Lama Ndak Ngeblog

Lama sudah lagi ndak nulis. Sejak 2 bulan belakangan ini aq ga bisa ngonline, bahkan ngompi, walau manyun di rumah. Sejak ditinggal ke Jawa terakhir kemarin laptop mamaku ternyata windowsnya rusak. Karena berupa netbook (axioo) jadi aq ga bisa instal ulang lewat cd seperti yg aq tau. Lalu karena keinginan untuk berhemat gw gak bawa ke tempat instal, selain khawatir ditipu karena ga punya kenalan. Selain itu juga dengan pertimbangan menunggu akhir tahun untuk apakah membeli kompi baru untuk desain sablon digital, laptop baru, atau cukup beli dvd eksternal. Sembari juga nunggu listrik baru di rumah baru yang sebelah.

Kenyataannya kemudian berbekal info dari google (lewat kompi dekstop dgn monitor crt yg sulit nyala n kabur) gw coba2 utk instal xp ke netbook pake flashdisk. Kebetulan master window 7 aq ga punya. Nah, mungkin dari sinilah kerusakan fatal untuk hardisk netbook mamaku dimulai. Salah satu kemungkinannya karena gw pernah matiin netbook di tengah proses format yang terlalu lama. Karena gak mampu nginstal, sementara kemudian monitor crtku juga udah mati total, suatu hari aq bawalah juga ke sebuah tempat dekat UNP yang kebetulan lewat kulihat cuma pasang tarif 30 ribu buat nginstal lepi.

Sempat nginap 2 hari disini tuh netbook ternyata juga ga bisa diinstal. Kemudian kubawa juga ke sebuah toko komputer yang cukup ternama. Ternyata ga bisa juga n diinformasikan hardisknya udah rusak. Nah kebetulan harga hardisk sedang naik 3x lipat, belum ongkos servis. Salah satu alternatif gw saat itu adalah prioritaskan beli lcd untuk monitor dulu tapi gak ketemu-ketemu juga merk advance yang kucari. Suatu hari minggu aku akhirnya pergi ke tempat yang katanya ada barang yang kucari. Sesampai disana ternyata tutup, maklum toko orang cina kayaknya. Mungkin di hari sepulang dari tempat itu gw mampir lagi ke sebuah toko komputer dan mendapat info kalo dari dvd bawaan axioo ada linux live dvd. Karena penasaran maka meski dengan ragu saat itu juga aq membeli dvd eksternal yang kebetulan ada di titik harga paling miring yang kutemui di Padang.

pantai puruih, padang

Dan ternyata emang bisa jalan linux dari dvd eksternal ini. Cuma akses aplikasi terbatas. Ngetik ini aja hanya bisa di notes, open office mungkin gak kuat jalan. Maklum mungkin sepenuhnya berjalan dari ram. Format pemutar videonya juga terbatas, Mp3 player ribet dan berat. Dan waktu bootingnya tiap kali nyalain lambreta banget. Di-standby ndak bisa, jadi ngehang. Tapi lumayanlah buat browsing ternyata mampu dan setting modemnya pun nemu. Sementara ini dululah kupake, belum memutuskan langkah apalagi sebaiknya. Harga kompi sepertinya gak nemu juga yang pas di akhir tahun ini. Listrik baru belum masuk juga. Mesin untuk sablon digital juga belum dapet yang meyakinkan. Monitor lcd advance itu juga belum jadi kubeli. Ga tau juga nih apa kuat dvd playernya os dari sini terus. Sempat juga ada insiden barang dvd eksternal murah ini besoknya kubawa kembali ke toko tempat kubeli karena kuatir barang bekas.

thx komennya ^^

Perantauan Sejati Diri

Dalam waktu dekat gw sudah rencanakan untuk ke Jakarta lagi. Kenapa harus Jakarta? Tidak harus, melainkan hanya karena kota itulah yang paling gw tahu seluk beluknya dan gw waktunya melangkahkan kaki. Itu saja. Tidak ada maksud dan kemungkinan gw untuk mengumpulkan sekian jatah lowongan pekerjaan buat gw makan sendiri sehingga berkuranglah kesempatan untuk penduduk setempat guna bersaing. Gw hanya menjalankan kewajiban mengusahakan kehidupan gw saja tanpa tamak, muka dua belas, dan tanpa niat untuk menyingkirkan manusia lain dalam sistem kapital modern meminta-minta kerja dan saling sikut gini. Wow, betapa malangnya, untuk dipekerjakan (bahkan diperbudak) saja harus minta-minta. Bayangkan, bahkan harus ngutang sana-sini untuk bayar jut-an biaya "administrasi" untuk punya lisensi guna diperbudak sesama manusia demi hanya secuil duit dan status sosial pada tata nilai zaman edan. Entah dari mana masalah macam gini baegnya dilihat: putusan individu, tekanan keluarga dan lingkungan, atau ketakbecusan pelayanan negara. Gw tidak minat untuk terjun dalam persaingan taksehat dan tidak berkualitas seperti gitu. Gw punya medan juang sendiri yang akan sulit untuk awam pahami haha. Jadi kepada penduduk setempat diharapkan tidak usah cemas. Toh dalam agama yang secara formal kelihatannya sama kita anut, yakni Islam, mengajarkan bahwa kita sudah ada rejekinya masing-masing. Malaikat ndak mungkin salah kirim masing-masing posnya. Persoalannya hanya bagaimana menyikapi: menerima atau tidak pernah puas lalu mengajukan banding haha. Ini persoalan akidah tapi gw masih bisa tertawa.

Masalah sebetulnya pada urbanisasi kan pengaruhnya pada sistem sosial hingga frame besarnya dalam format kebangsaan. Ini pernah kudengar diakui sendiri oleh pejabat terkait yang menghimbau kaum profesional--plus embel-embel punya modal cukup--untuk silahkan datang ke Jakarta. Gw banget kan. Meskinya gw sudah membuktikan sendiri secara empirik dan faktual bahwa dengan cuman menganggarkan sekitar 500 ribu per bulan juga bisa saja untuk cukup. Bahkan tidak tanggung-tanggung saat itu gw bertempat tinggal di Jakarta Pusat, hanya sekitar sekilometeran dari Istana Presiden, tapi di daerah agak kumuhnya dan cukup merana hehe. Tapi tentu aparatur di tingkat bawah berpandangan ini mustahil. Lima juta saja kurang kalo kepengen memasuki gaya hidup kelas atas disana. Beginilah kemudian jika juga berbicara/berpikir efek sosial lain seperti timbulnya tindak kriminal bagi yang memilih akhlak bejat untuk mulai sekedar bertahan hidup (katanya) hingga nafsu bisa bergaya sedikit di depan manusia lain misalnya. Hasrat akan gengsi itu memang purba skali bagi makhluk socioeconomicus ini.

Birokrasi administrasi dan pengelolaan kependudukan semestinya punya alat/filter untuk mengkategorikan manusia-manusia urban biar tidak terjadi generalisasi sederhana seperti Jakarta only welcome untuk orang kaya dengan minimal anggaran 150 ribu per hari ada untuk dihabiskan. Lho pelaku kriminal macam kurir narkoba atau calo proyek utusan pemda-pemda pun bisa habiskan dua jutaan buat per malamnya. Kenapa rakyat kecil/dhuafa/miskin harus yang dijadikan sasaran untuk digencet, sebagai target kuota bahan laporan, sementara mereka belum punya skill untuk melakukan kelasnya kerah putih crime. Kriminal kecil-kecilan tetaplah kejahatan namun bicara prioritas bukankah kejahatan di tingkat atas lebih bahaya. Ya, lebih kuat, punya koneksi kekuasaan, dan lebih tidak mudah untuk digencet dibandingkan orang-orang miskin yang dengan wajah lugu datang dari kampung untuk mencari 2-3-4 suap nasi--kalo cuma sesuap nasi rasa-rasanya terlalu didramatisir deh. Pemerintah sebetulnya mampu untuk memikirkan ini dengan sebagaian aset SDM PNS-PNS bermutunya di tingkat atas. Jangan terlalu pesimis, pasti adalah. Tidak semua Parasit Negeri Sipil yang menghabiskan 70 persen APBN itu bermental penjilat atasan semua. Di sektor swasta pun kalau yang model begini juga tidak kalah banyak. Soalnya pengaplikasian nanti di tingkat bawah dengan SDM kelas kambing inilah dibuatkan prosedur penanganannya pun mereka tidak akan punya kemampuan (baca: juga kemauan) untuk menjalankannya.

Tapi untuk apa gw juga memikirkan ini, busyet dah udah injury time nih barisan postingan. Toh orang lain yang digaji untuk hal tersebut (pragmatis mode on). Dan gw juga sudah memperhitungkan tentunya bagaimana menyikapi kemungkinan-kemungkinan akibat kesemrawutan sistem sosial hingga administrasi pemerintahan yang seharusnya menejebel namun dismanajemen ini. Lebih baik kan seharusnya mempersoalkan kehidupan gw sendiri (egois mode off), apapunlah maunya dan jadinyalah kenyataan sosial masyarakat bernegara ini. Teori survival paling dasar bahwa setiap DNA hewani kita akan ego(isme) mempertahankan eksistensinya masing-masing telah mengajarkan ini. Sehingga seorang nabi atheisme modern bernama Profesor Dawkins terheran-heran memikirkan apa sekiranya alasan seseorang untuk berbuat baik tanpa pamrih ataupun motif politik. Tapi mungkin gw merasa tentang gw bisa disikapi sebagai engga persoalan banget. Biarlah ia menjadi persoalan bagi orang-orang yang hasad di sekeliling tanah 20 M ini disini, iri dengki, dan punya kepentingan yang tidak patut untuknya. Duh, apalah maksudnya. Singkat cerita, setelah pulang dari Bandung di 2007, hidup di Depok 2009, berputar-putar dari Pasar Minggu hingga Kemayoran di 2010, kini gw akan kembali ke Jowo.lt sana di edisi 2011; entah akan kemana burung ini kan hinggap. Semoga ia menemukan sarangnya yang tepat. ^_^

Kenapa Matrelinial Itu Tidak Baik?

Konsekuensi dari iman tauhid adalah tidak menyekutukan ketundukkan kepada Tuhan Yang Esa dengan aneka perihal selain-Nya. Kerena itulah dosa terbesar dan tidak terampuni dalam Islam adalah syirik. Menjadi pecinta, apalagi sampai menghamba, materi itu rentan dengan perbuatan syirik. Iman dan tidak beriman itu perbedaannya bisa sangat tipisnya. Yaitu seberapakah kita hanya menggantungkan diri hanya semata-mata kepada-Nya. Itulah tauhid, inilah jalan dan aliran yang hanif tanpa modif dan tercemar kemunafikan oportunisme pragmatisme. Maka daripada itu penting kiranya untuk membebaskan diri dari akhlak cinta harta. Meski sungguh berat terasa karena ialah faktor riil kejayaan kehidupan nyata di dunia. Bukankah semua orang mencari bahagia? Di antara ikut-ikutannya kita mengimani kebahagiaan janji-janji tentang alam syurga yang abadi namun absurd, abstrak, dan fiksi itu, kita harus bertempur dengan godaan nyata cinta hingga menghamba materi riil untuk kebahagiaan dunia. Takmudah? Ya.

Proporsionalitas Islam memang tidak melarang untuk menikmati yang halal dari karunia dan kenikmatan harta dunia. Namun karena saking riilnya bisa menjebak kita pada pemujaannya sehingga penting untuk berhati-hati dan introspeksi niat setiap saat. Makanya juga sikap berkelebihan, berkelimpahan, bermegah-megahan, dan mubadzir itu dilarang sangat keras dalam Islam. Meski kebetulan punya otoritas atas amanah harta benda dalam jumlah banyak, hendaklah tetap hidup zuhud, wara, dan qanaah. Abdurrahman bin Auf, satu dari sepuluh sahabat Nabi yang dijamin masuk surga saja diceritakan lewat hadits Aisyah betapa beratnya langkah beliau untuk menuju syurga. Makanya orang-orang kaya dianjurkan banyak-banyak bersedekah untuk memperingan langkah mereka (kalopun itu harta 100% benar-benar halal dan ia boleh masuk syurga hihi). Bagaimana kalau tidak? Mungkin secepat kilat mereka dilemparkan ke neraka. Ciri-ciri harta yang halal itu diantaranya adalah diberikan oleh Allah dari arah yang tidak diduga-duga, tanpa disengaja. Bukan yang diperoleh dengan cara-cara licik dan penuh ambisiousisme pribadi, sikut kanan kiri, jilat atas injak bawah. Ini rentan dengan menggunungnya ketamakan di hati yang ujungnya: syirik harta.


Bekerja keras dan ikhlas dalam Islam harus diyakini bukan untuk hasil banyaknya harta melainkan semata-mata meraih ridho Allah atas karunia kekuatan, kesehatan, dan kesempatan yang diberikan tanpa memberi tempat bagi ambisi duniawi dan riya terhadap pandangan manusia. Hasilnya harus kita percaya sudah ditentukan Allah sekehendak-Nya, sama sekali bukan hasil kerja cerdas kita sebagaimana paradigma orang-orang kufur yang sebagaimana diceritakan dalam Quran menyibukkan diri secara optimum untuk urusan syurga dunianya. Begitu juga jika kita tidak ditakdirkan Allah untuk diberi amanah yang berupa banyaknya harta benda--sebagaimana kebanyakan terjadi pada para sahabat nabi dan orang-orang soleh--selayaknya pula tiada iri dengki kepada orang yang banyak hartanya, terkagum-kagum, apalagi merasa rendah diri. Ini juga mengakibatkan penyakit alwahn atau matrelinial. Kalau orang kaya cinta harta masih mending deh setidaknya sempat enak sedikit di dunia ini tapi ini sudah nasib kere malah tambah semakin matre, duh menyakitkannya. Bukanlah pula menjadi suatu halangan untuk kita mempunyai energi usaha yang lebih, sesuai kemampuan dan kesempatan masing-masing, dan rajin bekerja meski dengan hasil yang sangat sedikit karena segala sesuatu hasilnya tersebut harus diimani adalah atas kehendak-Nya. Ini berguna untuk menguji kesabaran sebagian orang dan kerakusan sebagian lain yang bisa terjebak merasa bangga diri karena ketetapan Tuhan diklaim adalah ditentukan hasil kerja (culasnya) yang padahal bisa jadi modal licik doang, wkwkwkwk.

Iblis menakut-nakutimu dengan kemiskinan, begitu diceritakan dalam Quran selaras dengan sebuah hadits dhaif, sehingga mengakibatkan kemiskinan itu dekat dengan kekufuran. Namun zaman kini, orang-orang yang kelihatannya ulama dan orang soleh dari tampilan luar pun turut menakuti-nakuti umat ini dengan kemiskinan dan bukannya mengikuti teladan Rasulullah malah lebih senang kongkow-kongkow sama orang beruang. Pantas saja Nabi mewanti-wanti perihal alwahn untuk prioritas pengajaran bagi zaman sekarang karena ustadz dan syetan pun sudah beda-beda tipis perbedaannya, he2. Tapi ingat juga, meski ada hadits berbunyi bahwa penghuni syurga itu kebanyakan fakir miskin namun bukan berarti juga bahwa kebanyakan fakir miskin masuk syurga. Karena sebagaimana diceritakan dalam Quran, Iblis akan mampu menyesatkan semua anak cucu adam terkecuali orang-orang yang mukhlis. Betapa sedikitnya jumlah orang yang cenderung ikhlas dalam kehidupan ini dapat kita lihat, dengar, dan rasakan. Makanya menjauhi akhlak matrelinial, alwahn, syirik harta itu penting bagi keselamatan kita yang bertauhid kepada Allah semata yang hanya menguji sangat-sangat sebentar ruh kita untuk numpang mampir sejenak di pohon dunia yang sekejap dan fana ini. Kepentingan politik dan materiil adalah motif dalam hubungan antar manusia-manusia kufur dan munafikun. Selayaknya hanya keikhlasan semata yang melandasi hubungan orang beriman yang lurus dan direkat kebenaran sprituil yang jujur. Saling berkasih sayang karena-Nya, hanya dan semata. ^^

Bahaya Besar Islam Al-Wahn Kontemporer

Apakah penyakit cinta harta hanya tumbuh di zaman terkini. Tentu tidak karena sejarah telah memberitakan begitu banyak peristiwa tamak harta dalam kisah umat manusia. Muhammad, nabinya umat Islam, memberi penegasan tentang eskalasi cinta dunia ini di akhir zaman sesudah masanya. Tentu pada masa tersebut dan masa sebelumnya yang jahiliah aktivitas cinta dunia ini sudah sangat luar biasa. Penegasan Sang Nabi tentang penyakit al-wahn yang melanda umatnya yang berjumlah banyak sesudah zamannya menandakan bahwa akan tiba bentuk cinta dunia yang lebih dahsyat daripada zaman jahiliah. Kenapa begitu? Karena pada zaman dahulu jelas mereka cinta dunia sebagai seorang kafir, namun kini di tengah kemegahan dakwah Islam tegak bersama dan berkompromi dengannya manusia-manusia munafikun pecinta dunia. Bahkan banyak mungkin yang bergelar ustadz dan dermawan soleh.

Larangan terhadap cinta dunia dan takut mati inilah yang menjadi prioritas pesan Muhammad untuk agenda generasi sesudahnya. Pada masa Sang Nabi masih hidup orang bisa bertanya langsung kepada beliau dan orang-orang munafik diketahui beliau meski dirahasiakan hanya kepada salah seorang sahabatnya. Pada masa sekarang kita menyaksikan sendiri betapa banyak ulama-ulama cinta dunia dan penjilat penguasa dan pengusaha. Pada masa yang paling buruk nanti Nabi menasehatkan untuk mengasingkan diri. Inilah ujian terbesar bagi umat Muhammad di akhir zaman. Bukan kemiskinan yang aku takutkan atas kalian pada masa itu, kata beliau, tetapi makin terbukanya perhiasan dunia. Makanya bisa dipahami bahwa prioritas utama perjuangan akidah tauhid aliran agama yang hanif untuk masa kontemporer ini adalah memerangi penyakit al-wahn dan para marketingnya yang berjubah motivator cinta (ke)hidup(an) kadang-kadang.

Pada masa kini tentulah wajar kiranya kaum munafikun ini jumlahnya lebih masif lagi dibanding dengan masa Muhammad masih hidup di Madinah. Sebagai munafikun tentunya senjata mereka adalah ibadah ritual dan akhlak yang bersifat tampilan luar. Mereka sangat rajin dan bekerja keras untuk ini. Sehingga menjadi sulitlah bagi kita pada masa kini untuk membedakan yang mana syekh dan yang mana syekhtan. Kecerdasan metode-metode politiknya untuk memanipulasi kebenaran pun tentunya makin meningkat sehingga seolah-olah mereka akan terlihatnya sebagai orang yang tampil saleh dan memasarkan kebaikan. Padahal busuknya ada jauh tersembunyi di dalam. Bagi, sebagaimana dijanjikan Iblis dalam Quran, kecuali orang-orang yang mukhlis sebetulnya ada alat yang jelas untuk mengukurnya yaitu seberapa besar al-wahnnya. Jelas sekali kaum al-wahn munafikun ini ujung-ujungnya akan mensaleskan paradigma cinta dunia. Jelas juga karena kehidupan dunia inilah tujuan mereka yang riil (akhirat untung-untungan dan cadangan saja). Karenanya mereka akan sangat memandang penting untuk menjalin networking kepentingan ekonomi dan politik dengan sebanyak mungkin manusia.

Bahkan kalau perlu mereka melakukan ibadah akhirat untuk mendapatkan hasil duniawi. Maka tepatlah bagi kita sebagian kecil, sebagaimana disebut oleh Quran lagi, tidak mengikuti kebanyakan orang yang tersesat untuk menyatakan prioritas perang pada masa kini terhadap kaum Islam munafikun al-wahn mania dengan empat simbol karakternya: tamak, licik, pendengki, dan bunglon. Seorang yang ikhlas, hanif, dan berserah kepada kehendak Allah harusnya beramal bukan supaya mendapat syurga, melainkan beribadah sehingga diberi syurga. Bukan amal kita yang bernilai nantinya tapi ridho ilahi atas kemurnian niat ibadah kita. Karena ada orang (munafik) yang beramal dengan amalan-amalan calon penghuni syurga namun takdir Allah mendahuluinya dan dia (pantas) masuk neraka. Penghisaban itu ada pada bagian akhirnya, diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dan itu butuh niat yang murni 100% hanya untuk-Nya; tidak mempersekutukan dengan materi, tahta, dan yang lain-lain. Inilah tauhid hanif untuk zaman kontemporer penuh fitnah dan kekacauan informasi ini guna bersikap kontra terhadap pragmatisme tawaran kesenangan hidup dari jaringan alwahn munafikun yang memang akanmendapatkan jatah syurga dunianya. Ini bukan soal kaya-miskin (gak penting banged) yang dibahas pada tulisan-tulisan lainnya.

MTGW Melencengkan Akidah Islam

Sebetulnya udah gak tahan tinggal lebih lama disini, namun demi melihat ortu yg semakin berumur gak tega rasannya ninggalin mereka tanpa ada yang lain disini. Normalnya mereka justru "lebih baik" saya ngga disini, namun dalam situasi yg nggak normal gimana nanti. Tentulah hanya anaknya yang akan membela meski kaya ataupun miskin, situasi yang salah apalagi benar, dan sebagainya; berbeda dengan orang lain yang "mendekat" sejauh ada kepentingan. Dan saya hanya mengelus dada belum bisa berbuat menghadapi ini. Bagaimanapun inilah alam pemikiran kultur (matre) mereka disini.

Sungguh saya jijay dengan suku bangsa matrelinial nih. Tentu saja di tempat lain banyak, tapi masalahnya disini rumahku sendiri. Orang lain hamba materi ya terserahlah. Seperti di Jakarta, saya tak terlalu ambil pusing toh aqu gak temenan sama mereka he2. Meski sebetulnya juga tidak menyukai kehidupan kota penuh maksiat tersebut, namun ya hanya tempat itulah yang lebih kukenal kehidupan jalanannya dibanding yang lain. Setidaknya menjadi tempat transit sementara sebelum diijinkan nyaman di lingkungan kebaikan dan kebenaran.

Karena ruang televisi di sebelah, sayup-sayup kudengar juga dakwah Nabi Mario Tegang yang tentang apalagi kalo bukan memberi motivasi untuk cinta atau memuliakan uang dan hormat kepada beruang dan ekses sebaliknya. Jadi sebel deh, orang botak ini jadi motivator mingguan untuk menjaga ghiroh akidah kaum tamak harta. Tidak semua yang ia katakan salah. Tentu, ia banyak berbicara tentang nilai-nilai kebaikan. Tapi ujung-ujungnya dan bungkus platform besarnya adalah alwahn.

Ini berikut salah satu contoh ajarannya yang kudengar barusan. Bagaimana kesesatan dibungkusnya dengan rapi dalam retorika-retorika seolah kebenaran dan kebaikan dan keindahan. Rejeki dari langit melalui orang. Untuk itu kita perlu disukai orang. Yang disukai banyak orang berarti juga disukai Tuhan (maksudnya hantu kali ya). Mungkin saya beda dengan kebanyakan orang karena saya sebagai lelaki sukanya sih kalo bisa bersenang-senang setiap hari tanpa ada perasaan berdosa. Banyak yang bisa diperdebatkan, termasuk soal makna kata suka disini. Saya juga pernah melihat ada yang mempertanyakan metode-metode "seolah" dakwah tapi tanpa dalil gini. Jelasnya Mario Tegang memang cerdas mempermainkan alam pikir manusia pecinta materi yang linglung atau pasrah dama memahami dalil rejeki dari langit. Apakah dia antek syaitan yang berupaya melencengkan akidah-akhlak Islam garis lurus (hanif)?

Da'i Alwahn Menyusupi Islam

Apakah Islam agama yang anti kekayaan dan kemakmuran? Tidak tentunya. Tapi dalam Islam kekayaan itu adalah sekedar titipan dan tidak mempunyai kekayaan bukan berarti menjadikan seseorang kurang bernilai apalagi tidak bernilai. Berbeda dengan kedudukan orang berilmu dengan orang bodoh yang memang dibedakan sebagaimana ketakwaan. Bahkan dalam sejarah Islam ulama-ulama soleh kebanyakannya hidup dalam kekurangan secara material.

Kenyataan masa berabad-abad belakangan ini menunjukkan negeri-negeri muslim dalam keadaan sebaliknya dari negeri-negeri kafir yang penuh kemakmuran. Kemudian ini dihubungkan dengan intelektualitas. Betul, memang ada kaitannya namun bukan variabel tetap. Alasan kemiskinan tidak bisa dijadikan indikasi bahwa negeri muslim sedang tidak beriman sebagaimana alasan kekayaan juga tidak berarti negara-negara makmur telah mengimani Tuhan.

Perkembangan ilmu pengetahuan yang berpusat dari Barat sekarang ini telah membuat doktrin kesejahteraan duniawi juga meracuni intelektual Islam. Kemudian dari sinilah timbulnya ideologi menyandingkan keimanan dengan kesejahteraan. Akibat terburuknya status tidak kaya kemudian divariabel-tetapkan dengan kemunduran iman. Inilah konsekuensi terburuknya yang dalam pandangan saya bisa jadi telah terjatuh kepada syirik matrilinial atau syirik harta. Menyekutukan Allah dengan materi yang lebih kongkrit. Sebagaimana ini terjadi pada kaum pagan yang pandir-pandir sehingga kesulitan mencerna Tuhan yang tidak riil lalu membutuhkan simbol-simbol materi dan tuhan yang berdaging, nyata, bungkus, munafik.

Pada masa kini mulai banyak yang mengelaborasi ajaran kezuhudan dalam Islam dengan misi kapitalistik modern. Orang Islam yang tidak tahan miskin butuh ilmu Barat untuk kaya. Gayung bersambut dengan perkembangan ilmu materialistik Barat yang memang butuh adaptasi dengan pasar kultural Timur. Saya hanya bisa menasehatkan bahwa jika ada dan banyak pendakwah, da'i, motivator masa kini yang mengagung-agungkan tata nilai materi sebagai fokus amal manusia Islam maka itu adalah penyelewengan yang sangat berbahaya, fatal, dan makin melembagakan akhlak alwahn. Karena sudah seyogyanya bagi seorang muslim yang berserah mestilah percaya bahwa kaya miskin itu adalah ketetapan. Manusia hanya berbuat maksimal tanpa keculasan sesuai keadaannya masing-masing dan hanya menjadikan banyak sedikitnya ketetapan materi baginya sebagai total sarana, bukan sama sekali tujuan dan untuk berbangga-banggaan. Dalam perspektif kehidupan kaum atheist dan golongan munafikun dalam tubuh Islam hanya kejayaan materi dan imbasnya pada status politis inilah jiwa raga mereka dipersembahkan.

Pertanyaan saya, apakah doktrin Islam harus kaya dan Islam miskin itu hina ini sebagiannya apakah lewat tokoh-tokoh yang sengaja disusupkan ke tubuh jajaran panutan umat Islam saat ini?

Aneka Aliran Dalam Islam

Disadari bahwa hal yang saya bicarakan ini adalah sesuatu yang sangat rumit dalam Islam hingga akhir zaman. Kita cuma bisa berharap akan datangnya masa perang akbar dimana jelas terpisah bendera antara yang hak dengan yang batil. Tentu juga saya hanya akan berbicara sejauh yang saya ada punya pengetahuan. Dan seperti biasa fokus yang saya pilih adalah memerangi pemikiran (sekali lagi pemikiran) kaum cinta dunia. Orang-orang munafik yang saya nilai dalam masa kini sangat signifikan merusak dari dalam.

Dengan kata lain saya menyebut mereka sebagai penganut syirik harta atau syirik matrelinial untuk mempertegas betapa dosa ini derajatnya jauh di atas kemaksiatan dan dosa-dosa kecil serta sedang yang lain.

Lalu apa hubungannya dengan aneka aliran dalam tubuh Islam?

Salah satu versi aliran islam yang paling dekat dengan tertib masa Nabi adalah kaum salafi atau ahlussunah wal jamaah meski semua tentunya juga mengaku seperti itu. Menariknya yang secara umum tergolong ke barisan salaf ini saja pada masa sekarang juga saling berkepecahan satu sama lain. Apalagi untuk membicarakan aliran atau sejenis aliran Islam lain seperti aneka syiah, tassawuf, tarbiyah atau ikhwani, tahriri, khawarij, sekuler, abangan atau awam akut, liberal, tradisonal (hehe emang pasar...), muhammadiyah, hingga ahmadiyah.

Membicarakan kelompok-kelompok dalam Islam ini mau tak mau pada akhirnya bisa dilihat bukan sekedar berupa persatuan ideologis tetapi lebih riil dan kongkritnya merupakan perkongsian praktis yang meliputi aspek politik dan ekonomi (tahta dan harta). Bisa jadi pula aspek praktis inilah yang jauh lebih menonjol dikarena lebih jelas wujudnya dan nyata efeknya kepada zamannya dan keseharian. Ini meliputi baik tingkat elitnya yang walau punya ilmu namun juga hawa nafsu sebagai manusia dan juga tentu akar rumputnya yang memang berpikir jangkauan pendek.

Menurut saya ini semua terjadi karena persatuan kepentingan antara ulama yang munafik dan umatnya yang bodoh-bodoh yang memperlakukan agama sebagai mie instan. Dalam hal promosi gencar tentang Islam cinta harta misalnya saya melihat ada dua kemungkinan. Pertama, hal ini hanya sebuah siasat dari sang ulama untuk mengenalkan kebahagiaan Islam kepada umat yang kadung sudah terjangkit wabah akhlak matre atau dalam sisi lain karena berpandangan dakwah Islam membutuhkan fondasi ekonomi dan politik yang giat diusahakan dan diutamakan sebagaimana taktik kaum kafir memperjuangkan aneka agama-agamanya.

Keduanya, sang ulama memang telah juga terjangkit alwahn sehingga menjadi munafik atau dia adalah penyusup dari luar yang sedang merusak akidah umat mayoritas yang awam yang merasa cukup dalam hal ilmu untuk menjadi awam. Kalaupun orang-orang ini meyakini kebenaran Islam tentulah ia berangan-berangan akan tidak adanya ayat-ayat Quran yang sangat banyak menghina pecinta harta tersebut pun juga hadits-hadits Nabi yang senada; yang di mata mereka bisa saja dipandang kurang memotivasi untuk sukses harta.

Sementara untuk mengkaji kebenaran (aliran) Islam sejati telah terbukti pada berabad-abad sejarah menghasilkan perdebatan dan perpecahan terus-terusan. Sementara akal manusia terbatas. Dan Rasulullah sudah tak ada untuk memberi kata akhir. Sementara seperti diisyaratkan Nabi akan datang masanya para ulama pada yaaa gitu deh. Makanya buat saya berbicara Islam yang alirannya benar tidak sekedar tentang ritual atau muamalat yang kasat mata dan rentan pertopengan tetapi lebih utamanya kembali ke akidah dan akhlak sebagai pegangan sebuah agama tauhid yang substantif, sprituil, dan rohanis.

Aliran Islam yang benar adalah yang menjaga diri dari akidah dan akhlak cinta harta dan kemaruk status. Berhati-hati terjerambab dalam kemunafikan dan mengutamakan sabar. Merasa cukup dalam hal keduniawian sesangat kurang apapun itu namun jangan merasa selesai untuk terus menambah dan menumpuk ilmu sehingga tidak merasa sudah selesai sebagai aliran yang terbenar (tawadhu dan dialektis). Dari aliran manapun dia dicap dan tersegmen secara realitas muamalah terkini selagi masih berpegang pada Islam garis lurus ini, yaitu sebagian kecil yang ikhlas nirpamrih dan tidak mengikuti sebagian besar yang menyesatkan alias terkesan benar, insyaAllah akan tidak terlepas dari pohon kebenaran Islam. Iman ruhani yang tidak memperlakukan agama sebagai asset, kapital, materi, dan mie instan.  ̿ ̿̿'̿'\̵͇̿̿\=(•̪●)=/̵͇̿̿/'̿̿ ̿ ̿ ̿ 

Syirik Matrelinial dan Syirik Harta

Dulunya saya menggunakan istilah ini untuk men-terminologi-kan keadaan terburuk dari orang (mukmin) yang menderita penyakit alwahn (cinta dunia dan takut mati). Belakangan saya mulai mendengar ada Surya Pratomo, seorang redaktur senior Media Group, menggunakan istilah syirik harta. Dulunya saya juga pernah melihat istilah syirik harta atau matrelinial ini kalo nggak salah juga pernah digunakan dalam sebuah tulisan. Tapi tema seperti ini memang nggak laku dan jarang dibahas.

Siapa yang tak senang harta; termasuk yang kelihatan tampilan luar soleh atau komunitas soleh. Bahkan mulai ada pula pemikiran-pemikiran seperti Islam harus kaya atau zuhud itu setelah kaya dulu. Tidak cinta harta dibatasi pada kaya dulu lalu sedekah kelihatan yang sebanyak-banyaknya diperlihatkan. Jadi alih-alih isu sensitif alwahn ini dihubungkan dengan dosa yang tak bisa diampuni dalam Islam, yakni syirik; menyekutukan Allah SWT dengan hal-hal lainnya. Pertanyaannya, sejauh mana kecintaan seorang muslim taat yang diperlihatkan rajin bersedekah (sekalian berpolitik) ini kepada harta tidak bersinggungan atau menyingkirkan keikhlasannya mencintai Allah SWT 100%?

Saya juga seneng harta, itu normal sebagai manusia. Namun perspektif dan intensitasnya berbeda dengan penderita alwahn akut. Syirik harta atau matrelinial menurut saya terjadi ketika kita mulai menjadikan kecintaan pada harta itu sebagai struktur penilaian. Contoh paling parahnya ketika kita menilai seseorang itu taqwa karena dia kaya atau dia taqwa sehingga kaya atau taqwa supaya kaya. Ketika soal kaya miskin mulai kita jadikan ukuran untuk menentukan tingkat keimanan, maka saat itulah menurut hemat saya telah terjadi kecintaan pada harta yang sangat akut sehingga mulai menuhankannya dan menciptakan syirik; sebuah dosa yang tak akan diampuni.

Padahal kemudian jelas salah satu rukun keimanan kepada Allah SWT adalah percaya pada ketentuan dan ketetapan, termasuk soal kaya miskin. Muslim penderita alwahn mulai terkontaminasi perpekstif kafir atau atheis yang menilai kaya miskin itu soal kemampuan merubah nasib. Lalu ini dibenturkan dengan kepasrahan pada nasib dalam pengertian pemalas dan tidak bekerja keras. Padahal jelas-jelas Islam itu adalah penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah SWT dan percaya kepada takdir bukan pula berarti tidak melakukan apa-apa.

Bagi orang yang beriman dan bebas dari syirik matrelinial atau harta selayaknya percaya bahwa hanyalah proses yang menjadi bagian manusia sedangkan hasilnya sudah merupakan ketetapan Sang Pencipta yang menguji makhluk manusia ke dalam keadaan yang berbeda. Bagi Allah SWT yang akan menjadi penilaian nantinya adalah isi hati yang berserah kepada-Nya, bukan instrumen-instrumen penuh topeng yang selama ini dijadikan struktur ukur dan tata nilai rekayasa oleh pemufakatan busuk kebanyakan manusia dengan Iblis dan Dajjal yang di belakang memegang tongkat komando networking kesesatannya. Kebanyakan yang jahil dan bodoh, kecuali yang ikhlas dan tidak culas.

Tidak Salah Uang Namun Ujang

Karena bukan penulis terkenal karena tidak banyak kenal(an) maka baiknya sedari awal menggunakan tekhnik bunglon mendomplengin nama Besar seorang manusia (biasa/tidak kaya) bernama Si Muhammad. Lelaki santun namun tanpa topeng ini sangat jarang berkata kasar apalagi sumpah serapah--bahkan saking polos dan lugunya beliau sebagai manusia biasa (tidak kaya) tadi sangat mudah diperdaya oleh kaum munafikun--dan sangat terkenal dengan riwayatnya: jangan marah dan jangan mudah marah. Namun dalam sebuah hadits kutemukan beliau "mencaci maki": celakalah hamba harta, roda, dan sutra, hehe.

Sebagai manusia biasa (yang pengen kaya/tahta/status) wajar kiranya kita seneng sama duit atau harta atau wang. Tapi tentu sebagian besar dari kita tak mau dicap hamba harta. Memang kita menghamba pada harta namun capnya itu berkesan (citra) agak gak enak dan justru berefek negatif bagi status (sosial). Apalah artinya harta banyak jika tanpa disertai tahta (sosial) dan seks/libido. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk berkilah. Semisal jika kembali ke contoh hadits lagi gembar gemborkan tentang keutamaan "sedekah/gratifikasi" yang memang dibolehkan untuk terlihat/syiar/dakwah dan "berfaedahnya" kaya raya. Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat (dari segi duit) bagi pen'z'ilat di sekitarnya.

Memang berat untuk mencerna dimana letak salahnya realitas ini dan yang bukan hanya kini. Tapi seperti "diramal" Si Muhammad itu tadi lagi mungkin kini kita sedang menyaksikan betapa kian menuju dahsyatnya Agama alWahn; cinta dunia dan takut mati. Karena dan karena lagi katanya bukan kemiskinan yang aku takutkan atas kalian tapi makin terbuka lebarnya perhiasan dunia ini. Ah, indahnya. Di Madinah pada masa generasi terbaik saja berkeliaran orang-orang munafik apalagi masa ini, kini. Dahsyatnya ujian.

Kian ke hari kita makin menyaksikan betapa kerennya status finansial sampai-sampai seorang pengacara yang sempat baru-baru saja nyaris dianggap "pengkhianat" negara berani menghina secara cukup terang pemimpin tertinggi negara ini sebagai sudah tak berdaya menghadapi superiornya networking kartel uang. Bahkan tambah parahnya menganjurkan kepada teroris untuk menggunakan alat yang satu itu sebagai senjata efektif menaklukkan institusi negara, bangsa, bahkan benua Indonesia.

Terlalu jauh bicara negara segalalah padahal di kenyataannya setiap kantong saku ini butuh untuk diisi sebanyak-banyaknya biar bisa beli itu ini dan terus menyemarakkan kapitalisme global dimana oh dimana segelintir elite sistem kapital modern melalui tangan (bukan otak) intelektual antek-anteknya (dengan beragam dialektika versi aliran) menguasai generasi budak seterus menerusnya. Sudah tetap miskin, makin menghamba uang juga. Romantik dan tragik. Lalu bisa apa tanpa uang? Pertanyaan yang tidak relevan sebetulnya tapi kenyataannya baru sampai disinilah otak terindoktrinasi qita mampu memikirinnya. Ya Tuhannya Si Muhammad tadi, apa salahnya menghamba ?!?

Media Kak Tarsis Dalam Karyo The Asu Sastrooo

Seorang koruptor zaman Orde Baru yang lolos dari pengawasan Indonesian Coruption Watch bersantap malam bersaama keluarga besarnya. Sambil me...