Jumat, 14 Februari 2014

Fenomena Islamis Cinta Harta (Al-Wahn Syar'i)

Menarik menyimak pernyataan akun twitter Kurawa (terduga jasmev) tentang kebingungan umat mengutip pendapat dua tokoh umat muslim indonesia yang saling bertolak belakang sangat frontal tentang isu/fakta sholat dzuhur berhadiah mobil oleh Walikota Bengkulu. Imam Masjid Istiqlal yang juga murid almarhum Syaikh Bin Baz menyatakan tegas bahwa hal itu adalah pengalihan niat lilahitaala dalam ibadah dan syirik (dosa besar tertinggi) sementara Sekretaris MUI malah mengapresiasi kuis/undian kesolehan ini. Sebagaimana dalih/dalil bapak Walikota Bengkulu--yang katanya adik menteri kehutanan dan menganut manhaj jamaah tabligh ini--bahwa amaliah tersebut sekedar untuk motivasi merujuk pada iming-iming nabi dalam membuat syariat, barangkali pertimbangan ini jugalah yang diamini pendukung ide beliau seperti Sekretaris MUI.

Kalau saya tidak salah orang ini adalah Fahmi Salim yang sewaktu saling follow dengan Burhan Muhtadi pernah saya celetuki/stalkingi kenapa beliau follow orang liberal. Waktu itu tentu saja saya bercanda doang karena scholar ilmu politik di Australia lulusan madrasah unggulan di Solo ini tentulah tdk digunjingi termasuk dalam lingkaran tertuduh islam liberal sama sekali meskipun ada isu ia kadang merokok seperti kyai-kiyai tradisional. Apalagi beliau terkenal karena bukunya yang membongkar dapur PKS/manhaj ikhwani dan punya banyak akses ke kalangan islam yang dicap fundamentalis/radikal. Di luar dugaan Fahmi Salim sepertinya setuju dengan cap liberal (yang tadinya sekedar guyonku) tentang Burhan Muhtadi. Walhasil lebih tak diduga lagi Burhan Muhtadi memblokir akun twitterku hehe. Kejadian ini tambah memperdalam pemahamanku tentang kotak di dalam kotak dalam banyaknya kotak-kotak islam/islamis sebagaimana tradisi tahdzir-tahdziran dalam kotak manhaj salafiy yang sangat cair itu. Sesuatu yang tak akan disangka-sangka oleh para kanak-kanak yang tahunya sangat sederhana tentang satu islam.

Lebih menarik lagi belakang aku baru tahu bahwasanya sebuah masjid di Yogya yang jadi markas sebagian elemen islam fundamentalis--tidak mesti bermakna negatif ya--ternyata sejak lama juga sudah menerapkan hadiah umroh bagi yang rajin ibadah. Mesjidnya cukup megah seperti kulihat di background akun Ustadz Salimafillah dan ketika kustalking dengan candaan langsung aku diblokir lagi karena mungkin beliau tersinggung tentang tendensi masjid akhir zaman. Ini belum sempat bahas soal sholat berhadiah mobil/umroh itu lho langsung silaturahmi di-cut beliau. Lebih bisa dimaklumi karena di kalangan salafiyyin sudah keluar fatwa syaikh mereka dari Timur Tengah tentang kebolehan memblokir akun 'musuh' di media sosial. Tambah menarik karena masjidnya Ustadz Salim tersebut adalah tempat berkumpul dengan teman se-gengnya Ustadz Kupinang yang kukagumi karena mempelopori perspektif segar untuk membendung karakter cinta harta dan kemewahan dalam islam.

Imam Istiqlal juga menggunakan perspektif ini ketika mengkritik keras Ustadz Solmed saat menggelegar 'isu' tarif dakwah, pembicaraan yang kulihat cenderung dihindari atau dicari-carikan jalan tengahnya oleh alim-alim lain karena mungkin juga mereka cari makan dengan cara seperti itu. Bahkan Syaikh Ali Mustafa Yaqub kudengar sering mengulang retorika beliau yang mengkritik sangat keras kesesatan dakwah sedekah dengan iming-iming kembali 10 kali lipat yang identik pada Ustadz Yusuf Mansyur tersebut. Bahkan ndak tanggung-tanggung beliau berterus terang menyampaikan salah satu ayat dalam surah yasin bahwasanya orang-orang yang menyampaikan kebenaran untuk mendapatkan imbalan adalah orang-orang yang sesat menyesatkan. Sesuatu yang sangat beresiko dalam politik pergaulan alim ulama krn Ustadz Yusman adalah alim paling banyak penggemarnya saat ini karena sukses membuat iman itu jadi ada keuntungan kongkret di dunia. Sewaktu debat dengan salah satu penggemar ustadz ini kulihat background twitternya kalau ndak salah gambar wallpaper motor sport mahal begitu juga ketika ngintip salah satu akun pembenci fatwa Syaikh Ali Mustafa begitu juga, sebuah petanda yang menarik.

Kukira imam istiqlal ini pantas kusebut masyaikh dan ulama paling tsiqah di Indonesia saat ini. Setelah K.H Sahal Mahfudz muridnya ahli hadits nyeleneh Syaikh Yasin al-Fadani meninggal layaklah beliau untuk gantikan di MUI. Selain kedalaman ilmunya untuk berjidal syar'i dengan kalangan islamis radikal ghuluw, ia juga bisa berwawasan moderat/luas karena kalau ndak salah juga mengalami kehidupan barat eropa dan jadi salah satu penasihat yayasan penghafal quran di New York, USA. Lebih komplit kan ketimbang ustadz-ustadz hafizulloh dari geng ahlu tahdzir salafiy yamani/ghuroba yang saat ini kiblatnya di Dammaj sepeninggal Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Madkhali diusir ulil amri sunni yaman yang mereka taati karena perang bertahun-tahun dengan syiah houthi. Aku membaca akun twitter Imam Istiqlal, walau tidak begitu aktif juga, terlihat cukup bagus pemahamannya dalam menghadapi persoalan-persoalan baru (bid'ah hehe) umat.

Kembali ke soal ibadah berhadiah ketika kucoba melihat pendapat Ustadz Didin Hafihudin dari Bogor yang sekarang jadi Ketua Baznas--mudah-mudahan organisasinya tidak sekhianat kementrian agama--terlihat beliau juga menolaknya dengan alasan apapun. Namun asatidz--yang oleh geng salafiy (utamanya yang jihadi/takfiriyyun) dianggap gembongnya manhaj harakiyyun ikhwani/tarbiyah di Indonesia (beliau presiden pertama partai keadilan) bersama-sama Profesor Daud Rosyid Sitorus dari IAIN Ujung Berung Bandung--ini tidak memberi penjelasan banyak. Bersama Ustadz Daud dan lain-lain kabarnya beliau yang berani mempelopori untuk menegur fraksi kesejahteraan di bawah Ustadz Hilmi Aminuddin di PKS yang berbuah pemecatan massal kader-kader fraksi keadilan yang selalu dibantah/ditutup-tutupi eksistensinya. Jadi bisa kita pahami posisioning beliau tentang ibadah beriming-iming duniawi ini. Dan bisa kita tebak pula sikap sebaliknya dari Ustadz Anis Matta dan kawan-kawan seidenya.

Heboh pendekatan PKS ke Golkar saat ini yang mengemukakan riwayat pekerjaan Ustadz Anis sebagai pengajar ngaji keluarga kaya raya Abu Rizal Bakrie makin memperkuat kemungkinan pendapatnya. Yang lebih mengkhawatirkan adalah perspektif iman dan kesejahteraan ini juga mengoyak level menengah seperti yang terjadi antara akun twitter geng tarbiyah Ridwlanjogja yang baru saja lagi putus sama ikhwahnya Pkspiyungan karena perbedaan pendapat tentang Jokowi. Kalau akun TarbiyahBukanPKS atau Mister Dos dari PKS watch memang sudah sejak lama meramaikan dialektika mereka dan tentu saja isu utamanya adalah soal kesejahteraan yang mulai menggelincirkan para mujahidin hizbu ikhwani ini.  Kalau level bawah atau grass root sepertinya akan adem ayem aja dengan ketidaktahuan dan tsiqahnya pada qiyadah mereka. Contohnya sodara dan tetanggaku yang merasa berdosa memikirkan isu ini, ahayy.

Kalau menilik pendapat kalangan moderat-sekuler yang mayoritas tentu bisa ditebak tidak ingin membesar-besarkannya. Era ghirah islamis di generasi kampus zaman syaikh google kurasakan saat ini membuat isu zuhud terhadap harta itu jadi momok tersendiri di tengah iming-iming tentang kemajuan peradaban dunia oleh dinamika kegiatan ekonomi dan peningkatan intelektualitas. Yang lebih menarik kalangan cenderung liberal terlihat agak mengolok-olok peristiwa ibadah berhadiah ini karena stereotipnya pada kalangan fundamentalis padahal secara keseluruhan tentang isu iman dan kemewahan ini tentu saja teman-teman yang akrab dengan donasi dari dunia kapitalisme ini lebih permisif. Semoga peristiwa ini buatku bisa menghadirkan ledakan fusi ideologi terbaru dalam dinamika pemahaman keislaman untuk memperjelas kategorisasi islamis dalam hal sikap mereka terhadap harta/dunia/kemewahan yang padahal isu tentang cinta dunia atau al-wahn ini sedianya punya porsi cukup besar dalam risalah Abul Qosim aka Rasulullah kita tercinta yang mati dalam keadaan tergadai baju besinya ke orang Yahudi nenek moyangnya kaum zionis itu!

Bukankah Nabi sudah sangat terang nyatakan dunia adalah surga bagi orang-orang kafir dan neraka bagi orang-orang beriman, kenapa mesti ditakwil lagi untuk dicocok-cocokkan dengan kepentinganmu wahai ahlu hawa yang menggunakan retorika sesat mati enak dan tersenyum sebagai tanda khusnul khatimah... ini bukan berarti aku mendukung kebrutalan kawan-kawan yang berideologi anjing-anjing neraka lho! Mudah-mudahan ada yang bisa membantah karena aku sendiri masih dalam perjalanan memahami Al-Haq, so janganlah dipredatori yuaaa qiqiqiqiqi. Kalau bertanya salahkah (berupaya) kaya lalu apa solusinya atau apakah muslim harus hidup sengsara dan yang kufur bisa menikmati hedonisme, aku sebelum ini sudah sering menuliskannya dan akan terus menuliskannya seiring perbaikan dan koreksi atas pengetahuan dan pemahamanku. Jadi jangan kaget kalau kelak ana berubah fikiran lagi jadi seorang hedonis yang syar'i tergantung qadarullah haha. Yang jelas untuk saat ini gw sedang begitu muak pada politik riya--namun bisa memahfumi dalam aspek taktis siyasah hubungan sosial--melihat Ustadz Hariri yang minta maaf karena kasusnya mencuat seperti juga kasus titip do'a komersil. Atau bagaimana situs islamis radikal yang sekte jihadi bahkan terafiliasi ke geng takfiri pengklaim prioritas tauhid barusan kulihat kompromistis juga dengan ibadah berhadiah yang padahal berbau musyrik ini. Mungkin ada benarnya kata Nabi Voltaire: "Dalam hal uang agama semua orang adalah sama". Ilmu adalah harta umat islam yang tercuri.

Senin, 27 Januari 2014

Komprador

Menkeu baru Uda CB yang isunya antek liberal dan titipan kompromi kepentingan Golkar makin menambah sedap wacana tentang telah tergadainya kemandirian bangsa ini pada 'interest' pemodal besar asing dengan segala kepentingannya atas dan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di tengah fakta statistik bahwa porsi terbesar SDM angkatan kerja produktif muda Indonesia berpendidikan hanya menengah dasar, sementara yang susah payah menyelesaikan pendidikan tinggi juga tidak produktif karena salah perencanaan untuk diselaraskan kepada dunia industri--yang insinyur pertanian kerja di bank, lulusan keuangan jadi pengajar bahasa inggris, eh lulusan sastra tak cocok jadi sastrawan, bahkan lebih parah lagi lulusan sekolah jalanan alias preman malah jadi konglomerat berkat skill politik tentu alias bukan preman bego--kita jadi memang patut bertanya: mampukah pengurus bangsa ini mengelola negara sesuai konstitusi untuk keadilan sosial bagi semua, bukan cuma cari selamat masing-masing seperti para insinyur-insinyur cerdas lokal yang dimanfaatkan perusahaan asing, yang menahan diri dari ikut memikirkan keruhnya politik negara ini karena bisa dimaklumi akan bisa menganggu 'cash flow' ke mereka punya periuk nasi? Yang tidak disediakan oleh sesama bangsa sendiri?



Makanya jangan heran jika penulis dhoif ini punya ide: ya sudahlah daripada bertengkar terus dengan antek-antek asing atau yang sering kita tuduh dengan komprador atau PBB (Persatuan Babu Barat) itu lebih baik langsung saja kita kontrakkan negara ini untuk dikelola SDM asing beneran sekalian. Mana tahu karena secara peradaban ilmu mereka lebih mapan jadi pengelolaannya lebih maknyos ketimbang kita-kita yang ras lokal. Insaallah uang sewanya cukup untuk ngebulin periuk nasi secukupnya dan sama rasa sama rata. Toh Pak Harto sudah memulainya di Bukit Grasbergnya Freeport. Ide ini muncul karena penulis melihat daerah tambang tersebut mirip banget dengan yang ada di Grand Theft Auto San Andreasnya perusahaan amrikiyah bernama Rockstar.