Jumat, 18 September 2009

MENARA SELULER, SERRRRR part II

Ada hal-hal di luar pengetahuanmu. Bahkan jika engkau merasa pasti, itu adalah emosi bukan fakta. (Pastur Firly)


...
...

dulu waktu zaman2 smu pernah juga sekali mimpin misi tempur melawan kampung seberang (vs budi kriting cs yang kemaren kutemukan di parung) atau menaikkan nama geng "lapau siil" dengan ekspedisi nakal ke berbagai tempat. memang dibanding kampung2 tetangga, pemuda2 sekitar rumahku ini tergolong "kurang pemberani". gw sendiri karena sejak smp-smu skul ke kota padang memang jadi kuper di sekitar rumah, tambah pula status sosial ortuku yang membuat gw terlalu menonjol dibanding yang lain. dan gw yakin sejak dulu benih2 kedengkian bukan tak mungkin sudah tumbuh. dan gw bisa meraba2 tanda2nya sejak zaman2 kami masih mandi2 telanjang bersama di sungai belakang rumah dari bagaimana sikap mereka kepadaku. mulai dari yang terang2an menunjukkan permusuhan, sampai yang menjilat pantat karena memang waktu itu gw-lah yang paling tajir di antara mereka he2. tambah pula perbedaan "kapasitas" intelektual antar kami dan inilah masalah utama gw hingga kini.

dipikir2 sekarang, sebenarnya dari dulu pun gw merasa ndak nyaman main bersama pemuda2 kampung dungu odoy itu. hanya karena merasakan neraka di rumahlah gw mencari pelarian ke tempat mereka dan dalam hal ini demi allah bagaimanapun saya merasa berterima kasih atas jasa mereka. oya pergaulanku utamanya akhirnya mengerucut kepada geng lapau siil dan gw tidak terlibat dengan arus utama pemuda sini (yang sebetulnya dunsanak2 gw juga). dan karena eksklusif justru geng kami, yang sebetulnya lebih sedikit dan tak ada preman senior, inilah yang lebih punya nyali (sebetulnya gw aja dan satu-dua yang terdekat dan selebihnya tetap mental pengecut seperti kakak2nya) melawan penindasan preman kampung2 lain. karena gw sekolahnya bukan di sekitar rumah (ini juga menambah citra eksklusif gw, yang membikin jarak dengan anak2 lain dan menciptakan kedengkian bagi sebagian yang lain), jadi gw tak begitu tahu siapa2 yang ditakutin orang dan karena nggak tahu gw jadi (anggap saja) nggak takut siapapun. waktu itu. sekarang bertahun2 di jawa tentu petanya telah berubah, gw tak lagi punya saham. hanya bisa mengamati.

singkat cerita (lain kalilah kalo khusus nulis soal me and "friends" ini <--- dari dulu gw rencana belum ditulis2 juga yaw): sekarang gw terlihat begitu hina di mata mereka (pemuda2 sekitar rumah) sebagai pengangguran intelek. dan dikiranya nggak bisa ngapa2in. dan kinilah momentumnya memuaskan kedengkian sebagian mereka (sejak dulu). dan yang lainnya tentu saja ikut2an suara mayoritas. dan terjadilah aksi kelompok pemuda yang "melangkahi" gw dan keluarga gw tersebut. kalo mereka sekedar memusuhi gw karena taroklah gw mungkin ada kesalahan sama mereka bolehlah. gw selalu bersedia menjalani setiap konsekuensi atas segala perbuatan gw. tapi disini gw melihat "pengkhianatan" mereka pada kebaikan keluargaku. di kampung sini keluargaku termasuk berpengaruh dan punya peran cukup signifie di tengah masyarakat (sehingga memang gara2 ini juga banyak yang sirik; ortuku bahkan beberapa kali cerita2 tentang kemungkinan ini, mulai dari dukun2an hingga longgarnya tali persaudaraan antar dunsanak disini karena mereka saling "bersaing"; maklum orang minang: anjing kalera babi!). gw kadang kasihan melihat ortu masih juga berbakti, misal, dengan ngajar anak2 tpa mesjid kampung di belakang rumah padahal sudah "pahit" begitu sikap mereka pada kami. atau bagaimana ortu repot ngurusin proyek konveksi kelurahan sini. kupingku suka merah menahan amarah mendengar celoteh2 mereka yang mau makan duit kami tapi tetap saja di belakang berkomentar miring. dasar orang minang anjing kalera babi! tapi tentu ada hal2 yang tak aku tahu dan aku memang tiada mau tahu.

ortuku sendiri tetap terhormat sebetulnya setidaknya di mata kaum2 tua. yang mulai gak ada respek itu ya (sebagian) yang muda2nya itu tadi, yang karena kontra denganku juga, yang sejak awalnya dengki melihat keluarga kami terlalu bersinar itu tadi. dan sekarang menemukan celah untuk menyerang dan memuaskan hawa nafsu kedengkian mereka. gw siap bersiteru dengan kalian dunia-akhirat guys! tentu gw menghindari prasangka buruk. tapi yang namanya bau busuk itu tetap akan tercium dan terasa. dan toh gw tidak melakukan tindakan apa2 sebelum mereka nyata2 dan secara zahir mengatakan di depan gw: nggak suka sama elo (karena terlalu tampan), kita bacok2an yuk. ayukkk.

oya sebetulnya gw juga udah cukup persuasif dan tetap berusaha bersikap baik sama mereka. mungkin di tulisan ini kelihatannya gw begitu bencinya dan enggak toleran banget. percayalah guys ini sudah melalui proses begitu panjang dan gw sudah melewati tahap batas demi batas. memang sudah lama gw ndak main lagi ke lapau siil karena besar kemungkinan gw bakal ribut disana dan mencoreng imej keluarga. tapi sehari sebelum kejadian datangnya gerombolan pemuda itu gw juga masih sempat ngobrol2 sama siil sebentar (kebetulan ketemu karena dia lagi berteduh di depan rumahku). kalo yang lain2 biasanya aku udah males kalo pun ketemu untuk menyapa. kebetulan dia dan beberapa orang diajak kerja sebentar ngangkat2 disana kabarnya. yang lain aku ndak tahu siapa saja karena hanya siil yang memanggil lalu menyusulku ke beranda rumah untuk cerita2 dikit tentang sepupunya di parung sana dan upayaku memanas2i beliau untuk ke jawa ninggalin anak2 odoy kampung ini. mendengar "lowongan kerja" tadilah mungkin sebagian mengira kami sedang "butuh merangkul" mereka dan merasa sayang oportunity ini tak diolah jadi lebih menguntungkan. sekalian ada misi lain. yah ternyata perbuatan baik itu selalu punya potensi untuk mendapatkan balasan yang malah buruk. sabar, subur...

ada seorang anak ingusan (masih tetangga, keluarganya teman baik keluarga kami, dan sebetulnya sudah kuanggap adik pula sehingga sebaiknya untuk saat ini disini tak saya sebut namanya) yang dulunya jadi kacung di kelompok kami saking pengecutnya (tapi sekarang kabarnya sudah jadi preman terminal) yang barangkali dulunya hanya gw satu2nya yang bersikap baik padanya dan tidak mengolok2nya seperti yang lain, ikut2an menyindir gw di suatu hari sewaktu berkunjung ke lapau siil. meski tentu tetap saja manggil abang sama gw. keluarganya dulu sangat miskin dan keluargaku kerap membantu. dan sekarang pun mereka punya usaha besar juga menyewa di atas tanah kami. tapi mungkin juga inilah yang sudah sejak lama menumbuhkan benih dengki di hatinya. mengira hidupku begitu mudah, tidak sesengsara keluarganya (dulu). tentu saja dia bakal berperkara besar jika konflik denganku. tapi gw juga bakal repot oleh "hal2 lain". begitulah, dia melihat sekarang kesempatan menyerangku (saking begitu lemahnya dia dulu dan kedengkian terpendam membuat dia lupa siapa yang baik kepadanya dulu). saat itu saya cukup shock karena sampai hari kejadian itu saya nggak menyangka sama sekali bahwa kacung tersebut akan berani ikut2an bersikap begitu juga kepadaku. apalagi baru beberapa waktu sebelumnya gw ngobrol2 cukup akrab dengan adiknya yang baru balik dari malang-melintang ke pulau jawa. tapi begitulah, orang2 yang menyimpan kedengkian terpendam melihatnya posisiku begitu sangat lemah saat ini. apalagi toh bagaimanapun dia dan siapapun adalah bagian dari dan telah ter-influence opini bersama yang mungkin tengah beredar sekarang tentangku disini.

bersambung...