Sabtu, 27 September 2008

LAGU LOKAL

TOETI SENANG DUDUK JAGA WARNET?

Hari menunjuk pukul sepuluh nol-nol kelihat di dinding kamar Mahmoed; 10:20 w.i.b pada jarum jam tangannya yang kanan; dan pada layar komputer jangkrik yang sedang error tertayang 03:20 a.m malahan. Berarti sekarang waktunya ke situ seperti biasa. Pemuda penganggur ini biasanya memang selalu meluangkan waktu sekitar jam segitu buat main ke warnet sesosok pemudi berparas cakap bernama Toeti. Sebetulnya juga bukan meluangkan waktu karena waktunya memang luang selalu. Tapi memang pada jam segitulah ia bisa meminjam motor tua bapaknya sepulang sang bokap dari ladang cabai dan daun koka keluarga besar mereka (baik menggunakan izin, dengan ijin, atau secara diam-diam, ataupun hanya secara). Kadang-kadang bapaknya Mahmoed pulang lewat dari jam 12:00. Kalo udah jam segitu, Mahmoed biasanya mengurungkan niat buat pergi. Karena tarif akses internet di warnet Toeti kembali ke standar di atas pukul 13:00, jadi sekian rupiah per hours.

Ya, warnet Toeti jadi pilihan bagi Mahmoed karena ada diskon kalau ngenetnya pagi sebelum jam satu tadi. Setidaknya begitulah semula meski tentu juga bukan itu cuma alasan-alasannya. Dulu-dulu sih Mahmoed lebih sering ke warnet lain yang ada diskon sepanjang hari meski tidak menggunakan sistem tarif flat per detik seperti as. Biasanya kalo ke warnet tsb ia bisa dan biasa datang sore-sore saja. Dan pada sore-sore yang biasanya barangin sepoi-sepoi itu biasanya pula motor tua bapaknya nganggur juga sepertinya. Dan demi tarif diskon ini tidak jarang ia rela mengantri cukup lama banget sebab warnetnya acap penuh dengan banyak para pelajar-pelajar yang kabarnya ke warnet masih dalam kerangka kegiatan belajar mengajar. Mahmoed menyangsikannya. Tapi ia ikut antri juga. Sembari antri ia bisa menghabiskan dua batang marlboro kretek sambil menghayalkan kapan jodoh yang ia impikan tidak ditahan tuhan untuk bisa ditemuinya. Antrinya, artinya, duit buat beli rokok tsb sama saja dengan sekian diskon ngenet yang diharapkannya.
Kembali ke warnet Toeti. Berawal dari kebutuhan seorang kawan yang gaptek and minta tolong buat memantau proses seleksi cpns di internet, Mahmud memulai episode baru kunjungan warnetnya. Si kawan bernama Bono ini ternyata lebih suka ke warnet Toeti sebab (diduga) ia suka sangat sama yang jaga. Toeti memang gadis yang cakap dan sedap untuk dilihat oleh para jomblo kelaparan seperti Bono, dan berikutnya pula oleh Mahmud. Plus pula Toeti ini wanita yang sangat ramah bahkan akrab sekali dengan para pengunjung warnetnya. Dalam hal terakhir ini Mahmoed pada akhirnya mulai melihat, setuju, dan terpengaruh bahwa layanan warnet Toeti ini saaangat memuaskan sekaligus, pada akhirnya nanti, mengkwuatirkan. Beberapa kali kunjungan dengan Bono tsb menstimulan pula kesenangan pada diri Mahmoed buat main di sana. Tiada Bono pun Mahmoed jadinya memilih untuk mengusahakan ke sana sebab toh ternyata juga ada tarif hemat bagi pengunjung kalau datangnya saat pukul diskon di sana. Ya, sana.
Singkat cerita, mulailah Mahmoed pada akhirnya lebih sering main ke warnet Toeti setelah ia tahu di warnet ini diskon menjadi hak bagi pengunjung dari pagi hingga siang menjelang. Memang agak repot mengatur waktu dengan kedatangan motor tua bapaknya. Tapi ia pikir-pikir kalau pergi ke warnet yang lain ia bakal sering ngantri, dan pula ia harus bawa motornya masuk jalan besar dengan resiko berpapas polisi sementara ia takpunya s.i.m, motor mati pajak, muka mirip teroris, serta tentu saja pemalas memakai helm. Mau hemat seribu dua ribu rp masak hilang pula seratus dua ratus ribu? Itu yang namanya lapor kehilangan seekor kambing malah jadi kehilangan sepuluh bibir anjing. Rute ke warnet Toeti tiada akan membertemukan Mahmoed dengan resiko ekonomi biaya tinggi tsb karena cukup menyusuri sebuah gang tikus guna menujunya. Lagi pula warnet Toeti juga lebih asyik kok buat ngenet karena, berkat Bono, Mahmoed kenalan sudah sama putri ayu yang jaganya itu. Bahkan bukan sekadar kenal. Begini ceritanya.
Setelah beberapa kali lebih sering main di warnet Toeti, Mahmoed mulai akrab-akraban sama cewek cakap yang jaganya ini tuh. Seperti diceritakan semula, kelebihan pelayanan warnet ini bukan pada kekerenan bandwith akses internetnya, atau kecanggihan specs setiap unit komputer dan softwares yang ter-instal di dalamnya tetapi melainkan pada humanity relationship yang terjalin di sana. Kira-kira seperti populernya situs friendster atau www.myspace.com dan yang sejenis di dunia on the line. Betapa soal membangun blind social network ini begitu penting di era optik saiber dan jejaring multimedia ini ya? Jadi pikir Mahmoed, kalo gw butuh antivirus atau mau salin tempel program apa-apa nanti bisa minta saja sama yang jaganya, enggak usah repot-repot keluar duit buat download lagi dan menambah kempis kantong kerenya. Tapi bukan soal kebutuhan akan aneka program dan maintenance inilah yang berjalan. Program interaksi perasaan yang di kemudian hari ternyata berjalin.
Jangan buru-buru menafsirkan ini cinta sobat. Awalnya Mahmoed juga heran. Kok tukang jaga warnet yang secantik merpati ini begitu ramah kepadanya. Bukan ramah tetapi begitu ramah. Kawan gapteknya Si Bono tadi yang semula mengenalkan ia dengan cewek ini saja tak segitu akbrabnya. Sampai-sampai U2 palsu ini mulai kelihatan muka cemburu perasaannya. Mahmoed menyoba terang tenangkan fenomena ini dengan teori kemarketingan. Keakbraban yang ditawarkan adalah sebuah nilai jual dan ini tentu sah-sah saja dalam sebuah bisnis usaha. Mahmoed dan kawannya, yang sama-sama jomblo ini, tertawa. Barangkali sebuah tawa yang sangat merendahkan harkat dan martabat perempuan-perempuan semuka bumi. Atau justru memuliakan kata para pengusaha wanita. Tapi ada yang kawan ini tak ketahui. Hadir dan ada sebuah keakraban yang agak beda.
Kalau Mahmoed mulai duduk di warnet Toeti buat menjelajahi semesta alam maya, acapkali cewek tukang jagal ini nyamper ke tempatnya berada. Mulai dari sekedar nyapa, lihat-liatin, nyubit-nyubitin, hingga lempar-lemparin kertas dari tempat duduknya sebagai operator. Oya, ada juga acara ngelus-ngelusin. Meski merasa asyik dan nyaman-nyaman saja, Mahmoed sesekali sempat tercenung juga dan agak heran. Kita ini belum saling kenal cukup seumur kok sudah kayak orang yang satu tempat tidur? Kadang Si Toeti yang manis bagai gula aren ini curhat-curhatan kepadanya. Kalau tidak ingat teori marketing-marketingan tadi mungkin Mahmoed rasanya sudah tidak tahan untuk ungkap dan tumpahkan apa yang ia rasa. Meski perasaan dalam tahapan laki-laki buaya. Maklum jomblo. Tapi sepertinya takbegitu juga, Mahmoed sempat terpikir. Sepertinya perempuan ini memang mengharapkan perhatian seorang pria darinya. Pada salah satu curhatnya di awal-awal, gadis (atau yang mungkin masih gadis) ini ngakunya masih jomblo juga dan sepertinya terlihat berusaha menyelidiki keaslian status jomblo yang Mahmoed sesumbarkan. Namun pada akhirnya Mahmoed tahu juga, Toeti yang cakep ini sudah ada yang sedang kencani ternyata. Dan tentu saja, lelaki tsb sepertinya tak sepenuhnya memiliki hatinya karena ada Mahmoed yang datang merebut. Bahkan barangkali pula cewek cakap ini tengah diincar-incar dan sedang menjalani kencan gelap dengan sekian pria yang terpesona dengan keramahannya.
Toeti senang jaga warnet? Begitulah ucapan spontan mulut Mahmoed yang penuh aroma tembakau dan jengkol makanan favoritnya. Suatu hari cewek ini datang memeluk Mahmoed dengan membawa setetes air mata. Pacar resminya marah-marah karena saat itu hendak download bokep dan meminta gadis ini, entah sebagai operator warnet atau entah sebagai pacar yang disayangin, tak menolak untuk membantunya nyariin dan ngunduhin adegan-adegan syur tsb. Masyaallah. Sebelumnya ceritanya pacarnya urang-uringan karena Toeti takmau dicium waktu dibawa ngabuburit ke Jembatan Siti Nurbaya. Astaghfirullah. Sebelumnya lagi pacarnya mungkin sangat marah karena selama ini cowok tsb sangat tajir menggelontori kebutuhan finansial Toeti yang ngakunya sih selalu kekurangan dengan pekerjaan yang seperti saat ini. Yeah. Entah benar atau tidak -- Mahmoed takyakin bisa percaya sepenuhnya cerita perempuan spt ini -- dia minta Mahmoed berikan sebuah solusi. Toeti merasa sedih berat, katanya, karena dia baru dipinjami duit lagi kalo pacarnya dibantu mendapatkan file-file terlarang dan tidak mendidik tsb. Seolah-olah dia dianggap pacur yang bisa diperlakukan seenaknya sementang ada uang. Toeti memang butuh uang pacarnya. Tapi di curhat ke Mahmoed tsb dia ngakunya sedih dimarahi tadi karena dia sangat sangat mencintai pacarnya tsb.
Menurut Mahmoed cara Toeti mencipta relasi dengan para lelaki sudah taksehat. Bahkan dia sempat terpikir mendadak dangdut. Tapi Mahmoed juga bukan orang yang cukup beriman dan sangat dekat dengan tuhan, jadi takberani pula menyiptakan sebuah tjap atau kategori. Buat Mahmoed, dan dia memang biasanya juga begitu, hubungan co-ce tak apa-apalah longgar dikit yang penting nikmat. Tapi tapi kalau seorang kekasih hati sudah minta dibantu ceweknya sendiri buat bantu nyari-nyari video porno di depan layar komputer sementara daripada si cewek merasa sangat sangat terpaksa ini aneh dan barangkali belum ada preseden fiksinya. Beda soal kalau mereka pasangan yang jelas-jelas keduanya (sekali lagi keduanya) memilih hidup di jalur bebas hambatan. Mahmoed angkat topi karena inginnya juga dapat hidup seperti gitu. Entah barangkali dengan alasan si pria ingin menunjuki betapa kecewanya ia gagal mendapatkan sebuah ciuman padahal sudah keluar modal sekian selama ini guna dapatkan perhatian. Atau lebih parah lagi secara implisit tapi kok kasar ngasih tahu ceweknya kalau beliau lagi sangat-sangat “butuh”.
Jadi Toeti senang duduk jaga warnet? Pertanyaan ini tak terdengar jawabannya dan Mahmoed takpernah berani menyampaikan apa yang dipikirkannya. Mendapatkan belaian gratis dari si cewek manis setiap kali berkunjung ke sana saja sudah sangat meriangkan hati lelaki jomblo dalam kesepian ini. Toeti tak menanggapi tanggapan Mahmoed meski semula cewek inilah yang bertanya apa solusinya. Segera Mahmoed mengusap jejak alir tangisan kesedihan di pipi gadis manis ini saat nama Toeti terdengar kembali dipanggil salah seorang pelanggannya. Selepas ngurusi yang bersangkutan tadi wajah Toeti sudah terlihat tidak lagi terlalu bersemburat linangan air mata. Ia harus selalu tampil indah di depan costumer-nya, terutama laki-laki seperti yang manggil-manggil tadi. Sepertinya juga tak sekedar tampilan tetapi alhamdulillah sudah bersejiwa dengan kepribadian. Aku orangnya suka bergaul looooo, begitu tulisnya di Friendster. Dan di suatu hari Mahmoed melakukan investigasi kecil-kecilan tentang jenis teman-teman pria Si Toeti yang cakap ini. Salah satu teman cowoknya menulis, who I want to meet: cewe2 yg bisa dikentot geratis!
Sambil menyematkan bedak di merah pipinya dan memoleskan gincu biru di bibir indahnya, Toeti kembali bercerita pada Mahmoed betapa kepada pacarnya tsb dia sangatlah cinta. Dan entah kenapa Mahmoed lagi-lagi mengambil kesimpulan secepat kilat bahwa ini memang sudah taksehat. Tak ada kesempatan buat Mahmoed berpikir, cewek tsb meneruskan celotehan tentang apa yang terasa di dalam hati putih sucinya. Toeti kalau sayang sama seseorang itu bakal selalu meluluskan apapun permintaannya, tutur Toeti pada Mahmoed yang mulai agak gemetaran sembari juga mulai menetes-netes air liurnya. Mahmoed memang sudah meyaksikan sendiri dengan kepalanya dan kepala kawan gapteknya betapa sangat memuaskan selera sekali pelayanannya kepada setiap pelanggan warnetnya, terlebih-lebih pelanggan jomblo bernama Mahmoed ini. Lah kenapa menolak waktu cowok Toeti minta dicium, tanya Mahmoed tanpa rasa. Apa enaknya emang ciuman, Toeti balik nanya. Enak kok, cobalah. Begitulah Mahmoed memberikan saran.
Sambil duduk nyaris berpangkuan di meja operator warnet tersebut, Mahmoed terus mendengarkan statement dengan wacana ganda dari Si Toeti tentang pacar maniaknya. Cowok tersebut telah sangat membuat terluka gadis yang Mahmoed sayangi ini tetapi juga di sisi lain Toeti terus membisiki telinga Mahmoed dia sangatlah cinta padanya. Mahmoed betul-betul taktahu bagian mana yang mesti dipercaya dan bagaimana untuk mempercaya tetapi ia tahu pasti bahwa ia harus dengan baik dan simpatik mendengarkannya. Kadang-kadang monolog Toeti sampai juga pada perihal tentang kejenuhannya terhadap cowok-cowok ganjen genjer yang mengelilingnya. Lah bukannya sampeyan senang bergaul looo, batin Mahmoed. Sambil terus melakukan orasi tentang makna cinta, Toeti dengan centil selalu menyempatkan menjawab chatting nakal pacar-pacar cyber di layar komputernya. Mahmoed hanya bisa terus mendengar dan memprihatinkan, maksudnya memperhatikan.
Toeti senang duduk jaga warnet? Mahmoed kini mulai khawatir dengan Toeti dan kelemahan ih keramahan relasi sosialnya. Barangkali Mahmoed justru tengah khawatir dengan perasaan yang sedang tumbuh dalam hatinya. Mahmoed merasakan panas dingin menyergap dalam sebuah kesatuan rasa-rasanya ke jantung jomblonya. Tapi ia bingung, heran, taktahu apa yang terjadi dan bagaimana mesti menyikapi. Selama ini ia merasa cukup menikmati pertemanan Toeti dan melupakan rasa yang macam-macam sebagaimana kata para pengunjung warnet yang lain: Toeti milik semua. Mahmoed takut lama-lama jika ceritanya tambah berat dan kurang ringan seperti ini datanglah sudah aspek posesif yang dalam konteks cerita ini sangat naif itu padanya. Padahal Toeti senang duduk jaga warnet, melihat kedatangan Mahmoed, dan mencurahkan perasaan yang entah-entah dan penuh kemungkinan semua itu. Bagaimana nanti ke depan dengan bisnis macam ini kalau kepentingan ekonomi oleh kepentingan perasaan mesti diinterferensii. Padahal Mahmoed senang yang bebas-bebas saja dech. Apa nanti kata Bono, kawan gapteknya, with or without you. Tamat sudah riwayat kejombloannya ini yang sudah dengan susah payah terjaga. Yang ternyata pula diakhiri oleh ujaran begini: ya sudah sama sampeyan aja Toeti pinjam duitnya ya ya ya? Mahmoed segera melangkah pergi menuju tempat terparkir motor tua milik bapaknya. Tak sedikitpun ia selera untuk menoleh dan taklagi merasa perlu tahu apakah ada seorang gadis kembang bunga tengah menatap kepergiannya dengan mata berkaca-kaca ataukah setengah berkaca mata. Dari atas motor ia tertawa kuat-kuat karena heran dan khawatir dengan apa yang sedang terjadi di dalam hatinya.

Padang, 31 Desember 2007