Jumat, 26 Juni 2009

TUKANGCURIKOMENTAR SITUSLAIN

Why repeat the old errors, if there are so many new errors to commit? (Bertrand Russel)


hehehe lucu nggak sih judul postinganku kali ini, tapi cuba simak sebuah diskusi 'menarik' berikut ini:

11. Loginataka - Mei 22, 2009
Neo Lib yg tidak ‘neo’. Tatkala negara telah menjadi komoditas, maka negara bagian dari pasar. Setahu saya hanya ada 2 rezim dengan tool yg hampir sama, tatkala negara bukan bagian dari pasar: Adolf Hitler dengan Labor Treasury Certificate, dan Abraham Lincoln dengan Greenback nya.
12. Loginataka - Mei 22, 2009
Dan, Lincoln pun dibunuh 2 bulan sebelum perang sipil berakhir. Bahkan butuh 2 kekuatan Barat Timur untuk menghancurkan sebuah Negara Reich Ketiga yang ‘bebas pasar’. Tahun 60-an John F. Kennedy ditembak enam bulan setelah mencoba ‘membebaskan’ negara dari ‘pasar’ dengan menandatangani Executive Order 11110. Mari kita menanti…. atau menunggu?
13. isoelaiman - Mei 26, 2009
Negara bermaksud mengatur pasar demi kepentingan publik. Tapi, bagaimana bila negara itu sendiri adalah pasar? Bisakah negara mengutamakan kepentingan publik. Ibaratnya, penggembala menjaga biri-biri dari terkaman anjing, tapi, bagaimana bila penggembala itu sendiri anjing? Jual beli kekuasaan, penetapan capres dan cawapres, penetapan menteri, itu semua adalah proses transaksi nilai. Transaksi nilai itu berarti adalah pasar. Buah ketidak transparan-nya adalah korupsi, ketiada-berpihakan pada publik. Saya yakin, tidak ada capres terpilih yang berani menyajukan daftar nama calon menteri yang diajukan dulu ke publik untuk dikritisi. Jadi, konsep negara yang “bukan pasar” seperti yang ditulis GM di atas, itu sudah usang, kuno. Itulah sebabnya, seperti ditulis oleh GM, “…institusi yang berkuasa tak dengan sendirinya jauh dari nilai yang mengutamakan yang publik”. Kenapa? Karena negara sudah menjadi pasar. Karena jadi pasar, maka, kian transparan, kian sempit ruang gerak korupsi. Kian tak transparan, kian lebar ruang gerak korupsi. Syahdan GM menulis, ” …kekuatan itu cenderung mengaburkan posisi ”Negara” dalam mengelola pasar: semua keputusan bisa diatur dengan jual-beli kekuasaan. Di lain pihak, posisi ”Negara” justru diperkuat, agar ada kebutuhan untuk membeli kekuasaan itu.” Nah, kenapa masih dibedakan negara dan pasar?
14. pegawai depkominfo - Mei 26, 2009
politikana.com nggak bisa diakses
15. joan - Juni 6, 2009
hihi, “Itu sebabnya kita sebenarnya tak tahu persis, bagaimana mengatur ”kompromi Keynesian”, bagaimana mengelola sekaligus pasar yang terbuka dan Negara yang aktif…” itulah juga yang sering jadi pertanyaan besar di kepala. semoga ini juga yang jadi kebingungan mas goen; benarkah liberalisme (atau sekalian neo-liberalisme) itu berarti negara lepas tangan? tidak. Justru, antara neoliberalisme, ‘kompromi keynesian’ dan sosialisme ekonomi, itu ‘derajat’ intervensi negara sama saja. jika dalam sosialisme ekonomi (atau sekalian saja sebut komunisme ekonomi) negara mengatur pasar habis-habisan (dan karenanya di situ istilah ‘pasar’ perlu ditanyakan kembali; ‘pasar tidak bebas’ adalah sebuah contradictio in terminus), maka bukankah itu juga yang terjadi dalam liberalisme pasar? sekali lagi, dalam liberalisme ekonomi negara juga sama menentukannya. Kita mungkin sering lupa perkara sederhana ini: dalam liberalisme ekonomi negara melakukan pengaturan dengan ketentuannya bahwa “pasar harus tidak ditentukan”.. mungkin sedari sini cita-cita ‘kompromi keynesian’ itu sudah membingungkan.. diintervensi-tidak diintervensi itu pada pengertian dan batasan mana…?
16. joan - Juni 6, 2009
semoga begitu. jika menang begitu, betapa gembiranya hati ini…:)
17. Wong Ndezo - Juni 10, 2009
yang pasti Rakyat selalu jadi korban, neoliberalisme, kapitalisme, sosialisme, komunisme dan Isme yang lain, atau Pancasila sekalipun belum mampu menjawab persoalan masyarakat. kemiskinan, kebodohan, pelanggaran HAM terus berkembang. mungkinkah memahami isme tanpa melaksanakan tugas dan tanggung jawab kemanusiaan cukup memberikan problem solving?
18. Zaki - Juni 13, 2009
Sekarang ini adalah saat2 ketika tak lama lagi orang2, baik yang ahli ekonomi atau awam, akan sampai pada kesimpulan bahwa pengelolaan keuangan secara Islami itu akan menjadi solusi yang terbaik.
19. Loginataka - Juni 16, 2009
@Zaki
Pak, seperti apakah pengelolaan keuangan Islami itu? Mohon penjelasan. Terima kasih.
20. Zaki - Juni 24, 2009
@Logikataka
Gak usah berpikir terlalu rumit dan jauh. Ekonomi Islam adalah yang mengedepankan keadilan, kejujuran, hemat ( tidak mubazir), tidak pelit, dan membela kaum yang lemah. Berapa besar pemerintah mengeluarkan dana total (baik untuk operasional maupun gaji) untuk aparaturnya, dari PNS, TNI, Polisi. Adakah reward (produktivitas) yang setimpal yang kita dapatkan dari aparatur pemerintahan? Ingat!! Sesuatu yang dikeluarkan secara mubazir, di mana uang yang dikeluarkan jauh lebih besar daripada produktifitas yang dihasilkan, maka akan ada pihak lain yang akan menderita untuk menutupi kebocoran itu. Philosofinya: selalu ada lubang, meskipun tertutupi, sebagai dispensasi dari sebuah gundukan yang tidak perlu. Sekali lagi, kata kuncinya adalah: keadilan dan kejujuran. Teknisnya detailnya juga tidak terlalu rumit jika kedua prinsip dasar itu sudah benar2 mengakar. Makanya, segala krisis itu adalah berawal dari krisis moral, tapi orang tak pernah membahas korelasi antara moral dengan ekonomi. Dan obat dari moral adalah Agama. Dan jika anda mau, silahkan belajar tentang Islam secara menyeluruh.
21. Zul Azmi Sibuea - Juni 24, 2009
apa yang mendasari supaya kita hidup hemat, apa yang mendasari supaya kita berinteraksi dengan jujur, apa yang mendasari supaya kita bermu’amalat dengan adil dan ikhlas, memberdayakan kaum yang lemah secara ekonomi, sosial dan politik. ini adalah pertanyaan mendasar, ini adalah pertanyaan teori ilmu, kita sedanga berbicara mengenai apa yang kita maksud dengan epistemlogi. kita sedang mengalami krisis epistemoilogi ilmu ekonomi, sejalan dengan kritik berbagai pihak terhadap ekonomi kapitalisme, liberalisme dan neo-liberalisme.


nah all of frenz iniah petikan diskusi intelektual yang sehat di blognya catatan pinggir pak GM. zika ingin membaca postingannya silakah meluncur ke Neo-Liberal Mei 4, 2009 sekalian nikmati perkembangan diskusinya. kalo perlu ikutan berantem disana,,


+++ nih kutambahkan yg atu niy diskusi segar yang menarik juga guna dicermatin. tapi sayangnya seperti kata petitih: "kita omong tinggi tentang kebudayaan, ujung2nya tetap jatuh dalem selangkangan" hehe enjoy it!

11. podolisasi prima - Mei 5, 2009
Kalau masalah moral saya lebih suka sentuhan Isoelaiman deh yg langsung turun gunung. Bener deh, ga ada sinisme di kata-kata saya. Bagaimana mas?

12. ibra - Mei 6, 2009
Saya berpendapat, bila kita gagal menangkap “order” nya Hobbesian, maka dapat dipastikan akan gagal juga menangkap “equilibrium”nya Smithian. Pertanyaan filsuf zaman itu ada di sekitar fisikanya Newton. Kegagalan ini hampir dialami semua ekonom negri ini. Kecuali beberapa yang tersingkirkan.

13. Algazel - Mei 6, 2009
Kecuali yang tersingkirkan itu siapa? Epigonis mafia berkley? Bila kita gagal menangkap order, akan gagal juga menangkap equilibrium. Itu antitesis lipatan Platonik, saya pikir. Circle of life. Point anda?

14. ibra - Mei 7, 2009
Mafia berkeley itu siapa sih? Lulusan berkeley taun jebot itu? Saya kira sekarang tinggal pak Emil Salim, dan mereka ngga cocok dipanggil mafia, yg notabene berlumur darah.
Yg tersingkirkan maksud saya adalah mereka yg gak percaya free trade, yg gak percaya bahwa pasar dapat menyembuhkan dirinya sendiri, yg menentang kenaikan BBM taun 2005 itu ( GM termasuk menanda tangani setuju? ) , yang menentang “pasar”, yang nasibnya akhirnya tidak dipakai dalam pemerintahan. Mereka ini kadang teman satu atap juga dengan yang mengatakan bahwa pasar adalah “sunatullah”.........
............................
............................
............................

36. Zul Azmi Sibuea - Mei 13, 2009
Saya kutip dari ToE – wiki “A small number of scientists claim that Gödel’s incompleteness theorem proves that any attempt to construct a Theory of Everything is bound to fail.”, saya jadi ingin tahu apa kata Jhon D.Barrow dalam bukunya “Theory of Everything” dan
Stephen Hawking, pada “A Brief History of Time”
Mungkin menjelaskan lengkung ruang pada black hole,atau gravitasi, lalu …. dunia,.. bumi, bintang dan matahari terus saja berlari (expand) ke tak berhingga – pertanyaannya , sudah sampe mana kita,
kemana kita mau pigi.

37. podolisasi prima - Mei 13, 2009
Sitok Srengenge’s Notes: Dari mana kita datang, ke sana kita pulang. Thats my fav..

38. ibra - Mei 13, 2009
Ngga ada salahnya juga aku taruh fesbukku di sini, Tau aja ada cewe cakep nge add : D
Ibraxxx badxxx

39. podolisasi prima - Mei 13, 2009
hatur tengkiu um ibra reply nya..

40. ibra - Mei 13, 2009
Sami sami, kang


pengen baca selengkapnya komentar2 "pedas" di salah satu postingan blog tulisan GM ini, silakan meluncur key TIGA NENEK SIHIR ...