Kamis, 12 November 2009

SIARAN LANGSUNG MAFIA PERADILAN INDONESIA

"Hidup ini bagaikan panji2 perang, kadang berkibar begitu megah & menantang, kadang tercabik2 begitu kotor & kumal. Bahkan hampir jatuh ke tangan musuh. Tapi bagaimanapun juga, harus di pertahankan dengan sepenuh perjuangan. Sampai nanti di hadapan Tuhan"

menarik menyimak siaran langsung pemutaran rekaman penyadapan kpk terhadap telpon anggodo terkait kasus cicak vs buaya yang digelar oleh mahkamah konstitusi barusan. setidaknya ada tvri, metro tv, dan tv one yang utuh melakukan siaran langsung rekaman berdurasi aslinya sekitar 4,5 jam tersebut. dimulai dari sekitar pukul 11, lalu diselingi sesi istirahat, hingga berakhir sekitar jam 4 tadi. kemudian persidangan akan dilangsungkan lanjutkannya besok sekitar jam 14.00 kudengar. luar biasa! ini sebuah pertunjukkan siaran langsung yang buatku bahkan lebih menarik dari menonton sebuah pertandingan bola. gw yang di piala dunia 94 udah begitu fanatiknya nonton bola--di saat anak2 yang seumur gw masih maen kelereng dan baru tahu per-bola-an sejak kenal ps bahkan football manager games--saja merasa siaran ini luar biasa enak menikmatinya. dibanding nonton seremonial basi upacara 17 agustusan yang kurang kreatif itu misalnya (<--lalu apakah dengan pernyataan ini elu bakal nilai gw nggak cinta sama negaranya para koruptor ini hah?).

rasa2nya ga ada deh siaran langsung oleh tv yang selama ini selain siaran tanding olahraga, mulai dari bola, bulu, volley, tinju, renang, hingga balap2an. gw sendiri emang sejak jadi pria dewasa udah nggak gitu sreg lagi nonton pertandingan olahraga (selain pertandingan tinju yang berkualitas, juga bola yang menarik). dan barangkali juga bagi sebagian orang--di luar akibat booming mass medianya--justru siaran langsung sidang pengadilan inilah yang tak menarik. bikin pusing. iya saya tentu juga pusing karena bukan orang hukum dan ga biasa juga dengan struktur formal acara dan bahasa pengadilan. tapi substansinya bagiku sangat menarik dan memancing kehausan intelektualitas. ada apa dengan negeri ini?

tapi barangkali semua juga sudah tahu sama tahu dari apa yang ter-publish dari rekaman tersebut. atau barangkali "banyak" yang dapat untung dari kebusukan yang ditutup2i di negeri ini, maka membiarkan. tapi semacam kentut, terbau tapi tak terlihat. nah dari rekaman yang di-publish dan disiarkan live barusan jadilah kentut ini lebih nyata dan terlihat. hal perihal tentang busuknya negoisasi, propaganda, dan networking dalam dunia hukum indonesia (barangkali juga bidang2 dan sektor2 lainnya, seperti transaksi bisnis misalnya he2). jadi apalagi yang akan dilakukan orang2 yang hobi tipu menipu dan munafik dalam sandiwara dunia ini? haha tentu saja ini akan terus terjadi dan terus bermutasi bermodifikasi ke berbagai bentuk2 baru. tapi yang penting setidaknya dari apa yang terbuka ini adalah pelajaran dan hikmah baru bagi kita yang mau menimba ilmu dan mencari tahu. bahkan bagi orang2 yang punya niat untuk jadi orang baik2 sekalipun bukan hal yang mudah untuk menghindar dari cipratan2 kotor kehidupan ini. karena kita manusia, saling bernetworking, saling bermuamalah yayaya.

bicara tentang mafia peradilan, ini sebetulnya terjadi dimana2. bahkan di barat yang "modern" pertunjukannya lebih canggih lagi dan lebih menuntut kemampuan menonton lalu memahami dengan stock respon yang lebih tokcer lagi. namun menarik untuk konteks manusia2 indonesia dengan kebudayaan yang masih sangat kental komunal/primitifnya ini adalah: tak elok kalo yang buruk2 itu ketahuan. buruk, bejat boleh tapi jangan ketahuan. karena ini masyarakat komunal. ngumpul2 dan selalu bersama. bejat ya bejat sama2. jangan ada yang ngelawan. jangan ada yang mencoba membelok dari kumpulan. nanti mampus. karena kita komunal: sama rata sama rasa, komunis pancasila. dan kata sakti untuk membungkus itu semua adalah: atas nama masyarakat. hmm tapi busuk2 itu toh tak selamanya bisa ditutup2i. betapapun lingkungan masyarakatnya melindungi. tapi entah akan seperti apa busuk yang akan kait mengkait dengan masyarakat komunal dan "kebersamaan"-nya ini. barangkali ini juga faktor pemandeg proses reformasi negara ini. kata sby dan bhd: utamakan pencegahan, jangan diungkit yang lama2. memang mau gimana lagi, peradilan, pedagang, pengacara, polisi, jaksa mereka semua cuma sedang melakukan pekerjaan mulia: bekerja "keras" dan "cerdas" mencari nafkah agar kaya-raya, terhormat di mata masyarakat komunalnya, dan mendirikan mesjid. entahlah gw juga bingung. tapi gw senang lihat itu siaran langsung. buka2an.