Sebuah Logika Untuk Memahami Bumi Berputar


Ribut-ribut debat tentang "keyakinan" apakah bumi yg mengelilingi matahari sebagaimana teori sains barat kavir ataukah matahari yg mengelilingi bumi sebagaimana yg leterlek terlihat oleh biji mata dan juga dikabarkan oleh kitab sucinya dalam tafsiran lugunya, aq ingin menawarkan sebuah concept yang kemaren kupikir2 masuk akal juga untuk menguji dan memvalidasi dua "teori" bertentangan ini. Ini memang bukan disertai rumus-rumus dan hitungan angka-angka karena akan makan waktu banyak kalau aq harus mempelajari itu lagi (kalaupun otakku masih sanggup). Lagipula, seorang partner-ku pun yg bidang ilmunya masih sangat dekat dengan astronomi ini saja pun kuyakin males untuk diminta tolong ngitung2nya karena gak ada benefit untuk kredit pangkat dozennya hehe.

Jadi begini logika penawaran konseptual yang aq mau tawarkan. Silakan dinalar masuk akal atau tidak, rasa-rasanya ini logika dasar saja yang tidak terlalu rumit karena aq juga tidak menyertakan argumentasi berbasis persamaan matematika dengan penghitungan detail. Apalagi "devil in the detail", kadang penghitungan yang njelimet itu jadi semacam argumentasi pembenaran untuk menutupi kesalahan pada konsep dasarnya karna seolah2 dibuat terlihat "cerdas". Aq mau menawarkan cara berpikir cukup sederhana saja yang rasa2nya tidak akan terlalu sulit dicerna. Coba Anda perhatikan timeline atau rentang waktu yang dibutuhkan oleh matahari sejak terbit sampai tenggelam selama kurang lebih 12 jam itu (di daerah khatulistiwa/ekuator) dibandingkan kepada posisi derajat ketinggiannya dari ufuk hingga zenith.

Mulai ngerti atau masih mudeng? Jadi begini, kuperjelas. Ternyata matahari untuk turun dari posisi (sekitar) 45` arah barat hingga tenggelam sewaktu maghrib jauh lebih cepat dibanding ketika ia di zenith (90`) ke posisi 45` itu. Atau jika kita parameterkan ke spasial jam analog: dari posisi jam 12 ke jam 15 lebih lama dibanding dari jam 15 ke jam 18. Begitu juga pada arah timur. Dari terbit hingga ia setinggi 45` itu makan waktu lebih cepat ketimbang dari perjalanan posisi 45` ke 90` atau tegak lurus atas kepala. Sehingga karena ini kita bisa merasakan antara sekitar jam 9 pagi sampai jam 3 sore itu posisi matahari masih cukup tinggi dalam waktu cukup lama dibanding akumulasi pagi dan sorenya saat posisi matahari sudah rendah yang terasa begitu cepat. Ya memang ini agak pake perasaan karena aq juga tidak mencatat persis waktunya.

Tentu ini jadi pertanyaan kita kenapa posisi-posisi matahari yang melingkar melewati atas kepala kita itu tidak linier dengan titik-titik waktu yang dihabiskannya? Bagi saya gerak yang terlihat relatif dan semu ini cukup membuktikan bahwa yg terjadi adalah bumilah yang bergerak mengelilingi matahari bukan sebaliknya. Jika matahari yang konstan mengelilingi bumi saya yakin timeline berbanding posisinya akan linier sempurna sehingga pada jam 9 pagi dan 3 sore seharusnya kita bisa melihat posisi matahari pada 45` di arah masing-masing. Seingat saya kemaren pada waktu sekitar hampir jam 5 sore bahkan matahari masih pada posisi 40-an` derajat ini tinggi terlihat. Saya rasa--ya aq belum bisa memastikan teori dan rumusan fisikannya bagaimana--ini juga terkait dengan arah datangnya sinar matahari yang ketika semakin ke horizon ia akan melewati sudut yang lebih lebar untuk melewati atmosfer bumi hingga ke titik mata kita berada. Belum lagi soal perubahan posisi konstan ekliptik matahari tiap 6 bulan yang "katanya" hanya bisa dijelaskan dengan teori rotasi planet bumi. Dan tentu saja segudang argumentasi lainnya yang masih saja dibantah dengan ngotot berbekal keimanan oleh kaum yang "berakal" itu.....

Terakhir, terkait juga fenomena equinox tsb yang sedang terjadi sekarang-sekarang (Khemis, 16 Maret 2017), aq juga mau mencatatkan di postingan ini mumpung ingat pada saat menulis ini tentang lintasan ekliptik matahari ini (dan "benda2" langit lainnya) di atas rumahku. Pada sekitar tanggal ini posisi matahari adalah tepat di atas khatulistiwa sebelum bergerak (semu) arah ke utara lalu balik lagi ke posisi ini di september lalu arah ke selatan lalu balik lagi begitu seterusnya sampai kiamat kecuali jika terjadi perubahan konstalasi saling mengunci antar gaya gravitasi antar benda2 langit. Nah, pada pagi ini kulihat bayangan pohon palm muda di pinggir jalan depan rumah baru/amak jatuh ke arah luar sudut utaranya bekas proyek pompa. Jadi supaya matahari terlihat tegak lurus di atas palm muda (pada sekitar jam 8-an pagi tadi itu), aq harus berdiri sekitar tengah2 antara kedua rumahku dengan polongan ke jalan. Nanti kuperhatikan lagi sore pas sunset posisinya terhadap rumahku dan pohon2 di sekitarnya bagaimana. Mudah2an ingat nih hehe.

Yang jelas sekarang aku simpan di hardisk otakku bahwa posisi ekliptik yang menimpali khatulistiwa adalah arah selatan atau kanan sedikit dari puncak tertinggi gunung/bukit sungai lareh yang terlihat dari kawasan rumahku. Nanti akan kucuba bandingkan dengan lintasan bulan yang hari-hari ini baru saja sedikit pasca-purnama atau bulan cembung, sudah pasti mirip lintasan matahari (arah2 itu juga) cuma apa persis sama? Terbitnya bulan sudah agak tengah malam dan pagi hari sewaktu matahari sudah terang ia masih cukup terlihat memutih mulai turun ke ufuk barat. Kalau nggak salah ingat ia sedang mengganggu jupiter yang masih setia bersanding dengan spica. Kalau scorpio dan sagitarius kuperhatikan agak ke selatan dari ekliptik, beda dengan jupiter-spica yang deket dengan lintas bulan. Sementara orion kalo ndak salah agak sedikit ke utara ekliptik dan sirius agak ke selatannya. Bima sakti belum juga bisa dilihat dengan mata bugil karena kala kusempatkan dan ingat untuk sejenak menatap ia selalu sembunyi kemalu2an di balik lembaran awan2 tebal ataupun tipis.
Posting Komentar