata, seperti kata RSW tentak praktek vs teori, memang melenakan karena lebih jelas dan terang benderang; sehingga: kerap hanya inilah yang dipandang sebagai kerja keras (yang terlihat bergerak dan berpraktik nyata terlihat) penuh keringat meski, mungkin, keringat2 nikmat. Insya Allah, dengan flu babi pun, Anda2 wahai para "pekerja keras" juga akan bisa dibuat berkeringat (bahkan) lebih lagi!

Tentu saya tidak mendoakan ini terjadi pada Anda. Tapi ambillah hikmah dari munculnya semacam pandemi seperti flu babi ini. Betapa dalam situasi yang berbeda, yang tiada dalam kontrol Anda, jalan menuju kesuksesan tak seliniar harfiah teks book buku2 panduan berpikir positif di tangan Anda. Sebagai inspirasi dan motivasi tentu itu benar dan perlu. Saya sendiri seorang psikotherapis yang kerap menggunakan buku text 101 Kisah Yang Memberdayakan untuk menyembuhkan klien saya sekedar dengan membacakan puisi. Saya tahu persis ilmu tentang metafor, makanya ingin membangunkan Anda dengan berkata: sesekali berpikirlah "negatif". Jangan sampai Anda seperti caleg stres yang tak habis pikir kenapa semua buah kerja keras, cerdas, hingga culasnya ternyata tak berbuah manis. Sebagai referensi menghibur barangkali Anda perlu menonton film humor Trading Places (Edi Murphy) untuk memahami sebuah satire tentang kerja keras, takdir, dan teori pengaruh lingkungan. Segala sesuatu sudah ada ketentuannya. Kita hanya memungkinkan untuk berbuat maksimal dalam wilayah yang memang bahagian dari kita. Jangan serakah dan rakus tamak jadi orang. Ikhlas dan perbanyak sabar sajalah, dan jangan pula pada orang lain yang "terlihat" punya kelebihan menjadi iri hati. Kita masing2 individu unique yang punya studi kasus tersendiri di tengah dinamika sosial kehidupan yang penuh ledakan2 chemistry sebagaimana judulku tadi. Maka, jangan dong takut flu babi (kecuali Anda sangat cinta amat dunia fana ini?)!