Jumat, 13 Maret 2009

JK FOR PRESIDENT?

Hingga detik ini saya masih sangsi dan penuh syak wasangka perihal tersebut. Seperti kutulis sebelumnya, gw rada curiga isu perpecahan golkar-demokrat itu sandiwara belaka (atau dalam intensitas sandiwara tingkat tinggi alias direncanakan dengan cukup mateng); meski mungkin awalnya insidental. Namun melihat perkembangan selanjutnya--pandangan2 petinggi2 parpol, pengamat2, hingga sikap sang capres alternatif keturunan ranah minang ekonom Rizal Ramli--saya mulai agak memberi kemungkinan:betul bahwa JK siap untuk bersaing dengan konconya yg dari Pacitan untuk kursi RI-1. But, once again, this not closed door for probability that was political acting shit! Jika benar (bukan rekayasa/manajemen konflik+iklan)? Ini cukup luar biasa! Dengan latar belakang watak pedagang, JK lumrahnya lebih nyaman di posisi wapres seperti saat ini. Mungkin derasnya tekanan dari internal golkar, yang kabarnya sudah sangat terfaksi2, membikin naik tensi dan kepancing harga diri saudagar bugis kita!


Jika JK malu sebagai capres eh maju, peluang untuk memeroleh kemenangan tidaklah kecil dengan mesin politik partai golkarnya serta koneksi relasi bisnis politik yang sudah matang. Termasuk posisi incumbennya bersama SBY; pada satu sisi juga bisa menguntungkan. Dan sudah pasti, kerajaan bisnisnya sendiri. Ini akan menjadi sejarah; pertama kalinya yang berasal dari suku non-Jawa (pengecualian Habibie yg menjabat dalam waktu singkat serta Safroedin Prawiranegara yang tak diakui) bisa memimpin bangsa besar yang berpusat di Java Island ini. Sebagian pengamat menilai akan ada resistensi dari suku Jawa karena secara karakter sifat orang non-Java yang rada blak2an dan terlalu terus terang kurang disukai. Sementara pemilih terbesar ada di pulau Jawa. Kemudian di sisi seberang kita melihat keinginan Sultan Yogya untuk juga maju sebagai capres. Dan tentu sederet etnis Jawa lain yang sejak lama sudah terdengar gaungnya: SBY-Megawati-Prabowo-Wiranto-dan mungkin juga Hidayat Nurwahid serta Amien Rais/Soetrisno Bakhil. Wah bisa berabe Bung Jus!

Gw sendiri tak senang sama golkar. Karena buat saya partai ini masih cukup toleran pada "orang2 dan ide2 lama". Mungkin gara2 masuknya intelektual2 muda seperti Indra J Piliang pun pengusaha Jefrie Geofanie (keduanya berasal dari Sumbar lo! Kebetulan) saya jadi sedikit respek pada partai ini dan mudah2an bisa agak sadis dikitlah membuang orang2 lama tuw. Tapi lebih menjijikkan lagi partai baru dengan orang lama dan ide2 lama. Buat orang2 ini proses politik hanyalah bertujuan utama demi melebarkan (minimal mempertahankan) sayap bisnis keluarganya. Lalu kemudian saya--subjektif--kurang sreg sama pedagang. Imej di otak saya mereka2 ini jago nipu dan (minimal) doyan kongkalingkong. Tapi sebaliknya 180 derajat guwe justru sangat menaruh hormat kepada para pedagang jujur. Sebagian mereka bersusah payah mengais nafkah dengan fair di jalanan; hasil sedikit, penuh keringat, namun sangat berkah. Terus terang guwa sampai sekarang masih meragukan ke-barokah-an pendapatan pasif (dambaan kebebasan finansial setiap manusia); sebagaimana pula Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Jual belinya ya bukan ngicuahnya. Dan apa yang diteladankan Rasul dalam hidup (sesudah kenabian)-nya?

Makanya, meski bukan anggota kiri yang pengen menjagal orang2 borjuis (karena sirik, iri hati, dan dengki walahh), tetap aja imej di otak guwa tentang para pebisnis di jaman edan sekarang ini agak negatif. Maksudku sangat negatif. Sekali lagi, minimal budaya kongkalingkong; kalo standarnya sih nipu2 dikit, kalo standar tinggi ya tipuan tingkat tinggi pula. Demi harta benda; bukan ideologi, keyakinan, ataupun cinta. Pokoknya pengikut poros harta-wanita-kuasa dah. Haha semua kita juga kepengen ya. Intensitasnya yang beda. Makanya pedagang kesannya buat guwa adalah realistis (no-idealis) lalu pragmatis hingga oportunis. Nah agak janggal melihat JK sekarang bisa kelihatan agak idealis. Mengingat "kursi" tersebut sepertinya bukanlah hasrat pribadi tapi keinginan kolektif kader2nya (demi medan bisnis mereka2 yg sekarang sinyalnya bisa terganggu frekuensi dari kader2 demokrat), ini memang bisa berarti sikap pragmatik juga. Tapi lumayanlah bisa mengenyampingkan kemauan pribadi untuk hal yang bukan berjudul uang..

Kenapa? Karena kalo untuk duit JK atau siapapun akan lebih nyaman sebagai RI-2. Keuntungan ekonomi adalah lebih maksimal jika kita jadi orang penting dalam lingkar kekuasaan, bukan sosok sentral yang berkuasa itu sendiri. Yang penting adalah bisa memengaruhi si penguasa untuk mengeksekusi kekuasaannya sesuai kehendak kita. Kenapa lagi? Kedua, posisi individu penguasa adalah penanggung resiko terbesar dalam lingkaran kolektif kekuasaan tersebut. Para pembisik bisa mengalihkan tanggung jawab idenya kepada orang yang dibisiki alias si pengambil keputusan. Banyak tentu contoh sosok2 pimpinan yang modar bersimbah darah mempertanggungjawabkan kebijakan "pemerintah"-nya. Mulai dari dipenggal seperti Louise Borjunya Perancis hingga the assasination of JFK in Dallas, Texas, negeri para cowboy. Melihat JK yang bukan suku jawa, yang bukan jenderal militer, yang suka menampung semua kepentingan, dan yang bukan dewa meski kaya raya, kita layak cukup khawatir; minimal tidak puguhnya kekuasaannya dan dilengser ka prabon cuma gara2 perihal yang tak substansial oleh masyarakat negeri klenik relijius ini. Sebagai pedagang setingkat toko showroom dia bolehlah bisa menampung beragam komplain aneka kolega bisnis. Tapi untuk kekuasaan negara, kita akan berbicara mensinkronkan perbedaan2 yang tak sekedar. Perbedaan keyakinan dan ideologi (termasuk isu primodialisme) bisa membuat orang dengan gampangnya saling "membunuh". Tanpa topangan "kekuatan" yg memadai, dengan "akses" yang longgar, seorang kepala negara sangatlah rentan. Apalagi ini bangsa yang cukup ragam.

Namun sekali lagi apresiasi yang sebesar2nya buat JK. Rang sumando minang ini kelihatannya sudah mulai maju selangkah lagi dalam tahap kedewasaannya sebagai pria sejati. Uang hilang bisa diganti, tapi nyawa melayang kemana akan dicari. Dalam investasi bisnis JK berhadapan dengan resiko ekonomi yang relatif masih bisa cukup terukur dan pula terencanakan secara terukur. Dengan topangan kekuatan lobi politik dan akses ke pusat kekuasaan, usaha dagang akan memiliki backup apalagi sistem ekonomi sekarang memungkin pula orang memainkan instrumen asuransi. Pokoknya, banyak teman banyak rejeki. Positifnya menjalin silaturahmi. Negativanya budaya kongkalingkong. Intinya, perkoncoan. Dalam kisruh2 bidang ekonomi, selama mulut pihak lawan bisa disumbal dengan duit, selama orang lain bisa Anda bikin kenyang, maka tak akan ada yang melawan. Ini kita rasakan dalam penindasaan politik-ekonomi menyenangkan selama 32 tahun di bawah kaki Pak Harto. Siapa yang tak senang dengan duit? Bukankah, aku cinta rupiah? Soeharto berkuasa begitu lama bukan sekedar dengan uang, tetapi dengan kekuatan "tangannya" (plus klenik isunya sih). So, succes for Mr. Jusuf Kalla. Selamat memasuki periode tantangan baru sebagai pria. Be a man!