Senin, 28 Februari 2011

MTGW Melencengkan Akidah Islam

Sebetulnya udah gak tahan tinggal lebih lama disini, namun demi melihat ortu yg semakin berumur gak tega rasannya ninggalin mereka tanpa ada yang lain disini. Normalnya mereka justru "lebih baik" saya ngga disini, namun dalam situasi yg nggak normal gimana nanti. Tentulah hanya anaknya yang akan membela meski kaya ataupun miskin, situasi yang salah apalagi benar, dan sebagainya; berbeda dengan orang lain yang "mendekat" sejauh ada kepentingan. Dan saya hanya mengelus dada belum bisa berbuat menghadapi ini. Bagaimanapun inilah alam pemikiran kultur (matre) mereka disini.

Sungguh saya jijay dengan suku bangsa matrelinial nih. Tentu saja di tempat lain banyak, tapi masalahnya disini rumahku sendiri. Orang lain hamba materi ya terserahlah. Seperti di Jakarta, saya tak terlalu ambil pusing toh aqu gak temenan sama mereka he2. Meski sebetulnya juga tidak menyukai kehidupan kota penuh maksiat tersebut, namun ya hanya tempat itulah yang lebih kukenal kehidupan jalanannya dibanding yang lain. Setidaknya menjadi tempat transit sementara sebelum diijinkan nyaman di lingkungan kebaikan dan kebenaran.

Karena ruang televisi di sebelah, sayup-sayup kudengar juga dakwah Nabi Mario Tegang yang tentang apalagi kalo bukan memberi motivasi untuk cinta atau memuliakan uang dan hormat kepada beruang dan ekses sebaliknya. Jadi sebel deh, orang botak ini jadi motivator mingguan untuk menjaga ghiroh akidah kaum tamak harta. Tidak semua yang ia katakan salah. Tentu, ia banyak berbicara tentang nilai-nilai kebaikan. Tapi ujung-ujungnya dan bungkus platform besarnya adalah alwahn.

Ini berikut salah satu contoh ajarannya yang kudengar barusan. Bagaimana kesesatan dibungkusnya dengan rapi dalam retorika-retorika seolah kebenaran dan kebaikan dan keindahan. Rejeki dari langit melalui orang. Untuk itu kita perlu disukai orang. Yang disukai banyak orang berarti juga disukai Tuhan (maksudnya hantu kali ya). Mungkin saya beda dengan kebanyakan orang karena saya sebagai lelaki sukanya sih kalo bisa bersenang-senang setiap hari tanpa ada perasaan berdosa. Banyak yang bisa diperdebatkan, termasuk soal makna kata suka disini. Saya juga pernah melihat ada yang mempertanyakan metode-metode "seolah" dakwah tapi tanpa dalil gini. Jelasnya Mario Tegang memang cerdas mempermainkan alam pikir manusia pecinta materi yang linglung atau pasrah dama memahami dalil rejeki dari langit. Apakah dia antek syaitan yang berupaya melencengkan akidah-akhlak Islam garis lurus (hanif)?