Sabtu, 29 Agustus 2009

MERANTAU 2.1 part 4

... “tertib” adalah pergulatan, bukan akhir ... karena kita manusia dengan segala isinya hanya mampu menciptakan kemungkinan, tanpa memberi titik. (Ibra dan Neno - Komentator Tulisan Caping GM)


beberapa waktu sebelum pulang aku menyempatkan juga nyari2 kos yang lebih murah ke bojonggede dan citayam. selain di kos yg depok ini terasa mulai ndak enak. maklum pengangguran, atau orang nggak jelas, sakit2an pula, tinggal sama betawi matre pula. haha ramahnya tuh pak haji cuman sebelum uang kontrakan dibayar lunas. gw yang sebelumnya shalat ke mushallanya pak haji dibawah jadi eneg dan kalo mau jamaah ngusahain ke mesjid yang walau agak jauh (oya, cobalah kau cari mesjid di sepanjang jalan margonda raya tersebut, pasti kesulitan maklum disini orang 'kafir' semua hihi kalo pun islam ya islam aliran matre dan buruk sangka). luar biasa memang perasaan kita menjadi orang yang tertindas xixixi. di bojonggede aku sempat dapat yang kamar kos tapi masih ndak bisa dibawah 100 (haha mungkin nggak ya), kosong melompong, wajah bapak kos nya juga bukan tipe yang 'baik', dan satu kos sama polsus krl. lha gimana toh, mana tahu gw musti jadi copet di kereta, masak penjahatnya satu kontrakan sama polisinya. yang lain rata2 rumah petak untuk yang sudah bekeluarga. belakangan nyampe sini baru guwe kepikir untuk nyari di cilebut aja yang sebelum bogor, lebih memungkinkan kayaknya dapat kontrakan singel murah dan akses makanan irit disana. dasar otak niy kerap tidak berfungsi saat diperlukan. tapi kenyataannya toh penyakit ini memaksa untuk mesti pulang atau keluar biaya besar berobat di negeri antah berantah sana.

oya nb beberapa hari sebelum pulang ini aku juga kebetulan ketemu lukman yang baru buka warnet di gang jalur lewatku dari kos ke stasiun. dia sudah beristri dan mengira aku melanjutkan studi es teler di ui, padahal aku anak jalanan meski tetap hidup sendiri. kalo ndak salah lukman ini ngajinya di ht meski kami satu fakultas, pantas sekarang kuingat2 dia tidak terlalu ingat sibos cahya karena di dkm fakultas beliau kan nggak ngabsen. kalo gw kan orangnya lintas aliran sehingga sekarang tersesat hehe. sayang gw lupa nyinggung mas barkah, padahal tuh anak sempat datang ke musyawarah ulama nasional segala ceritanya di senayan, datang secara berombongan dari purwokerto. disuruh mampir ke kos gw di depok ndak sempat. kalo ndak kita kan bisa ngenet gratis tuh di warnet mr.lukman hehe. tapi penyakit ya penyakit aku harus pulang biar tak dituduh malin kundang, membiarkan diri mampus di jalan sementara ortu masih ada di padang. kota kelahiran dan tempat besar yang kini justru terasa sangat asing se-asing2-nya.

dua hari sebelum pulang gw juga menyempatkan jalan2 seharian ke kota bogor. waktu itu badan terasa agak fit meski masih batuk2 terus2an. jalan ke mangga dua aku juga ndak yakin ada barang yang bakal kubeli untuk dibawa pulang dan dijual di rumah. akhirnya aku pun mengarah ke stasiun bogor meski untuk pertama kalinya. dulu2 seingatku paling lewat pake bis disana. keluar dari stasiun gw jalan asal jalan keluar eh ternyata gw ngelilingi istana bapak presiden. cukup jauh jalan hingga pintu timur kebun raya. kemudian gw nongkrong dulu disana (sehabis kencing dan solat di mall hantu) tempat bis2 dari terminal lewat sambil nunggu maghrib karena pengen balik lagi melewatkan suasana malam lewat depan istana bogor. belakangan aku baru tahu setelah liat peta di komputer rumah ini bahwa sebetulnya juga tidak terlalu jauh kalo aku jalan berkeliling nggak balik lagi ke arah semula. kemudian grasa-grusu lagi luntang-lantung beberapa waktu setelah memperkirakan jam terakhir kereta buat balik. tapi ya tanpa peta tercetak di tangan tak banyak yang bisa kulakukan. nah balik dari bogor ini aku tiba2 demam luar biasa lagi malamnya atau besoknya. itulah titik nadir kembali bahwa aku memutuskan mau tak mau harus pulang besok, kalo perlu pake pesawat maklum darurat daripada dirawat inap di icu meski dengan suster2 secantik dirimu.