WEM TAYLOR

Setahun lebih daku tiada menjamah bisnis konveksi yg berada di sebelah rumah ku eh rumah sebelah ku. Beberapa bulan ini aku cuman tidur di atas kursi ruang tamu yg ukuran nya lebih pendek beberapa milimeter dari ukuran tinggi ku dan beberapa bulan sebelum nya sering nya tidur di antara mesin2 jahit di rumah sebelah tsb. Tiada terlintas di benak tak babanak ini utk menyentuh bisnis menggiurkan tsb. Sewaktu diadakan pelatihan bordir selama sekitar seminggu beberapa waktu yg lalu daku pun cuma ikut dapat jatah makan. Menjahit kasoer ku yg udah soak pun ndak bisa (tepat nya males hehe). Waktu didatangkan tehnisi yg ngajarin benerin mesin jahit yg bermasalah daku pun tiada nongol ke sana. Bahkan ketika bertemu dgn bapak pelatih yg kabar nya udeh malang melintang di berbagai perusahaan garmen di Jawa Barat tsb di sebuah toko lontong pagi kami pun tiada bertegur sapa. Cuih, bejat nya diriku. Padahal my mother udah keluar duit begitu banyak buat bayar orang "brengsek" tsb.


Nah, secara kebetulan dan mendadak, aku pun ditugas by the mother fucker buat ikut diklat manajemen konveksi di BDI ATIP Tabing. Maka ikut lah aku meski sebenar nya "males" banget. Tentu saja kuliah manajemen nya masih bisa kuserap dgn baik, namun tetep saja tanpa skill n minat pada teknis jahit menjahit ngikutin diklat selama 4 hari tsb cukup membuat bete dari segi tertentu. Tapi ndak apa, jadi ada refreshing. Seharus nya para peserta nginap di sana karena kuliah nya seharian, tapi karena deket ekey bolak balik wae. Finally, akhirnya di sana--setelah sekian lama--aku bertemu dgn kasur empuk (ya, saya kira salah satu kenangan terindah di diklat ini adalah ranjang empuk nya [sangat disayangkan tidak dilengkapi suguhannya]). Kalo capek ngikutin ceramah2 membosankan tsb aku biasa tiduran aja di kamar yg deket ruang diklat nya tsb. Enaaaaaak, zzzzzzz.

Meski membosankan tapi di sini aku mendapat rekreasi dgn berinteraksi dgn sesama manusia lagi; tentu saja salah satu nya godain cewek (ah yg ini ndak usah dibahas lah, menjemukan tapi indah). Jikalau orang2 mulai praktik menjahit terpaksa aku lihat2 saja. Ya emang pelatihan ini ndak efektif, karena menceramahi segi manajerial ke orang (ibu2) yg kapasitas "maaf" otak nya kurang tertarik ke sana. Tapi biasa lah proyek akhir tahun ni yeee. Sebetul nya di sana ada juga anak2 gadis yg juga tak terlalu menguasai konveksi spt aku, alias asal ikut. Tapi tetep aja gw yg paling parah.

Segi manajemen nya tentu saja aku bisa untuk tertarik berdiskusi setidaknya dgn tutor nya, tapi yah (spt biasa) gara2 penampilan aku dari awal udah dicap jelek dan kemudian ndak enak juga terlalu banyak omong. Seperti kata pey "pks" satriani nanti dikira buang "em". Ketika di hari terakhir mesti ke depan beberapa menit buat presentasi usaha yg digeluti mau ndak mau akhir nya aku bahas aja yg gw kuasain dan toh masih ada hubungan dengan konveksi, yakni sablon kaos digital. Hahahahah, secara teoritis sebenar nya udah menguasain tinggal praktik. Entahlah marisol, bukan ndak mau nyari duit, apa iya ada pemuda yg nyaman membiarkan diri nya hidup miskin begini sementara keinginan untuk menyunting seorang gadis sudah membuncah hingga ke ubun2?? Wuih, terlalu banyak yg harus dibahas...

Back to topic, dan di hari terakhir itu tentu saja kami dapat uang saku. Ckckckckc, lumayan buat biaya ngenet 2-3 bulanan. Tentang manajemen konveksi nya sendiri, sampai sekarang aku masih memendam keinginan utk buka usaha sablon digital, warnet, wargame, toko buku, hingga cafe (kalo tetep di rumah). Ha barangkali menunggu kristalisasi, sekarang fokus dulu bagaimana cara mendapatkan akses internet, berbisnis di sana, tidak perlu mengeluarkan duit yg aku sendiri emang ndak punya, dan selanjutnya tetep hidup bersahaja. Ceileeee freegan style, bukan; zuhud juga sepertinya ndak; linglung kali ya. Yang jelas idealisme mesti tetep ada and wem taylor kapan2 aja lah yaww..

Belajar di universitas adalah untuk membentuk pola pikir. Program S1 adalah mendidik karakteristik dan pemikiran konseptual. D3 dan di bawahnya lebih practical. S1 memang tidak mendidik SDM untuk siap kerja, tapi lebih tepat disebut “siap terap”. Pemikiran konseptual penting karena ini berpengaruh di daya nalar, pemikiran algoritmik, teknik pemecahan masalah dan metode untuk mencari kebenaran. Praktek lapangan memang menyenangkan dan kadang melenakan, karena semua lebih terang benderang. Menurut saya kombinasi keduanya akan menjadikan kita lebih bijak, tajam berpikir, runut menganalisa dan solusi sesuai dengan kenyataan di lapangan. (RSW)

Ketika Cinta Itu Membunuhmu



oleh Romi Satria Wahono

Mas Romi, saya seorang mahasiswa di Malang, saya mendapatkan penolakan cinta dari pujaan hati saya di kampus. Rasa ini membuat saya agak terseok-seok, dan akhirnya nilai mata kuliah saya jadi hancur lebur. Bantu saya keluar dari masalah ini mas. (Anwar, Malang)

Masalah klasik para pemuda sang pengejar cinta, dan para pemudi sang penunggu cinta :(

“Cinta ini membunuhku”, itu bahasa D’Masiv :)

“Wahai kematian, datanglah cepat kemari, hisap dan dekap tubuhku yang penuh cinta ini”, kalau yang ini kata William Shakespeare dalam Romeo and Juliet.

Kahlil Gibran mengungkapkan dalam syairnya, “Bila cinta memanggilmu, ikutlah dengannya meski jalan yang kalian tempuh terjal dan mendaki”.

Kisah cinta datang dan pergi dari masa ke masa, menyuarakan hal yang sama dengan redaksi berbeda. Silih berganti dari Layla Majnun, Tristan und Isolde, Roro Mendut dan Pronocitro, sampai Romeo and Juliet. Cerita cinta selalu meggebu dan indah, meskipun ketika kita pandang jauh dari sisi lain, kadang buta, tidak nyata dan fatamorgana.

Ya benar, kita sering bingung dalam memaknai cinta. Lauren Slater dalam National Geographic edisi 2006 mengatakan, “Sulit untuk memisahkan pembicaraan antara cinta dan penyakit mental”. Maria dalam Ayat-Ayat Cinta mengatakan dengan redaksi yang berbeda, “Cinta adalah siksaaan yang manis”.

Apakah cinta, mencintai dan dicintai adalah salah? Jawabannya adalah tidak. Cinta itu indah, cinta itu semangat dan cinta itu adalah kebahagiaan. Bahkan mungkin kekuatan kita untuk mencintai adalah titik tertinggi dari hakekat cinta (halah) :)

Hanya permasalahan utama dari para pemuda dan pemudi yang kebetulan sedang jatuh, menjatuhi atau dijatuhi cinta adalah ada di dua hal: salah meletakkan posisi hati dan salah mendefinisikan cinta.

1. LETAKKAN POSISI HATI DENGAN BENAR

Cinta berhubungan dengan hati, itu pasti, karena di dalam hati ada unsur keindahan, semangat dan kebahagiaan, maka 3 hal ini ada kemungkinan besar berhubungan dengan cinta. Banyak dari kita yang meletakkan posisi kebersamaan dan penerimaan cinta sebagai titik tertinggi dari keindahan, semangat dan kebahagiaan. Karena itu kita gusar, sedih, dan sengsara ketika cinta kita tidak diterima oleh sang pujaan hati. Dan kita sangat menderita ketika kita tidak bisa memiliki kebersamaan dengan sang kekasih tercinta. Inilah titik sentral masalah cinta ala Layla - Qais, Roro Mendut - Pronocitro, maupun Romeo - Juliet.

Menempatkan posisi kebersamaan dan penerimaan bukan sebagai titik tertinggi dari cinta adalah faktor terpenting yang membuat cinta tidak akan bisa membunuh kita ;) . Saya selalu menempatkan posisi keindahan, semangat dan kebahagiaan saya ketika saya bisa bermanfaat untuk orang lain, mencapai suatu prestasi, dan bisa melakukan hal yang tidak bisa dilakukan orang lain. Ketika banyak orang lain berlomba-lomba untuk mencintai orang lain, bahkan dengan cinta buta, saya berusaha berdjoeang untuk mencintai diri saya sendiri. Inilah cinta dengan logika.

Mencintai diri sendiri bukan berarti banyak tidur, banyak santai, atau banyak rekreasi. Mencintai diri sendiri artinya: saya harus berprestasi, saya harus berhasil dan sukses, saya harus bermanfaat untuk orang lain, saya harus bisa membuka lapangan kerja baru, saya harus memberi beasiswa ke banyak orang, dsb. Implikasinya mungkin sangat berat, karena saya harus bekerja lebih keras, mengurangi tidur, atau mendisiplinkan diri saya sendiri. Tapi itu semua saya lakukan karena saya mencintai diri saya sendiri. Ya inilah mungkin hakekat dari ungkapan si Maria, “Cinta adalah siksaan yang manis”. Bagi saya, mencintai diri sendiri adalah modal penting dalam kesuksesan mencintai orang lain.

Kebersamaan dan penerimaan bukan sesuatu yang selalu membahagiakan saya. Kadang saya secara fisik harus meninggalkan semua orang yang saya kasihi dan cintai. Kadang saya harus bersikap keras kepada para pedjoeang saya, kepada sahabat saya dan bahkan kepada istri dan anak-anak saya, sehingga sering mereka sulit memahami dan menerima saya. Tapi itu semua saya lakukan karena cinta saya yang teramat sangat kepada mereka, saya tidak ingin mereka gagal, saya ingin semua orang bisa berhasil, dan memberi manfaat kepada orang lain dengan lebih baik. Dan inilah cara saya menghembuskan ayat-ayat cinta kepada mereka :)

Meskipun sebenarnya ada kebersamaan dan penerimaan cinta yang selalu saya bahagiakan dan harapkan, yaitu dari Sang Penguasa Alam dan Pemilik Jagad Raya. Inilah koridor penting jalan cinta kita, ingat bahwa cinta mati hanya milik Allah sang penguasa jagad raya bukan untuk makhluk Allah.

Jadi pesan saya, wahai para pemuda, mari letakkan posisi hati kita pada tempatnya. Cinta itu tidak akan membunuhmu, kesalahan posisi hati itulah yang akan membunuhmu.

2. UBAH DEFINISI DAN PARADIGMA CINTA

Kesalahan kedua yang sering kita lakukan adalah kesalahan memahami definisi dan paradigma cinta. Banyak penelitian tentang cinta dilakukan. Salah satu yang cukup terkenal adalah formula cinta dari Robert J Sternberg: A Triangular Theory of Love (Teori Segitiga Cinta).

Menurut Sternberg, jenis cinta tergantung dari sifat hubungan kita dengan orang lain. Komitmen saja tanpa gairah dan keakraban adalah Cinta Kosong. Gairah saja tanpa dua unsur yang lain artinya tergila-gila. komitmen dan keakraban tanpa gairah menjadikan persepsi cinta sebagai Cinta Persahabatan. Keakraban dan gairah tanpa komitmen membuat Cinta Romantis. Sedangkan komitmen dan gairah tanpa keakraban menyebabkan Cinta Buta. Ketika kita berhasil menyatukan komitmen, gairah dan keakraban maka akan terjadi Cinta Sempurna.

Banyak yang masih meragukan teori ini bisa berlaku valid untuk semua jenis hubungan cinta, misalnya cinta seorang anak kepada ibunya dan sebaliknya. Hasil penelitian dari Lauren Slater juga mengisyaratkan bahwa susunan kimia otak pemicu romantika, ternyata tidak ada hubungannya dengan komitmen yang memupuk kelekatan jangka panjang. Salim A Fillah, penulis buku Jalan Cinta Para Pejuang, mengatakan bahwa Komitmen adalah sudut kunci dalam teori cinta Robert J Sternberg. Komitmen adalah ikrar kerelaan berkorban, memberi dan bukan meminta, berinisiatif tanpa menunggu dan memahami bukan menuntut.

Sebagian masalah cinta mungkin bisa terwakili oleh Teori Segitia Cinta-nya Sternberg. Tapi kalau kita coba simpulkan dari berbagai referensi lain, dari pandangan Slater, Salim A Fillah dan Anis Matta lewat seri cinta dan pahlawannya di majalah Tarbawi. Cinta Sempurna adalah suatu proses panjang, hasil dari cinta kasih dua manusia yang terjalin dalam suatu hubungan yang sah. Cinta Sempurna bukanlah cinta pada pandangan pertama, karena itu mungkin hanya suatu gairah atau ketergila-gilaan, istilahnya Slater. Cinta Sempurna juga bukan cinta lokasi, cinta monyet, cinta jadi-jadian, cinta karena fisik atau cinta karena harta dan tahta. Cinta Sempurna adalah hasil suatu perdjoeangan panjang. Hasil dari kekuatan kita untuk menyelesaikan masalah perbedaan, memahami kekurangan dan kelebihan, merekatkan hati dan komitmen untuk tetap ada di jalanNya.

Mudah-mudahan ketika terjadi penolakan cinta, kita berani berikrar dengan gagah, ”Lupakan dirimu dan aku akan kembali padaNya”. Catat bahwa huruf N untuk Nya itu harus kapital :) Jangan lupa ubah genjrengan gitar kita dari lagu kenangan kisah cinta, ke lagu: Menghapus Jejakmu (Peterpan), Baiknya (Ada Band), Musnah (Andra and The Backbone), atau Aku Bukan Untukmu (Rossa) hihihi …

Resapi dua syair ini:

Baiknya semua kenangan yang terindah, tak ku balut dengan tangis
Baiknya setiap kerinduan, yang merajam tak kuratapi penuh penyesalan

Dan bangkitlah, lanjutkan perdjoeangan!

Ingatlah bahwa para legenda tidak pernah mengejar cinta, karena itu:

Janganlah kalian mengejar cinta. Jadilah legenda yang penuh dengan prestasi dan manfaat untuk orang lain, maka cinta akan silih berganti mengejar kalian. Dan ketika masa itu datang, pilihlah takdir cintamu, kelola cintamu, atur kadarnya, arahkan posisinya, dan kontrol kekuatan cinta sesuai dengan tempatnya.

Dan itulah jalan cinta para legenda …

Tetap dalam perdjoeangan!

http://romisatriawahono.net/2008/11/18/ketika-cinta-ini-membunuhmu/



-------------
-------------
keywords, content:

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city
-----------------
-----------------

Reuni

oleh Samuel Mulia

Di atas ketinggian sekian puluh ribu kaki dalam perjalanan dari Medan ke Jakarta, saya merebahkan diri sambil membekap dua lubang telinga saya dengan iPod Touch yang baru saya beli.

Rencananya mau membeli yang Nano. Ternyata saking nanonya, saya tak bisa melihat. Saya mengenakan kacamata plus dua, plus silindris pula, masih tak kelihatan. Kemudian iPod Nano itu saya jauhkan, masih juga tak kelihatan.

Teman yang menemani saya melihat kelakuan mengenaskan itu, berkata begini, ”Wis to, Mas, penjenengan iku sampun sepuh. Ndak usah neko-neko. Nanti kubelikan iPod Touch saja sing guedi, kayak punyaku. Nanti kan ketok kabeh. Hurufnya guede-guede.”

Maka barang canggih itu sampai di tangan saya. Memang benar, size does matter. Dan kok yaaa… sing guede emang pualing uenak. Ketok kabeh. (Mohon maaf, sejuta maaf yang tak mengerti bahasa Jawa, bisa minta tolong tanya teman atau apa saudara).

Di tengah perjalanan yang bercuaca terang sebagian dan berawan sebagian, saya mulai menikmati alunan lagu-lagu di dalam gadget modern itu. Kursinya empuk, pendingin kabinnya juga maksimal, santapan sorenya kok tumben juga cihui. Kalau sudah begitu rasanya ingin melayang terus, tak usah mendarat. Apalagi mendengarkan lagu-lagu favorit saya, hidup benar-benar terasa nikmat. Mungkin begini rasanya kalau orang melayang karena narkoba.

Senyum pertama

Saya memejamkan mata dan kemudian tanpa saya sadari lagu-lagu itu membuai dan membuat banyak kenangan lama dan baru bermunculan. Tak ada satu pun kenangan pahit menyelinap. Saya senyum-senyum sendiri, seperti orang gila.

Mungkin itu sebabnya saya kadang berpikir, kalau beban hidup itu sudah begitu menekan, kepahitan itu begitu merasuk, saya perlu menjadi gila sejenak, saya membutuhkan waktu untuk menghilangkan kepahitan itu dengan hal-hal yang dilarang. Yang melayangkan sejenak dan kemudian menenggelamkan selamanya.

Tiga minggu lalu saya hadir dalam reuni akbar sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Akbarnya bukan soal besarnya acara temu kangen itu, tetapi akbar dalam artian reuni itu mengumpulkan manusia-manusia lulusan angkatan pertama. Ada empat meja yang menyediakan buku tamu dengan berbagai angkatan. Dari masa enam puluh sampai sembilan puluh.

Karena mata saya juga sudah tidak kelihatan jelas, saya langsung saja ke meja pertama tanpa melihat angkatannya. Ternyata meja untuk angkatan enam puluh. Sahabat saya dari sekolah dasar malah nyeletuk, ”Pas kok… masih pas angkatan enam puluh. Sudah enggak usah cari meja lain, di situ saja.”

Kemudian kami saling melepas rindu. Tentu tak mungkin melepas baju. Salah satu teman pria yang sebangku dengan saya semasa sekolah menengah pertama mengaku, ia sering meraba-raba paha saya. Katanya mulus banget. Kami semua yang mendengar tertawa terbahak. Di dalam hati saya berkata, kenapa enggak ngeraba sekarang saja, masih mulus kok. Dan cerita miring selanjutnya menjadi bagian dari cakap-cakap pada hari istimewa itu, terutama dari kumpulan manusia yang tak lama lagi menginjak setengah abad.

Siang itu kami ditraktir salah satu teman yang paling sukses dan paling kaya. Di rumah makannya yang nikmat. Di masa sekolah dahulu, ia salah satu di antara teman lain yang mengajak saya menjadi pria dewasa sebelum waktunya. Sembunyi-sembunyi melihat buku porno. Setelah sekian tahun berjalan, ia adalah pria yang memiliki pernikahan yang aman sejahtera.

Senyum kedua

Tentu cerita soal pernikahan tak bisa terelakkan. Dari sekian teman wanita di dalam kelas yang hanya berisi tiga puluh dua orang, satu meninggal dan lima sudah menjadi janda. Kelimanya bercerai dengan sejuta alasan. Yang satu malah sudah jadi janda dua kali.

Salah satu teman kami mengatakan. ”Mbok kalau jadi janda itu sekali aja napa?” Maka ramailah suasana.

Saya tak perlu bercerita tentang bagaimana cerita para janda itu melampiaskan hasrat seksual mereka, tetapi saya lebih memerhatikan kelima wanita itu dengan keadaan jiwa yang berbahagia menyandang predikat itu pada usia nyaris setengah abad. Usia yang belum tua benar, tetapi juga usia yang bukan muda lagi.

Kemudian saya berkaca kepada diri saya sendiri, apakah saya juga bisa berjuang sendiri pada usia menjelang senja dengan sebuah kebahagiaan, tanpa harus berkeluh dan berkesah bahwa hidup itu tidak adil? Apakah kalau saya tak janda, tetapi lajang seumur hidup, ”tidak laku” sampai sekarang, bisakah saya seperti mereka?

Saya pernah menjalani sebuah periode kesepian yang meluluhlantakkan. Saya merasa hidup itu sungguh tak adil karena saya tak bisa berpikir seperti lima janda itu. Mereka menggunakan kekuatan dan kemampuan untuk mau berpikir positif. Dalam bahasa Indonesianya, mereka mau menerima keadaan, sesesak apa pun situasi yang dihadapi.

”Gue sungguh menikmati jadi single lagi.” ”Eh… cariin laki dong. Gini-gini juga masih asyik.” Itu dua komentar yang menyemangati. Jadi, seharusnya saya bisa. Teman saya nyeletuk, ”Bisa berkeluh kesah, atau bisa jadi janda?”

Kilas Parodi: Jadi Oli atau ”Hair Dryer”?

1. Mungkin ada baiknya kalau saya perlu sekali-kali berkumpul dengan teman-teman lama. Saya katakan lama, bukan yang setiap hari menemani Anda nongkrong, terutama teman yang masuk ke dalam kategori dayang-dayang dan atau penjilat.

Pertemuan dengan teman lama, selain sebagai pelepas rindu, juga pemberi semangat untuk jiwa. Memutar kembali kenangan lama yang membangkitkan semangat. Dengan demikian, saya tak perlu selalu ”diperkosa” dengan situasi bernama gengsi, inflasi, berita nilai saham yang menyesakkan dada, berita yang tak menyemangati, yang memecah belah dan mengeringkan bak hair dryer.

2. Kalaupun reuni jarang dilakukan dan teman lama entah raib ke mana, meski sekarang ada facebook yang memudahkan menemukan teman lama, saya juga harus memilih teman yang perkataan-perkataannya bak oli pelumas, yang membuat hal-hal berkarat dan sudah ngadat bisa dilembabkan lagi dan berjalan kembali. Perkataan-perkataan yang tak mengeringkan dan kalau keseringan dipakai malah membuat rambut menjadi bercabang alias rusak. Saya perlu dan harus menjadi editor perkataan-perkataan itu kalau hidup saya tak mau berakhir menjadi kering.

3. Dan yang utama, saya juga harus menjadi teman dan manusia yang menjadi pelumas dan bukan pelumat orang lain. Jadi, bukan hanya saya saja yang memilih teman dan mengharapkan mereka menjadi oli untuk jiwa saya yang kering. Saya pun harus jadi oli. Maka kemudian cucok-lah kalau hari ini saya dan Anda mendendangkan lagu That’s What Friends Are For. Mari-mari bernyanyi.

And I never thought I’d feel this way.

And as far as I’m concerned

I’m glad I got the chance to say

That I do believe I love you

And if I should ever go away.

Well then close your eyes and try

To feel the way we do today

And then if you can remember

Keep smiling, keep shining

Knowing you can always count on me, for sure

That’s what friends are for

For good times and bad times

I'll be on your side forever more

That's what friends are for

Well you came in loving me

And now there’s so much more I see

And so by the way I thank you

Oh and then for the times when we’re apart

Well then close your eyes and know

The words are coming from my heart

And then if you can remember


http://community.kompas.com/urbanlife


-------------
-------------
keywords, content:

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city
-----------------
-----------------

MUNA

oleh Samuel Mulia


Muna bukan nama wanita, bukan juga waria atau pria sejati. Itu juga bukan nama rumah makan atau butik yang menyediakan pakaian murah-meriah atau mahal.

Muna adalah sebutan untuk saya oleh teman-teman. Dari kata munafik. Alasannya sederhana. Menurut mereka, saya memiliki kemampuan untuk memiliki dua wajah. Mungkin singkatnya, bisa bermuka ganda, atau mungkin seperti mata-mata. Kadang FBI, kadang KGB, kadang BIN. Kadang seperti malaikat, tetapi secepat kilat bisa berubah menjadi pesaingnya malaikat.

Sebutan muna itu tiba-tiba muncul setelah lama, lama sekali hilang dari kepala, dan muncul saat saya terpaksa harus menikmati kemacetan lalu lintas Jakarta dari kawasan industri Pulo Gadung ke rumah teman di bilangan Jakarta Selatan, yang telah menghabiskan dana yang bisa dipergunakan untuk makan siang satu kali dan ngupi-ngupi satu kali.

Pak Priyatna vs saya

Ingatan itu disegarkan setelah saya membaca laporan majalah Tempo mengenai sosok Priyatna Abdurrasyid dalam rubrik ”Memoar”. Cerita jaksa ini pada masa Orde Baru sangat menggugah hati. Saya sempat bingung dan bertanya bagaimana Tuhan bisa menciptakan sosok seperti ini. Saya juga ingin bertanya kepada orangtuanya, pendidikan apa yang diberikan kepada anaknya sehingga bisa menjadi manusia seperti itu. Tak hanya pandai, tetapi begitu kuat dalam pendirian.

Itu berbeda sekali dengan saya. Mudah sekali tergoda. Bahkan mudah sekali melacurkan diri bilamana perlu. Padahal seingat saya, orangtua saya tak pernah mengajarkan saya menjadi pelacur. Mungkin kalau ini, saya saja yang memang senang melacurkan diri. Mungkin karena menemukan ada sisi enaknya menjadi pelacur.

Dalam tulisan cukup panjang itu digambarkan juga Pak Priyatna sebagai sosok yang mampu tidak bermain sandiwara dalam kehidupan ini.

Letnan Jenderal Alamsyah Ratu Prawiranegara, mantan komandannya saat dia menjadi anggota TNI di Sumatera Selatan, pernah berujar kepadanya, ”Jij moet toneel speelen (kamu harus main sandiwara) dalam memeriksa Pertamina.” Perhatikan kata-kata itu, saudara-saudara. Moet. Harus! Ada suara perintah, bukan diskusi terbuka.

Kemudian Pak Priyatna menjelaskan kalau ia disuruh berpura-pura melakukan pemeriksaan, semuanya tak akan diteruskan. ”Saya jelas tidak bisa melakukan itu,” kata dia.

Singkat cerita, ia dipanggil ke Bina Graha untuk berhadapan dengan Pak Harto. Ia tampaknya juga tak menyerah menghadapi orang nomor satu masa itu. Dalam percakapan itu secara tersamar Pak Harto mengatakan kalau ia melepas kasus Pertamina, kariernya akan naik sampai menjadi Jaksa Agung. Kalau tidak, ada konseksuensi yang harus ditanggung. Ia memilih mundur. Sementara saya? Saya akan menjadi hebat sekali kalau sudah berbicara soal sandiwara. Apalagi memberikan tip dan triknya.

Artikel itu makin meresap ke dalam sel-sel otak saya, seperti racikan bumbu ke dalam rendang. Saya sudah tak peduli, tepatnya tak merasakan taksi yang saya naiki dari tadi masih jalan di tempat.

Pertanyaan muncul lagi di kepala. Kali ini soal ancaman. Saya tak bisa membayangkan, betapa kuatnya Pak Jaksa yang berkuasa pada awal 1950-an ini menghadapi ancaman, baik fisik maupun non-fisik. Kalau ancaman itu terjadi pada saya, so pasti saya langsung memilih menganggut-anggut mengiyakan saja daripada kehilangan posisi, nyawa melayang seperti layangan, juga kehilangan uang banyak.

Kebelet

Cerita dalam artikel itu benar-benar membuat saya menitikkan air mata, meski tak ada satu hal pun sentimental yang perlu ditangisi. Saya menitikkan air mata ketika membaca gajinya tak dibayarkan, rumah dirampas dengan hanya bermodalkan surat keputusan yang ditandatangani temannya sendiri yang pernah dia bantu mendapatkan jenjang karier lebih tinggi. Air mata itu tepatnya bukan buat Pak Priyatna, tetapi buat saya.

Kalimat demi kalimat di dalam artikel tersebut hanya menyetrum saya untuk berani jujur, apakah saya juga seorang teman yang pengkhianat? Apakah saya lupa kepada teman-teman yang pernah membuat saya berjaya? Brutus-kah saya? Apakah saya juga seorang teman yang membenci sesamanya sampai tak punya lagi rasa belas kasihan? Apakah karena saya akan dibuat sengsara dengan kejujuran teman-teman saya, saya menyengsarakan mereka terlebih dahulu? Sampai begitu teganya mematikan hidup orang perlahan demi perlahan.

Kalau sudah begitu, apa arti keberadaan saya di rumah ibadah dan berhadapan dengan Tuhan melalui doa-doa yang dipanjatkan? Sama Tuhan saja saya berani bermain mata-mata. Sekarang membunuh orang, dua jam lagi menangis minta ampun seperti anak kecil.

Kebiasaan. Habit. Itu saja dasar dari berbuat senonoh atau dua nonoh. Kebiasaan merekayasa, mengancam, membunuh. Disebut kebiasaan karena memang biasa dilakukan, Karena kalau sudah biasa, lama-lama bisa mudah melakukannya. Saya biasa berselingkuh, awalnya tidak pandai. Lama-lama kepandaian tersebut di atas rata-rata karena sering dilatih, seperti selalu diajarkan guru saya untuk rajin belajar dan melatih kebiasaan menjadi rajin. Nasihat guru saya itu sekarang saya rasakan manfaatnya. Rajin mencuri milik orang lain, sampai imun. Bahkan mencuri pun lama-lama bukan hal negatif.

Seperti film berjudul Taken yang saya tonton beberapa minggu lalu. Film ini menceritakan bisnis pelacuran gadis-gadis muda yang dikoordinasi mereka yang memiliki istri dan anak. Saya hanya ingin bertanya, bagaimana kalau anaknya sendiri yang dijual? Diceritakan pula seorang kepala polisi terlibat dalam bisnis kotor itu, sementara tugas kesehariannya sebagai penegak kebenaran. Mungkin ia sama seperti saya, muna. Bisa menegakkan keadilan dan juga mengencinginya lain waktu.

Di taksi itu, di tengah kemacetan lalu lintas Jakarta, saya berjanji tidak lagi memiliki kebiasaan buruk. Menjadi muna. Karena saya yakini kebiasaan yang buruk itu merusak tabiat yang baik. Sejak saya dilahirkan, keberadaan saya hanya untuk kebaikan. Kalau saya jadi rusak, itu bukan karena saya manusia yang sekadar lemah, penuh kekurangan. Itu karena saya juga memilih untuk tidak mengasah kebiasaan berbuat baik.

Semoga keputusan saya ini bukan karena saya kebelet. Kebelet adalah sebuah ancaman. Di bawah ancaman saya terbiasa mengumbar seribu janji. Karena setelah melewati masa kebelet, saya lega, bisa berpikir waras, maka saya mulai lagi berpikir, waduh kalau saya baik, nanti saya diancam lagi nih!

Kilas Parodi: Pak Priyatna atau Saya?

Lingkari jawaban yang sesuai dengan hati nurani Anda. Pertanyaan di bawah ini sebuah tes kecil-kecilan dan saya ambil dari artikel di majalah Tempo itu.


1. Kalau ada yang menasihati Anda seperti ini, ”Mas, jangan terlalu keras dan tanpa perhitungan. Lebih baik ikuti policy Bapak saja. Apa yang Anda lakukan?

a. Saya enggak ngerti. Policy itu apa ya? Apa bedanya sama polisi?

b. Menjawab, ”Baik, terima kasih. Akan coba saya pikirkan apakah saya ini keras dan tanpa perhitungan.”

c. Menjawab tegas, ”Enggak usah ikut campur. Itu urusan saya dengan Bapak. Ini bukan nasi campur. Mau keras kek, mau lembek kek, mau tanpa perhitungan kek, sudah dihitung kek, jij enggak usah ikut-ikut.”

d. Maksudnya Bapak? Bapak saya, apa bapaknya siapa? Maaf IQ saya lagi jeblok.

2. Seandainya Letnan Jenderal Alamsyah Ratu Prawiranegara memberi nasihat, seperti yang ditujukan kepada Pak Priyatna, kepada Anda. ”Jij moet toneel speelen (kamu harus main sandiwara) dalam memeriksa Pertamina.” Jawaban apa yang akan Anda beri.

a. ”Oke deh, Pak! Siap akan saya laksanakan! Kalau cuma main toneel itu mah… a piece of cake! Bersandiwara itu sudah menjadi bagian hidup saya sehari-hari. Lha wong saya menjawab ini saja sambil main sandiwara. Saya sampai enggak tahu apa jawaban saya ini jujur apa tidak.

b. ”Waduh, enggak bisa, Pak. Saya ini sejak dulu tak pernah diajari bermain sandiwara. Bapak saya bukan seniman, di keluarga tak ada yang pernah menjadi pemain sandiwara. Mbok saya diajari. Saya pasti bisa. IQ saya di atas rata-rata. Cepat, kok. Bapak enggak akan menyesal mengajari saya.”

c. ”Tidak, Pak, saya lebih baik mengundurkan diri saja.”

d. ”Imbalannya apa, Pak? Imbalan itu buat saya penting. Kira-kira bisa menjadi Deputi Gubernur BI enggak, Pak?”

3. Kalau teman Anda yang Anda promosikan mengucilkan Anda, apa yang Anda lakukan?

a. ”Gampang. Saya datangi dan saya kecilkan, bukan dikucilkan. Kalau bisa, saya bonsai. Beres.”

b. Saya berdoa supaya Tuhan mengampuni dia karena mungkin dia tidak tahu apa yang sedang ia perbuat. Bukankah saya orang beragama, harus mengampuni. Negeri saya saja punya sila Ketuhanan Yang Maha Esa, yaaa… masak saya mau sakit hati. Saya serahkan saja kepada Sang Kuasa. Apa hak saya sebagai manusia menghakimi sesama.

c. Yaaa… sakit hatilah yao. Hare genee gak sakit hati. Gue enggak bakal jadi temannya lagi. Gue akan cerita ke seantero jagat jangan pernah memercayai dia.

d. Yaa… peristiwa itu mengajarkan saya untuk tahu teman yang benar teman, atau teman yang pura-pura teman. Kita harus mampu berbesar hati dan belajar dari hidup ini. Malah saya bersyukur, orang lain yang bertabiat seperti itu dan itu bukan saya. Jadi, kalaupun saya nanti tak lagi di bumi ini, saya juga akan pergi tanpa beban. Mau ditanya Sang Khalik, yaaa… saya sudah punya jawabannya.

http://community.kompas.com/urbanlife


-------------
-------------
keywords, content:

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city
-----------------
-----------------

Family value

oleh Samuel Mulia


Setelah lama absen di gedung bioskop, akhir pekan minggu lalu saya menyaksikan beberapa film.

Dari empat film, hanya dua saja yang berkesan: We Own the Night dan Georgia Rule. Setelah empat jam di gedung bioskop, saya teringat pada peristiwa berpuluh tahun lamanya saat untuk pertama kali menyaksikan film biru ditemani ayah.

Ayah menjelaskan ini dan itu karena ia berpikir, daripada anaknya tersesat di luar rumah, lebih baik ia memberi tindakan preventif dari dalam rumah. Saya menceritakan kepada teman-teman kejadian itu, mereka mengatakan ayah saya gila.

”We Own the Night”

Family value. Nilai yang ada dan berbeda-beda di setiap rumah tangga. Itulah yang saya dapat dari dua film di atas. Nilai yang dibuat dan yang pada akhirnya memengaruhi setiap anggota keluarga tentang bagaimana memandang hidup.

We Own the Night mengisahkan hubungan kakak beradik dan ayahnya yang keras, mirip ayah saya. Yang satu jadi anak ”malaikat”, yang lain jadi anak ”setan”. Mengapa ada dua sosok berbeda dari dapur yang sama? Ayahnya yang keras dan dimainkan apik oleh Robert Duvall mengatakan kepada si anak ”setan”, ”Ibumu terlalu lemah kepadamu.”

Sementara itu, si anak ”malaikat” malah memuji perilaku si anak ”setan” akan keberanian dan kebebasan untuk memilih jalan hidup, bukan seperti dirinya yang menjadi anak ”malaikat” hanya sekadar menuruti keinginan sang ayah. Tentu sang ayah senang dan bangga karenanya. Sementara yang tak menurut dianggap anak durhaka. Jadi, nurut adalah nilai agung yang tak terbantahkan! Mau itu berisiko menjadi muna, itu tak penting lagi.

Perbedaan nilai itu juga yang membuat ayah saya menjerit di butik Louis Vuitton beberapa belas tahun silam di Los Angeles saat pertama kali saya meminta kepadanya untuk membelikan tas bermerek yang mahal itu. Ia menganggap barang semacam ini tak ada nilainya. ”Cuma untuk gaya-gayaan,” kata dia.

Tentu, masa itu saya hanya tahu barang semacam ini hanya untuk gaya-gayaan dan tak pernah terbayangkan sekarang nilai tas-tas bermerek itu melambung tinggi. Wah..., kalau saja ayah saya masih hidup, saya akan bagikan uang dari hasil penjualan tas bermerek itu agar ia tahu yang dahulu dianggapnya tak bernilai itu keliru sama sekali.

Dan, datanglah masanya ia meninggal dunia. Saya, sebagai si anak ”setan” dalam keluarga, terpaksa harus menjalankan usaha dia, bukan adik saya yang pandai dalam hitung-menghitung. Sekarang, ia malah bekerja di salah satu bank di luar negeri, mengurus usaha orang lain, dan mungkin ia merasa tak penting mengurus usaha ayahnya. Anak ”setan”-kah adik saya dan anak ”malaikat”-kah saya?

Mungkin saya salah mengartikan nilai menghormati orangtua. Saya menyamakannya dengan harus meneruskan usaha Ayah. Sementara adik saya memiliki kebebasan memilih. Ia menghormati orangtua dengan nilai berbeda, yang membuat saya naik pitam. Mungkin, saya saja yang tak punya nyali, seperti Mark Wahlberg yang berperan sebagai anak ”malaikat” yang terpaksa.

”Georgia Rule”

Kebebasan yang diambil adik saya itu juga diperlihatkan Lindsay Lohan dalam film Georgia Rule. Kebebasan yang telah membuat teman saya yang nonton bersama mengatakan, ”Kalau saja aku punya keberanian memiliki kebebasan itu, tanpa harus terikat dengan nilai-nilai kita yang kadang baik, tetapi banyak muna-nya, saya bisa jadi manusia berbahagia.”

Saya terdiam. Sebagai orang Asia, eh... salah... sebagai manusia Indonesia, oh... maaf, salah lagi. Sebagai saya sendiri, saya berpikir usaha orangtua itu seharusnya diteruskan anaknya. Itu nilai hidup yang baik.

Saya naik pitam kepada adik saya karena ia seperti tak peduli. Selang beberapa menit, saya mulai berpikir. Mungkin saya salah, adik saya benar. Itu bukan tanggung jawabnya untuk meneruskan warisan Ayah. Itu juga bukan urusan saya untuk meneruskan itu.

Mungkin ayah saya saja yang kurang kerjaan membuat usaha. Mungkin nilai yang dimiliki Ayah dan yang dipercayainya adalah orangtua harus menjadi penyedia kebutuhan masa depan anak- anaknya sehingga dia berusaha supaya anaknya tak menderita. Sementara teman bule saya di Amsterdam dalam usia 15 tahun sudah bekerja paruh waktu. Jadi, dari kecil, ia dicekoki nilai bahwa masa depan ada di tangan setiap orang, bukan orangtua. Orangtua tak selalu menjadi a shoulder to cry on.

Dalam film Georgia Rule digambarkan nilai dalam keluarga yang membuat saya terkaget-kaget. Bagaimana ada anak dengan lantang mengatakan kepada ibunya untuk tidak lagi mengganggu hidupnya. Mengenyahkan si emak dari hidupnya.

Teriakan yang menurut saya kurang ajar sekali itu dijadikan opening scene. Saya merasa itu kurang ajar, teman saya bilang, Dik Lohan hanya mau berlaku jujur bahwa ibunya memang menyebalkan.

”Gimana enggak mau sebal pada ibu yang mabora (mabuk) setiap saat,” kata teman saya.

Setelah itu, diperdengarkan percakapan antara nenek dan cucu yang berakhir dengan umpatan kata kotor dari mulut si nenek untuk cucunya. Sementara nilai dalam keluarga saya, entah itu karena kami orang Asia, orang Indonesia, orang yang pernah terjajah, tak mungkin berkata kotor kepada orangtua. Itu tidak santun.

Permasalahan seks juga diungkap blak-blakan. Bukan secara fisik, tetapi secara percakapan. Buat seorang pria tampan yang cah ndeso dari Idaho, seks adalah sesuatu yang sakral, yang hanya bisa dilakukan setelah menikah. Nilai agung yang dipercayai si pria itu malah jadi bahan tertawaan untuk Lindsay Lohan.

Tertawanya itu seperti menggambarkan, jika seseorang mampu mempertahankan keperjakaannya, itu bukan prestasi, tetapi banyolan. Hal yang ketinggalan zaman.

Kemudian saya berkaca sebagai manusia Indonesia, manusia Asia, apakah saya memiliki nilai si pria cah ndeso itu atau seperti Dik Lohan. Saya seperti Dik Lohan ternyata.

Kata teman saya, ”Lo sok kebule-bulean.”

Suatu hari saya bilang berselingkuh itu salah, teman saya bilang itu sama sekali jauh dari salah. Tuh... daripada terus seperti itu, mending tidur, bukan? Secara hujan di luar, dingin, dan saya tak mau mumet karena bicara soal nilai.

Kilas parodi: Begini Saya Menilai...

1. Waktu Ayah meninggal, beliau disemayamkan di sebuah rumah sakit di Jakarta. Salah satu dari kerabat kami menyarankan saya untuk menjaga jenazah Ayah semalam suntuk. Katanya, sebagai anak laki pertama, itu tak jamak kalau tak dilakukan. Itu sebuah penghormatan.

Setelah mendapat petuah itu, saya datang ke depan peti jenazah dan mengatakan kepada Ayah yang terbaring tanpa bisa mendengar, saya tak mau menemaninya. Saya mengantuk mau pulang dan tidur nyenyak, besok pagi saya kembali lagi.

Buat saya, menjaga semalam suntuk bukan penghormatan. Penghormatan itu saat ia masih hidup. Saya tak mau membayar ketidakhormatan saya selama ia hidup pada saat dia tak lagi bernyawa.

2. Ayah saya menikah dua kali, setelah Ibu meninggal. Saya selalu saja kaget setiap kali ia menikah. Awalnya saya protes, kemudian saya mengerti dia membutuhkan teman. Tidak hanya untuk kebutuhan lahir, tetapi batin juga. Ia tak tahan kesepian.

Saya menghormati keputusannya itu. Penghormatan terhadap orangtua adalah family value yang saya dapati. Meski buat saya kesepian itu sebuah nilai yang tak perlu harus dieksekusi dengan menikah beberapa kali. Yah.., namanya manusia tak pernah sama, bukan?

3. Saya baru selesai makan siang bersama teman lama. Kami berbicara soal perselingkuhan. Sebuah tema pembicaraan yang menurut salah satu pembaca Parodi bosan banget untuk ditulis lagi. Akan tetapi, perselingkuhan itu seperti air, selalu ada dan dicari.

Saya memiliki nilai terhadap hubungan itu, setia sampai mati. Jadi, untuk hal ini tak ada tawar-menawar meski perselingkuhan sekarang tampaknya seperti hal biasa saja. Nilai-nilai sebuah hubungan sudah begitu bergeser. Dan, itu tak hanya terjadi pada generasi yang lebih muda karena dua teman saya yang ayah dan ibunya sudah berusia lebih dari 55 tahun doyannya yaaa... gitu deh.

4. Sebagai seorang teman, value sebuah pertemanan adalah bukan mencari keuntungan meski dengan berteman banyak saya mendapat banyak keuntungan. Bingung? Saya sendiri juga bingung. Kadang saya juga tak tahu apa yang sedang saya tulis.

5. Ini pesan saya. Mau dituruti tak masalah, tak mau juga tak apa-apa. Kalau Anda tahu tindakan Anda tak punya nilai apa pun, jangan pernah mencoba-coba mencari celah untuk memberi value sehingga tindakan itu kelihatan penuh arti demi hanya untuk menyenangkan ego Anda.

http://community.kompas.com/urbanlife


-------------
-------------
keywords, content:

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city
-----------------
-----------------

OH PILKADA, WADEN BAKADA


Wah udah lama ndak diari2an nih, begindang. Beberapa hari yang lalu utk pertamaxxx kali nya aku kecelakaan motor yg berjudul tabrakan. Sebelum nya beberapa waktu yg lalu pernah juga hampir tabrakan face to face dengan seekor mobil sehingga sikut tangan ko bakada sekitar 2 mingguan mungkin kerana ambo meloncat spontan dari motor. Nah, kemaren ituww ndak tanggung2. For the first time but I tabrak motor tentara. Lebih memalukan nya kejadian berlangsung di jalan kompleks. Waktu itu I mo ke rumah bpk Rangga. Hujan lah faktor utama kejadian tsb.

Tapi itu motor nya lagi dikendarai bukan sama pak Taa nya, manusia berambut cepak itu baru datang seusai kejadian dipanggil sama si pengendara yg masih semester tiga sebuah universitas tak begito ternama di pinggiran kota Padang. Untung lah aku bisa berpura2 tegar negoisasi nya sehingga the last segala biaya kami bayar fifty fifty. Emang aku ndak apa2 begitu juga motor ku. Aku akhir nya keluarin duit 150 utk biaya perbaikan motor pak Taa tsb sekalin biaya bauuruik si pengendara yang calon dokter tulang tsb. Yah, ini lah berkat berpura2 aku berlagak juga punya backing aparat di belakang. Eamng sih ada om di Lb. Basung dan da On di Mabes AD, tapi kan malah membuat urusan tambah sulit kalo manggil mereka. Apalagi aku ndak punya sim and motor udah mati pajak gethoooo.

Nah, sekarang entah ada apa hubungan nya kito masuk aja ke judul pilkada. Ya hari ini berlangsing pilkada koto Padang. Gw ternyata juga dapat kartu pemilih dan Ama maksa buat ikut milih (Fauzi Bahar - Nah, ini lah backing ku yg "sebener" nya: Lekot Marinir lhooo). Tapi masalah nya TPS berlokasi di Gaduang and you know lahhh ga banget getho lohhh. Akhirnya aku emang ndak pergi. Emang begitulah marisol, tentang hubungan ku dgn masyarakat (sebenar nya terlebih utama pemuda sepermainan ku dulu) ini butuh ruang tersendiri utk dituliskan nanti. Saya sendiri, dengan segala pengetahuan politis and idealisme yg berapi2, sebenar nya juga ndak terlalu peduli tentang kepemimpinan kota ini. Sama2 pesimis jadi nya, padahal jelas2 gw beda dengan kaum2 pragmatis dan tak acuh yg kebanyakan beredar tsb getho lohhhh (wau, gw ngomong gini gara2 ketularan Gina fs kali yee).

Tapi kupikir2 juga emang sebaik nya Fauzi juga yg kupilih (meski faktta nya aku sudah nyata ndak ngikut milih). Seperti adigium, seribu tahun di bawah pemimpin yang otoriter adalah lebih baik daripada keadaan tanpa pemimpin. Nah, ketegasan nya, and keberanian beliau ini lah yg jadi nilai lebih nya buatku (kalo orang lain mungkin menilai "agama" nya meski ustadz salaf eko an suka mencak2). Dari debat di Tv aku emang melihat ada calon lain yg lebih kompeten spt nya, tapi fakta nya aku juga tak mengenal mereka lebih jauh kan? Dan rasa nya berlebihan juga kalo aku menuntut Fauzi untuk menjadi yang ideal (sementara daripada kondisi ideal tsb pun belum terumuskan bagi orang spt ku yang masih gamang dengan "pegangan" ini).

Maka sekali lagi, terlepas dari segala kekurangan nya, sosok Fauzi itu saya kira penting utk menjadi tombak pelawan arus (haha melawan arus, ini lah justru yang membuat ia tak populer, sementara bagi ku nilai melawan arus nya terlihat masih agak kurang justru). Mudah2an ya Alloh pemimpin yang punya nyali seperti ini bisa membuat kota ini lebih baik, dan juga hasil nya ikut merobah sedikit demi sedikit struktur dan sifat relasi sosial rang minang di padang kota pangicuah ini. Jujur aja pilihan profesional lah yg tetap menjadi penilaian ku (karena ketakprofesionalan ini lah akuww tersingkir hihi) dan saya sama sekali ndak peduli dengan soal masih ada hubungan kekerabatan atau tidak. Memang fakta nya dari debat tv tadi kayak nya ada juga calon lain yg bermutu, tapi sekali lagi aku lebih mengenal kompetensi Fauzi.
Entah bagaimana hasil nya, entah apa iya kata orang2 ga ada hubungan nya dengan nasib kito2, yang jelas saya ingin menutup tulisan ini dengan mengutip kata2 dari seorang preman didinya waktu saya beberapa tahun lalu pulang naik bis dari Jawa dan lewat di daerah Dharmasraya -- oya itu tahun 2005 kalo ndak salah pemilihan gubernur -- dan predi tsb ngobrol ama sopir: urang pilkada awak bakada dek ee. Haha kehidupan ku emang masih bakada, tapi bukan berarti ndak peduli sama pilkada. Bukan?
-------------
-------------
keywords, content:

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city
-----------------
-----------------

Starting an Online Business from Scratch

by John

One advantage of doing business online is that you can start from scratch without investing much money. Here is a 27 Step Action Plan to help you get started...

1. List 5 hobbies, interests or areas of expertise. If you want to start a new business, you'd better choose a subject that you like and a subject where you can show expertise. You will have more fun and you will be more competitive.

2. Brainstorm a list of keywords and phrases related to those hobbies and interests. For example, if you are going to sell small airplane collectibles, some possible keywords could be: airplanes, aeronautics, war airplanes, etc.

3. Research those keywords in Wordtracker.com to locate problem statements that have high search results and low competition. Wordtracker.com is a web page that helps you find out how many times your keywords are searched online, how popular your keywords on search engines are. Those keywords may represent problem statements. Wordtracker shows you how many people are buying traffic on those keywords and how much are they paying. You need to find popular statements with low competition.

4. Research those problem statements further to determine if you can develop a product to solve the problem stated. You may use search engines to see how many people are offering products that can help to solve those problems. If you find a popular problem and there are not many people offering solutions online, you've got it!

5. Find or create a product based on previous research for you to sell. Once you found a hungry market, you just need to find the food that your customers want and they will eat from your hands. You may find companies online that can manufacture the products for you or you may find a different way to create the product yourself. If the product is an e-book, you may write it yourself or you may hire someone else to do it.

6. Write a long copy sales letter for that product. The experience of the most important internet marketing gurus reveals that long copies sell much more than short copies. It is also recommendable that you try to sell only one product on your web site. Focus on one product unless the solution you are providing is the offer of a wide catalogue.

7. Register a domain and set up a hosting account. There are many places online where you can register a domain and set up a hosting account in minutes.

8. Register for a merchant account (to set up quickly use PayPal.com). If you don't want to register a merchant account that will allow you to take credit card payments online, go to PayPal.com and sign in. It can be a little bit more expensive, but it is a simple way to take credit card payments online very quickly.

9. Set up a simple web site using an automatic site builder or pay to have someone set it up for you. Do not try to design your own web site unless you are educated on html. Do not waste your time. Hire someone else to do it or buy automatic web site builder software. There are many of these you can buy online.

10. Set up an opt-in form on your web site to collect e-mail addresses. You need to start collecting e-mail addresses for your newsletter. The major part of your business will come from the emails that you will send to your customer list.

11. Build an extensive keyword list based on the initial list of keywords you developed. Use Overture.com. For each keyword on the initial list, Overture can help you find different combinations with other words that you may find interesting. Check the popularity of each term and write down on a spread sheet your final keyword list.

12. Submit those keywords to Overture.com to start driving traffic right away. You need to start driving some traffic immediately in order to test your web site. The best way to do that is to buy this traffic at overture.com

13. Optimize and submit your web site to organic search engines (Google, Altavista, etc...). Once you have proved that your web site works and sells, you will be ready to make the business bigger. It is then time to start working on building free traffic to your site.

14. Continue to test and tweak your web site until target conversion rate is met. Your conversion ratio should be that 1-2% of your visitors should buy from your web site, and 11% should subscribe to your newsletter. Continue testing until you get those stats.

15. Set up an affiliate program on your web site. Affiliate programs can double your business with no additional effort. Others will make the job for you. But you cannot set up an affiliate program before you are sure that your web site can produce results. If your site does not work, you will loose your affiliates and they will never come back to you again.

16. Approach complimentary web sites to sign up as affiliates to promote your product. Get in contact with people that can promote your product and ask them to be your affiliates. Just try to find your first 100 affiliates, and your affiliate list will boom alone.

17. Start publishing a monthly newsletter. You have started collecting e-mail addresses much earlier, but it is not the time to start working the newsletter until you can prove that everything else works.

18. Submit articles to related newsletters and e-zines on a regular basis. In the articles you should always have a link to your site, so that you can get more traffic and you can get more people joining to your newsletter.

19. Continue the development of a content rich web site to further increase search engine rankings. Search engines love content. You must have many web sites which are rich on your keywords and which have links to your main page. A good way to do this is to add as many articles as you can related to your business and link them to your home page.

20. Once keywords have been tested in Overture, roll out in Google Adwords. It works similar to Overture, you bid for traffic. But do not go to Google Adwords first. You must first prove your success with Overture and then go to Google Adwords.

21. Roll out tested keyword list in other major PPCs. When you are sure about your stats, and you know how much money you collect per visitor, you must buy as much traffic as you can get as far as your income per visitor is higher than your bids.

22. Create a viral e-book to generate more leads. Create a free e-book that you can promote and which sells your product or service. Give it for free, and this will bring more traffic to your web site.

23. Have an expert review and critique your web site. Even if your site works, you can always improve. Listen to others and learn from their experiences.

24. Survey your existing customers to find out what other products or services they are looking for. Once you have a big list of customers, use it to find out what other problems do they have. Try to find or create a solution for them and you will boost your sales instantaneously.

25. Create and find back-end products and market them through your e-mail list. Continue finding more products that meet your customer demands and promote them via e-mail.

26. Continue to test and tweak your web site and offers. Nothing is perfect the first time and can always be improved. It is very important that you take action, even if you make mistakes. Learn from your errors and improve your skills.

27. Repeat process to create "Multiple Streams of Income". Once your business is working on automation, then you can start the process again with a new business. Build as many businesses as you can, and reduce your risks. If one business fails, but you have another 5 working businesses, who cares about it?

If you have read up to this point, you are probably asking yourself how much it will cost to get started? The answer is very simple; it depends on how much time and money you have available to invest! If you have a lot of time, you can do everything yourself. On the other hand, if you don't have time, you will have to pay other people for building your website and/or for optimizing your site on search engines.

If you can do nothing else...just launch a web site and start promoting online...

http://www.goarticle.net/article.php/29-08-2007-Starting-an-Online-Business-from-Scratch--.htm

AdSense

Google AdSense - (Bukan) Cara Mudah Mendapatkan Uang di Internet


Google AdSense adalah cara mudah untuk meraup dollar di internet



Benarkah?


Jika Anda termasuk orang” yg masuk ke bisnis AdSense karena mengganggap AdSense adalah cara mudah untuk mendapatkan uang di internet, maka dengan berat hati saya harus mengatakan kalo “Anda salah!“.

Mitos ini tak lebih dari sekedar propaganda yg dilancarkan oleh orang” yg berusaha untuk meraih keuntungan dari para pemula ato orang awam. Dengan menjual e-book misalnya. Ato memberikan pelatihan tidak gratis dng biaya iuran bulanan yg tidak murah. Ato juga menjual software” ato template” yg membuat Anda seolah” bisa ongkang” kaki di depan komputer dan melihat uang masuk dng sendiri.


Kenyataannya?


Sedikit sekali publisher” baru (istilah bagi webmaster yg memasang iklan AdSense di situsnya) yg bisa terus survive dan menghasilkan pendapatan yg signifikan dan sebanding (bahkan lebih) dng usaha yg dilakukannya. Sama seperti hasil survey mengenai wirausaha yg beberapa waktu lalu saya baca. Dari sekian banyak usahawan baru, hanya 20% saja yg bisa bertahan melewati tahun pertama. Persentase ini akan semakin menyusut di setiap tahunnya, dan bukan tidak mungkin di tahun ke-lima nanti hanya tersisa 1-2 usahawan sukses dari angkatan tersebut.


Begitu pula bisnis AdSense.


Saya mengikuti hampir semua forum lokal yg membahas ttg AdSense, dan dari banyak kasus yg ada, kesalahan (baca: kegagalan) berpangkal pada anggapan di atas yg tanpa disadari telah menjadi semacam pedoman “kerja” bagi para publisher pemula.


Content yg didapat dari hasil copy-paste, topik yg terbius oleh iming” high paying keyword, situs/blog yg dibuat secara otomatis dng software, dan sebagainya. Seolah” hanya dng bermodal dengkul seperti itu, dollar akan datang dengan sendirinya.


Yg lebih parah, karena sudah terlanjur termakan oleh mitos, maka publisher” muda ini akan berusaha menggunakan cara apa pun untuk sekedar menggemukkan pundi” dollar di statistik AdSense mereka. Click fraud, force click, dan automated click, hanyalah sebagian kecil dari usaha tidak-halal yg dilakukan.


Hasilnya, meskipun di awal” tampak aman, surat banned pun melayang juga pada akhirnya.


Yah teman, bisnis AdSense pada kenyataannya tidak semudah yg digembor”kan.


Memang, saya tidak akan mengingkari adanya publisher” yg cukup berhasil hanya dng berpangku-tangan saja. Tapi sekali lagi yg perlu diinget, persentase-nya amatlah kecil, jika dibandingkan dng yg gagal.


Bagaimana solusinya?


Yang paling utama tentunya adalah menghilangkan anggapan bahwa bisnis AdSense adalah bisnis yg mudah dan tidak perlu usaha keras. Ingat, semua jenis bisnis pasti beresiko dan butuh usaha. Apa pun itu.


Selanjutnya, langkah” berikut mungkin dapat dijadikan pedoman awal dalam meraih sukses dng AdSense.



  1. Selalu mulai dng membuat situs web dng topik yg Anda kuasai ato Anda suka. Lupakan high paying keyword. Jadikan situs ini sebagai situs utama Anda, ato menurut istilah saya adalah situs inti / poros.

  2. Stl situs selesai, lanjutkan dng melakukan optimasi dari sisi SEO (Search Engine Optimization).

  3. Langkah berikutnya adalah promosi situs. Promosi dpt berupa melakukan submit ke situs” search engine, pemasangan iklan baik online maupun offline, direktori, top list, dan sebagainya. And for God’s sake, hindari SPAM!

  4. Selanjutnya, Anda tinggal menunggu hasilnya sambil terus secara berkala melakukan update (kecuali untuk situs” jenis tertentu yg tidak membutuhkan update dari webmaster).

  5. Berdoa. Kita sudah berusaha, maka jangan lupa untuk berdoa semoga usaha yg kita lakukan tidak sia”.

  6. Jika saatnya sudah tepat, lakukan ekspansi bisnis dng membuat situs baru dan lihat kembali pada langkah 1 di atas.


Bagaimana detilnya? Tunggu artikel selanjutnya :)


Tulisan ini adalah bagian pertama dari entah berapa bagian yg sama sekali belum direncanakan.




Artikel ini ditulis oleh Cosa Aranda dan pertama kali dipublikasikan pada tanggal 8 May 2006. Artikel ini disponsori oleh Resensiku.com, blog yang berisi resensi buku dan film terbaru. Artikel bebas untuk didistribusikan ulang untuk keperluan non-komersil selama mencantumkan nama penulis dan sumber artikel serta tidak merubah isi.

AdSense

Tehnik Dasar AdSense Yang (Mungkin) Anda Belum Tahu


Sexy Google Images


Salah satu pertanyaan yg acap diajukan oleh rekan2 publisher dan seringkali membuat saya bingung adalah mengenai trik2 rahasia di AdSense. Bukannya ragu untuk mempublikasikan rahasia, tapi karena bagi saya tidak ada rahasia satu pun di dalam ber-AdSense. Itu sebabnya saya juga tidak percaya dengan berbagai macam tawaran trik rahasia AdSense yg tersebar di internet, termasuk yg dijual oleh beberapa orang “publisher” Indonesia.

Hampir semua tehnik yg saya implementasikan dalam ber-AdSense-ria berasal atau dikembangkan dari tehnik2 dasar AdSense yg saya yakin sudah menjadi rahasia umum. Selain sering dibahas di forum2, tehnik2 dasar tersebut juga dijabarkan sendiri oleh Google pada Optimations Tips mereka.


Format Ad Units


Secara umum, ad units yg paling menguntungkan adalah yg berbentuk kotak (rectangle), yaitu yg berformat 336×280, 300×250, dan 250×250. Hindari menggunakan format 468×60 karena hampir semua pengguna internet sudah aware bahwa itu adalah iklan.


Jika ingin memasang iklan vertikal, sebaiknya gunakan format 160×600. Yg perlu diingat, hindari memasang iklan vertikal pada situs dengan struktur layout 2 kolom. Sedang untuk layout 3 kolom, letakkan iklan tersebut pada kolom tengah, di antara content utama dengan sidebar yg berisi navigasi situs.


Penempatan Iklan



  1. Pastikan ada setidaknya satu ad units yg terpasang di bagian atas situs atau istilahnya “above the fold“. Dengan kata lain, letakkan iklan di posisi dimana pengunjung tidak perlu menggulung layar untuk melihatnya.

  2. Distribusikan ad units agar tersebar di berbagai lokasi, jangan mengumpulkannya di satu titik saja. Gunanya adalah untuk menghindari kejenuhan pengunjung dan anggapan bahwa situs kita adalah MFA.

  3. Jika content utama situs Anda sedikit (sekitar 3 paragraf atau kurang), cukup letakkan satu ad units saja di antara judul artikel dan isi artikel; atau setelah artikel. Jika content utama cukup banyak, pasang dua buah ad units dan letakkan pada 2 posisi yg disebutkan sebelumnya. Jika artikel benar2 panjang, Anda bisa menambahkan satu buah ad unit lagi di tengah2 artikel. Jika menggunakan platform Wordpress, Anda bisa memanfaatkan trik yg saya berikan beberapa waktu lalu.

  4. Anda juga bisa memasang dua buah ad units meskipun content utama hanya sedikit. Tapi pastikan bahwa posisinya tidak terlalu berdekatan. Salah satu triknya, Anda bisa meletakkan content2 lain setelah artikel utama sebelum memasang ad unit di bawahnya.


Link Units


Banyak publisher yg melupakan keberadaan link units karena dianggap tidak menarik. Padahal dari pengalaman hampir setiap publisher yg menggunakannya, link units terbukti memberikan kontribusi pendapatan yg tidak sedikit, bahkan seringkali lebih besar dibandingkan yg dihasilkan oleh ad units.


Hampir sama dengan ad units, hindari link units berukuran 468×15. Sebisa mungkin pasang link units berformat 768×15 (5 units) dan letakkan di bagian header situs Anda. Ini akan memberi kesan bahwa units tersebut adalah menu navigasi situs, bukan iklan.


AdSense For Search


Dari kebiasaan berinternet, pengunjung akan selalu mencari kotak search di pojok kanan atas situs Anda terlebih dahulu sebelum mencari di tempat lain. Jadi tanpa basa-basi, sebisa mungkin letakkan search box Anda di posisi tersebut. Setidaknya di posisi teratas pada sidebar Anda.


Blended atau Stand-Out


Blended berarti kombinasi warna yg Anda gunakan pada ad units atau link units sesuai dan menyatu dengan layout situs Anda secara keseluruhan. Sebaliknya, Stand-Out berarti penggunaan warna2 yg sengaja berkesan menyolok (atau mencolok yah) sehingga lebih menarik perhatian pengunjung.


Meskipun banyak orang menyarankan untuk menggunakan model blended, tapi dari pengalaman saya pribadi, model stand-out performanya tidak kalah dibandingkan model blended. Jadi untuk hal ini, saya serahkan kepada masing2 publisher untuk memilih mana yg paling baik.


Yg jangan sampai lupa, jika ingin menggunakan model blended, pastikan warna background dan warna border ad units yg dipilih sama dengan warna background situs Anda, sehingga terkesan benar2 menjadi bagian dari content.


Satu tips lagi, link berwarna biru relatif lebih banyak di-klik dibanding warna2 lain. Ini terkait dengan mindset pengunjung internet yg sudah terbentuk sejak dahulu bahwa biru adalah link ke situs lain di internet.


Meskipun sudah terbukti kebenarannya, aturan2 di atas tidak 100% mengikat. Layout situs Anda juga sedikit banyak mempengaruhi apa format layout yg paling tepat untuk digunakan. Banyak2lah bereksperimen dengan masing2 format, baik bentuknya maupun lokasinya, untuk mengetahui mana yg paling cocok untuk situs Anda.

Semoga bermanfaat :)


PS:

(1) Gambar diambil dari http://blogaboutmoneyonline.blogspot.com/2007/02/how-to-maximize-revenue-with-adsense.html



Artikel ini ditulis oleh Cosa Aranda dan pertama kali dipublikasikan pada tanggal 26 February 2007. Artikel ini disponsori oleh Resensiku.com, blog yang berisi resensi buku dan film terbaru. Artikel bebas untuk didistribusikan ulang untuk keperluan non-komersil selama mencantumkan nama penulis dan sumber artikel serta tidak merubah isi.

How to Successfully Navigate Your Business through an Economic Downturn

by Terry H Hill

An economic downturn is a phase of the business cycle in which the economy as a whole is in decline.This phase basically marks the end of the period of growth in the business cycle. Economic downturns are characterized by decreased levels of consumer purchases (especially of durable goods) and, subsequently, reduced levels of production by businesses.

While economic downturns are admittedly difficult, and are formidable obstacles to small businesses that are trying to survive and grow, an economic downturn can open up opportunities. A well-managed company can realize the opportunity to gain market share by taking customers away from their competitors. Resourceful entrepreneurs capture the available opportunities, from an economic downturn, by developing alternate methods of doing business that were never implemented during a prior growth period.



The challenge of successfully navigating your business through an economic downturn lies in the realignment of your business with current economic realities. Specifically, you, as the business owner, need to renew a focus on your core clients/customers, reduce your operating expenses, conserve cash, and manage more proactively, rather than reactively, is paramount.

Here are best practices that will help you to successfully navigate your business through an economic downturn:

Goals:

The primary goal of any business owner is to survive the current economic downturn and to develop a leaner, more cost-effective and more efficient operation. The secondary goal is to grow the business even during this current economic downturn.

Objectives:

• Conserve cash.

• Protect assets.

• Reduce costs.

• Improve efficiencies.

• Grow customer base.

Required Action:

• Do not panic… History shows that economic downturns do not last forever. Remain calm and act in a rational manner as you refocus your attention on resizing your company to the current economic conditions.

• Focus on what YOU can control… Don’t let the media's rhetoric concerning recessions and economic slowdown deter you from achieving business success. It´s a trap! Why? Because the condition of the economy is beyond your control. Surviving economic downturns requires a focus on what you can control, i.e. your relevant business activities.

• Communicate, communicate, and communicate! Beware of the pitfall of trying to do too much on your own. It is a difficult task indeed to survive and to grow your business solely with your own efforts. Solicit ideas and seek the help of other people (your employees, suppliers, lenders, customers, and advisors). Communicate honestly and consistently. Effective two-way communication is the key.

• Negotiate, negotiate, and negotiate! The value of a strong negotiation skill set cannot be overstated. Negotiating better deals and contracts is an absolute must for realigning and resizing your company to the current economic conditions. The key to success is not only knowing how to develop a win-win approach in negotiations with all parties, but also keeping in mind the fact that you want a favorable outcome for yourself too.

Recommended Best Practice Activities:

The Nuts and Bolts… The following list of recommended best practice activities is critical for your business' survival and for its growth during an economic downturn. The actual financial health of your particular business, at the outset of the economic downturn, will dictate the priority and urgency of the implementation of the following best practice activities.

1. Diligently monitor your cash flow: Forecast your cash flow monthly to ensure that expenses and planned expenditures are in line with accounts receivable. Include cash flow statements into your monthly financial reporting. Project cash requirements three-to- six months in advance. The key is to know how to monitor, protect, control, and put cash to work.

2. Carefully convert your inventories: Convert excess, obsolete, and slow-moving inventory items into cash. Consider returning excess and slow-moving items back to the suppliers. Close-out or inventory reduction sales work well to resize your inventory. Also, consider narrowing your product offerings. Well-timed order placement helps to reduce excess inventory levels and occasional material shortages. The key is to reduce the amount of your inventory without losing sales.

3. Timely collection of your accounts receivable: This asset should be converted to cash as quickly as possible. Offer prompt payment discounts to encourage timely payments. Make changes in the terms of sale for slow paying customers (i.e. changing net 30 day terms to COD). Invoicing is an important part of your cash flow management. The first rule of invoicing is to do it as soon as possible after products are shipped and/or after services are delivered. Place an emphasis on reducing billing errors. Most customers delay payments because an invoice had errors, and therefore, will not pay until they receive a corrected copy. Email or fax your invoices to save on mailing time. Post the payments that you have received and make deposits more frequently. The key is to develop an efficient collection system that generates timely payments and one that gives you advance warning of problems.

4. Re-focus your attention on your existing clients/customers: Make customer satisfaction your priority. A regular review of your customers' buying history and frequency of purchases can reveal some interesting facts about your customers' buying habits. Consider signing long-term contracts with your core clients/customers which will add to your security. Offer a discount for upfront cash payments. The key is to do what it takes to keep your current customers loyal.

5. Re-negotiate with your suppliers, lenders, and landlord:

i) Suppliers: Always keep your negotiations on the level of need, saying that your company has reviewed its cost structure and has determined that it needs to lower supplier costs. . Tell the supplier that you value the relationship you have developed, but that you need to receive a cost reduction immediately. Ask your supplier for a lower material price, a longer payment cycle, and the elimination of finance charges. Also, see if you can buy material from them on a consignment basis. In return for their price concessions, be willing to agree to a long-term contract. Explore the idea of bartering as a form of payment.

ii) Lenders: Everything in business finance is negotiable and your relationship with a bank is no exception. The first step to successful renegotiations is to convince your lenders that you can ultimately pay off the renegotiated loan. You must point out to your lenders why it would be in their best interest to agree to a new arrangement. Showing them your business plan and your action plan that includes your cost-savings initiatives, along with "the how" and "the when" of the implementation of your plan is the best way to achieve this goal. Explain to them that you will need their cooperation to insure that you can survive, as well as, grow your business during the economic downturn. Negotiated items include: the rate of interest, the required security to cover the loan, and the beginning date for repayment. A beginning date for repayment could be immediate, within several months or as long as a year. The key is to realize that your lender will work with you, but that frequent and continual communications with them is critical.

iii) Landlord: Meet with your landlord. Explain your need to have them extend the term of your lease at a reduced cost. Make sure you have a clause in the lease agreement that entitles you to have the right to sublet any or all of the leased space.

6. Re-evaluate your staffing requirements: This is a very critical area. Salaries/wages are a major expense of doing business. Therefore, any reduction in the hours worked through work schedule changes, short-term layoffs or permanent layoffs has an immediate cost saving benefit. Most companies ramped up hiring new employees in the good times, only to find that they are currently overstaffed due to slow sales during the economic downturn. In terms of down-sizing your staff, be very careful not to reduce your staff to a level that forces you to skimp on customer service and quality. Consider the use of part-timers or the current trend of outsourcing certain functions to independent contractors.

7. Shop for better insurances rates: Get quotations from other insurance agents for comparable coverage to determine whether or not your present insurance carrier is competitive. Also, consider revising your coverage to reduce premium costs. The key is to have the right balance-to be adequately insured, but not under or over insured.

8. Re-evaluate your advertising: Contrary to the other cost-cutting initiatives, evaluate the possibility of increasing your advertising expenditures. This tactic realizes the advantage of the reduced "noise" and congestion (fewer advertisers) in the marketplace. The downturn period a great opportunity to increase brand awareness and create additional demand for your product/service offerings.

9. Seek the help of outside advisors: The use of an advisory board comprised of your CPA, attorney, and business consultant offers you objectivity and provides you with professional advice and guidance. Their collective experience in working with similar situations in past economic downturns is invaluable.

10. Review your other expenses: Target an across-the-board cost-cutting initiative of 10-15%. Attempt to eliminate unnecessary expenses. Tightening your belt in order to weather the downturn makes practical, financial sense.

Proactively managing your business through an economic downturn is an enormous challenge and is critical for your survival. However, through well-planned initiatives, an economic downturn can create tremendous opportunity for your company to gain greater market share. In order to take advantage of this growth opportunity, you must act quickly to implement the above best business practices to continue realigning and resizing your company to the current economic conditions.

Copyright © 2008 Terry H. Hill

You may reprint this article free of charge in your newsletter, magazine, or on your website, provided that the article is unedited, and that the copyright, author's bio, and contact information below appears with each article. Articles appearing on the web must provide a hyperlink to the author's web site, http://www.legacyai.com

Terry H. Hill is the founder and managing partner of Legacy Associates, Inc, a business consulting and advisory services firm. A veteran chief executive, Terry works directly with business owners of privately held companies on the issues and challenges that they face in each stage of their business life cycle. To find out how he can help you take your business to the next level, visit his site at http://www.legacyai.com

To download a copy of this article, click on this link: http://www.legacyai.com/Article_Downturn.html.


About The Author
An author, speaker, and consultant, Terry H. Hill is the founder and managing partner of Legacy Associates, Inc., a business consulting and advisory services firm based in Sarasota, Florida. A veteran chief executive, Terry works directly with business owners of privately held companies on the issues and challenges that they face in each stage of their business life cycle. Terry is the author of the business desk-reference book, How to Jump Start Your Business. He hosts the Business Insights from Legacy Blog at http://blog.legacyai.com and writes a bi-monthly eNewsletter, "Business Insights from Legacy eZine."

By signing up for Business Insights from Legacy eZine at http://tinyurl.com/2t4fxs you can keep abreast of the latest tips, tactics, and best business practices. You will, also, receive the free eBook, Jump Start Your Knowledge of Business.

Contact Terry by email at http://www.legacyai.com or telephone him at 941-556-1299.

http://www.articlecity.com/articles/business_and_finance/article_9810.shtml

PROSEDUR PENERBITAN BUKU

Berikut adalah prosedur penerbitan buku dari sebuah penerbit yang dimuat di sebuah situs. Barangkali saja daripada ini bisa menjadi panduan bagi dari pada sodara2 yg niat nak nulis buku. Nah, kira2 ke penerbit lain pun kira2 prosedurnya paling serupa jua. Mudah2an postingan ini berguna. Thx to Penerbit ANDI dan admin koleksi-free-ebook.blogspot.com.

Daftar Isi

I. Penerbit Andi
1.1. Sekilas Penerbit ANDI
1.2. Hubungan Antara Penulis dan Penerbit
1.3. Bentuk Royalti Penerbit Andi Offset
1.4. Bentuk Kerjasama Penerbitan
1.4.1. Kerjasama Penerbit dengan Penulis
1.4.2. Kerjasama Penerbit dengan Lembaga
1.4.3. Kerjasama Umum
1.5. Prosedur Penerbitan Buku
1.5.1. Penulis Mengirim Naskah
1.5.2. Penilaian Naskah
1.5.2.1. Sudut Pandang Ideologis
1.5.2.2. Sudut Keilmuwan
1.5.2.3. Sudut Penyajian
1.5.2.4. Sudut Fisik Naskah
1.5.2.5. Sudut Pemasaran
1.5.3. Keputusan Menerima Maupun Menolak Naskah
1.5.3.1. Untuk Apa dan Mengapa Penerbit Harus Menilai Naskah
1.5.3.2. Keputusan Naskah
1.5.4. Pengiriman Softcopy; Disket atau CD
1.6. Format Naskah
1.6.1. Format Naskah Siap Pakai
1.6.2. Penomeran Halaman
1.6.4. Gambar Area-Penulisan


I. PENERBIT ANDI


1.1. SEKILAS PENERBIT ANDI

Sejak awal didirikan Penerbit ANDI konsisten dalam kiprahnya di dunia penerbitan dimana lebih fokus pada buku komputer dan manajemen. Dengan berjalannya waktu serta komitmen perusahaan terhadap kualitas buku yang secara teguh dipegang, menyebabkan buku-buku Penerbit ANDI mendapat tempat tersendiri dihati masyarakat. Peningkatan mutu buku dilakukan baik dengan penyaringan naskah para penulis lokal, maupun bekerja sama dengan penerbit-penerbit luar yang sudah memiliki nama seperti Prentice Hall yang sekarang Pearson Education Asia, Mc Graw Hill, John Wiley, Mac Millan, Bengk Karlof, Harvard dll, serta didukung sumber daya penerbitan dan percetakan yang baik.

Semua itu, tanpa didukung oleh ketersediaan buku di pasar tidaklah lengkap. CV. ANDI Offset sangat aktif dalam memperluas cakupan pemasaran oleh karena itu buku ANDI memiliki jaringan yang luas di seluruh pelosok tanah air, baik di Jawa ataupun di luar Jawa. Hal tersebut sangat mendukung dalam ketersediaan maupun kemudahan buku ANDI didapat / diperoleh masyarakat.


1.2. HUBUNGAN ANTARA PENULIS DAN PENERBIT

Penulis dengan Penerbit memiliki kedudukan setara, dimana secara umum Penulis memandang Penerbit bertindak sebagai intermediary karya-karya yang akan disampaikan kepada masyarakat, sedangkan Penerbit memandang penulis sebagai aset penting perusahaan yang menyebabkan proses penerbitan tetap berlangsung.

Secara umum timbulnya dorongan untuk menulis diantaranya sebagai berikut; meningkatkan kredit poit (bagi pengajar), meningkatkan kredibilitas, dan alasan Finansial. Hal tersebut yang memotivasi penulis untuk menghasilkan suatu karya ilmiah yang bermutu.

Kelebihan yang dimiliki Penerbit ANDI adalah sebagai berikut:
• Buku ANDI telah memiliki Brand Name tersendiri di hati masyarakat.
• Memiliki jaringan distribusi yang luas.
• Memiliki mesin cetak sendiri sehingga hasil, kecepatan, dan kualitas dapat diatur dengan baik.
• Memiliki sistem royalti yang jelas, jujur dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan sinergi kerjasama antara Penulis dengan Penerbit akan memberikan hasil berupa penerimaan masyarakat terhadap buku terbitan ANDI.





1.3. BENTUK ROYALTI PENERBIT ANDI

Secara umum Penerbit ANDI memberikan royalti sebagai berikut:
Besar royalty standard adalah berkisar antara 10% sampai 15% per semester, dengan ketentuan sebagai berikut:
o Bagi penulis yang baru pertama kali memasukkan terbitannya ke Penerbit ANDI, berhak mendapat 10% dengan perhitungan:
o 10% x harga jual x oplah (potong pajak)
o Bagi penulis yang sudah minimal 3 kali atau lebih menerbitkan ke Penerbit ANDI, berhak mendapat 15% dengan perhitungan:
o 15% x harga jual x oplah (potong pajak)

Mengingat Penerbit ANDI memiliki bentuk kerjasama yang beragam pada saluran distribusi pemasaran maka perhitungan royalti adalah berdasarkan buku yang benar-benar telah terbayar lunas, maksudnya buku yang sifatnya konsinyasi atau kredit belum dianggap sebagai buku laku. Dalam hal ini Penerbit ANDI akan selalu menjaga kejujuran dan kepercayaan kepada semua relasinya demi menjaga nama baik Penerbit ANDI.


1.4. BENTUK KERJASAMA PENERBITAN
Bentuk Kerjasama penerbitan yang ditawarkan Penerbit ANDI melingkupi:

1.4.1. Kerjasama Penerbit dengan Penulis
Merupakan kerjasama antar Penerbit dengan Penulis secara individu untuk menerbitkan sebuah buku.

1.4.2. Kerjasama Penerbit dengan Lembaga
Merupakan kerjasama antar Penerbit dengan sekelompok penulis yang telah dikoordinasi oleh Lembaga / Institusi untuk menerbitkan sebuah buku. Dalam hal ini Penerbit hanya berhubungan dengan Lembaga / Institusi yang telah diberi kepercayaan oleh penulis.

1.4.3. Kerjasama Umum
• Kerjasama cetak, Penerbit hanya membantu dalam jasa percetakannya seperti buku jurnal ilmiah dan sebagainya.
• Kerjasama cetak dan penerbitan, Penerbit bekerjasama dengan Perorangan / Lembaga untuk menerbitkan sebuah buku dengan tanggungan biaya penerbitan bersama.


1.5. PROSEDUR PENERBITAN BUKU

1.5.1. Materi yang Harus Dikirim.
Yang harus dikirimkan ke penerbit adalah:
1. Naskah final, bukan outline ataupun draft, yang disertai dengan:
• Kata Pengantar
• Daftar Isi
• Daftar Gambar*
• Daftar Tabel*
• Daftar Lampiran*
• Isi
• Daftar Pustaka
• Indeks*
• Abstrak (sinopsis)

Catatan:
*Tidak perlu disertakan bila memang tidak ada.
Penulis diharapakan mengikuti standart Format Penulisan pada sub-bab 1.6

2. Memberi penjelasan mengenai: pasar sasaran yang dituju, prospek pasar, manfaat setelah membaca buku ini.
3. Profil penulis, memberi keterangan singkat tentang penulis.


1.5.2. Penilaian Naskah
Ada lima sisi , Penerbit menilai naskah:

1.5.2.1. Sudut Ideologis
Apakah topik bertentangan dengan UUD45 dan Pancasila, serta mengandung kerawanan akan kondisi masyarakat seperti : politik, hankam, sara, sopan santun, hargadiri, prifacy dll.

1.5.2.2. Sudut Keilmuwan
• Apakah topik yang dibahas merupakan topik baru bagi masyarakat, dan apakah masyarakat sudah siap menerima topik tersebut?
• Apakah naskah tersebut gagasannya asli atau jiplakan karena hal ini sangat berpengaruh terhadap image penerbit.
• Terkait dengan akurasi data maka diperlukan sumber daftar pustaka yang lengkap.

1.5.2.3. Sudut Penyajian
• Sistematika kerangka pemikiran yang baik sehingga alur logika pemaparan mudah dipahami.
• Bagaimana bahasa yang digunakan apakah komunikatif sesuai dengan jenis naskah dan sasaran sesuai pembaca?.
• Apakah cara penulisannya sudah benar yaitu menggunakan bahasa dan cara penulisan yang baku?

1.5.2.4. Sudut Fisik Naskah
• Kelengkapan naskah secara fisik seperti kata pengantar, daftar isi, pendahuluan, batang tubuh, daftar gambar, tabel, lampiran, index, pustaka, sinposis dsb.
• Pengetikan menggunakan apa, apakah tulis tangan, diketik manual, ketik komputer menggunakan softwere teretntu?
• Mutu gambar, table dan objek lain yang dipasang (capture) apakah layak atau masih harus mengerjakan lagi?.
• Apakah urusan administrasinya beres seperti izin penggunaan gambar tertentu, izin terjemahan dll?

1.5.2.5. Sudut Pemasaran
• Apakah tema naskah mempunyai pangsa pasar jelas dan luas sehingga buku akan dapat dan mudah diterima pasar?
• Apakah naskah memiliki selling point atau potensi jual tertentu?, seperti judul, keindahan, bahasa, kasus aktual dsb.
• Apakah ada buku sejenis yang beredar dan telah diterbitkan?. Apa kelebihan naskah tersebut dibandingkan dengan buku tersebut?
• Apakah diperlukan perlakuan khusus dalam memasarkannya atau perlu promosi khusus?.


1.5.3. Keputusan Menerima Maupun Menolak Suatu Naskah

1.5.3.1. Untuk Apa dan Mengapa Penerbit Harus Menilai Naskah
Penerbit adalah suatu badan usaha yang bercita-cita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa; mengusahakan, menyediakan, dan menyebarluaskan bagi khalayak umum, pengetahuan, pengalaman hasil karya ilmiah para penulis dalam bentuk suatu sajian yang terpadu, rapi, indah, dan komunikatif baik isi maupun kemasan fisiknya, melalui tata niaga yang dibangun untuk maksud tersebut, dan bertanggung jawab atas segala resiko yang ditimbulkan oleh kegiatannya.
• Dari pengertian mengenai penerbitan diatas dapat disimpulkan bahwa penerbit tidak memiliki maksud untuk menghakimi hasil karya penulis, sehingga tidak ada alasan untuk tidak menghargai karya tersebut karena pengarang adalah “sumber kehidupan” bagi penerbitan.
• Penilaian naskah bukan untuk menjatuhkan vonis atas naskah yang dinilai baik atau buruk, layak terbit atau tidak layak terbit tetapi merupakan langkah untuk mempertimbangkan apakah dengan menerbitkan naskah tersebut usaha penerbitan secara keseluruhan dapat melelui proses dengan baik dan dapat mencapai hasil sesuai dengan yang diharapkan atau tidak atau dengan kata lain bahwa penilaian naskah merupakan salah satu upaya memaksimalkan proses sertahasil usaha penerbitan.
• Proses penilaian ini mau tidak mau harus terjadi sehingga perlu adanya komunikasi yang baik antara penerbit dan penulis seperti penerbit jangan meremehkan dan menganggap rendah suatu naskah atau penulis merasa naskahnya sudah yang paling baik.

1.5.3.2. Keputusan Naskah
Setelah Penulis menyerahkan naskah pada Penerbit, paling lambat 1 bulan, Penerbit akan memberikan keputusan untuk terbit atau tidak, yang akan disampaikan melalui surat resmi kepada Penulis.
• Untuk naskah yang diterima, Penerbit akan mengirim surat pemberitahuan resmi akan penerimaan tersebut, serta meminta kelengkapannya - softcopy.
• Untuk naskah yang ditolak akan dikembalikan kepada Penulis bersama dengan pengiriman surat keputusan perusahaan.


1.5.4. Pengiriman Softcopy; Disket atau CD
Anda dapat mengirimkan softcopy naskah dengan cara:
1. Lewat pos / paket ditujukan:
Penerbit ANDI
Jl. Beo 38-40 Yogyakarta 55281
Telp (0274) 561881; Fax (0274) 588282
2. Datang langsung ke kantor penerbit dan menemui editor.
3. Lewat email: andi_pub@indo.net.id
1.6. FORMAT NASKAH
1.6.1. Format Naskah Siap Cetak
Format pengaturan naskah dapat menggunakan Template yang disediakan oleh Penerbit Andi. Format ini merupakan Template standard yang dapat disesuaikan dengan naskah yang sedang ditulis.

Format naskah siap cetak, yang dapat Anda serahkan setelah naskah disetujui untuk diterbitkan adalah sebagai berikut:
• Jenis huruf untuk teks isi: Bookman Old Style, New Century School Book atau Times New Roman 10/11 point.
• Judul bab: font sama dengan teks, ukurannya diatur sedemikian rupa agar tampak menonjol dan serasi dengan ukuran 20 pt
• Judul sub-bab : font sama dengan teks, 18 point, capital, bold.
• Judul sub-sub-bab: font sama dengan teks, 10 point, capital underline
• Header dan Footer: menggunakan font yang berbeda, bisa divariasi bold atau italic asal serasi.
• Footnote : Font sama, 8 point; bisa font yang lain asal serasi.
• Alignment : Justified
• Spacing : Before – 0
After – 0,6
• Line Spacing: Single
• Gambar-gambar tangkapan layar sebaiknya menggunakan format .tif , .jpg Gambar sebaiknya dikirimkan dalam disket/file tersendiri dan dilakukan link terhadap naskah.

1.6.2. Penomeran Halaman:
• Halaman judul : i
• Halaman Copyright : ii
• Halaman Persembahan : iii
• Kata Pengantar : v
• Daftar Isi : vii
• Halaman Isi
• Pendahuluan (Bab I) : 1
• Bab II : 3, 5, 7, 9, dst (selalu halaman ganjil).




1.6.3. Gambar area penulisan

Header
1 cm

















1 cm Footer




http://koleksi-free-ebook.blogspot.com/2008/09/prosedur-penerbitan-buku.html

Media Kak Tarsis Dalam Karyo The Asu Sastrooo

Seorang koruptor zaman Orde Baru yang lolos dari pengawasan Indonesian Coruption Watch bersantap malam bersaama keluarga besarnya. Sambil me...