4Some: Langage, Kultur-Religi, & Politaikk, en Economyzakarnaikss

Dollar Bill Origami CAMEL by John Montrol
"Sebagai salah satu guru yang mengajarkan bahasa Arab di salah satu sekolah swasta di Lombok, saya pribadi sangat prihatin dengan kenyataan ini prof Sumanto Al Qurtuby. Dan 2015 ketika berkesempatan mengunjungi Mesir, apa yang Prof Sumanto gambarkan ini memang betul adanyanya. Betapa aneh ketika si supir taxi "terheran" ketika mendengar kami berbahasa Arab fushah. "Ini bahasa kami dengar dan gunakan dalam forum2 resmi, atau membaca puisi katanya". Sampai salah satu dri rombongan kami menangis ketika mendapati kenyataan bahwa dia yang suda 30 thn lebih belajar dan mengajar bahsa Arab di Perguruan Tinggi Islam di Bandung, tetap harus menggunakan guide untuk bisa berbelanja di Pasar-pasar. Sungguh ironis, kami di Indonesia memperjuangkan agar tetap bahasa Arab digandrungi. Tapi pemiliknya sendiri malah meninggalkannya. Saya termasuk yang mengkampanyekanbahasa Arab bukan hanya masalah agama Prof, tapi bahasa Arab seperti bahasa lainnya juga sebagai alat komunikasi pada umumnya.
Tampaknya benar kelakar teman Arab saya yang mengatakan, kalau saja bukan karena bahasa Arab adalah bahasa al Qur'an, mungkin bahasa Arab sudah seperti bahasa latin yang tidak punya penutur hidup. Mohon wejanganya menyikapi masalah ini Prof. Bagaimana selanjutnya kami selaku pengajar manyikapi ini."


Pertarungan Bahasa Inggris dan Bahasa Arab di Tanah Arab

by Pak Ustad Profesor Sumanto Al Qurtuby Radiyallahuanta


Di saat sebagian kaum Muslim di Indonesia sedang “demam” dan “gandrung” Bahasa Arab, di kawasan Arab sendiri masyarakat justru “demam” dan “gandrung” Bahasa Inggris yang merupakan tuntutan globalisasi, modernisasi, dan arus migrasi yang kuat. Perkembangan bahasa Inggris ini berpotensi mengancam punahnya Bahasa Arab klasik dan standar karena semakin jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa Inggris sekarang bahkan telah menjelman menjadi “lingua franca” dan menjadi bahasa kedua di sejumlah kawasan Tanah Arab.

Beberapa hari lalu, saya ngobrol dengan kolegaku, Tarik Muhammad, seorang Arab-Mesir yang lama tinggal di Jerman. Ia menceritakan tentang fenomena menjamurnya dan prestisenya Bahasa Inggris di Mesir. Sekolah-sekolahberbahasa Inggris yang meskipun biayanya mahal diburu oleh masyarakat dengan harapan sang anak bisa melanjutkan sekolah di negara-negara Barat atau mendirikan usaha sendiri (jasa konsultasi, klinik, bisnis, dlsb) di negaranya yang memang mengsyaratkan kemampuan Bahasa Inggris baik untuk membaca dokumen atau teks maupun medium komunikasi.

Fenomena merebaknya Bahasa Inggris ini bukan hanya di Mesir saja tetapi juga di kawasan Arab lain seperti Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Libanon, Yordania, Bahrain, dlsb. Karena itu tidak mengherankan jika Anda menjumpai orang-orang Arab yang cas-cis-cus dalam berbahasa Inggris: good mornang-good morning, brathar-brother, baba-mama…

Perkembangan pesat Bahasa Inggris ini pelan-pelan telah menggerus eksistensi Bahasa Arab yang dianggap kurang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Bahasa Inggris juga menjadi "bahasa elit" karena banyaknya industri-industri besar dan transnasional, selain sekolah-sekolahatau kampus-kampus yang meniru model Barat. Bukan hanya itu, anak-anak dan remaja juga menggemari Bahasa Inggris karena banyaknya game-game yang menggunakan "Bahasa Londo" ini.

Kekhawatiran tentang "teknologi membunuh Bahasa Arab" ini direspons oleh Syaikha Moza, Kepala Qatar Foundation for Education, Science, and Community Development, dengan menggalang pembentukan "Forum Renaisans Bahasa Arab." Sebuah simposium akbar tentang pentingnya menjaga dan merawat Bahasa Arab digelar di Qatar, negara tetangga Saudi yang juga bermazhab “Hanbali-Wahabi” tetapi Hanbali-Wahabi yang moderat dan modern. Simposium ini diselenggarakanoleh "Forum Kebangkitan Bahasa Arab" dan disponsori oleh World Organization for Renaissance of Arabic Language (WORAL) dan Qatar Foundation. Forum ini melibatkan lebih dari 300 peneliti dan tokoh dari berbagai kalangan dan latar belakang keilmuan: pendidik, jurnalis, birokrat, pengusaha, dlsb.

Ketua Dewan Penasehat WORAL Abdul Aziz bin Abdullah Al-Subaie menekankan tentang pentingnya pendidikan Bahasa Arab bagi anak-anak. Sementara Syaikha Moza Binti Nasser, Kepala Qatar Foundation for Education, Science and Community Development meminta semua pihak untuk bersatu menggalakkan, mengembangkan, dan memasyarakatkanBahasa Arab standar agar tidak punah di kemudian hari. Syaikha Moza juga menegaskan bahwa punahnya bahasa berarti lenyapnya identitas sebuah bangsa.

Dunia Arab dewasa ini memang sedang dihadapkan pada persoalan pelik dan ancaman punahnya Bahasa Arab standar dan Bahasa Arab klasik (fushah). Ada beberapa faktor yang menyebabkan "terpuruknya" Bahasa Arab standar dan fushah ini. Pertama, masyarakat Arab kontemporer lebih menyukai "Bahasa Arab gaul" atau bahasa/dialek colloquial (ammiyah), yakni Bahasa Arab informal yang dipakai dalam pergaulan sehari-hari, ketimbang Bahasa Arab standar yang baku. Penggunaan "Bahasa Arab gaul" ini tidak hanya dalam komunikasi sehari-hari tetapi juga di media, sekolah-sekolah, televisi, dlsb. Maraknya penggunaan Bahasa Arab gaul ini menyebabkan Bahasa Arab standar dan baku yang sesuai dengan kaedah tata-bahasa (nahwu-sharaf) menjadi terasing dan termarjilankan.

Jika Bahasa Arab standar modern saja tergerus dari masyarakat apalagi Bahasa Arab klasik yang digunakan dalam Al-Qur'an, teks-teks / kitab klasik keislaman, berbagai ibadah atau ritual keagamaan, syi'ir, dlsb. Bahasa Arab fushah ini semakin langka dan "antik" dan nyaris tidak pernah dipakai dalam literatur keilmuan apalagi dalam kehidupan sehari-hari sehingga macet dan terancam tenggelam terkubur dalam limbo sejarah, dan penguburnya adalah masyarakat Arab sendiri.

"Murid senior" saya dari Madinah, Ali Muhammad Al-Harbi bahkan mengatakan masyarakat Arab modern (selain "komunitas literati" dan "kaum agamawan" tentunya)--apalagi anak-anak, remaja, dan pemuda--bahkan banyak yang tidak paham dengan Bahasa Arab fushah ini. Sambil berkelakar ia mengatakan, "Bahasa Arab fushah ini seperti 'bahasa mahluk alien' saja sekarang ini yang semakin hari semakin asing, klasik, dan antik..." (sumber: fesbukkiyahh)




















Posting Komentar

Media Kak Tarsis Dalam Karyo The Asu Sastrooo

Seorang koruptor zaman Orde Baru yang lolos dari pengawasan Indonesian Coruption Watch bersantap malam bersaama keluarga besarnya. Sambil me...