Kamis, 05 Juni 2014

Nyinyir Pada 'Liberal', Toleran Sama 'Khawarij'



Sering dibicarakan pada masa sekarang (abad 21 ini) persoalan terbesar umat Islam adalah ketiadaan persatuan. Sejak runtuhnya Khilafah Kerajaan Turki Ustmani pada tahun 1924 Masehi praktis negeri-negeri umat Islam terpecah-pecah ke dalam berbagai 'nation state'. Memang tak lama setelah Jenderal Kemal Attaturk menyekulerkan Turki, dinasti Saud mulai kokoh berdiri di wilayah Hijaz (Makkah-Madinah) dan sekitarnya sebagai tempat lahirnya 'dien' ini. Namun kerajaan Arab Saudi secara teoritis dianggap bukanlah lagi kekhilafahan meski realitasnya empirium Turki juga tidak 'de facto' bahkan 'de jure' menguasai semua negeri-negeri berpenduduk muslim. Muslim Indonesia tentu tahu pada tahun-tahun tersebut adalah zaman lahirnya novel "Siti Nurbaya" dan masa-masa konsolidasi menuju era "Sumpah Pemoeda" sebagai negara bangsa yang dijajah Belanda si kafir eropa. Bahkan di semenanjung arab pun pada masa itu perwakilan Turki hanya menguasai Hijaz dan tidak mampu mengontrol seluruh wilayah arab. Organisasi jemaat Islam di Indonesia seperti NU pada masa itu secara batiniyyah memang merasa terikat pada kesultanan Turki dan ormas Islam terbesar kedua Muhammadiyah lahir juga sejalan dengan perkembangan politik otokritik sekte keagamaan semenanjung arab dengan manhaj salafiy wahabinya yang 'memerangi' manhaj sufiisme kekhalifahan Turki itu. Ada cerita juga bahwa perwakilan NU meminta toleransi kepada Raja Arab Saudi untuk jamaah haji non-wahabi mereka. Belakangan ada juga cerita tentang Gus Dur dkk yang bertabayyun dengan mufti Saudi modern Syaikh Abd Azis bin Abdullah bin Baz tentang kebid'ahan kaum 'aswaja'. Wah, mulai bicara sekte dan aliran nih hehe.

Seiring dengan 'merasuknya' paham persatuan Islam aliran hizbiyyun Ikhwanul Muslimin yang bermetamorfosa menjadi gerakan tarbiyah (pendidikan/dakwah) di Indonesia maka generasi islamis Indonesia modern pun mulai memperjuangkan nostalgia akan kekhilafahan Islam ini. Terlebih ada salah satu hadits nabi termahsyur yang isinya menyatakan seorang muslim yang mati dalam keadaan tanpa baiat pd khalifah/amirul mukminin maka matinya dalam keadaan jahiliyah (kafir). Tentu yang berjuang dan bernostalgia dengan khilafah islamiyyah ini tak hanya yang 'bermanhaj' ikhwan. Bahkan secara terminologik yang jelas-jelas mensyiarkan justru adalah ormas HT(I) sebagai 'pecahannya' harokah ikhwanul muslimin. Sementara para pendakwah salafiyyin--yg bermacam-macam sekte pula dengan pengecualian pada salafiy jihadi/takfiri dgn model khilafah lain lagi--justru cenderung mencemooh atau bahkan menentang kampanye ini sebagai mana kalangan NU aswaja yang mereka perangi pula dalam tema lain semisal ziarah kubur. Kalangan ikhwan pejuang khilafah ini menariknya rata-rata generasi berpendidikan modern, mungkin agak hedonis-pragmatis, yang belakangan berminat pada Islam. Kontras dengan kalangan islamis pesantren/tradisional yang memang menghabiskan umurnya mempelajari kitab-kitab klasik.


Belakangan ini sering kita mendengar gerakan #ITJ yaitu Indonesia Tanpa JIL oleh para pejuang 'khilafah' ini. Umumnya mereka para muqolid PKS yang massanya jauh lebih besar ketimbang hizbiy tahrir dan lain-lain. Bagi para ikhwany, perjuangan khilafah mereka siasatnya adalah dengan menguasai negeri sekuler/thogut secara demokratis; efek sampingnya politik uang tuh hihi. Walhasil metode ikhwan ala Imam Hasan al-Banna yang syahid di mobilnya itu cukup berhasil meraih pendukung di tiga negara muslim besar: Mesir, Turki, dan Indonesiy. Sepertinya bagi kalangan ikhwan yang berpendidikan modern ini ancaman terbesar bagi ikhtiar mereka adalah sekte liberal. Terduga liberal ini gawatnya punya tertuduh elit/dedengkot yang rata-rata punya ilmu islam berkali-kali lipat di atas massa ikhwan yang umumnya cuma berbekal pesantren kilat. Di sisi lain, medan tempur yang dibuka kalangan ikhwan terhadap manhaj liberal ini selain diramaikan oleh perbedaan dengan kader-kader hizbut tahrir yang banyak pula massanya juga diperkusut oleh model perjuangan islam ala salafiy jihadi/takfiri. Di Indonesia kalangan ini mulai paling ringan bisa kita lihat pada FPI yang "dipelihara" Kepolisian Negara Thogut RI, hingga MMI, JAT, Tentara Mujahidin Indonesia Timur-Barat dan yang paling keras tentu para teroris yang sudah syahid dan terbukti amaliahnya. Di kalangan bermanhaj ikhwaniy ala Indonesia sendiri sebetulnya juga muncul para pembangkang PKS yang disebut dengan "barisan sakit hati"  atau Forum Kader Peduli yang lebih keras lagi "keislaman/keikhwanannya". Selain pada liberal, kalangan ini sekarang juga lagi trend permusuhannya kepada syiah dan tentu saja "sufi".


Jika kita merujuk kepada ajaran Rasulullah yang belum dimodifikasi sana-sini sesuai kepentingan kelompok masing-masing--sepanjang zaman sesudah wafatnya beliau--yang biasa dikenal dengan nash Qur'an-Sunnah, maka tidak terdapat dalil leterlek permusuhan islam pada liberal ataupun syiah moderat, syiah liberal, dan syiah radikal hingga tassawuf pun karena aliran yang ini labelnya muncul belakangan. Sementara manhaj khawarij jelas sudah ada sejak nabi masih hidup dan sangat leterlek disesatkan; disebut dengan istilah anjing-anjing neraka; lebih mengerikan bahkan ketimbang kafir dan munafiq. Kenapa para pejuang khilafah yang mengaku "nyunnah" ini sepertinya kurang atau bahkan hampir tidak bersuara tentang khawarij ketimbang liberal dan lain-lain itu? Padahal dikatakan dalam hadits bahwa jikapun orang yang beriman tinggal tiga orang di muka bumi ini pastilah satunya ada yang berpemahaman seperti ini. Dalam tafsir paling luas bisa dikatakan sepanjang zaman dari masa nabi, sepertiga dari yang mengaku muslim sebenarnya terjerumus dalam manhaj khawarij. Tentu ini statistik yang terlalu saklek dalam penafsiran yang sangat lebar. Tapi ini menunjukkan juga fakta bahwa eksistensi paham ini tidak bisa dianggap remeh kalaupun kalangan pejuang khilafah tidak mau menganggapnya sebagai yang paling bahaya. Kepada kaum munafiq yang terang-terangan saja bahkan nabi dan sahabatnya bersabar; bahkan kepada Abu Sufyan sang donatur quraisy terbesar yang pas 'injury time' baru katanya dapat hidayah dan berislam; tidak sekeras sikap beliau dan sahabatnya pada khawarij yang diperintahkan untuk dibunuh setiap ditemui. Kenapa para pejuang khilafah/islamis harus mencari-cari musuh baru yang tidak didefenisikan nabi seperti para pelajar islamis tradisonal yang dituduh liberal dan pluralis itu? Apa karena iri melihat ilmunya lebih dari antum?
Saya sendiri bisa mengerti kerumitan ulama dan ketidakmampuan untuk membicarakan tema paham ekstrim ini sebagaimana kita lihat repotnya dunia islam saat manhaj ikhwany di Mesir dicap khawarij oleh Saudi. Apalagi ketika melihat tentara-tentara Daulah Islam Khurasan N' Levant memenggal kepalanya mujahidin dari kelompok Ahrar As-Syam, membom masyaikhnya, bahkan berperang dengan mujahidin Jabah Nusrah yang sebetulnya sama-sama di bawah komando Al-Qaeda dengannya. Lebih seru lagi suporter masing-masing di Indonesia para kaum duduk-duduk saling serang kecaman lewat media sosial. Jika mengurai terminologi khawarij yang sangat terang sejak zaman nabi dan sahabatnya ini masih hidup saja belepotan kenapa berani-berani menyesat-nyesatkan hal-hal (sekte-sekte) baru yang lebih sulit dianalogikan dalil-dalilnya. Pengalihan saja karena mumet sebab syarat untuk jadi khawarij itu haruslah orang yang kelihatannya shalih yang secara logika mereka harusnya dimuliakan atau jangan-jangan memang paham khawarij takfiri secara sadar atau tidak sudah menyusupi para aktivis #ITJ ini? Akhirnya alih-alih memperjuangkan persatuan Islam, virus paham ekstrem hanya akan menimbulkan perpecahan demi perpecahan. Wallahualam....

Jumat, 14 Februari 2014

Fenomena Islamis Cinta Harta (Al-Wahn Syar'i)

Menarik menyimak pernyataan akun twitter Kurawa (terduga jasmev) tentang kebingungan umat mengutip pendapat dua tokoh umat muslim indonesia yang saling bertolak belakang sangat frontal tentang isu/fakta sholat dzuhur berhadiah mobil oleh Walikota Bengkulu. Imam Masjid Istiqlal yang juga murid almarhum Syaikh Bin Baz menyatakan tegas bahwa hal itu adalah pengalihan niat lilahitaala dalam ibadah dan syirik (dosa besar tertinggi) sementara Sekretaris MUI malah mengapresiasi kuis/undian kesolehan ini. Sebagaimana dalih/dalil bapak Walikota Bengkulu--yang katanya adik menteri kehutanan dan menganut manhaj jamaah tabligh ini--bahwa amaliah tersebut sekedar untuk motivasi merujuk pada iming-iming nabi dalam membuat syariat, barangkali pertimbangan ini jugalah yang diamini pendukung ide beliau seperti Sekretaris MUI.

Kalau saya tidak salah orang ini adalah Fahmi Salim yang sewaktu saling follow dengan Burhan Muhtadi pernah saya celetuki/stalkingi kenapa beliau follow orang liberal. Waktu itu tentu saja saya bercanda doang karena scholar ilmu politik di Australia lulusan madrasah unggulan di Solo ini tentulah tdk digunjingi termasuk dalam lingkaran tertuduh islam liberal sama sekali meskipun ada isu ia kadang merokok seperti kyai-kiyai tradisional. Apalagi beliau terkenal karena bukunya yang membongkar dapur PKS/manhaj ikhwani dan punya banyak akses ke kalangan islam yang dicap fundamentalis/radikal. Di luar dugaan Fahmi Salim sepertinya setuju dengan cap liberal (yang tadinya sekedar guyonku) tentang Burhan Muhtadi. Walhasil lebih tak diduga lagi Burhan Muhtadi memblokir akun twitterku hehe. Kejadian ini tambah memperdalam pemahamanku tentang kotak di dalam kotak dalam banyaknya kotak-kotak islam/islamis sebagaimana tradisi tahdzir-tahdziran dalam kotak manhaj salafiy yang sangat cair itu. Sesuatu yang tak akan disangka-sangka oleh para kanak-kanak yang tahunya sangat sederhana tentang satu islam.

Lebih menarik lagi belakang aku baru tahu bahwasanya sebuah masjid di Yogya yang jadi markas sebagian elemen islam fundamentalis--tidak mesti bermakna negatif ya--ternyata sejak lama juga sudah menerapkan hadiah umroh bagi yang rajin ibadah. Mesjidnya cukup megah seperti kulihat di background akun Ustadz Salimafillah dan ketika kustalking dengan candaan langsung aku diblokir lagi karena mungkin beliau tersinggung tentang tendensi masjid akhir zaman. Ini belum sempat bahas soal sholat berhadiah mobil/umroh itu lho langsung silaturahmi di-cut beliau. Lebih bisa dimaklumi karena di kalangan salafiyyin sudah keluar fatwa syaikh mereka dari Timur Tengah tentang kebolehan memblokir akun 'musuh' di media sosial. Tambah menarik karena masjidnya Ustadz Salim tersebut adalah tempat berkumpul dengan teman se-gengnya Ustadz Kupinang yang kukagumi karena mempelopori perspektif segar untuk membendung karakter cinta harta dan kemewahan dalam islam.

Imam Istiqlal juga menggunakan perspektif ini ketika mengkritik keras Ustadz Solmed saat menggelegar 'isu' tarif dakwah, pembicaraan yang kulihat cenderung dihindari atau dicari-carikan jalan tengahnya oleh alim-alim lain karena mungkin juga mereka cari makan dengan cara seperti itu. Bahkan Syaikh Ali Mustafa Yaqub kudengar sering mengulang retorika beliau yang mengkritik sangat keras kesesatan dakwah sedekah dengan iming-iming kembali 10 kali lipat yang identik pada Ustadz Yusuf Mansyur tersebut. Bahkan ndak tanggung-tanggung beliau berterus terang menyampaikan salah satu ayat dalam surah yasin bahwasanya orang-orang yang menyampaikan kebenaran untuk mendapatkan imbalan adalah orang-orang yang sesat menyesatkan. Sesuatu yang sangat beresiko dalam politik pergaulan alim ulama krn Ustadz Yusman adalah alim paling banyak penggemarnya saat ini karena sukses membuat iman itu jadi ada keuntungan kongkret di dunia. Sewaktu debat dengan salah satu penggemar ustadz ini kulihat background twitternya kalau ndak salah gambar wallpaper motor sport mahal begitu juga ketika ngintip salah satu akun pembenci fatwa Syaikh Ali Mustafa begitu juga, sebuah petanda yang menarik.

Kukira imam istiqlal ini pantas kusebut masyaikh dan ulama paling tsiqah di Indonesia saat ini. Setelah K.H Sahal Mahfudz muridnya ahli hadits nyeleneh Syaikh Yasin al-Fadani meninggal layaklah beliau untuk gantikan di MUI. Selain kedalaman ilmunya untuk berjidal syar'i dengan kalangan islamis radikal ghuluw, ia juga bisa berwawasan moderat/luas karena kalau ndak salah juga mengalami kehidupan barat eropa dan jadi salah satu penasihat yayasan penghafal quran di New York, USA. Lebih komplit kan ketimbang ustadz-ustadz hafizulloh dari geng ahlu tahdzir salafiy yamani/ghuroba yang saat ini kiblatnya di Dammaj sepeninggal Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Madkhali diusir ulil amri sunni yaman yang mereka taati karena perang bertahun-tahun dengan syiah houthi. Aku membaca akun twitter Imam Istiqlal, walau tidak begitu aktif juga, terlihat cukup bagus pemahamannya dalam menghadapi persoalan-persoalan baru (bid'ah hehe) umat.

Kembali ke soal ibadah berhadiah ketika kucoba melihat pendapat Ustadz Didin Hafihudin dari Bogor yang sekarang jadi Ketua Baznas--mudah-mudahan organisasinya tidak sekhianat kementrian agama--terlihat beliau juga menolaknya dengan alasan apapun. Namun asatidz--yang oleh geng salafiy (utamanya yang jihadi/takfiriyyun) dianggap gembongnya manhaj harakiyyun ikhwani/tarbiyah di Indonesia (beliau presiden pertama partai keadilan) bersama-sama Profesor Daud Rosyid Sitorus dari IAIN Ujung Berung Bandung--ini tidak memberi penjelasan banyak. Bersama Ustadz Daud dan lain-lain kabarnya beliau yang berani mempelopori untuk menegur fraksi kesejahteraan di bawah Ustadz Hilmi Aminuddin di PKS yang berbuah pemecatan massal kader-kader fraksi keadilan yang selalu dibantah/ditutup-tutupi eksistensinya. Jadi bisa kita pahami posisioning beliau tentang ibadah beriming-iming duniawi ini. Dan bisa kita tebak pula sikap sebaliknya dari Ustadz Anis Matta dan kawan-kawan seidenya.

Heboh pendekatan PKS ke Golkar saat ini yang mengemukakan riwayat pekerjaan Ustadz Anis sebagai pengajar ngaji keluarga kaya raya Abu Rizal Bakrie makin memperkuat kemungkinan pendapatnya. Yang lebih mengkhawatirkan adalah perspektif iman dan kesejahteraan ini juga mengoyak level menengah seperti yang terjadi antara akun twitter geng tarbiyah Ridwlanjogja yang baru saja lagi putus sama ikhwahnya Pkspiyungan karena perbedaan pendapat tentang Jokowi. Kalau akun TarbiyahBukanPKS atau Mister Dos dari PKS watch memang sudah sejak lama meramaikan dialektika mereka dan tentu saja isu utamanya adalah soal kesejahteraan yang mulai menggelincirkan para mujahidin hizbu ikhwani ini.  Kalau level bawah atau grass root sepertinya akan adem ayem aja dengan ketidaktahuan dan tsiqahnya pada qiyadah mereka. Contohnya sodara dan tetanggaku yang merasa berdosa memikirkan isu ini, ahayy.

Kalau menilik pendapat kalangan moderat-sekuler yang mayoritas tentu bisa ditebak tidak ingin membesar-besarkannya. Era ghirah islamis di generasi kampus zaman syaikh google kurasakan saat ini membuat isu zuhud terhadap harta itu jadi momok tersendiri di tengah iming-iming tentang kemajuan peradaban dunia oleh dinamika kegiatan ekonomi dan peningkatan intelektualitas. Yang lebih menarik kalangan cenderung liberal terlihat agak mengolok-olok peristiwa ibadah berhadiah ini karena stereotipnya pada kalangan fundamentalis padahal secara keseluruhan tentang isu iman dan kemewahan ini tentu saja teman-teman yang akrab dengan donasi dari dunia kapitalisme ini lebih permisif. Semoga peristiwa ini buatku bisa menghadirkan ledakan fusi ideologi terbaru dalam dinamika pemahaman keislaman untuk memperjelas kategorisasi islamis dalam hal sikap mereka terhadap harta/dunia/kemewahan yang padahal isu tentang cinta dunia atau al-wahn ini sedianya punya porsi cukup besar dalam risalah Abul Qosim aka Rasulullah kita tercinta yang mati dalam keadaan tergadai baju besinya ke orang Yahudi nenek moyangnya kaum zionis itu!

Bukankah Nabi sudah sangat terang nyatakan dunia adalah surga bagi orang-orang kafir dan neraka bagi orang-orang beriman, kenapa mesti ditakwil lagi untuk dicocok-cocokkan dengan kepentinganmu wahai ahlu hawa yang menggunakan retorika sesat mati enak dan tersenyum sebagai tanda khusnul khatimah... ini bukan berarti aku mendukung kebrutalan kawan-kawan yang berideologi anjing-anjing neraka lho! Mudah-mudahan ada yang bisa membantah karena aku sendiri masih dalam perjalanan memahami Al-Haq, so janganlah dipredatori yuaaa qiqiqiqiqi. Kalau bertanya salahkah (berupaya) kaya lalu apa solusinya atau apakah muslim harus hidup sengsara dan yang kufur bisa menikmati hedonisme, aku sebelum ini sudah sering menuliskannya dan akan terus menuliskannya seiring perbaikan dan koreksi atas pengetahuan dan pemahamanku. Jadi jangan kaget kalau kelak ana berubah fikiran lagi jadi seorang hedonis yang syar'i tergantung qadarullah haha. Yang jelas untuk saat ini gw sedang begitu muak pada politik riya--namun bisa memahfumi dalam aspek taktis siyasah hubungan sosial--melihat Ustadz Hariri yang minta maaf karena kasusnya mencuat seperti juga kasus titip do'a komersil. Atau bagaimana situs islamis radikal yang sekte jihadi bahkan terafiliasi ke geng takfiri pengklaim prioritas tauhid barusan kulihat kompromistis juga dengan ibadah berhadiah yang padahal berbau musyrik ini. Mungkin ada benarnya kata Nabi Voltaire: "Dalam hal uang agama semua orang adalah sama". Ilmu adalah harta umat islam yang tercuri.