Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2026

Lumin Oh Lumin

Gambar
Ngohahaha , hampie se den kalah.... Iseng2 den cibo browsing--dalam mode AI di Chrome--tentang Lumin, Koto Tangah dengan prompt "siapa" dan hasilnya tadaaa, memang cukup membuat terkezut. Baru tau den kiroe salah satu menteri Prabowo kini abak e urang lumin. Dan selanjutnya berderet nama dicicil dek Gemini ko nan den taruih sasak an dgn prompt "siapa lagi". Mungkin ado puluhan kali den ulang batanyo siapa lagi ko... sebagian nyo jawek maulang2 balik se tapi kadang kalua juo namo baru. Sampai litak lo kuduak den nyo buek e. Rencana ka menyudahi tapi dek penasaran den ulang batanyo siapa lagi lik sampai Gemini menyerah ndak tau den lay doh bos! wkwkwkwk. Jika anda bukan org lumin mungkin akan mengangguk2 sj pd data nan disampaian Gemini. Tapi waden dek memang urg siko agak geleng2 kapalo dek e. Bukan salah banyak lo malah dapek insight baru lo den... tapi sebagian nya memang nampaknya bukan urang lumin/Koto Tangah tapi orang yg sering diberitakan terkait dgn Koto T...

Apa yang tidak dipahami oleh para ekonom?

Gambar
At (23:36), the speaker discusses how a meritocratic viewpoint can influence one's perception of the economic system, noting: "I suppose yeah if if a part of your theory is a sort of meritocracy where the best people rise to the top then of course the people writing the textbooks and being the professors and that whatnot will think they're the best and then the theory makes so much sense like wow clearly I'm the best because I'm in this system that has allowed me to be on top." "Jika sebagian dari teori Anda adalah semacam meritokrasi di mana orang-orang terbaik naik ke puncak, maka tentu saja orang-orang yang menulis buku teks dan menjadi profesor dan sebagainya akan berpikir bahwa mereka adalah yang terbaik dan kemudian teori itu menjadi sangat masuk akal seperti wow jelas saya yang terbaik karena saya berada dalam sistem ini yang memungkinkan saya untuk berada di puncak."

Ngohahaha

"There were intellectuals who were respected flatterers at the court centuries later they were called false prophets but not at the time." Ada kaum intelektual yang dihormati—para penjilat di lingkungan istana; berabad-abad kemudian mereka disebut nabi palsu, namun tidak demikian pada masa itu. https://youtu.be/Ml1G919Bts0?si=VCF3H1Yv41YWGbPN Video ini menampilkan dialog mendalam antara intelektual ternama Noam Chomsky dan fisikawan Lawrence Krauss dalam acara Origins Project Dialogue. Percakapan ini membahas berbagai topik mulai dari linguistik, sifat dasar manusia, hingga tanggung jawab intelektual dalam politik. Berikut adalah poin-poin utama dari diskusi mereka: Pendidikan dan Berpikir Kritis: Chomsky menekankan bahwa tujuan pendidikan seharusnya bukan sekadar mentransfer pengetahuan, melainkan menciptakan semangat kritis untuk menantang pemikiran yang ada (09:07 - 10:11). Linguistik sebagai Ilmu: Chomsky menjelaskan bagaimana ia mendekati studi bahasa secara ilmiah, menc...

Riset, Artikel Ilmiah Tapi Bukan Saja Tidak Bermutu Bahkan Redundan...

Gambar
Karena sekarang banyak waktu di rumah ane sempatkan juga tengok2 artikel katanya ilmiah tentang ilmu pendidikan formal ane bahasa Indonesia. Dan hasilnya....(sengaja pakai konjungsi 'dan' di awal kalimat ini yaaaa) memang masih mengecewakan. Saya termasuk yang tidak setuju kebijakan terbaru pemerintah yang mengutamakan bidang ilmu STEM karena alasan filosofis tapi bisa memaklumi untuk alasan praktis, tapi pengalaman saya bertahun di bidang non-STEM ini (dulu) dan masih saya lihat sampai sekarang begini membuat saya sulit untuk tidak setuju dengan itu. Bukan soal kepraktisan STEM untuk kontribusi sosial ekonomi tapi ilmiah non-STEM ini memang bermasalah..... setidaknya riset ilmiah non-STEM di Indonesia dan setidaknya bidang humaniora. Salah satu karya ilmiah sampah itu adalah skripsi saya sendiri, oke hahahahaha.  Mungkin karena stress nganggur atau memang niat banget berkarir di disiplin ilmu S1 saya, setelah hampir 10 tahun lulus S1 dan ijazahnya tidak berguna saya mendaftar ...

Kecek Trump Satiok Urang Amerika Nan Lah Gadang Dapek $5000 Jikok Partai Republik Manang

Presiden Amerikah Donald Trump says he would offer every adult American a $5,000 payout if Republicans win both chambers of Congress in November's pilpres kecik2 an - a plan that would cost more than a trillion dollars.  The controversial offer was made in a kutbah at the party's first-ever convention in the middle of a US presidential term.  He gave no details on how the plan would work or where the pittih would come from - saying only that the money would have to be spent in the US.  Democrats quickly labelled it an "empty promise" and others questioned whether such a dakwaan was legal. There are nearly 270 juta American adults, which means a $5,000 payout would cost the US government sajumlah $1.3 trillion.  Questions about apo his plan was possible have started to be asked - especially as prices rise in the US - partially as a result of the konsekuensi of the war that the US and Israel mulai jo Iran in February. Iran's retaliation has included sarangan against...