Minggu, 15 Mei 2016

Bisnis di Padang: Lubuk Minturun Landscape Menantang



Berbicara tentang lokasi bisnis atau usaha di Kota Padang, Sumatera Barat, saat ini sedang terjadi pergeseran pusat pemerintahan dari Pasar Raya Padang di Kecamatan Padang Barat yang berada tak jauh dari pantai padang ke Kecamatan Koto Tangah yang dilintasi jalan padang by pass. Spekulasi bencana gempa dan tsunami berikutnya dalam skala besar yang akan terjadi membuat arah pembangunan Padang menjauhi garis pantai pada sebelah barat daya kota dan merapati jejeran bukit barisan di arah timur laut. Tak jauh dari area balai kota dan gedung DPRD baru di Aie Pacah, berjalan ke arah Bandara Internasional Minangkabau atau luar kota menyusuri sepanjang jalan by pass, arah sebelah timur-utara akan bisa anda saksikan lanskap Lubuk Minturun menyuguhkan panorama persawahan dan gunung-gunung sebagai backgroundnya.

Daerah Lubuk Minturun ini sejak dahulu terkenal hanya sebagai daerah pemandian dan wisata penjualan bunga hias di sepanjang jalannya. Sebelum tragedi tsunami Aceh 2004 dan gempa dahsyat Mentawai 2009, daerah ini hanyalah rural area yang mayoritas dihuni penduduk yang sudah turun temurun asli sini. Namun sejak pembangunan baru berusaha menjauhi garis pantai dari sebelah barat ke selatan, mulai banyak di daerah ini dibangun perumahan-perumahan baru yang dihuni pendatang belakangan. Terlebih sejak pusat pemerintahan kota dipindahkan tak jauh dari sini. Akses ke area kota lama Padang pun juga makin tidak sulit dengan jalan yang sangat lebar baik lewat simpang Stasiun Kereta Api Tabing ataupun lewat jalan by pass yang sedang tahap finishing menjadi enam lajur besar sepanjang hampir 30 km dari Pelabuhan Teluk Bayur hingga Bandara.

Pertumbuhan pembangunan di daerah Lubuk Minturun ini serta merta menghadirkan peluang bagi siapa saja yang hendak berinvestasi membisniskan modal yang dimilikinya untuk menciptakan profit. Tempat ini memang unik karena tidak sesumpek kawasan kota lama yang hanya dipenuhi bangunan layaknya kota-kota besar lainnya tapi di sela-sela pembangunan yang masih baru digenjot masih banyak terdapat lanskap persawahan dan ladang di sana-sini. Penduduknya pun makin ramai dan beragam karena akses transportasi dan telekomunikasi disini sudah makin sangat gampang. Sebagai contoh, jika ada yang mau berbisnis menjual makanan di tempat ini, saya lihat variasi jenis makanan saji pun belum begitu beragam. Selain warung nasi ampera tentunya, bisa disebut beberapa saja jenis makanan saji yang dijual. Khusus pagi menjelang siang yang ada hanyalah kedai lontong sayur, pical (semacam gado-gado), dan sate. Belum pernah ada disini yang menjual makanan seperti bubur ayam, ketupat tahu, sego pecel (versi jawa timur), nasi kuning, dan sejenisnya karena di Padang itu memang sangat jarang. Saya pribadi pernah mencicipi ketupat tahu yang sangat lezat bukannya di Kota Bandung atau Jakarta melainkan Kota Kecamatan di Pare, Kediri, Jawa timur malahan, tepatnya dekat pasar sayur atau rumah dinas Kapolres.

Siang hingga malam di Lubuk Minturun ini bahkan Kota Padang pada umumnya jenis makanan juga masih kurang variatif. Paling adanya Mieso/Bakso, Lotek, Pecel Ayam/Lele, sudah itu saja sepertinya. Kalau makanan ringan seperti martabak atau roti bakar atau gorengan mungkin cukup banyak bisa ditemui. Sementara Martabak Mesir di daerah Lubuk Minturun cuma satu yang ada, tepatnya di depan rumah saya hehe. Padahal tempat ini penduduknya makin ramai dan jika mencari menu makanan lain tentu mereka terpaksa pergi agak jauh ke Tabing atau Lubuk Buaya. Menurut hemat saya begitu beragam model makanan berat hingga ringan yang diciptakan di Indonesia ini alangkah menantangnya jika ada yang mau mencoba menghadirkan santapan baru di daerah ini. Mengenai peta detail dan lebih lengkapnya tentang "dompet" calon konsumen di tempat ini nantinya silahkan dilihat sendiri hasil sensus ekonomi 2016 supaya lebih update kalau sudah selesai nanti. Sebagai gambaran tambahan, kedai bubur kacang ijo atau ketan hitam juga tidak ada sehingga tongkrongannya lelaki malam disini cuma di warung kopi biasa. Sementara selain kampus Universitas Bung Hatta dan Baiturrahmah di dekat balai kota, kampus baru IAIN Imam Bonjol Padang juga akan segera selesai dibangun di bukit Sungai Bangek yang masih bisa dibilang daerah Lubuk Minturun juga. Di Simpang By Pass Lubuk Minturun juga terdapat Akademi Maritim Sapta Samudra yang para mahasiswanya rata-rata indekost disekitar kampusnya.

Sebagai orang yang juga biasa bolak balik ke perantauan di Pulau Jawa saya melihat jika ada di antara perantau minang yang ingin mencoba memindahkan bisnisnya ke kampung halaman bisa mempertimbangkan devoleping area semacam Lubuk Minturun ini. Daripada terus-terusan membangun negeri orang kenapa tidak membangun negeri sendiri jika bisa menemukan tempat atau lokasi yang pas dan cocok guna menghidupkan bisnis Anda. Jika di kampung sendiri tidak memungkinkan, daerah Lubuk Minturun yang akan jadi pusat keramaian baru ini kiranya boleh juga diperhatikan kemungkinannya. Lokasi yang strategis membuat dari tempat ini mudah untuk kemana-mana, baik pusat kota lama, luar kota, ataupun luar negeri lewat BIM Ketaping Pariaman yang hanya sekitar 10 km dari sini jaraknya. Sejauh ini memang saya sendiri baru terpikir lahan kosong untuk bisnis makanan yang sangat cocok untuk investasi disini. Kalau developer perumahan ataupun bangunan ruko apalagi membangun hotel mungkin butuh modal cukup besar dan keuntungannya jangka sangat panjang. Sementara usaha kecil-kecilan non makanan seperti konter pulsa, warnet, fotokopi, kedai groceries saya rasa sudah cukup kehandle dengan penduduk setempat yang ada saat ini.

Satu lagi ada keunggulan yang menarik dari daerah Lubuk Minturun ini selain lokasi strategisnya saat ini dan hawa udara/lanskapnya yang masih cukup sejuk. Keunggulan tersebut ada pada situasi sosialnya. Berbeda dengan pusat kota yang relatif sudah kehilangan tali sosial nuansa perkampungan, di Lubuk Minturun ini warga-warga pendatang kemudian relatif baru mulai masuk sehingga masih dominan dihuni oleh keturunan penduduk asli. Sebagaimana bisa dibaca lewat literatur pustaka, grup pendatang pertama Kota Padang untuk kecamatan-kecamatan selain pusat kota di sekitar Muaro Padang adalah nenek-nenek moyang kami yang turun dari daerah Solok menembus bukit barisan. Kakek saya sendiri masih tahu kampung asal orang tuanya di Saniangbaka tepian danau Singkarak. Jadi relatif yang dominan menghuni daerah sini orang-orang yang masih punya hubungan kekerabatan. Struktur sosial seperti ini membuat situasi keamanan relatif lebih terjaga ketimbang struktur sosial masyarakat heterogen kota yang sepenuhnya hanya terikat pada keluarga inti lalu langsung ke aparat negara. Di kawasan padang lama yang sudah sangat bercampur asal-usul penghuninya akan terasa berbeda sekali upaya penertiban hukumnya dengan daerah-daerah perkampungan yang selalu bisa diselesaikan dengan kekeluargaan. Bisa ditracing juga riwayat kriminal yang sangat jarang di daerah ini. Karena saling mengenal, calon pembuat onar akan malu untuk berulah disini. Demikianlah sementara asumsi yang dapat saya berikan untuk pertimbangan investasi ekonomi Anda jika berminat membuat pulang uang ke kampung untuk tujuan tetap produktif alias diputar lagi haha. Okay wassalim.