Selasa, 27 April 2010

Relasi Manusia Era Kini

Di zaman sekarang ini, katanya, kunci sukses utama adalah relasi atau kemampuan untuk menjalin networking. Sebetulnya itu barangkali memang telah berlangsung sepanjang zaman. Namun intensitas dan insentifnya sekarang barangkali telah jauh meningkat drastis. Pada zaman batu dulu, misalnya, aspek interaksi antar manusia tidak sekerap kini. Sehingga itu makanya faktor kesuksesan komunikasi sosial seorang manusia tidaklah begitu besar untuk mempengaruhi kehidupan individunya. Tidak sedikit barangkali pada zaman dahulu orang yang sepanjang hayatnya tidak pernah bertemu orang-orang selain keluarga atau manusia yang berada di garis keturunannya. Apalagi jika ada yang memiliki garis keturunan terputus, baik ke atas maupun ke bawah, dan hidup sendirian di hutan. Menjadi rajanya hutan. Sukses dalam kriterianya.

Di masa sekarang ini, aspek interaksi antar manusia sangatlah intensif untuk memberikan insentif kredit poin bagi penilaian kesuksesan kehidupan seorang manusia. Di era yang dunia melipat dan abad kini berlari inipun kunci kesuksesan mau tak mau sangat ditentukan oleh faktor keunggulan individu seseorang pada sisi interaksi antar manusianya yang mau tak mau lagi menguasai 90% sisa waktu tidak tidurnya. Bahkan di saat sedang tidur pun orang bisa saja sempat-sempatnya menjalin "interaksi sosial" lewat mimpi. Interaksi dan komunikasi antar manusia inipun tidak lagi hanya mempunyai sarana fisik berupa pertemuan dan pembicaraan langsung. Kemajuan pesat cucunya abad literasi yang kini telah memasuki fase multimedia ataupun dengan istilah secondary orality menghadirkan teknologi internet dan pergerakan kilat data komunikasi antar individu. Meminjam istilah sebuah perusahaan telekomunikasi: dunia kini di tangan Anda. Dengan telah adanya dunia di dalam genggamannya tersebut, manusia bisa menghemat waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah proses komunikasi antar mereka. Kemudian hal itu mengakibatkan intensitas pada proses-proses komunikasi dan interaksi yang berikutnya berlangsung, lalu kemudian kembali lewat berlalu dengan cepat, dan kejap.

Kehadiran teknologi internet yang membawa percepatan (istilah yang membuat saya pusing dulu belajar fisika karena diajarkan oleh guru killer) drastis proses komunikasi antar manusia membuat adanya kepadatan tingkat tinggi pada aspek interaksi antar individu. Ini menghadirkan kebudayaan instan, sekaligus mewabah masif seiring ledakan terus menerus populasi penduduk dunia yang semakin sempit harus berbagi lapak dengan sesamanya. Situasi masif yang tak sempat lagi mencatat setiap aspek unik dan khas kualitas hubungan antar dan per individu. Di tengah kepadatan dan kebergegasan ini kita lalu saling berdempet bernegoisasi.

Tidak betul juga barangkali jika kita menyalahkan social engineering masa kini sebagai sebuah pemelencengan terhadap proses alam karena sesungguhnya situasi ini adalah proses alami juga. Dalam bahasa lainnya orang menyebutnya sebagai sebuah keniscayaan. Justru seorang individu masa kini tidak akan lagi dapat bertemu hutan yang layak untuk dirinya berkuasa jika ingin melarikan diri dari sempitnya populasi rakyat dunia dan intensnya peradaban komunikasi kita. Pertanyaan yang perlu diajukan adalah bagaimana caranya kita tetap bisa menjalin sebuah relasi antar individu, yang berkualitas? Apakah keniscayaan proses interaksi dan komunikasi yang instan dan lekas itu hanya akan membuat kita menciptakan hubungan sosial antar manusia yang tak tercatat bahkan tak lagi punya tempat untuk diingat? Sebagaimana hubungan antar manusia slow motion dahulu kala juga tidaklah merupakan jaminan bahwa selalu menghasilkan relasi sosial yang baik, maka faktor-faktor apakah yang harus kita perhatikan untuk mengambil keputusan akan tsunami pilihan berbagai model relasi antar individu di era kini? Ya, tulisan ini sedang bertanya.