Istri Anak Buahnya Tampar Petugas Bandara, Kapolri Minta Maaf Langsung p...

permainan hdp ini memang azaib, ada org yg bersalah dan kita bisa (pura2) memaafkan namun ada org yg tdk salah apa2 (bahkan tdk tahu dimana masalahnya) kita bisa (diam2) membencinya (umumnya krn hasad/iri dengki), politiking itu perlu walau tangan akan penuh kotor dgn lumpur (the necessary devil) krn bgtlah gamenya hidup di tengah2 (beragam arah kepentingan) para manusiawi yg diciptakan tuhan dari air yg hina (sperma) ini, sbg hardware dari software motivasi hawa napsu kita...

Ketemu Webnya Idola Hehe

Irfan TP (@irfanteguh) • Instagram photos and videos

"Kecuali darah, kau bisa memilih atau menawar segalanya di dunia ini. Makanan ringan kesukaanmu, tim sepakbola yg ingin kau benci setengah mati, pekerjaanmu, pasanganmu, agamamu, kecenderungan seksualmu, segalanya. Kau bahkan bisa memilih tak beragama atau aseksual. Tapi darah, belenggunya abadi."

Akhirnya ketemu juga akun yang cukup jelas dari penulis favoritku yang satu ini. Walaupun juga tidak detail dgn riwayat hidup--apalagi skrg aku memilih mahzab anti-siapanya dan fokus pada apa (yang "diperbuat")-nya--tapi setidaknya sekarang aku tahu mukanya seperti apa. Lho cowok juga koq kayak penting gitu mengetahui tampang orangnya. Karena salah satu yang bikin aku penasaran pada anak ini adalah kukira ia salah satu juniorku di kampus jatinangor dulu yang namanya kurang lebih sama--tentu saja ekey sudah lupa persis namanya atau mungkin memang tdk pernah tahu selain panggilannya saja. Kupikir dulu keren juga (mix perasaan dgn gak nyangka) punya "partner" se-almamater dengan skill menulis seperti itu karena in fuck gw merasakan kuliah di jurusan sastra indonesia penuh sesak dengan manusia-manusia medioker kalo berlebihan dibilang bodoh-bodoh. Sudah intelektual ala kadarnya juga tdk punya kecintaan pd bidang studinya alias jurusan tak ada pilihan lain hehe. Bahkan mantan dosen-dosenku tak ada satupun, sekali lagi gw ulang: satu orang pun (tambah tanda seru ! nih), yang punya kemampuan menulis spt itu (dosen-dosen ini kulihat juga keturunan para medioker juga, tdk ada yg istimewa atau khas dari mereka, pantesnya akreditasinya E hehe). Senior-seniorku pun hanya kuingat dua orang yang menonjol: Acep Iwan Saidi di artikel/analisis dan Pandu Abdurrahman Hamzah di karya. Tapi pun ini rata-rata air alias belum punya keunikan tersendiri. Dan ternyata si penulis favoritku ini juga bukan org sastra, kemungkinan anak teknik dari Polban kalo gak salah lihat di salah satu keterangan fotonya. Hal ini membuatku bertanya-tanya kenapa justru orang2 yang nyastra gaya narasi tulisannya justru orang2 yg tdk fokus menekuni studi kesusastraan? Hihihi, ini mungkin pertanyaan semi-retorik karena sebagian jawabannya sudah bisa dilihat dari syarat passing grade masuk fakultas sastra yang selalu paling terendah (tambah sangat lagi).

Yang aku ingat sekarang ada dua orang penulis paling menonjol buatku dibanding ratusan sastrawan Indonesia lainnya--puluhan ribuan mungkin kalo ditambahkan dengan sastrawan2 alay-pop pendatang baru--yakni Mbah Budi Darma dan Iwan Simatupang. Kalau di esei sudah pasti Goenawan Mohammad paling bersinar terang tapi menurutku di karya (puisi) ia medioker juga. Nah, Irfan Teguh ini bagiku masuk nominasi favorit juga diantara sangat selektifnya idolaku ditengah-tengah jumlah sastrawan yang bejibun itu--walau tentu masih prematur utk aq telah selesai menilai kualitasnya sejajar dgn duo-evergreen tsb. Kalau ndak salah orang ini aku kenal tulisan-tulisannya di situs kompasiana dulunya. Sama seperti Iwan dan Darma, orang ini kalau menulis menurutku punya gaya pribadi yang bisa kuendeus, maksudnya kudeteksi, walau tanpa ia menuliskan namanya. Bagiku seorang penulis jika tdk punya gaya khas akan jadi sastrawan biasa-biasa aja (salah satunya Mbak aktipis yang komisioner sastra di DKJ yang kujadikan pilihan objek studi utk skripsi terdesakku/berkompromi dgn selera dosen tak kompeten). Apalagi di esei, GM sudah pasti banyak "epigonnya" atau setidaknya pengaruh spt pd diriku sendiri mungkin atau Chairil Anwar kalau di sajak. Okeh segitu dulu, semoga bapak ini entah apa kegiatannya sekarang tetap akan menelurkan karya avant garde nantinya. Kalau kulihat aktivitasnya yang tak jauh-jauh dari dunia buku dan pemikiran (walau orang teknik/eksakta), kumengharapkan ia tidak layu sebelum sempat lebih mengepakkan sayap nantinya. Ia punya ciri khas dan saya sanggup membuktikannya (walau kadang saya juga berpikir jangan2 krn style berkisahnya mirip Budi Simatupang makanya kujatuh cinta). Tapi tidaklah, Simatupang dan Budi pun ada beda gaya yang jelas kukira walau ketiga makhluk ini mungkin punya medan gaya menulis yang berdekatan. Yang jelas Mas atau Akang Irfan Teguh ini kukira juga bermain dengan wawasan/refensi yang mahaluas (lintas bidang ilmu) maka aku kepincut pada narasinya (nge-link dgn pengetahuan di kepala kita) dan tidak sekedar ngutak-ngatik kata-kata indah dgn cara2 yg klise. Tidak juga hanya mencampur adukkan bejibun refensi tanpa benang merah yang jelas dan penyampaian yang bernas-ciamik sebagaimana penyakitnya para penyair obscurd yang berusaha terlihat pintar di tuntutan persaingan zaman posmo. Berusaha menghindari classy/klise tapi jatuh ke klise kuadrat bin primitif-norak! Aku suka tulisan Irfan Teguh ini karena ia punya gaya unik dari tren sami mawon generik regular gaya penulisan sastra boring lainnya saat ini. Oks congrats bro, "diJILat" pantatnya sama aQ sang Kritikus Edanan niy xixixi

"For what it's worth: it's never too late or, in my case, too early to be whoever you want to be. There's no time limit, stop whenever you want. You can change or stay the same, there are no rules to this thing. We can make the best of the worst of it. I hope you make the best of it. And i hope you see thing that startle you. I hope you feel things you never felt before. I hope you meet people with a different point of view. I hope you live a life you're proud of. If you find that you're not, i hope you have the strength to start all over again."

Review Film The Band’s Visit, Mencari Titit Temu Lintas Agama

Pastinya bukan karena Kak Emmy, mungkin dikarenaken shock melihat cantiknya Ronit Elkabezt (waktu pertama kulihat sudah berumur hampir 50), setelah khatam mengikuti bertahun-bertahun sidang gugat cerei dari suaminya Simon Kalem di film Gett The Trial of Viviane Amsalem (2014), aku tak dibikin penasaran untuk menelusuri karya-karya selanjutnya dari sineas Israel ini. Mungkin lebay kalau aku mengklaim dibuat syok segala rupa hanya gara-gara melihat muka wanita yang sudah tidak muda lagi itu (jadi teringat metamorfosis tokoh Celine dalam trilogi before-nya Richard Linklater yang cute itu-haaahh). Namun mengingat sebagai muslim yang terdidik untuk benci dan selalu negatif melihat Yahudi ini aku mungkin akan dibuat kecele karena muka wahyudi itu ternyata tidaklah seseram monster-monster yang diimajinasikan ke kepala kita sebelum-sebelumnya. Ternyata wanita ahlul-kitab itu ada cantiknya juga (purak-puraknya kita belum pernah lihat sebelumnya, maklum kebutuhan retorika sang demagog). Pantas toh sebagian mahzab fiqih menafsirkan halal-thayib oleh Qur’an untuk mengimpoi-inya (mohon maaf kepada para ledies tidak berlaku sebaliknya yaaa). Yah, setidaknya mahdab aqidahnya geng Ulil Abdala dkk itu lah yaw hihi.

Kalo tidak salah ingat pasti yang salahnya lupa, aku pertama kali jadi terperosok menonton film wahyudi ini gara-gara menelusuri list rating 100% di kritik film situs “tomak busuk” alias rotentomatoes.com yang konon terindeks bereputasi internasional dengan faktor dampak tergantung setoran itu (pakai bohong nih ceritanya) . Maklum kuota internet sedang sangat buaanyak—yang dahulu kalanya sangat sulit didapat gini—jadi sayang kalau tidak dipakai nyedottt anu... Jujur saja kalau tidak kupakai nonton film berseni (ataupun pop) kadang aku daripada mubazir (hampir expire) kupakai-in juga buat download film bersemi alias bokep. Lho, bukannya sudah diblokir pemerintah sejak era Ustadz Tivvy? Blokir jenggotmu! Padahal kadang bahkan seringnya yang di-download juga tak sempat ditonton. Hanya menuh-menuhin hardisk buat dipakai bohong eh dimanfaatkan apabila aku butuh (berusaha menggunakan retorika bernada positif #siasat.com). Harap maklum, aku ini pandai dalam menciptakan dalil eh dalih bahwa apa-apa yang tersumbat harus dialirkan supaya tidak  menjadi penyakit (filosofi tukang urut).
dadah2 sayonaranya om2 pulisi muslim al-masri kpd tante yahudi israil dlm chorusnya the band visit

Back to the movie, akhirnya sampai jugalah aku ke film kedua Mbak Ronit kafir yang matilah ia tahun kemaren kena kanker dan jasadnya tidak lagi utuh dan menyemburkan wewangian itu (nyindir ahlu cucokologi). Mungkin karena yang kali ini ada aroma sangat arabnya maka aku tertarik ngulik. Tentu saja film Gett juga sangat menarik, sehingga jadi top review dimana-mana. Bayangkan ia bisa membuat sebuah kisah ciamik ber-suspense hanya dengan syuting di sebuah ruang sidang pengadilan agama sepanjang film layaknya 12 Angry Men nan legendaris itu. Namun untuk kali ini aku mau mereview yang The Band’s Visit ini dulu sajalah, mumpung masih fresh dalam ingatan of memory. Aku ndak tahu apa fungsi huruf s pada kata band dalam judulnya itu; apakah tanda kepemilikan atau bentuk plural. Bukankah band itu sendiri sudah pasti benda jamak? Baru kena di judul saja aku sudah dibuatnya ow-ow karena feeling so bad in grammar walau aku tahu bahwa struktur bahasa itu penuh-banyak dengan pengecualian-pengecualian pokoknya pengecualian karena sifatnya yang konvensional dan arbiter-manasuka belaka. Jadi kumohon berhentilah orang-orang ilmu bahasa merasa bidang kajiannya ilmu pasti. Ndak usah merasa minderlah dengan orang-orang eksak sehingga kajian bahasa pun diusaha-usahakan seperti rumus-rumus matematika. Ini mah akal-akalan formalitas-prosedural namanya. Sibuk di bungkus dan kemasan akhirnya kita keropos di substansi dan esensi. Tapi begitulah yang terjadi ketika dunia ilmiah pun di kampus-kampus lebih didominasi oleh para politikus hehe.

Dan tentang politik kita bisa belajar banyak dari film The Band’s Visit ini. Sama sekali ndak bikin mumet koq seperti kalau harus nonton film dokumenter tentang perang enam hari Arab vs Israel di tahun 1967. Apalagi menusuk hati dan merontokkan keimanan seperti pembantaian-pembantaian kamp pengungsi atau bom jihad yang tidak pandang bulu siapa saja yang mungkin akan jadi korban. Sebagaimana judulnya, film ini agak musikal malahan. Tapi ya memang tidak terlalu. Walau sangat sedikit musiknya, film ini cukup mengingatkanku kepada Pitch Perfect, La la la Land, Whiplash dan terakhir Sing Street (satu lagi ada film kartun berjudul Sing belum sempat kutonton). Tampilan band-nya pun hanya pada scene akhirnya saja bisa kita saksikan. Sepanjang film ini penuh dengan ngobrol-ngobrol chit-chat alias basa basi dan formalitas-komunikasi antara dua kultur yang saling berbeda bahkan saling berperang hingga kini: Arab-Islam dan Israel-Yahudi. Kenapa ia bisa jadi menarik?

Ya sudah, silahkan tonton sendiri. Ternyata sudah panjang juga punyaku hehehe. Note: aku bisa dapat dari google drive dalam format mp4, so sangat kuencenggg sedotannyaaa, n pake forji yaa sob biar speedy  beneran dan jangan pakai dibohongi yaaaa!

Media Kak Tarsis Dalam Karyo The Asu Sastrooo

Seorang koruptor zaman Orde Baru yang lolos dari pengawasan Indonesian Coruption Watch bersantap malam bersaama keluarga besarnya. Sambil me...