Sabtu, 09 Maret 2013

Akronim Jokowi


Beberapa waktu yang berlalu sebuah berita yang mengezutkan kita tanpa perlu terkejut-kejut betul muncul: suatu survei menempatkan elektabilitas 'Jakarta Elected Governor' Mr. Joko Widodo atau yang lebih kerap disebut Jokowi berada di atas mantan wapres Megawati Soekarno Poetri dan bekas pangkostrad Letjen (Pur) Prabowo Subianto untuk kandidat capres 2014. Tidak saya ketahui, jujur aja, apakah juga bisa mengalahkan popularitas pertahana Haji SBY jika disurveyi juga saat ini ataupun apabila nanti. Walaupun semua juga tahu dan dapat mengertiin berita "heboh" ini dikarenakan fenomenalnya Jokowi akhir-akhir ini, namun terkemas menarik untuk dipublikasikan ke publik ketika nama Jokowi ini disandingkan langsung 'head to head' dengan para "sponsornya" di PDIP maupun Gerindra tersebut. Terlebih lagi jika kita mencermati peristiwa ini dalam konteks bahwa Joko Widodo "dipasang" menjadi gubernur ibu kota sebetulnya hanya untuk digunakan sebagai alat "memuluskan" jalan mereka ke kursi presiden RI pada 2014, baik Mega pun Prabowo.

Apa yang membuat Jokowi jadi "tiba-tiba" begitu menarik? Bayangkan, Prabowo telah investasi "nama besar" setidaknya ketika ia mulai masuk di lingkaran elite petinggi ABRI sebagai menantu mantan Presiden Soeharto. Bahkan santer isu bahwasanya meski baru berpangkat lebih rendah Prabowo bisa 'melawan' pada para jenderal atasannya di TNI. Triomacan2000 bahkan mengghibah bahwa Prabowo pernah lari dari Akmil dan kembali masuk asrama dengan santai. Kita juga pernah dengar isu "perlawanannya" atas karib Soeharto Jendral L.B Moerdani hingga persaingannya dengan atasan langsungnya mantan Panglima TNI Wiranto. Coba lihat mana mungkin ini terjadi pada orang yang berkarir dalam sistem komando tentara kecuali bahwa ini peristiwa yang "mie telor spesial". Mungkin di Royal Air Force-nya Inggris pun Pangeran Harry tidak seistimewa ini. Kemudian kita lihat Megawati yang tentu bahkan sejak masih menjadi putri presiden di zaman kemerdekaan sudah mulai mencicil nama besar.

Menurut pendapat saya yang melejitkan nama Jokowi adalah namanya itu sendiri. Sekali lagi aq ulangi yang membuat besar nama mantan Mahasiswa Kehutanan UGM Si Joko Widodo tersebut adalah bunyi nama Jokowi itu sendiri. Tentu kita tidak menafikkan "prestasi" Jokowi sendiri. Baik yang betul-betul prestasi ataupun pengemasannya oleh media. Ataupun bantuan berbagai pihak untuk "mengangkat" nama Jokowi sendiri yang awal mulanya dilakukan Prabowo yang ditengah jalan dikudeta Megawati karena Jokowi bagaimanapun kader PDIP sehingga belakang dituduhkan Taufik Kiemas istilah penumpang gelap kepada Gerindra karena sebagai partai mereka masing-masing sepertinya belum bisa berkongsi lagi (mungkin karena tipikal konstituennya saling berebut). Tapi saya tetap percaya pada kekuatan nama Jokowi itu sendiri, sekali lagi bunyi Jokowi itu sendiri. Kita ingat lagi bahwa nama Jokowi dipopulerkan oleh Stasiun Metro TV ketika ia "menciptakan" mobil esemka. Meski katanya ada prestasi dalam penataan PKL, mendamaikan konflik dalam keluarga kraton di Solo dan lain sebagainya, namun itu semua tak akan istimewa tanpa itu dilakukan oleh orang bernama menarik: Jokowi. Banyak juga mungkin walikota atau bupati daerah lain yang punya prestasi serupa tapi mereka tidak punya nama yang semenarik bunyi 'JOKOWI' untuk "LAKU" diberitakan oleh 'INDUSTRI' TV. Foke atau Insinyur Fauzi Bowo bahkan tidak cuma merakit mobil tapi menghasilkan anak-anak SMK yang mampu merakit pesawat (yang betul-betul bisa) terbang, tapi kenyataannya di Pilkada DKI baru-baru kemaren putra asli betawi katanya ini tumbang. Sejak menjabat Gubernur DKI inilah nama Jokowi makin meroket semakin sangat kencang lewat aksi 'blusukannya' sampai-sampai--analisisnya--ditiru-tiru SBY pemilik suara 60% lebih rakyat Indonesia ini.

Lalu, apa istimewanya nama dan bunyi 'jokowi' dibanding bunyi 'foke' sehingga bisa menang dan katanya menciptakan sejarah baru yang anomali dalam catatan empiris percaturan politik perebutan kekuasaan di Indonesia? Apakah nama eh bunyi 'jokowi' tersebut lebih unggul ketimbang nama dan bunyi 'megawati' dan 'prabowo'? Atau jangan-jangan juga lebih "unggul" dihadapkan kepada nama besar SBY? Bagaimana pula dengan nama-nama ini: Mahfud MD, Dahlan Iskan atau DI atau Demi Indonesia, ARB, JK? Apakah perlu juga bagi capres termuda dan terganteng Farhat Abbas meng-akronim atau singkatin namanya dengan FA (barangkali singkatan terakhir ini mengingatkan kompasianers pada sejarah konflik adminnya dengan Fron Indonesia Timur haha) sebagaimana capres alternatif Fadjroel Rachman punya teknik lain untuk mengemas namanya di jejaring sosial twitter dengan gaya sedikit alay... faDjR0eL? Memang untuk membuat seseorang menang dalam perebutan kekuasaan ini tidak hanya soal "kemasan" nama, sangat banyak faktor lain. Namun menurut pendapat saya soal bunyi nama ini penting, perhatikanlah wahai para tim sukses yang suka menyingkat-nyingkat berbagai pasangan nama dalam pilkada. Terlebih dalam situasi masyarakat kIta yang katanya mayoritas masih juga belum 'well educated' sehingga faktor-faktor 'supra-segmental' dan 'methaphisic' seperti ini kukira PENTING!! Orang tidak selalu memilih dengan rasionalitas apalagi hitungan matematis yang saya tidak tahu apakah sudah ada model-model politik sainsnya. Dalam bisnis demokrasi seperti ini mau tak mau para sales partai-partai harus mampu menyerang aspek bawah sadar 'market' mereka, termasuk kecendurangan manusiawi manusia untuk senang pada keindahan atau keunikan. Termasuk bunyi nama. Bagaimana efektifitas pengemasan nama ini sehingga dari aspek bunyi bisa menjual? Apakah lebih menarik bunyi-bunyi kakofoni seperti ARB, yang kelihatan banget cuma meniru-niru tren singkatan nama SBY, atau gunakan saja nama akrabnya: Ical? Sebuah nama yang sangat remaja sebagaimana mayoritas swing voter kita yang bukankah lebih baik ditimbang-timbang kembali oleh Golkar. Selanjutnya pengamatan akan bunyi nama capres untuk pilpres 2014 ini akan saya bahas lagi nanti. Sabar, saya juga amati dulu tingkah laku pasar.

Sabtu, 09 Februari 2013

Politik Uang dan Islam

maharani suciyono, "psk"
 "Musibah" yang "menindas" PKS baru-baru ini semakin meyakinkan saya bahwa memang Islam tidak sejalan dengan cinta harta dan jadi menyimpang andai diseret-seret untuk cinta harta. Dengan alasan atau dalih apapun boleh sementara dibilang, tapi bisa diperdebatkan terlebih dahulu "cinta harta" itu didefenisikan bagaimana. Memang juga tidak mudah untuk mengukur seperti apa peran harta pada zaman Nabi Muhammad SAW, dibandingkan kepada kedudukan harta dalam "sistem keuangan" zaman sekarang. Alih-alih mengukur "pasti", niscaya untuk hal-hal begini disandarkan saja pada keyakinan yang bisa saja diklaim sebagai ukuran yang paling pasti. Karena, umat Islam percaya dan harus yakin ajaran Rasulullah adalah tanpa tanggal kadaluarsa hingga akhir zaman, nubuat armageddon, turunnya Isa, datangnya Mahdi. Sekali lagi ikhtilaf timbul pada tafsir, karena Khatimul Anbiya agama hanif ini juga telah mengisyaratkan tentang mutjahid atau pembaharu untuk setiap seabad. Tentu antar golongan penafsir bisa timbul saling klaim, hingga klaim dari kelompok binaan. Yang terang, untuk terakhir ini mantan mufti Negara Arab Saudi menganggap Syekh Albanny yang berjenggot pirang tersebut sebagai penghasil ijtihad terbesar abad ini dengan upaya pembersihan hadits-hadits palsunya. Salah satunya hadits populer karena sejalan dengan hawa nafsu manusia yang cinta harta: "kemiskinan mendekatkan pada kekufuran", yang memang tidak sampai dicap palsu namun dianggap dhaif riwayatnya (apalagi isinya: mungkar?). Tiada heran jika Kyai Ulil Absar--yang tidur seranjang dengan Ustadz Tifatul Sembiring Amd dalam koalisi SBY--mengklaim hadits-hadits bisa saling bertentangan "tafsirnya" satu sama lain. Entah jika pernyataannya ini ada sponsor yang membiayai cc: Asian Foundation. Meski bukan Salafy, apalagi ustadz yang disegani atau bercitra atau dipersepsikan baik oleh kalangannya seperti Umar Budiargo Lc dari Yogya yang mungkin kisah hidupnya seperti Che Guavara itu (dari kemapanan ke kedhuafaan), saya pribadi ketika meledak berita skandal suap daging PKS justru bersimpati meski senyum-senyum kecut lihat di media sosial mereka giliran di-bully. Cuma yang wallahualam apa orang benar-benar tak tahu taktik 'fund rising' PKS dan berilusi tentang orang-orang suci di organisasi politik ini. Lupakah orang, terutama para kader internal, tentang para mujahid uhud yang tergiur ghanimah ketika hampir menang malah jadi kalah perang. Nabi sampai berdarah giginya, itu terjadi pada orang-orang yang bertemu langsung dengan beliau, apalagi generasi yang setelahnya dan setelahnya. Dan ingatkah pada hadits yang mengatakan bahwa setelah perang bunuh-bunuhan ada yang lebih berat lagi, yakni perang melawan hawa nafsu. Ataukah Nabi dianggap hanya bermetafor atau beretorika seperti "dagangannya" para motivator, yang supplynya tumbuh bak jamur musim hujan di saat demand orang butuh motivasi di negeri ini lagi banyak lalu peristiwa saling menasehati dalam kebaikan pun komersil dan menjadi peristiwa business as ussual. Apakah lagi yang lebih bisa memuaskan hawa nafsu selain harta (jaman gini lho!)? Lalu apakah kita harus "memusuhinya"? Seperti apa strateginya? Seperti PKS? Lain kali akan saya sambungkan diskusinya.