Senin, 09 Maret 2009

MATI KETAWA ALA SUHARTA

Barangkali tak elok memang meborok-borok lagi orang yang sudah modar. Terlepas dari seberapapun "isu" seputar dirinya dan apapun borok-borok yang telah ditinggalkannya. Namun di sisi lain, eyang sepuh hyang sekarang telah bersemayam di kompleks pemakaman keluarga koruptor Astana Giri Bangun, Karang Anyar, Solo ini sendiri merupakan tokoh yang (mungkin) paling berpengaruh dalam sejarah panggung politik Indonesia. Sebagai ikon publik mau tak hendak beliau menjadi teladan historik bagi pembelajaran bangsa. Karena jarak historis yang belum terlalu jauh, banyak memang fakta2 dan dosa2nya yang belum terungkap pasti--apalagi "piara-piaraannya" masih dominan berkuasa secara politik (apalagi ekonomi) di negara kita tercinta ini. Namun tetap rasanya, dan logikanya, penting bagi anak bangsa ini untuk belajar banyak dari sepak terjang tirani persuasif jenderal bintang lima (panglima2 ABRI saja cuman 4 bintang lho) berdarah dingin ini. Kita tentu tak akan meng-ghibah beliau sebagai pribadi dan manusia yang tak lepas dari dosa (kita2 sendiri mana tau juga penuh dosa yang menumpuk bukan?). Sebagai sesama muslim (meskipun isu kejawen dan klenik jawa begitu melekat pada eyang kita ini) wajiblah hendaknya kita panjatkan hampunan dosa bagi beliau dan kelapangan baginya di alam kubur karena juga, apalagi, sedikit banyak beliau juga punya jasa bagi negara ini dalam hidupnya. Namun sebagai tokoh sejarah dengan catatan hitam dan kucuran air mata darah korban penindasan politiknya, sekali lagi anak bangsa ini perlu banyak belajar dari "track record"-nya tersebut.


Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan sebuah ebook dengan tema humor berkait Soeharto. Saking kuatnya cengkraman kuku politik beliau (dan kroni-kroni yang menungganginya), rakyat negeri ini sepertinya tak punya jalan lain selain bersuara secara satire lewat pelbagai macam humor (tentangnya/terkait dirinya) yang beredar secara anonim (terutama lewat media internet yang sulit dipantau dan dikendalikan penguasa-penguasa gaptek tersebut). Apalagi hingga kini pun, karena banyak tokoh penguasa yang masih terkait dirinya, juga masih sangat kabur fakta sejarah seputar sepak terjangnya yang tak terungkap. Jadilah hanya humor dan isu sebagai sarana untuk memuntahkan resah. Sekali lagi, sedikit banyak ini juga penting agar anak bangsa ini tidak mudah lupa akan "pelajaran sejarah". Secara kemanusiaan layaklah kita mendoakan beliau, namun sebagaimana ditanamkan di ruang-ruang kelas Fakultas Hukum: "langit boleh runtuh namun hukum harus tetap tegak!" Sayang sekali filosofi (kebijaksanaan) indah ini di Indonesia justru melahirkan pengacara2 "bayaran", jaksa2 bayaran, hakim2 bayaran. Pokoknya eksponen2 yudikatif yang hijau matanya kalo telinganya mendengar bisikan kata "bayaran". Jadilah sidang2 pengadilan di negeri ini adalah ruang akting trio penuntut-pembela-pemutus dalam beradu logika mempermainkan penafsiran pasal per pasal hukum positif negara kita. Saksi2 hingga terdakwa pun bahkan terlihat ketularan ilmu akting, contohnya ratu lobby kita Ayin PKB. Ah sudahlah sekarang mari kita tertawa dan berkatarsis lewat kutipan2 humor berikut ini:

Tentara Terkuat

Menurut seorang analis militer Singapura, angkatan bersenJata Indonesia adalah kekuatan militer paling kuat di dunia. Angkatan Darat-nya dengan mudah mengalahkan demonstran, Angkatan Udara-nya selalu berhasil membidik udara kosong, dan Angkatan Lautnya melumpuhkan kekuatan bonek. Sementara itu Kepolisian-nya dengan cepat bisa merobohkan para pemain bola dengan gas airmata.

Jendral Kuper

Tersebutlah tiga orang bersaudara. Seorang buruh tani dari Siantar, seorang konglomerat, dan seorang jenderal masih bersaudara. Sang konglomerat mengajak mereka ke restoran “steak” yang terkenal di Jakarta.

Tapi mereka datang agak terlambat. Begitu masuk, si pelayan utama restoran itu dengan sopan menemui mereka dan mengatakan, bahwa restoran tak bisa melayani lagi.

“Maaf, kami kekurangan daging impor,” kata sang pelayan.
Buruh tani bertanya, “Daging impor itu apa, sih?”
Si konglomerat bertanya, “Kekurangan itu apa?”
Sedangkan si jenderal bertanya, “Maaf itu apa?”

Dwi Fungsi

Sugiyo sudah berumur 42 tahun dan mempunyai 4 orang putra. Hari ini ia mengumpulkan semuanya dan menanyakan cita-cita mereka.

Si Sulung, Tohar, “Saya ingin menjadi direktur perusahaan dan Wiraswasta.” Si Nomor dua, Suhar, “Saya ingin menjadi Ulama yang terkenal.” Si Bungsu Suto, “Saya ingin jadi anggota DPR.”

Sugiyo gembira mendengar cita-cita anaknya, lalu ia berkata, “Kalau begitu kalian semua harus masuk ABRI.”

Kapitalis, Sosialis dan Pancasila

“Apa bedanya Kapitalisme dan Sosialisme?” “Kapitalisme membuat kekeliruan sosial!,” “Sosialisme membuat kekeliruan kapital!” “Lha, kalau Pancasila?” “Pancasilaisme di bawah Orde baru membuat kekeliruan sosial sekaligus kekeliruan kapital!”

Titit dan Tutut

Kita masih ingat ketika aktor agak terkenal Indonesia, Ongky Alexander menikah dengan Paula, anak buah Mbak Tutut, (yang konon kabarnya suka berlesbi-ria dengan Tutut … konon lho).

Beberapa minggu setelah pernikahan mereka, seorang wartawan kita menanyakan pengalaman pertama Paula bersama Ongky, “Bagaimana pendapat Mbak Paula, mengenai pengalaman malam pertama bersama Ongky?”

“Wah, … ternyata titit lebih enak daripada Tutut!,” jawab Paula dengan antusiasnya.


Oke sekian dahulu kuntilan guwa (apa bedanya dulu dengan dahulu, sastra dengan sastera, putra dengan puteri--baik secara sejarah bahasa {historis/diakronis} maupun secara makna {sinkronis}--ayo apa coba?) Haha rehat dikit lah. Back to the topic, memang semua humor di ebook yang berjudul "Mati Ketawa ala Soeharto" oleh Rakyat Indonesia dan diterbitkan Pustaka Goro-Goro ini tak semuanya persis tentang Soeharto (kata Pusat Bahasa mah setelah babe modar baru berani bilang bahwa yang baku formal seharusnya adalah Suharto). Sebagian adalah adaptasi dari humor politik global lainnya. Judulnya saja tentu akan mengikatkan kita pada Mati Ketawa ala Rusia ala Chinese ala Planet dll-nya. Untuk lebih jelasnya, dan jika ada yang penasaran, silakan download lewat link ini ==>Maningga Tagalak2 co Pak Gaek<=== mudah2an masih ada. Jika link tersebut udah ndak jalan silakan kontak liwat email so I will send it to you by an attachment file. Sebagai penutup saya kutilkan copyright dan sebagain pengantar dari buku ebook ini:

Hak Cipta © Rakyat Indonesia yang di tengah tekanan dan penderitaannya masih bisa berhumor-ria

Dipersilakan mengkopi sebanyak mungkin. Penerbit tak akan menuntut apa pun apalagi menggunakan undang-undang negara yang telah banyak dosanya dalam membonsai kehidupan bernegara rakyat Indonesia. Juga dipersilakan untuk menerbitkan edisi ulang sendiri berikut tambahannya berupa lelucon politik tentang pejabat yang kini kian banyak berkembang di masyarakat.

Anggota Ikatan Penerbit Buku Indonesia Alternatif (IKAPIA)
Cetakan Pertama,Januari 1998 Percetakan PT Manakutahu, Jakarta.

Pengantar Penerbit

Di tengah krisis ekonomi yang membuat ribuan rakyat kecil bertambah penderitaannya, sejumlah, pejabat Indonesia menyatakan bahwa rakyat Indonesia adalah orang yang paling terbiasa dengan penderitaan. Barangkali pernyataan ini benar adanya tapi juga barangkali pernyataan ini adalah sebuah humor baru yang lebih mirip sebuah parodi.

Belakangan ini orang Indonesia kian produktif menciptakan humor. Para pelaku ekonomi di Indonesia juga tak mau kalah bikin humor segar dengan merespon pembelian dolar Amerika secara besar-besaran saat RAPBN dibacakan Soeharto. Demikian juga ketika Soeharto menyatakan takluk pada tuntutan IMF, orang kembali memborong dolar. Rupiah jadi anjlok. Juga saat Soeharto menyatakan kesediaannya dicalonkan jadi presiden lagi oleh Harmoko. Lantas anak presiden dan sejumlah pejabat membalasnya dengan humor pula. Antara lain dengan melancarkan Gerakan Cinta Rupiah dan perlombaan menyumbang emas secara mencengangkan. Tampaknya dalam situasi krisis, orang kian butuh humor.

Boleh jadi pers dibungkam, aktivis prodemokrasi dipenjara, organisasi kemahasiswaan dan pemuda dibonsai, wakil rakyat sejati di-recall, aspirasi rakyat disumbat, tapi siapa yang bisa melarang orang bikin humor? Barangkali humor adalah sebuah bentuk katarsis orang dari ketidakberdayaannya dalam dunia nyata. Bisa saja penataran P-4 telah dijalankan secara sistematis, gerak- gerik setiap warganegara diawasi dan para wakil rakyat diberi pembekalan, tapi apa memang “ya” lantas semua jadi serba seragam?


P.S NOTES AJA DARI GUWE, SATU HAL YG KUKAGUMI DARI JENDERAL BERDARAH MERAH INI (LA IYA LAH YAW) ADALAH ORANGNYA MURAH SENYUM. BAGAIMANAPUN INI ADALAH TELADAN YG BAIK (TADINYA AKU MO BILANG: "INI ADALAH SUNNAH RASUL", TAPI JADI NDAK ENAK KARENA GUWWA NDAK TERDAFTAR DALAM GENG SALAF MEREKA). MOGA BELIAU DIAMPUNI DOSA2NYA DAN APAPUN WACANA, DIALEKTIKA, THESIS-ANTITHESIS SEPUTAR BELIAU ADALAH IBROH BAGI ANAK BANGSA INI. DAN SEMOGA FAMILY2 DAN KONCO2 YG MENGAIS KEUNTUNGAN DGN MENJILATI PANTAT KERIPUT BELIAU SEGERA ENYAH DARI "QUO VADIS" PELAYANAN RAKYAT NEGERI INI