Sabtu, 19 September 2009

MENARA SELULER, SERRRRR part III

"Setiap pilihan mudah hari ini memberi akibat esok hari."
"Kau cuma mau masalahmu selesai lalu hidupmu kembali sederhana."
"Di zaman sparta kuno hal-hal penting diputuskan oleh siapa teriak paling keras." (Suster Aloysius)


...
...

hanya siil balas, sang ketua, saja yang kulihat masih menjaga sikap meski di belakangku tentu saja ikut2an terbawa suasana bersama. mungkin ada yang bakal bilang barangkali masyarakat tolol itu yang benar (karena opini orang kebanyakan secara voting demokratis lebih berhak untuk benar) dan gw semestinya instropeksi diri. tentu, ada bagian2 (tapi sayangnya sangat kecil) yang aku jadikan bahan instropeksi karena tentu gw juga tak luput dari kesalahan. tapi percayalah gw bukan berasal dari golongan tolol-matre-cingkahak tersebut dan punya cukup ilmu untuk berargumentasi meski tentu masih lebih banyak lagi yang harus kupelajari dan terus menambah ilmu pengetahuan hingga mati nanti. persoalannya adalah mereka2 menilai diri gw tanpa cukup tahu tentang persoalan yang gw hadapi sehingga terlihat tidak berstatus "sukses" dan dapat dijilati. apalagi ditambah kalo memang ada yang sudah sejak lama memendam dengki, makin bertambahlah bumbu negatif cerita. jadi alih2 berharap akan dibantu "teman2" ini. hmm, lagian ujian hidupku ini terlalu besar untuk porsi orang2 tolol itu dan pada saatnya nanti mudah2an gw bisa bertemu "teman sejati" untuk berbagi (<-- maksudmu istri wemmy? hi2). sekali lagi sedikit banyaknya gw punya cukup pengetahuan tentang cara pandang dan kira2 apa pikiran orang2 itu secara sosio-kultural-psikologis. makanya kadang2 juga cukup bisa menikmatinya sebagai sebuah lakon drama, bahkan humor. tapi dari sekian kompleksitas persoalan yang aku petakan, dan betul2 aku sendiri yang mengetahui, secara strategis dan taktis memang opsi bersabarlah yang sebaiknya dijadikan pilihan untuk saat ini. ada waktunya untuk bertindak nanti...

gw hidup tujuh tahun di tanah jawa barat dan tentu terkesima dan ter-influence sebagian kultur positifnya. percayalah gw orang paling ramah (tulus bukan karena pekerjaan atawa demi duit) dan jujur yang bisa kalian temui di kota padang ini (hehe2 setidaknya sudah lama gw belum melihat orang baik lagi disini, karena memang lagi tak punya akses pergaulan). baru sekarang2 saja gw mulai bete untuk selalu tersenyum karena yang disenyumi tetap saja bakal muka masam melihat kita ternyata kere (meski kece). tapi itu sudah jadi kebiasaan automatic yang kadang membuat aku kesal belakangan, kenapa harus bersikap baik pada bajingan muka masam tersebut. maka jika itu medan bung, ini padang bang. yang akan membuat orang terpesona bukan sifat, bukan intelektuil, bukan kegantengan, bahkan bukan juga ketaqwaan, melainkan isi kantong. makanya pula status sosial tertinggi sekarang diklaim pihak saudagar. betapapun katanya: orang kaya kalo ndak baik nggak bakal punya teman tapi tetap saja kenyataannya kalo kantong tebal mah banyak yang ngerubung. toh dunia ini panggung sandiwara. dan bagi manusia2 politik dagang sapi bukankah kebaikan itu sepanjang terkait dengan kepentingan? nyumbang mesjid sekalian amal, sekalian tenar. sekalian jaga citra. dasar kabau minang! gw tidak mengutuk2i karena ditakdirkan hidup miskin. toh kupikir2 sejauh ini toh asik2 aja toh dan masih ada2 aja yang iri toh (karena walau miskin gantengnya masih ada). dan gw juga tidak menyesal dijauhi teman2 karena miskin dan "tidak sukses" begini. justru bersyukur ini bisa menjadi proses alami untuk menyeleksi siapa yang memang pantas gw anggap sebagai kawan (termasuk dalam hal kisah percintaan). yang gw sesali itu: kenapa masih juga bertahan hidup di tengah2 masyarakat kabau kalera ini? ayoo, sebagian udah kusinggung sedikit. tapi tetap gw belum mau membicarakannya untuk saat ini.

gw nggak tahu juga apa ada alumni geng lapau siil yang ikut sewaktu peristiwa "demo" itu. tapi tentu saja para pendengki ini juga ada dari sana dan gw dulu juga sempat nyaris ribut konyol kalo seandainya tak bisa mengontrol diri melawan cicak2 newbie disana. mungkin hanya miza di parung yang masih bisa kuanggap teman. dan dia mungkin agak linglung karena gw berkonflik dengan dunsanak2nya juga. tapi aku lihat anak yang satu ini selalu tune up kalo ketemu denganku. meski bertahun2 tak jumpa, dia sudah beranak, aku sedang miskin ngegembel, dia pula yang nyari gw. siil entah, yang jelas tentu dia dalam posisi sulit karena memang dari dulu selalu disini dan bagaimanapun adalah bagian dari sini. apalagi sekitar setahun yang lewat sempat clash denganku karena cewek yang dia suka ternyata suka sama aku he2. ya ayo sekarang saatnya beraksi. mumpung posisi gw lagi (terlihat) lemah. tentu "wajar" mereka sakit sekali menyaksikan gw hidup di keluarga yang mereka pandang bahagia karena lebih berharta sejak dari dulu dan sekarang pun gw santai2 saja di rumah dan ada2 saja uang yang datang ke keluarga gw; sementara mereka hidup susah, menganggur, nyari uang sana-sini, kerja rodi dan tetap tak bisa "bahagia" dan "terlihat" santai2 seperti gw. tapi belum juga menemukan alasan untuk langsung "menuju" gw sebagai sasaran kedengkiannya karena gw belum juga buat kesalahan yang memungkinkan bagi orang sekampung untuk menghukum gw. dua2an sama nak gadis belum muhrim misalnya...

"oh, kami menantikan itu terjadi supaya bisa menghajar habis2an anak orang kaya itu. kenapa dia diam saja di rumahnya dan tidak keluar lalu membuat kesalahan, oh". akhirnya mereka hanya baru menemukan akses tak langsung untuk beperkara denganku, dengan jalan "mendemo" proyek menara seluler itu (mungkin waktu itu berharap gw terpancing emosi). dan justru kini mereka mungkin mesti menghadapi konsekuensi berperkara dengan omku (kalo yang terjadi bukan om pele ini sendiri yang mendalangi mereka karena selenting kudengar awalnya dia tak setuju juga proyek ini dan berselisih dengan uwan). aku, karena gimanapun sebetulnya emosi juga kalo begini, juga menanti2 supaya mereka menemukan jalan untuk "bertemu" denganku lalu bertarung banjir darah (karena ndak mungkin gw yang mulai karena tahu ilmu agama ndak setolol mereka dan bagaimanapun emosi tetap tak akan melakukan hal yang kupercaya perbuatan salah). dan gw hampir tak sabar rasanya membunuh siapa saja di antara orang2 (ah segitunya hi2) yang pernah menjadi temanku dan ternyata diam2 menyimpan iri hati dan kedengkian padaku (karena kegantenganku). sayup2 berceloteh di belakang seperti pengecut; atau malah menikam dari belakang seperti pengkhianat. tapi dipikir2 kalo aku cuekin kayak begini, dan tetap terlihat bahagia-raya, mereka pasti jadi tambah sakit juga ya menyaksikannya dan akan makin besar kedengkiannya hai2. kita lihat saja, kalau tidak tampak di dunia ini, di akhirat nanti tuhan akan membacakan putusan tentang perkara kita!

~end~