Minggu, 01 Januari 2017

Orion Belt, Mars, and Venus on This Early 2017

Hoamm, dear bloggy... pegel juga nih badan pengen "dipijet" di mabes lokasari sono rasa2nya atau versi bokeknya perek2 di atas jembatan deket stasiun tanah abang (arah ke petamburan -red- ternyata dunia item dan katanya putih itu tetanggaan dan akur2 aja asal bagi2 "jatahnya" aman, jd inget foto bersama ust brizieq en shahabat yg ketemuan dgn tw dkk dr geng mafia 9 naga). Abis gmn lg yaww, sesudah tidur aja dr habis sholat isya tahun 2016 kemaren tahu2 eh udah bangun di tahun depannya saja, 2017 yg trengginas niy. Gara2 telinga maksiat ini diketuk2 sama bunyi mercon dan letusan kembang api dr anak2 nongkrong dpn rumah. Terbangun gw ke masa depan, tapi masih dgn tabiat dan kelakuan yg podo wae (konsisten). Meski aq ngerasa sudah lebih kompromistis dgn dunia politiking mikro, dan akal2an dan boong2an demi mewujudkan perdamaian dunia dan rekayasa keadilan sosial yg perseptif dus tentu sj ada otoritas yg pegang tali kekang dan cambuknya itu. Manusia2 ahlu syahwatikus ini toh ya, klo ndak diakalin bs ngelunjak dia, apalg tujuan hidup ini klo bukan "ituan". Salam realitas, so fuckin' what it takes? who give a damn? (nyomot judul lagu metallioshmith dan gaya tutur orang lain saja).

Tapi ya adalah yg berubah, masak iya tidaxx. Contohnya tengok capture gambar di atas ini men: pedihnya azab neraka! Kira2 kemaren gw mulai hobi browsing lagi koleksi wallpaper tentang neraka hell inferno. Itulah, mirip komik2 yg suka kita baca di masa kecil yg bikin kita takut melawan pd orang tua, takut berbuat dusta, takut pacaran, takut meninggalkan ibadah, takut meninggal dunia... Memang harus diakui bermanfaat juga metode nakut2i manusia ini (teror) spy terpaksa baik; terutama sangat efektif utk anak kecil. Kalo org dewasa emang agak sulit, ada aja akal bulusnya menyediakan argumentasi pembenaran bg 'kejahatan' yg ia lakukan dgn alasan ini itu yg bs ditebak ujung2nya dalih kepentingan syahwathuakbar tentunya. Tapi yahh manusiawi lahh. Semanusiawi jg aq sebagai lelaki tulen ini kadang (mungkin sering juga) suka browsing2 gambar cewe bogel, apalgi klo suka dikompori oleh link2 menggoda dgn deskripsi alternate text begitu indah memikat padahal setelah di-klik yaelahhh gitu doank xixi. Nah demi mengimbangi laku maksiat inilah perlu juga kupasang gambar2 azab neraka ini supaya otak gw bingung mau nonton yg mana. Daripada merekayasa org lain lebih baik gw memanipulasi diriku sendiri. Gambaran 'sorga' dan gambar neraka memang kudu hadir simultan agar balancing kita tetep dalam titit keseimbangan, kewarasan, sing eling lan waspodo, tidak merasa pasti2 aja di sebuah sudut yg tdk bisa melihat ke segala arah. Wuihhh sok berfilsafat si ujang yeuhh.
photo teranyar si planet kerdil pluto oleh new horizon dr jarak deket


Sebetulnya bukan sebenarnya. Maksudku, harusnya postingan kali kuintensikan untuk melukis eh menulis catetan (pengingat) tentang posisi bintang2 di atas kediamanku di planet bumi. Lebih baik mereportase tentang peristiwa langit drpd mewarta kejadian di bumi yg akan menyinggung org2 yg merasa dirinya terlalu mulia utk dibuka kedoknya itu hehe. Jadi kembali ke fuck us yeahh fokus maksudku: pada akhir 2016 sistem kalender masehi atau awal 2017 ini (bayangkan 2000 tahun yg lalu otak manusia sudah berpikir dan sanggup membuat kalkulasi ttg sistem konsisten evolusi matahari, bulan, dan bumi ehhh jaman skrg masih ada yg percaya bumi itu datar dgn alasan 'keimanan' masyaallah...) ya dipergantian tahun sistem KRISTEN (yeahh gw eksplisitkan lahh biar katak2 dlm tempurung menggelinjang kepanasan wkwkwk) 2016/2017 ini aq melihat orion belt beserta sirius di kanan dan aldebaran di kirinya pada sekitar pukul waktu isya lahh kira2 yaa berada di posisi arah jam sekitar setengah 10 pagi. Sementara di arah berlawanannya ada mars di posisi sekitar pukul 2 siang dan venus sang bintang kejora sangat terang di bawahnya pd arah jam 3 sore. Aq kadang suka berfantasi ttg garis khayal antara dua planet ini (yaa pd arah sekitar setengah 3 sore itu) yg harus ditempuh bumi dlm lintasannya mengelilingi matahari (khusus buat yg tsiqah pd ilmu sains hasil penelitian ilmuwan barat kafir nehh). Drpd berbuat "bid'ah" dgn menebak2 arah negeri arasy, siroTOL mustakim eh sidaratul muntaha, tempat beristiwa(nya atau -Nya?) Allah SWT di singgasana-Nya yg maha tinggi. Dimanakah letak ketinggian dlm sebuah sistem bulat atau lingkaran yg konon katanya justru lebih mudah menghitung rumus luasnya itu? Sebenarnya bukan sebetulnya mengenai mode2 gerak dan lintasan planet ini, antara gerak objektif dan gerak semu (istilah pelajaran fisika smp-sma nehh) dan kebenaran subyektif yg diinformasikan mata kita kpd otak, gw jd punya ide menarik yg mau dirumuskan konsep filosofisnya. Kadang gw suka berkhayal juga ttg bgmn memahami lintasan matahari mengelilingi pusat milky way (there is a big massif black hole) yg arahnya rasa2nya selalu berlawanan dgn rasi bintang sabuk orion alnilam betelgeuse dkk ini. Hasil observasi empirik sementara ini gw mencatat fenomena bahwa pas juni juli saat bima sakti atau jalur susu ini nongol di malam hari, awan cenderung menutupinya sedangkan pas orion belt spt bulan2 ini koq langit suka jernih di arah mereka walau kabut menumpuk misal di arah lain (misal jika mereka di zenith maka awan lari ke ufuk/horizon). Tapi sementara ini untukmu wahai dear bloggy aku cetet ini dululah utk perbandingan posisi mereka tahun depan di waktu yg sama walau secara teori aq udah dikasih tahu temen yg emang kompentensinya di bidang itu bahwa perubahan posisi mereka untuk terlihat mencolok butuh ratusan tahun pengamatan (karena alam semesta ukurannya sangat besar, dan kini konon ekspansinya melambat, pengaruh dark energy n gravity? nuju singularitas baru?). Untuk berfilosofi2an pun rasanya ndak mudah juga, membayangkan garis edar benda2 angkasa ini seolah kita bs "objektif" melihat dr atas langit sana. Otak gw sudah tak seencer dulu lagi (dulu sih ane bahkan bisa ngitung sendiri passing grade yg bs nem bayangan gw prediksi nembus jurusan2 di univ, walau entah apa iya akurat yg penting gayaa punya teori sendiri halahh dan buktinya gw lulus pilihan pertama yg bikin gw sekelas dgn dear benclung dan blecos, sementara temen2 yg lain mengandalkan metode hitung dr tempat bimbelnya, gw ingat betul soal ini sih fren). Kadang rasanya kita yg hidup di masa depan ini koq malh ber-iq primitif berkelas jembut genom tempe, sementara messieur object di langit sana itu konon sudah dideteksi dan dicatat oleh seorang ilmuwan prancis sejak abad ke-17. Yawudehh gimana gampangnya aja: cari informasi di google tapirr hehehe klo pun mbah google boongin kita toh keboongan bagai debu yg terbang dimana2. Undzur maaqola wala tandzur manqola! Udahlah, kita gigit erat aja dgn geraham dan gigi gusi ini hikmah dr shahabat ali radiyallahuanhu itu, biarin dicapin syi'ah dan supii juga wkwkwk. Oke gitu aja dulu, waktunya tutup mulut. Walau ini blog pribadi, walau ini kerajaan gw sendiri (mungkin juga bs disebut 'tuhan' di lokasi maya yg udah kukavling ini). Tapi sbg manusia kita tidak hidup sendiri, harus manenggang perasaan orang lain juga. Yahh memang, politiking itu perlu. Berantem dunia ini klo semua org main2 jujur aja. Akur yaa dear bloggy... dan jangan lupa pilih nomor urut satu krn secara cocokologi atau ilmu uthak athik gathuk kontemporer itu nomer wahid adalah simbol ilahi, salam tawheed, takbirr yaa akhiii!
paduan bibir2 dan 'bentuk telunjuk' ini memberi kesan cabul rasa2nya lho yaa...

Senin, 12 Desember 2016

Mencopas Lagi Tulisan Orang Yang Mengcopas Tulisan Kita (Siklus 'Kejahatan')

Beginilah jadinya jika tulisan kita sendiri dicopas adik manis ini untuk tugas kuliahnya hehe #bikin_ngakak #dialektika_kreativitas


EFEK KATARSIS DALAM PEMBACAANATAS CITRAAN TERHADAP BUDAYA KORUPSI DI INDONESIA PADA CERPEN “TELEPON DARI ACEH”
KARYA SENO GUMIRA AJI DARMA


oleh : Dian Purnamasari Abidin

sumber seken: http://shildavtec.blogspot.com/2012/05/kritik-sastra.html

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pada perkembangannya, penelitian sastra pun mulai bergerak ke arah penelitian yang berorientasi pada pembaca. Hal ini mulai mendapat bentuk secara sistematik dan metodologik lewat tangan Jauss dan Iser, keduanya dari Jerman, pada sekira tahun ’60-an (Junus, 1985). Berbeda dengan pendekatan struktural terhadap karya sastra, dengan bentuk yang paling radikalnya seperti yang dilakukan aliran New Criticism di Amerika atau juga Formalisme di Rusia, pendekatan pada pembaca ini mulai menyangsikan otonomi pemaknaan yang mutlak hanya didapat dari teks karya. Menurut pendekatan ini, karya sastra sejak terbitnya selalu mendapat beragam tanggapan dari pembacanya dan tanggapan dari pembaca tersebut adalah tidak sama (pembacaan, pemahaman, dan penilaiannya) sepanjang masa atau dalam seluruh golongan masyarakat (Abdullah, 2003). Fakta inilah yang diketahui oleh semua orangy. Sebab itu, pendekatan ini penelitiannya adalah berupa pemeriksaan proses pembacaan teks oleh pembaca dengan segala variable pembeda tersebut, berbeda dengan analisis struktural murni yang secara terbatas hanya berangkat dari otoritas penilaian terhadap apa yang terdapat pada teks. Pendekatan inilah yang dikenal dengan istilah resepsi sastra atau ada juga yang menyebut dengan istilah estetika resepsi sebagai terjemahan dari rezeptionaesthetik.
Jauh sebelum konsep tentang resepsi sastra ini dikembangkan oleh Jauss dan Iser, Mukarovsky, yang dikenal dengan sistem semiotiknya guna mengembangkan kekakuan analisis struktural klasik terhadap karya sastra atau juga dikenal sebagai salah seorang tokoh pengembang pendekatan strukturalisme dinamik, pada tulisan-tulisannya sejak sebelum Perang Dunia Kedua juga telah menyinggung-nyinggung soal proses penerimaan pada pembaca ini (Junus, 1985). Selain itu juga bisa disebut sederet kritikus sastra lain yang juga menyinggung persoalan pentingnya peran pembaca, mulai dari Vodicka, Ingarden, Riffaterre, hingga Warning dan Segers yang telah mendapat pengaruh pemikiran Jauss dan Iser. Foulkes, salah seorang kritikus sastra juga, menyatakan bahwa penelitian karya sastra dalam rangka model semiotik mau tak mau harus mencurahkan perhatian penuh pada situasi pembaca sebab pembaca penting dari dua segi, sebagai subjek dan sebagai objek (Teeuw, 1984). Sebagai subjek, dialah yang membaca, menafsirkan, dan menilai karya sastra ; dalam proses interpretasi, dia selalu berada dalam tegangan antara textual structure, sebagai sesuatu sesuatu yang diberikan secara objektif di luar dirinya, dengan “persediaannya” yang subjektif untuk memasuki hubungan estetik dengan teks, yang sebagian ditentukan oleh konvensi-konvensi sastra, sebagian lagi oleh faktor-faktor di luar sastra. Hal terakhir tadi lah yang dimaksud oleh Foulkes dengan situasi pembaca sebagai objek: dia, sadar atau tak sadar, terkena berbagai pengaruh dan kekuatan sosial, politik, dan budaya.



....skip,
skip,
skip,
skip,
skip,
skakkk.... <<------- mohon maaf jika mbandel sengaja menyalahi struktur tipe sangat2 sederhana and make it simpel aja itu, kekangan eyd ortodoks nirdinamis out of date oleh pecinta gaya retro dan purisme itu memang belum mengatur teknik penulisan cemini, entah nunggu anggaran atau memang ndak kompeten!



PENUTUP

A.       SIMPULAN
1.   Dengan menggunakan sarana stilistik berupa ironi, hiperbolisasi, metafor, dan sebagainya, terlihat bagaimana cerpen yang dianalisis kali ini mempunyai keunggulan pengaruh tekstual dengan serangan “halus”-nya terhadap sisi reaktif emosionil pembaca. Kekuatan pengaruhnya tersebut ditunjang oleh kemampuan teks mengatur relasi-relasi koheren maupun kontradiktif antar unit satuan wacana dan pemilihan referensi kontekstual yang dimungkinkannya untuk dimaknai oleh pembaca.
2.   Dengan pengecualian pembicaraan terhadap unsur-unsur lain dalam teks yang tak dibahas disini, cerpen tersebut terlihat cukup memiliki kepaduan afektif yang memadai guna memberikan efek pencerahan pada pembaca. Memang, sekali lagi, masih terdapat kekurangan pembahasan tentang ragam penyikapan pembaca.
3.   Dari upaya generalisasi terhadap posisi pembaca tersebut dapat dilihat faktor-faktor yang menentukan tingkat efektifitas keterpengaruhan pembaca oleh teks yakni: kemampuan mengenal sarana estetik teks sastra, wawasan tentang wacana yang dibicarakan teks, kondisi psikologis berupa tingkat kemampuan berempati dan hal-hal lain terkait keterlibatan emosional seorang individu, dan latar belakang pembaca yang membentuk penyikapannya terhadap teks (semisal ideologi yang dianut).

B.        SARAN
1.      “Kita ini manusia sampah,” kata Bambang Q-Anees dalam sebuah artikelnya yang berawal dari keprihatinan terhadap musibah longsoran sampah yang menelan korban jiwa di sebuah TPA “strategis” di Jawa Barat.Dengan renungan dan penalaran filosofisnya Anees sampai pada kesimpulan bahwa musibah tersebut sebetulnya mengingatkan kita, manusia, bahwa kita tak kalah busuknya(!) dibanding sampah-sampah tersebut.
2.      Eksistensi sesuatu yang baik justru lebih mencolok jika dikonfrontasikan dengan hal yang sebaliknya (Nurgiyantoro, 2000). Sastra yang adiluhung tidaklah membuat kita menjadi seorang narkisus, tetapi malah menampilkan betapa bobroknya makhluk bernama manusia (Darma, 1984). Sebab itulah diperlukan rasa mual terhadap diri sendiri seperti yang terjadi pada Fanton Drummond dalam Olenka. Sebelum menuju pencerahan. Sebab kita ini memang manusia yang penuh kekurangan maka hendaknya senantiasa berkaca pada setiap perbuatan yang dilakukan.



DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Imran T.. “Resepsi Sastra: Teori dan Penerapannya”. Dalam Jabrohim (ed).Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Hanindita.
Darma, Budi. 1984. “Moral Dalam Sastra”. Dalam Sejumlah Esei Sastra. Jakarta: Karya Unipress.
Jatman, Darmanto. 1985. Sastra, Psikologi, dan Masyarakat. Bandung: Alumni.
Junus, Umar. 1985. Resepsi Sastra. Jakarta: Gramedia.
Nurgiyantoro, Burhan. . Teori Pengkajian Fiksi.
Q-Anees, Bambang. “Kita Ini Manusia Sampah”. Dimuat dalam Pikiran Rakyat 26 Maret 2005.
Sastrowardoyo, Subagyo. 1992. Sekilas Soal Sastra dan Budaya. Jakarta: Balai Pustaka.
Selden, Raman. 1991. Panduan Membaca Teori Sastra Masa Kini. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Suwondo, Tirto. 2003. Studi Sastra: Beberapa Alternatif. Yoyakarta: Hanindita.
Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
van Zoest, Aart. 1991. Fiksi dan Non-Fiksi Dalam Kajian Semiotik. Jakarta: Intermasa.
Wuradji. 2003. “Pengantar Penelitian”. Dalam Jabrohim (ed). Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Hanindita.
Al-Fadhli, Wemmy. 2005. Efek Katarsis…. Diakses tanggal 16 Desember 2008.
http:bohewemian.blogspot.com/2005/12/makalah-seminar.html.

Koq link citation ke web kakang komandanie che guenievara salah gitu dik nulis syntax url-nya ??? #cedihhhh #merasa tak dihargai #gengsiiiii