Senin, 12 September 2016

Estetika Bunyi Dalam Irama Kata-Kata: Sebuah Kemolekan Auditori Pada Message Delivery


"THE FACT THAT A BOOK IS FULL OF MATHEMATICAL EQUATION DOES NOT NECESSARILY MAKE IT MORE SCIENTIFIC."

(Prof. William R. Uttal, katanya sih terdapat dalam "Dualism: The Original Sin of Cognitivism") 
 #belagak_udah_baca.oncom

Yuk mari bercantik-cantik lagi dengan puisi. Kembali Aq hadir berolahraga-otak dengan materi yang sempat menjadi studi formalku selama bertahun-tahun yang ijazahnya ndak pernah kepake sampe plastik mapnya nempel nyaris melekat kayak lem tuh ke kertasnya. Untung sempat dicek sekarang gara2 membutuhinnya buat mendaftar sekolah es teller lanjutan. Untung gak sampai tak sobek2 waktu coba dilepasin dari plastik pelindung di depan yang membungkusnya tsb. Kalo kubiarkan barang setahun dua tahun lagi ndak ditengok2 bisa "menyatu" mereka (melahirkan bayinya ijazah haram). Tinta dawat dari goresan tanda tangannya Prof. Genjer2 Karunia saja setengahnya sudah pindah memrasastikan jejak biru pada bagian permukaan-dalamnya plastik itu. Untung lagi juga sejumlah fotokopian yang sudah dilegalisir masih ada dan buannyaaakkk masih (D-M syntax mode on). Kenapa? Karena seingatku yang dilegalisir ini cuma sekali dipake buat daftar Cp & 'S sekitar tahun 2010 lalu ke Dephub di Sunter sana. Maklum gw orgnya gitu (pasang pipi chubby bagai sesosok moody teen). Agak lalai disengaja dalam hal administratif, formalitas, dan rutinitas normatif. Mungkin krn 'w not a regular person typically maybe yaa. Bahkan berani berijtihad sendiri ttg term of condition bagi syariat sholat jamak qashar kontemporer sub-kontekstual kehidupan unik gw walau tidak ada di antara imam mujtahid empat mahzab yang merumuskannya (fatwa mereka berlaku buat tipe orang umumlah: the muqoliddun fanatiqqun membebekiyyun). Tapi sudahlah Marisol.... Sekarang gw udah tobat dari dunia idealisme yang memang tdk kunjung sempurna bahkan untuk sekedar dikhayalkan. Mungkin menjadi oportunis itu ada kebaikannya juga dalam konteks2 tertentu.

Begini para pembaca blogger sekalian yang semoga rahmat Gusti Allah swt senantiasa tercurah kepada Anda walau doyan politikin cewek2 dan menenggelamkan saingan bisnis Anda (manusiawi koq, gak usah sewot gw eksplisitkan). Ada materi menarik yang sempat ingin kuoprek a long time ago di kampus biru sana yakni mengenai "rahasia" bunyi puisi. Dan memang, sudah kujalankan setengah jalan--ini konsepsi kualitatif atau kira2 yaa (bahkan hiperbola), persis kuantitatifnya mungkin baru 0,00000000001~ persen jalan kayak angka2 promo dalam perang tarif antar operator seluler eehh tetep aja ilmu kira2 euy--dengan menciptakan metodologinya sendiri dibantu asisten gw bernama Ms. Wordstats dengan objek/sampel penelitian pada alofon-alofon penyusun puisi-puisi di rubrik puisinya (ya pastilah masak rubrik kesehatan) surat kabar Pikiran Rakyat, terbitan Bandung, Jawa Barat, untuk dalam rentang sebuah bulan atau dua mungkin. Aq lupa persisnya dan males mengecek krn waktu nulis ini lagi offline, modem tergeletak dua meter di sebelah kanan sana sementara daripada sim card untuk konek ke tower BTS di seberang jalan depan rumahku ini ia sedang terpasang di sebuah hp yang lebih jauh lagi jaraknya sekitar sepuluh meter di ruang makan sana (pakar alesan.xom). Tapi jujur aja kalaupun lagi online tetap aja gw merasa rugi meluangkan waktu untuk cek2 hal sepele untuk sementara ini. Oke pause dulu, mau mandi nih. Biar pas maghrib nanti tercium wangi semerbak sewaktu agenda rutin "nelpon" Tuhan qiqiqiqiqiqi.

--one day after--

Olraik beibeh, kita lanjutkan celoteh postingan blog gw dahulu (sehari yang lalu atau kemarin itu termasuk terminologi dahulu juga kan?). Dan gak pakai terlebih ya. Jadi begitulah. Jadi ingin lanjut meneliti kaji lama tersebut. Dan sembari sekolah master kiranya adalah wadah yang tepat. Setidaknya dengan beking infrastruktur sebuah universitas hasil penelitian kita akan lebih punya saluran publikasi. Kalau tidak, terlebih kita nie ndak/belum punya nama dan networking, paling2 kirim2 ke koran2 yang redakturnya karena gak kenal mengabaikan untuk membacanya. Mungkin pada pengiriman yang keseribu mulai ditengoknya jika terlihat email kita sekilas berjudul ciamik. Atau malah karena muak melihat si pengirim itu2 lagi, pada pengiriman ke-100 akun kita otomatis dimarker sbg spammer. Dan tidak bisa pula disalahkan karena kita masuk ke system business yg tentunya profit oriented dan berprinsip efisiensi meskipun ada sepikan2 interest individu di dalamnya. Jangankan orang yang ndak kenal kita, dosen pembimbing saja yang bahkan mengenal baik kita dan kita akrab betul dengannya bisa malas membacanya krn keterlaluan inovatifnya "berkarya" hehe (pengalaman.xom). Belum lagi kemudian soal bagaimana membuat format penelitian ini menjadi naskah populer. Termasuk jika kalaupun atau kalaupun jika aq bisa mendapat bantuan dr kawan2 yang kerja di penerbit buku dengan syarat untuk 10.000 cetakan pertama kubeli sendiri xixixi. Kajian bunyi puisiku yang penuh tabel2 fonem tersebut tak terbayangkan olehku bagaimana format artikel populernya. Walau kalau baru untuk sekedar judul buku yang eye catching and could fish for public attention gw udah punya nih: "Keindahan Bunyi Puisi by Wemmy Al-Fadhli SS" (halah, kesannya sebuah buku memoir dari seorang mantan tentara NAZI-Hitler).

Tapi ini harus diakui bahwa Belanda masih jauh cuy. Ketika gw dengan noraknya berani-beraninya merumuskan hukum analisis bunyi sajak satu dekade (dasawarsa) yang lewat karena setahu gw tidak ada pakar resmi yang menyentuhnya, sampel puisi yang kutelitiin cuma hitungan puluhan dengan sumber publikasi yang sama yang artinya belum bisa dianggap jadi representasi populasi. Dan pula gw harus mencari-cari lagi publikasi asing mana tahu ada yang sudah atau bahkan lebih maju dengan penelitian yg perkara subjeknya seperti ini (oprek2lah jurnal sastra hingga ke universitas2 di benua afrika sana lo kalo kuat!). Kalau ada, seharusnya kabar akan menyebar untuk menyusun teori general lebih upgrade lagi mengenai bunyi puisi yang saat ini setahuku sangat minimalis itu (dibanding ulasan mengenai semiotika tingkat kata ke atas misalnya). Tapi begini2 yang pekerjaannya dosen/peneliti lembaga resmilah yang mestinya tahu dan punya network informasi. Makany gw bersiasat nih menyusup lagi ke dunia kampus buat nguping xixi. Tentu hambatan-hambatan selanjutnya sudah akan menanti gw di depan mata dan gw pun sekarang merasa semakin matang untuk menyiapkan diri, pikiran, dan mental untuk selow aja kelak menemuinya. Apa yang harus terjadi pasti akan terjadi; ndak usah pengecut dan depresi. Setangkai daun jatuh pun di muka bumi ini sudah tersurat dalam Lauh Mahfudz di kolong Arasy sana tempat Gusti Alloh beristiwa (<--- ceileee belagak hafal ayat2 khabar dari langit pada lembar2 kitab suci). Dan tinta-tinta mengering sudah fren, ndak bisa Tuhan dan para malaikat kita sogok dengan uang walau berkedok amal sedekah... siasat seperti itu namanya menyamakan Rabb kita dengan kelakuan makhluk-Nya dengan alesan supaya semua menjadi jelas dan sederhana!

Selain ingin menggali kajian ilmiyyah pada estetika bunyi bermedia teks sastra sebetulnya gw juga makin penasaran dengan pemanfaatan estetika bunyi ini pada media-media non-sastra seperti propaganda, retorika, iklan, bahkan teks atau percakapan biasa, bahkan pada kitab2 suci juga ada. The power of repetition, begitu judul bukunya seorang ustadz yang menjadikan ilmu agamanya sebagai jualan kemana2. Saat-saat seperti ini (mengutip larik pertama sebuah lagu Sheila On 7) juga sedang hot2nya nih kasus Kanjeng Nabi Mariyo Teguh vs anak buangannya. Keep positive men! Retorika bunyi ini sangat akrab kita lihat ditunggangi oleh profesi motivator sejenis ini. Menarik jika dikontraskan ke profesi psikolog yang disebut penyair Sapardi bahwa penjelasan ilmiahnya yang terlalu rumit malah bisa membuat pasien tambah stress, again keep on positive! Terlebih kemudian juga gw pernah baca berita ttg penelitian seorang doktor fisika yang mencoba menciptakan metode/alat untuk mendeteksi kebohongan dari frekuensi suara seseorang. Dalam teori dia ketika sebuah kata diucapkan dengan konfigurasi indah maka sel-sel didalam tubuh kita akan bereaksi/bergetar jika bertemu dengan gelombang getaran di frekuensi yang sama. Oke sekian dulu, sudah mau ashar nih. Wahhh.... hebat! Sudah dua kali sholat gw nih dalam satu postingan blog saja. Do'akan gw masuk sorga yaa para pembaca yang budiman. Ketemu cewek2 bugil cantik sempurna kelak disana betapa gw impikan. Maklum sudah umur masuk setengah jalan menuju liang kuburan gw masih menjomblo juga nih. Tidak ada pasangan atau teman2 wanita yang bisa dipeluk-kecup sewaktu hening malam (dan kalau bisa bergiliran secara adil/justice variety) qiqiqiqiqiqi. Jangan ketawa donx, memang dari syahwatlah--air yg hina dalam bahasa vulgar kibat suci kita alias muncratan tetes2 mani penis lelaki baligh yang terangsang lobang betina--para manusiawi yang banyak aqal-bulusnya ini oleh Tuhan konon katanya diciptakan. Jadi mohon likenya dan aminnnnnkkkkaannnnn!

#ustat_ucup_manjur_rhetoric_mood_oon


nb: bagi penikmat bintang malam, hari2 ini sehabis maghrib menjelang isya planet venus ("bintang" kejora) terlihat sangat terang di ufuk barat walau tertutup awan tifis sekalifun! seakan2 do'i mau meledak dgn warnanya yg tersipu kemerah2an; tadinya gw kira lampu sorot pesawat yang mau landing ke bim setinggi ga lebih satu kilometer di angkasa eh ternyata ndak gerak2 krn ternyata itu pantulan cahaya planet tetangga berjarak jutaan kilometer out of space sana! sementara di sepertiga akhir malam engkau akan melihat orion belt dengan gugus bintang atau mungkin nebula tepat di sebelah kanannya plus di kiri agak jauh dikit di atas siku2 aldebaran ada the seventh sister yang begitu terang, gw kadang agak heran kenapa center the milky way di kaki capit rasi scorpio suka ditutupin awan tapi kalo rasi sang pemburu atu nie sering kali clear langit tak ada awan tipis pun yang menghalangi mata telanjang orang awam! "tak jauh" di kanan bawahnya lagi ada bintang paling terang kedua yang menyinari bumi setelah mentari yaitu sirius si anjing besar (jarak dari bumi 8,6 tahun kecepatan cahaya) yang konon katanya sampai dimuat dlm al-qur'an surah an-najm ayat 49: "dan bahwasanya ialah tuhan (yang memiliki) bintang syi'ra..." duh jadi keinget derita anak2 syiria/syam sana yaa... yg bagi mereka malam2 ini suara bom serasa bagai petasan aja dan didoktrin bahwa membunuh org itu berpahala dan berhadiah bidadari bugil yang tak pernah hilang perawannya! (tetep wae lagi2 gw berusaha keliatan sbg orang yg paham betul agama2 sehingga dipercaya utk "jualan" surga syahwat kpd para manusiawi yg bisa ditebak apa maunya ini!)

Kamis, 08 September 2016

Bohewemian Pergi Skul Lagi, Oalah Mak 'e...

Nantilah kunulis lagi biar blog ini tetap update ndak jadi zombie, mo ngerjain tugas mat kul dulu nih udah injury time tapi belum baca bab 2 nya wardaugh, an introduction to sociolinguis, ceilee gaya buku bhs inggrisnya ebook bajakan, bacanya juga sambil nengok2 sofware kamus besutan mas ebta, kelar gak nih ye... ok yg penting nongol dulu, update subtitle blog gw ini dgn pepatah jepang utk mengingatkan diriku selalu yg amatir ini mulai terjun ke dunia sosial-politik xixixixixi #the_diplomat

Oke gw selesaikan postingan atu nie: kufikir2 bukan tak mungkin blog cantikku ini dikunjungin oleh fihak2 terkait yang akan aq sebutkan dlm topik satu ini. Berhubung gw masih seorang amatiran yang baru terjun kembali di dunia sosio-politik mikro ini (praksis keseharian) dengan "kesadaran" yang lebih sekarang, takut2 ada tindak tutur yang tdk mengenakkan menyinggung fihak2 yang sengaja atau tidak mengintip (<--- klausa ambigu.xom edisi disengaja), sekaligus pula gw praktikkan saat ini juga sikap yang lebih pragmatik, kuputuskan untuk tdk terlalu banyak omong dulu soal sekolah2an ini. Lagipula ini bagus untuk melatih kesabaran atau daya tahan menjadi seorang diplomat kehidupan harian. Bahasa dan wacana bisa menjadi resolusi konflik; begitu juga sebaliknya. Kita tidak bisa mengatur2 respons pembaca toh di pada ujung2nya. Lebih baik berkoar2 lagi tentang makro-politix, geopolitik dan dunia2 outside world sana yg tdk langsung bersentuhan dgn kehidupan pribadi kita seolah2 kite beneran pakar yang ngerti aja. Tapi inilah asiknya. Komen kita jadi lebih natural, bukan propaganda bayaran (walau ini ndak salah juga mungkin dalam konteks org mencari penghidupan), dan kalo ada salah2 referensi ataupun asumsi harap pembaca maklum dan abai-in aja yaa. Celoteh gw bukan analisis politix beneran (profesional atawa dibayar) tapi lebih sbg solilokui bagi gw pribadi utk memahami apa2an sih hidup ini, Han?