Minggu, 30 Agustus 2009

MERANTAU 2.1 part 5

Life can be understood only by looking behind, but can be lived only by looking ahead (Soren Kierkegaard)


paginya badan agak mendingan meski masih agak pusing maklum demam ruar biasa semalam dan tentu saja dalam keadaan batuk2. obat konidin kuhentikan dulu sementara minum oskadon yang sekalian buat sakit kepala. nyoba nyari tiket pesawat pagi itu di margonda nggak dapat, pada belum buka. kemudian aku naik kopaja ke pasar minggu. semula kuperkirakan kalo nggak jadi naik bis ke bandara yang aku naik busway aja ke rawamangun eh ternyata shelter transjakarta ndak ada disana, kudu ke ragunan dulu katanya. cukup lama juga aku putar2 nyari travel disana, dari beberapa yang buka harga yang dikasih gila semua di atas sejuta. ada saran juga langsung ke bandara mana tau masih bisa dapat tiket promo. mana tau kan mbak ya akhirnya aku makan dulu di sebuah warung padang. cuma abiss dikit karena selera lidah minta ampun pahitnya lagi makan obat udah beberapa hari ini dan sejak pagi itu hingga dua hari kemudian nyampe di padang aku ndak pernah lagi makan nasi.

sama ibu penjual nasi ditunjuki untuk naik angkot ke kampung melayu. dari sana kemudian aku naik metromini arah pulo gadung dan turun di rawamangun udah agak siangan. disini juga ada bis ke bandara jadi aku coba nanya sekali lagi ke sebuah travel dan tetap saja harga tiket untuk pulang hari itu ataupun besok selangit jumlahnya. lalu gw masuk ke terminal, ternyata npm ekonomi sudah nggak ada lagi yang ke padang hari itu dan setahuku ini yang termurah. tadinya mau naik yang npm ac dari bandung kalo datang tapi kemudian dicegat calo family raya dan ditawari kursi bis ac-toilet-tv dengan harga 200. meski nggak kuat dingin kuambil juga, lumayan itu sptnya harga nego naik di jalan yang untuk jakarta tentu saja aku kurang tau kudu nyegat dimana. lalu berbatuk2 ria dan kelaparan lah selama dua hari sepanjang padang-jakarta. tapi maklum udah biasa hidup sengsara toh aku bisa koq melewatinya (tepatnya masih menjalani kali ya karena batuknya enggak sembuh2 juga toh hingga hari ini menjelang akhir bulan agustus yang bikin kurus).

hidup di rumah sendiri berarti berdiam di kamar bagai terpenjara lagi, bahkan penjara hati. kalo niat membara gw sih tetep pengen nya beres ortu pergi haji guwa go show lagi ke jawa kowek sana. tapi entahlah apa kesihatan fisik dan mungkin jiwa ini mengijinkan nya haha. mungkin juga mulai mencoba bergerak disini juga kalo keadaan memungkinkan meski mungkin tak mungkin. mungkin juga mencuba jadi pns hasyeum kalo ada kesempatan dan mungkin mulai doyan bertopeng kemunaan mungkin. mungkin menulis kalo ada ke-ghirah-an. yang jelas kegilaan ini mesti tetap dipelihara dan guwe bukanlah ORANG KEBANYAKAN macam kalian meski kupikir2 mulai juga MATA DUITAN hihi. biarlah untuk sementara waktu bersabar lagi sabar deui beterehe guwe, mampuzz wae lha Be. namun seperti ujar almarhum ws rendra untuk sri datuk anwar ibrahim kolega serumpun nya: '... terali besi tak akan membuat seekor rajawali menjadi burung nuri!